Kampus
Opini
Ketika Kecerdasan Buatan Mengetuk Pintu Pesantren: Antara Kemudahan AI dan Hilangnya Esensi "Tirakat"
APERO FUBLIC I KEISLAMAN.-- Pernahkah kalian membayangkan sebuah gawai canggih berbasis Artificial Intelligence (AI) bersanding dengan kitab-kitab klasik berdebu tebal di atas meja kayu pesantren? Di era digital ini, pemandangan tersebut bukan lagi fiksi. AI, dengan segala pesona kecepatan dan keinstanannya, kini mulai mengetuk pintu gerbang dunia pesantren, termasuk di Pondok Pesantren Modern Darussalam Purwokerto. Namun, ketika teknologi masa depan ini berhadapan dengan tradisi intelektual Islam yang sudah mengakar berabad-abad, sebuah pertanyaan besar muncul: Apakah AI adalah berkah akademis, atau justru ancaman bagi spiritualitas santri?
Secara kasat mata, AI adalah angin segar bagi efisiensi akademik. Hasil observasi menunjukkan bahwa para ustadz dan ustazah kerap memanfaatkan AI di luar kelas sebagai pemantik ide awal atau alat bantu mencari referensi tambahan ketika menghadapi kebuntuan masalah. Bagi para santri sendiri, AI adalah dewa penyelamat di kala darurat. Bayangkan saat mereka dikejar tenggat waktu tugas yang mepet; alih-alih membalik satu per satu halaman kamus bahasa Arab yang tebal, AI dapat menyajikan arti kata-kata sulit dalam hitungan detik. Aspek kognitif dan kecepatan pencarian informasi jelas dimenangkan oleh teknologi.
Namun, ilmu pesantren bukanlah sekadar transfer teks atau kalkulasi data hitam di atas putih. Di sinilah letak benturan budayanya. Para ustadz di Pesantren Darussalam Purwokerto menekankan bahwa esensi belajar kitab kuning justru terletak pada proses berpikir yang teratur. Saat seorang santri membaca tulisan pegon, mereka sedang dipaksa menganalisis kedudukan kata demi kata menggunakan kaidah ilmu alat, seperti Nahwu dan Shorof. AI murni gagal dalam hal ini. AI hanya bisa menyajikan hasil terjemahan instan, tanpa mampu menjabarkan alasan mengapa sebuah kalimat bermakna demikian. Ketika proses analisis ini dipotong oleh AI, ada logika berpikir yang hilang.
Menariknya, kecemasan ini tidak hanya dirasakan oleh para pengajar, tetapi juga diakui oleh para santri itu sendiri. Ada sebuah ruang spiritual yang tidak akan pernah bisa diisi oleh algoritma secanggih apa pun, yaitu nilai "Tirakat".
Bagi dunia santri, tirakat adalah ruh dalam mencari ilmu. Tirakat mewujud dalam peluh dan usaha keras membalik kamus saat mata mengantuk, serta rasa tegang sekaligus bangga yang membuncah ketika maju sorogan (membaca kitab secara individual) langsung di hadapan guru. Santri menyadari dengan sangat baik: AI mungkin bisa memindahkan teks Arab ke bahasa Indonesia dalam sekejap, tetapi AI tidak akan pernah bisa memindahkan ketenangan hati, kebersihan jiwa, dan—yang paling utama—keberkahan ilmu yang mengalir dari rida seorang guru. Tanpa kehadiran "ruh" dari sang guru, ilmu yang didapat dari teks instan AI akan terasa hambar.
Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Pondok Pesantren Modern Darussalam Purwokerto hingga saat ini belum memasukkan AI ke dalam kurikulum utamanya. Aturan ketat yang melarang penggunaan smartphone saat mengaji tetap ditegakkan. Langkah ini diambil bukan untuk memasung atau memusuhi kebebasan kemajuan, melainkan sebagai benteng pelindung agar fokus dan konsentrasi santri tidak terdistraksi oleh riuhnya dunia digital.
Selain itu, ada masalah mendasar mengenai validitas. Di dunia pesantren, kebenaran mutlak harus memiliki sanad (silsilah keilmuan) yang jelas. Karena output dari AI belum bisa dipastikan 100% kebenarannya, pesantren menetapkan aturan tegas: hasil dari AI tidak akan pernah boleh dijadikan rujukan utama. Kewajiban untuk melakukan validasi dan konfirmasi ulang menggunakan kitab-kitab asli (sumber primer) atau kamus konvensional adalah harga mati. Otoritas evaluasi, penafsiran kitab, dan penentuan dalil sahih tetap berada mutlak di tangan ustadz dan ustazah yang terpercaya.
Melihat Fenomena ini, saya meyakini bahwa esensi terdalam dari sebuah pesantren bukanlah seberapa cepat santrinya mampu menerjemahkan sebuah teks Arab, melainkan seberapa kuat proses pembentukan karakter (akhlak) dan pencarian berkah ilmu melalui rida guru. Di sinilah letak kegagalan terbesar AI. Algoritma secanggih apa pun tidak akan pernah bisa memahami makna air mata seorang santri yang sedang bertirakat menahan kantuk demi memahami satu baris ayat. Oleh karena itu, saya sangat mendukung kebijakan ustadz yang tetap memegang kendali mutlak atas otoritas kebenaran dan validasi ilmu. Biarkan AI menjadi mesin pembuat teks yang dingin, sementara pesantren tetap menjadi oase spiritual yang hangat dan bernyawa.
Pada akhirnya, pesantren tidak sepenuhnya menutup diri. Pihak pengelola dan pengajar menyatakan kesiapan mereka untuk beradaptasi di masa depan jika kelak ada regulasi resmi yang ramah terhadap nilai-nilai kepesantrenan. AI boleh saja berkembang menjadi sangat cerdas, namun ia harus tetap diletakkan sebagai pelayan, bukan majikan. Biarkan AI membantu mempercepat pencarian materi di luar kelas, namun biarkan urusan sanad, berkah, tirakat, dan ketukan hati dalam memahami agama tetap menjadi wilayah suci antara santri, guru, dan lembaran-lembaran kitab kuning yang abadi.
Oleh: Hanifah Fitriani
Mahasiswi semester 2 UIN Prof. K. H Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment