Feature
Kampus
Mahasiswa
Pendidikan
Perpustakaan
PKM
Dari Sudut Kecil Membawa Perubahan Besar: Pojok Baca Kelompok 18 KPM Mandiri UIN SUNA Lhokseumawe di Desa Suka Julu
APERO FUBLIC I Literasi merupakan fondasi utama dalam pembangunan sumber daya manusia suatu bangsa. Kemampuan membaca dan menulis bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan pintu masuk bagi seseorang untuk memahami dunia, mengembangkan cara berpikir kritis, dan meningkatkan kualitas hidupnya secara berkelanjutan.
Namun, kondisi literasi di Indonesia hingga kini masih menjadi persoalan yang memprihatinkan. Data Institut Statistik UNESCO (UIS) mencatat bahwa dari 208 negara yang disurvei, Indonesia menempati peringkat ke-100 dalam tingkat literasi, tertinggal dari negara-negara tetangga di Asia Tenggara seperti Filipina, Brunei Darussalam, dan Singapura (UNESCO Institute for Statistics dalam Medcom, 2024).
Kondisi ini diperkuat oleh hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) yang menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca pelajar Indonesia masih berada jauh di bawah rata-rata negara-negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development atau OECD.
Salah satu akar persoalan rendahnya minat baca masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan, adalah keterbatasan akses terhadap bahan bacaan yang berkualitas serta minimnya ruang yang representatif untuk menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini (Kalla Institute, 2024).
Banyak perpustakaan desa yang telah berdiri secara fisik, namun belum dikelola secara optimal sehingga fungsinya sebagai pusat literasi masyarakat belum berjalan maksimal. Situasi inilah yang mendorong lahirnya sebuah inisiatif sederhana namun bermakna dari mahasiswa Kelompok 18 Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Mandiri Universitas Islam Negeri (UIN) Suna Lhokseumawe di Desa Suka Julu, yakni pembentukan "Pojok Baca" di Perpustakaan Desa.
Pojok Baca sebagai Ikhtiar Kecil dengan Dampak Besar
Program Pojok Baca yang digagas oleh Kelompok 18 KPM Mandiri UIN Suna Lhokseumawe hadir sebagai respons atas kebutuhan masyarakat Desa Suka Julu akan ruang literasi yang nyaman, menarik, dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama anak-anak dan generasi muda.
Melalui program ini, mahasiswa menata ulang sudut perpustakaan desa dengan konsep yang lebih ramah, menyediakan koleksi bacaan yang variatif, serta menciptakan suasana yang mengundang minat masyarakat untuk singgah dan membaca.
Inisiatif semacam ini sejalan dengan konsep pendidikan nonformal berbasis masyarakat dalam gagasan pendidikan pembebasan, di mana literasi tidak boleh dipandang sebagai kemampuan teknis semata, melainkan sebagai proses penyadaran kritis masyarakat terhadap realitas sosialnya.
Dengan hadirnya Pojok Baca, masyarakat Desa Suka Julu, khususnya anak-anak, diharapkan tidak hanya mampu membaca secara teknis, tetapi juga tumbuh menjadi individu yang gemar berpikir, berdiskusi, dan mengembangkan wawasan secara mandiri.
Kehadiran program ini juga merupakan wujud nyata dari peran perguruan tinggi dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat. Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) sejatinya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku perkuliahan secara langsung dalam kehidupan masyarakat, sekaligus melatih kepekaan sosial dan kemampuan problem solving mahasiswa terhadap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat saat ini.
Perpustakaan Desa dan Urgensi Revitalisasi Ruang Literasi
Keberadaan perpustakaan desa sesungguhnya memiliki peran strategis sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning) bagi masyarakat. Sayangnya, banyak perpustakaan desa di Indonesia yang belum difungsikan secara optimal akibat keterbatasan pengelolaan, minimnya inovasi ruang, serta kurangnya keterlibatan aktif masyarakat maupun mahasiswa dalam pengembangannya.
Padahal, sebagaimana disampaikan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, akar persoalan rendahnya literasi masyarakat perlu dilihat secara menyeluruh, mulai dari ketersediaan bahan bacaan hingga pengelolaan ruang baca itu sendiri.
Program Pojok Baca yang diinisiasi oleh Kelompok 18 KPM Mandiri UIN Suna Lhokseumawe menjadi salah satu bentuk konkret revitalisasi ruang literasi di tingkat desa. Melalui penataan ruang yang lebih interaktif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat, program ini berupaya menjawab tantangan aksesibilitas bahan bacaan berkualitas, sebagaimana disarankan sebagai salah satu solusi utama dalam mengatasi rendahnya tingkat literasi di Indonesia.
Perubahan Besar dari Langkah Sederhana
Meski hadir dari sebuah program pengabdian jangka pendek, kehadiran Pojok Baca di Desa Suka Julu membawa harapan besar bagi keberlanjutan budaya literasi masyarakat desa. Ruang baca yang sederhana ini diharapkan mampu menjadi titik awal tumbuhnya kebiasaan membaca, khususnya bagi anak-anak dan remaja desa, yang kelak akan menjadi generasi penerus dengan wawasan yang lebih luas. Sebagaimana filosofi yang terkandung dalam judul program ini,
"Dari Sudut Kecil Membawa Perubahan Besar", perubahan sosial yang signifikan seringkali tidak lahir dari langkah-langkah besar dan instan, melainkan dari inisiatif kecil yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
Program Pojok Baca ini menjadi bukti bahwa mahasiswa, melalui program pengabdian masyarakat seperti KPM, memiliki peran penting sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menghadirkan solusi nyata atas persoalan sosial di tengah masyarakat.
Penutup
Keberlanjutan program semacam ini tentu memerlukan dukungan dan sinergi dari berbagai pihak, baik pemerintah desa, perguruan tinggi, maupun masyarakat itu sendiri, agar Pojok Baca yang telah dirintis tidak hanya menjadi program seremonial semata, melainkan dapat terus hidup dan memberikan manfaat jangka panjang bagi peningkatan literasi masyarakat Desa Suka Julu.
PENULIS:
- Juwita Pratiwi Aritonang
- Annisa Putri
- Widiya Ramadhani Br. Tarigan
- Kasmawati
- Mutia Rahmi
- Karina Amanda Saragih
- Sherina
- Azra Mutiara Rifaldy
- M. Rafli Pratama
Mahasiswa Kelompok 18 KPM Mandiri UIN SUNA Lhokseumawe.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment