Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Psikologi
Kesehatan Mental Mahasiswa: Bahaya FOMO dan Validasi Medsos!
APERO FUBLIC I OPINI.-- Di era digital saat ini, isu mengenai kesehatan mental kerap menjadi perbincangan hangat di kalangan mahasiswa. Coba sesekali perhatikan meja-meja dikantin kampus atau warkop sekitaran kalian akhir-akhir ini, Pemandangannya hampir selalu sama dan agak ironis. Ada sekelompok mahasiswa duduk melingkar di satu meja, tapi suasana sunyi senyap.
Bukannya sibuk mengobrol seru atau mendiskusikan tugasnya tapi justru mata semua orang malah kompak tertuju ke layar handphone masing-masing. Jari-jari mereka sibuk scrolling tanpa henti di Instagram, Tiktok, dan memang secara fisik kita sedang nongkrong bareng, tapi pikiran kita sebenarnya lagi kelayapan di dunia maya, sibuk mengintip “kehidupan sempurna” yang dipamerkan orang lain.
Kebiasaan yang awalnya cuma buat membunuh waktu luang di sela-sela jam kuliah ini, lama -lama jadi boomerang yang menyerang mental kita sendiri. Masalahnya mulai muncul waktu apa yang kita lihat di timeline bikin hati rasanya gundah dan cemas.
Jujur saja, pasti ada perasaaan mengganjal atau sedikit minder waktu melihat teman seangkatan mengunggah foto almamater kampus top lah, pamer piala perlombaan atau sekedar nongkrong di kafe yang aestetik. Nah disinilah sindrom FOMO (Fear of Missing Out) mulai bekerja. Muncul ketakutan aneh kalau hidup kita cuma akan jalan ditempat, sementara orang lain sudah lari jauh didepan meninggalkan kita.
Sadar atau tidak, kita itu seperti terseret ke dalam kompetisi gaib untuk berburu validasi digital. Standar kebahagiaan atau kesuksesan seorang mahasiswa zaman sekarang sering kali di persempit cuma sebatas angka medsos. Mulai dari berapa jumlah likes yang didapat berapa, seberapa orang banyak yang melihat stories, atau juga seberapa ramai kolom komentar di isi pujian.
Kemudian parahnya, kalau unggahan kita lagi sepi respons, tidak sedikit dari kita yang langsung merasa insecure, mendadak mempertanyakan kualitas dirinya, bahkan sampai buru-buru menghapus postingan tersebut karna dianggap “gagal” menarik perhatian publik.
Padahal kalau mau dipikir-pikir lagi pakai logika, media sosial itu tidak lebih dari sebuah panggung sandiwara yang sudah disaring ketat, Jadi apa yang lewat di timeline kita itu cuma 1% bagian terbaik dari hidup seseorang atau kilasan pencapaian dan senyum manisnya aja.
Kita sering lupa kalau di balik satu foto aestetik atau pengumuman kelulusan yang keren itu, ada 99% perjuangan berat, tumpukan kegagalan, dan rasa lelah luar biasa yang sengaja di sembunyikan dari kamera. jadi, membandingkan proses hidup kita yang masih berantakan dengan hasil akhir orang lain yang sudah di kasih filter jelas sangat tidak adil.
Dampak dari kebiasaan haus validasi ini nyata sekali dan dampaknya sangat melelahkan secara psikologis. Energi kita habis terkuras cuma untuk memikirkan penilaian orang lain di dunia maya, sampai-sampai fokus utama kita di dunia nyata berantakan.
Tugas kuliah sering kali terbengkalai karena konsentrasi gampang terpecah, produktivitas menurun karna waktu habis dipakai untuk membanding-bandingkan diri dan puncaknya kita jadi lupa caranya bersyukur atas pencapaian-pencapaian kecil yang sebenarnya sudah susah payah kita raih dengan keringat sendiri.
Jadi sebagai mahasiswa, kita harus mulai berani mengambil jarak dan membatasi diri dari toxicnya dunia digital. Sudah waktunya sadar kalau nilai diri kita ini sama sekali tidak di tentukan oleh algoritma medsos atau jempol para followers, hidup ini bukan hanya perlombaan lari yang rutenya diatur oleh postingan orang lain.
Sesekali, matikan layar handphonemu, tata Kembali fokusmu didunia nyata, dan mulailah merayakan setiap proses belajarmu sendiri tanpa perlu sibuk mencari validasi dari siapapun.
Oleh: Rosyda Arahman
Mahasiswi Prodi Psikologi, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment