Mahasiswi
Pendidikan
Puisi
Sastra Kita
Sisir Yang Hilang, Dan Perasaan Yang Kutemukan
Sisir Yang Hilang, Dan Perasaan Yang Kutemukan
Pagi yang Terlambat
Di pagi hari yang sudah ramai, dengan suara klakson motor dan celoteh manusia yang memulai aktivitasnya, aku masih tertidur lelap. Sampai akhirnya terbangun karena keramaian itu.
Jam menunjukkan pukul 07.00.
"Ya Tuhan, aku telat untuk pergi ke sekolah!"
Dengan panik aku mandi, tak sempat merapikan tempat tidur. Segalanya kulakukan terburu-buru, hingga rambutku yang setengah bahu basah bahkan tak sempat kusisir. Shampo pun tak sempat kupakai. Hari itu, aku duduk di kelas 6 SD.
Hari penting:
sesi foto untuk ijazah sekolah dasar. Aku sibuk mencari sisir, tapi tak kutemukan di mana pun. Waktu terus berlari, dan aku terpaksa berangkat dengan rambut basah yang berantakan Air dari ujung rambutku menetes, membasahi baju seragamku.
Tibalah giliranku difoto. Absen ke-6. Latar belakang biru. Kamera siap menangkap potret kenangan.
Seorang guru tua mendekat, menyisirkan poniku dengan tangan lembut. Tak ada kata. Hanya diam. Dengan sisir kecil berwarna merah.
Aku menat apnya dalam diam. Dalam hati, mungkin aku sempat berpikir, "Ah, ini semua gara-gara sisirku yang entah ke mana..." Tapi sejujurnya, perasaanku saat itu agak kabur. Yang kuingat hanya tatapan kosongku ke arah Pak Guru tua itu.
Sesi fotoku selesai. Kulihat anak-anak lain berfoto dengan rambut rapi berkuncir dua kepang, wangi, dan baju yang licin disetrika.
Dan saat itu juga aku sadar, aku dibesarkan dengan mengurus diriku sendiri. Tak ada yang menyisir rambutku, tak ada yang menguncirkan rambutku sebelum berangkat sekolah.
Aku terdiam Merenung sejenak, dan mungkin, tersenyum kecil.
Dulu aku tak mengerti kenapa senyuman itu hadir. Tak tahu nama perasaan yang muncul di dada.
Ternyata.
aku sedang merasa iri.
Aku membelakangi semua orang. Berjalan pelan, tertunduk. Dengan perasaan yang tak kumengerti.
Terkadang, saat hendak marah pada manusia, aku justru tersenyum kecil..
Betapa lucunya ciptaan semesta, entah berapa kali ia ikut tertawa.. melihat tingkah ceroboh ciptaannya.
Ah, segelas air putih ini terasa begitu nikmat, seperti menyeruput kopi di pagi hari, lengkap dengan suara kecil, "ahh. mantap" (dengan perasaan yang legah~)
Terkadang, saat hendak marah pada manusia, aku justru tersenyum kecil..
Betapa lucunya ciptaan semesta, entah berapa kali ia ikut tertawa.. melihat tingkah ceroboh ciptaannya.
Ah, segelas air putih ini terasa begitu nikmat, seperti menyeruput kopi di pagi hari, lengkap dengan suara kecil, "ahh. mantap" (dengan perasaan yang legah~)
Di malam yang sunyi, aku tahu: aku sendiri.
pelan-pelan kuresapi, rasa mulai tak mengenali,
kata hati:
lelah meminjamkan sandar... dan tak pandai mengisahkan diri.
aku tak memalingkan wajah, hanya ingin meniduri.
barangkali...
ceritanya memang tak menarik, atau memang
hanya kisahnya saja.
Malam itu, musim turun lebih cepat. Udara menggigit sampai ke tulang, dan gelisah tumbuh seperti kabut tanpa tahu dari mana asalnya.
Dua kali angin mengetuk, tak kubuka jendelanya, kupikir fajar masih sempat menunggu.
Lalu kabar datang, burung yang singgah sebentar.. bilang:
esok kau akan melingkari takdirmu dengan lingkar yang tak terputus. Dan terakhir: Ada doa-doa kecil disana, kau selipkan juga namaku diantara harapan yang kau kirim.
Aku menutup kembali jendala. Bukan karena badai Bukan karena ingin membuatmu berdiri terlalu lama.
Hanya saja,
dadaku seperti halaman yang tiba-tiba kehilangan arah angin.
Aku tahu musim itu akan tiba. Namun ketika benar-benar berganti, aku tak siap melepas warna lama.
Ada peta yang tak pernah kutunjukkan padamu, jalan-jalan kecil yang ingin ditapaki, rasa-rasa yang belum sempat kita cicipi.
Kini ia menjadi garis yang hanya tinggal di kertas.
Tapi aku juga tahu, kau sedang berjalan menuju cahaya yang sudah lama dicari
Aku membalas seperti biasa rapi, tanpa gemetar. Seolah tak ada ombak yang disembunyikan.
Kali ini aku yang menepi. Biasanya kau yang menghilang lama. saat hujan terlalu deras dan kembali saat berhenti.
Semoga kelak,
saat angin sudah tenang, aku bisa berkata utuh
Selamat. telah menemukan rumah yang tetap hangat bahkan saat hujan tak berhenti.
Kalbu diselimuti kabut hitam, dihiasi hujan cerah, ada kala hari ini baik-baik saja, namun hanya terfokus pada satu pemandangan kabut malam.
sungai mengalir, hujan terus turun, arus kencang, hingga... gemuruh hujan kian menghitam, gemercik suara hujan mengenai permukaan sungai, seolah meniup gelombang sampai ke permukaan yang dalam.
gemerciknya kecil, namun menghantam dalam.
Tak kunjung reda, kalbu ikut tenggelam hingga kedalaman lalu terhempas ke permukaan, hujan semakin deras dengan diam...
bumi berkata..... tetaplah mengalir hingga derasnya menghantam alam.
tak ada kata, diam, seolah semua akan baik-baik saja pada waktunya.
Oleh: Arini Putri
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Komunikasi. Akademi & Universitas
Follow: @reree_arn
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Mahasiswi

Post a Comment