Kampus
Mahasiswi
Media Sosial
Opini
Pendidikan
Kenapa Gen Z Lebih Percaya Algoritma daripada Orang Tua Mereka Sendiri?
APERO FUBLIC I OPINI.- Bayangkan seorang remaja berusia tujuh belas tahun yang ingin memilih jurusan kuliah. Ia tidak bertanya kepada ayahnya yang sudah dua puluh tahun bekerja di dunia teknik. Ia tidak meminta saran ibunya yang punya kenalan luas di berbagai perusahaan.
Yang ia lakukan adalah membuka TikTok, mengetikkan pertanyaan di kolom pencarian, dan membiarkan algoritma menentukan konten apa yang perlu ia tonton lalu mengikuti apa pun yang muncul di layar itu. Ini bukan cerita fiksi. Ini pemandangan sehari-hari yang terjadi di meja makan jutaan keluarga Indonesia.
Kepercayaan yang Berpindah Tangan
Fenomena ini bukan sekadar soal "anak muda tidak mau dengar orang tua." Ada sesuatu yang lebih dalam dan lebih struktural yang sedang terjadi kepercayaan sebagai institusi sosial sedang mengalami migrasi besar-besaran dari manusia kepada mesin.
Menurut survei yang dilakukan oleh We Are Social dan Hootsuite pada 2024, rata-rata pengguna media sosial di Indonesia menghabiskan lebih dari delapan jam per hari di depan layar. Sebagian besar dari mereka adalah generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012.
Bagi mereka, internet bukan alat bantu internet adalah habitat. Di habitat itu, algoritma adalah cuaca. Ia menentukan apa yang terlihat, apa yang terasa relevan, dan pada akhirnya apa yang terasa benar.
Mengapa Algoritma Terasa Lebih "Paham"
Orang tua berbicara berdasarkan pengalaman masa lalu. Algoritma berbicara berdasarkan perilaku masa kini pengguna itu sendiri. Inilah keunggulan mendasar yang dimiliki algoritma dalam persaingan merebut kepercayaan anak muda.
Ketika seorang remaja membuka YouTube atau Instagram, sistem rekomendasi yang ada sudah mencatat ribuan data titik tentang dirinya konten apa yang ia tonton sampai habis, topik apa yang ia cari berulang kali, jam berapa ia paling aktif, dan bahkan seberapa lama ia berhenti di sebuah unggahan sebelum menggulir ke bawah.
Hasilnya adalah ilusi pemahaman yang sempurna. Algoritma seperti sosok yang "selalu ada, selalu mengerti, dan tidak pernah menghakimi."
Sementara itu, orang tua betapapun tulus niatnya kerap tampil sebagai figur yang ketinggalan zaman. Ketika seorang anak Gen Z membicarakan ketertarikannya pada karir sebagai content creator atau UX designer, orang tua mungkin merespons dengan saran untuk "cari kerja yang pasti-pasti saja." Respons itu mungkin lahir dari kasih sayang, tetapi bagi si anak, respons itu terasa seperti tidak didengar.
Algoritma tidak pernah memberikan respons semacam itu. Algoritma justru akan langsung menyajikan video tentang "cara monetisasi konten" atau "gaji UX designer di perusahaan teknologi." Dalam hitungan detik.
Paradoks Personalisasi
Namun ada hal yang tidak pernah diberitahukan algoritma kepada penggunanya bahwa "pemahaman" itu sebenarnya adalah jebakan.
Algoritma dirancang bukan untuk mencerdaskan, melainkan untuk mempertahankan perhatian. Konten yang membuat pengguna bertahan lebih lama adalah konten yang menegaskan apa yang sudah mereka percaya, bukan konten yang menantang atau memperluas cara pandang mereka. Inilah yang oleh para peneliti disebut sebagai echo chamber ruang gema tempat seseorang hanya mendengar suaranya sendiri dipantulkan berulang kali.
Ironisnya, semakin seseorang merasa "cocok" dengan konten yang ia temukan, semakin ia percaya bahwa algoritmanya "mengerti" dirinya. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah sebaliknya algoritma telah membentuk ulang preferensinya secara perlahan-lahan tanpa ia sadari.
