Mahasiswi
Pendidikan
Membedah Penderitaan Rakyat dalam Cerita Pendek Idrus
sumber: bukueka
APERO FUBLIC I RESENSI BUKU.-- Dalam sejarah kesusastraan Indonesia, Idrus kerap disebut sebagai sosok yang "mengguncang" kemapanan sastra melalui gaya penulisan yang lugas, dingin, dan telanjang. Ia tidak memoles realitas dengan metafora yang manis; ia menyajikannya apa adanya, persis seperti luka yang terbuka.
Melalui cerpen-cerpennya yang berlatar masa pendudukan Jepang, Idrus berhasil merekam mikrokosmos penderitaan rakyat—sebuah narasi yang melintasi ruang dan waktu, hingga hari ini terasa masih sangat relevan saat kita melihat ketimpangan ekonomi dan sosial di berbagai belahan dunia.
Trem dan Hierarki Penderitaan
Idrus membuka pintu masuk ke dalam dunia represif melalui cerpen Corat-Coret di Bawah Tanah. Ia tidak memberikan pengantar yang berbasa-basi. Pembaca langsung diempas ke dalam hiruk-pikuk trem yang penuh sesak: bau keringat, desak-desakan manusia, hingga aroma tajam terasi yang menusuk hidung.
Trem bagi Idrus bukan sekadar moda transportasi. Ia adalah laboratorium sosial. Di sanalah kita melihat bagaimana penjajahan tidak hanya merampas kedaulatan negara, tetapi juga merusak tatanan kemanusiaan.
Di ruang sempit itu, Idrus dengan mahir menangkap residu feodalisme: perempuan Belanda-Indo yang merasa berhak menghakimi kelas sosial di bawahnya, serta suara-suara sumbang kaum tua yang menahan amarah karena penindasan sesama pribumi yang merasa memiliki kuasa di bawah bayang-bayang Nippon.
Ada kritik tajam di sana—bahwa tirani sering kali menciptakan mata rantai baru. Orang kecil yang diberi remah-remah kekuasaan, justru menjadi penindas paling kejam bagi saudaranya sendiri. Fenomena ini, jika ditarik ke konteks hari ini, adalah refleksi dari bagaimana sistem yang korup sering kali memaksa individu untuk mengorbankan empati demi kelangsungan hidup.
Rolet dan Ilusi Kemakmuran
Perjalanan penderitaan berlanjut ke pasar malam dalam Pasar Malam Zaman Jepang. Di sini, Idrus memotret kontradiksi yang menyakitkan. Di saat rakyat dipaksa hidup dengan pakaian pudar dan perut lapar, penguasa justru menawarkan "obat mujarab" bernama perjudian.
Adegan seorang laki-laki kurus yang melucuti pakaiannya sendiri hingga tersisa celana dalam demi memasang taruhan adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang mendalam. Itu bukan sekadar kisah tentang kecanduan judi; itu adalah simbol keputusasaan masyarakat yang telah kehilangan segalanya, bahkan harga diri.
Idrus menunjukkan bahwa dalam narasi besar sejarah, penderitaan rakyat sering kali dimanipulasi menjadi komoditas keuntungan bagi segelintir penguasa yang tertawa di atas meja rolet.
Bukankah ini mengingatkan kita pada kebijakan-kebijakan ekonomi modern yang sering kali hanya membebankan inflasi ke pundak mereka yang paling rentan, sementara narasi "kemakmuran" terus dipompakan melalui propaganda?
Kusno: Martabat di Balik Sehelai Celana
Puncak empati Idrus hadir dalam cerpen Kisah Sebuah Celana Pendek. Idrus membawa kita ke ruang domestik yang sangat intim: kehidupan Kusno. Jika bagi kelas menengah celana hanyalah penutup tubuh, bagi Kusno, celana adalah manifestasi dari masa depan dan martabat.
Kalimat "Kemakmuran berarti baginya celana" adalah tamparan bagi setiap pengambil kebijakan. Di saat retorika politik global sering kali terjebak dalam angka-angka pertumbuhan ekonomi yang abstrak, Idrus menarik kita kembali ke akar kemanusiaan: makan yang cukup dan pakaian yang layak. Kusno adalah representasi dari jutaan manusia yang harus terus hidup, berjuang, dan memelihara kebanggaan di tengah zaman yang menghancurkan impian-impian kecil mereka.
Relevansi yang Mencekam
Membaca Idrus di tahun 2026, di tengah ketegangan geopolitik yang terus memicu krisis pangan dan energi, terasa seperti berkaca pada cermin yang retak. Rakyat kecil di era Idrus, seperti halnya mereka yang terdampak krisis global hari ini, adalah kelompok yang paling pertama merasakan getirnya kebijakan perang dan instabilitas ekonomi. Mereka tidak memegang pena untuk menandatangani deklarasi perang, namun tangan merekalah yang menanggung beban paling berat.
Idrus tidak sedang menulis cerita tentang masa lalu yang mati. Ia sedang menulis catatan kaki tentang kemanusiaan yang abadi. Ia mengajarkan kita bahwa sastra yang kuat bukan tentang keindahan kata-kata, melainkan tentang keberanian untuk menatap wajah penderitaan "Liyan" (orang lain) dengan kejujuran yang utuh.
Melalui Trem, meja rolet, dan sehelai celana Kusno, Idrus mengingatkan kita bahwa martabat manusia bukanlah barang mewah. Ia adalah sesuatu yang harus terus diperjuangkan, terutama ketika zaman sedang tidak berpihak kepada mereka yang tak bersuara.
Pada akhirnya, cerpen-cerpen Idrus adalah seruan kemanusiaan agar kita tidak berhenti menjadi manusia bagi sesama, terlepas dari apa pun identitas dan kelas sosial yang membelenggu kita.
Penulis: Zulfa Amanda
Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Mahasiswi

Post a Comment