Ini berbeda secara fundamental dari hubungan dengan orang tua. Orang tua yang baik kadang-kadang memberikan jawaban yang tidak ingin didengar anak bukan karena tidak peduli, tetapi karena mereka melihat gambar yang lebih besar, risiko yang lebih nyata, dan konsekuensi jangka panjang yang belum terbayangkan oleh anak muda.
Algoritma tidak memiliki mekanisme untuk melakukan itu. Algoritma tidak punya kepentingan jangka panjang terhadap kesejahteraan pengguna. Yang ada hanyalah kepentingan jangka pendek membuat pengguna tetap menggulir layar.
Celah yang Diciptakan oleh Jarak Generasi
Tentu saja, kita tidak bisa menyalahkan generasi Z semata. Ada tanggung jawab yang juga perlu ditelusuri ke sisi orang tua dan lebih jauh lagi, ke sistem sosial yang lebih luas.
Banyak orang tua generasi baby boomer dan Gen X tumbuh dalam budaya di mana otoritas adalah sesuatu yang tidak dipertanyakan.
Mereka menerima saran dari orang yang lebih tua tanpa terlalu banyak bertanya "mengapa." Pola ini kemudian mereka teruskan dalam cara mendidik anak "karena orang tua bilang begitu, maka ikuti saja."
Namun generasi Z tumbuh dalam ekosistem yang sama sekali berbeda. Mereka besar bersama Google, di mana setiap klaim dapat diperiksa kebenarannya dalam tiga detik. Mereka terbiasa dengan transparansi dan verifikasi.
Ketika orang tua memberikan saran tanpa penjelasan yang memadai, bagi mereka itu bukan kebijaksanaan itu klaim yang belum terverifikasi. Di sinilah celah itu terbuka. Algoritma mengisi celah itu dengan konten yang terasa masuk akal, relevan, dan bebas dari hierarki kekuasaan yang terasa menekan.
Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Pertaruhkan
Pergeseran kepercayaan ini bukan semata-mata masalah keharmonisan keluarga. Ini adalah masalah epistemik yang lebih serius bagaimana sebuah generasi belajar membedakan informasi yang baik dari yang buruk, dan dari siapa mereka belajar melakukannya.
Ketika keputusan besar memilih karir, memilih pasangan hidup, menentukan pandangan politik, bahkan memutuskan apakah vaksin itu aman dipengaruhi terutama oleh algoritma, maka kita sedang menyerahkan sebagian besar navigasi hidup manusia kepada sistem yang tidak memiliki nurani, tidak memiliki empati, dan tidak akan menanggung akibat dari saran yang salah. Orang tua bisa salah. Tetapi orang tua menanggung kesalahan itu bersama anaknya. Algoritma tidak.
Jalan Tengah yang Perlu Dicari
Tulisan ini bukan ajakan untuk kembali ke model hubungan otoriter antara orang tua dan anak. Model itu memang sudah tidak relevan dan tidak sehat. Yang perlu dibangun adalah budaya percakapan yang lebih setara dan lebih terbuka di dalam keluarga di mana orang tua tidak hanya memberi perintah, tetapi juga menjelaskan alasan di mana anak tidak hanya menerima atau menolak, tetapi juga mengajak berdiskusi.
Dan pada saat yang sama, perlu ada literasi digital yang lebih serius ditanamkan bukan hanya tentang cara menggunakan teknologi, tetapi tentang cara tidak digunakan oleh teknologi. Kemampuan untuk mengenali bagaimana algoritma bekerja, apa kepentingan di baliknya, dan mengapa kenyamanan yang ditawarkan mesin bisa menjadi perangkap yang halus.
Algoritma adalah alat yang luar biasa. Tetapi ia adalah alat yang tidak pernah dirancang untuk mencintai penggunanya. Orang tua dengan segala keterbatasan dan kekurangannya dirancang untuk itu.
Penulis : Siska Sri Gustiani
Mahasiswi Universitas Pamulang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment