Kampus
Mahasiswi
Media Sosial
Pendidikan
Psikologi
Generasi yang Kehilangan Fokus: Di Tengah Arus Video Pendek yang Tak Pernah Berhenti
APERO FUBLIC I OPINI.-- Saat ini, hampir tidak ada hari tanpa media sosial. Ketika bangun tidur, menunggu kendaraan, beristirahat, bahkan sebelum tidur kembali, banyak dari kita menghabiskan waktu dengan menggulir TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts. Video-video singkat itu hadir tanpa henti dan selalu berhasil menarik perhatian.
Fenomena ini semakin kuat seiring tingginya penggunaan internet di Indonesia. Berdasarkan laporan Digital Indonesia 2026, Indonesia memiliki sekitar 230 juta pengguna internet dan 180 juta pengguna media sosial. Rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari tiga jam setiap hari di media sosial. Angka ini menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda.
Di balik kemudahan dan hiburan yang ditawarkan, muncul persoalan yang mulai dirasakan banyak anak muda, yaitu menurunnya kemampuan untuk fokus. Tidak sedikit mahasiswa yang mampu menghabiskan waktu berjam-jam menonton video pendek.
Tetapi merasa kesulitan membaca beberapa halaman buku, memahami materi kuliah, atau menyelesaikan tugas yang membutuhkan konsentrasi dalam waktu lama.
Ironisnya, generasi yang memiliki akses informasi paling luas justru mulai mengalami kesulitan untuk memberikan perhatian penuh pada satu hal.
Ketika Otak Terbiasa dengan Informasi Serba Cepat
Video pendek dirancang agar mudah dikonsumsi. Dalam hitungan detik, pengguna bisa mendapatkan hiburan, informasi, atau pengalaman baru. Setelah satu video selesai, video berikutnya langsung muncul. Tanpa disadari, beberapa menit sering berubah menjadi berjam-jam.
Lama-kelamaan, kebiasaan ini memengaruhi cara kita menerima informasi. Otak menjadi terbiasa dengan sesuatu yang cepat, singkat, dan terus berganti. Akibatnya, aktivitas yang membutuhkan perhatian lebih lama, seperti membaca buku, mendengarkan penjelasan kuliah, atau mengerjakan tugas, terasa lebih berat dibanding sebelumnya.
Tidak sedikit anak muda yang mengeluhkan mudah bosan saat belajar, sulit berkonsentrasi, atau tanpa sadar membuka media sosial ketika sedang mengerjakan tugas. Kondisi ini sering dianggap sebagai bentuk kemalasan. Padahal, persoalannya jauh lebih kompleks.
Perhatian yang Diperebutkan
Di balik video-video yang kita tonton, ada satu hal yang sebenarnya sedang diperebutkan, yaitu perhatian kita. Platform media sosial dirancang agar pengguna bertahan selama mungkin di dalam aplikasi. Semakin lama seseorang menonton, semakin besar keuntungan yang diperoleh platform melalui iklan dan aktivitas pengguna.
Karena itu, konten terus dibuat lebih menarik, lebih cepat, dan lebih sesuai dengan minat masing-masing pengguna. Akibatnya, kita terus menerima rangsangan baru tanpa henti. Tanpa sadar, perhatian menjadi sesuatu yang selalu ditarik ke berbagai arah.
Dalam situasi seperti ini, generasi muda bukan hanya pengguna media sosial. Mereka juga menjadi sasaran dari sistem digital yang terus berusaha mempertahankan perhatian mereka selama mungkin.
Dampak yang Mulai Terlihat
Setiap hari kita menerima begitu banyak informasi dari media sosial. Belum selesai memahami satu informasi, kita sudah disuguhkan informasi berikutnya. Dalam beberapa menit saja, seseorang bisa melihat berita, hiburan, promosi produk, motivasi hidup, hingga berbagai tren yang terus berubah.
Akibatnya, banyak anak muda mulai mengalami kesulitan berkonsentrasi, mudah terdistraksi, cepat bosan, dan merasa lelah secara mental. Yang lebih mengkhawatirkan, kondisi ini sering dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Kekhawatiran ini ternyata bukan sekadar perasaan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Marlisa dan Gagarin (2025) terhadap 34 mahasiswa, ditemukan bahwa 70,6 persen responden merupakan pengguna aktif TikTok, sementara sekitar 47 persen menghabiskan waktu 3 hingga 4 jam setiap hari untuk menonton video pendek.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi intensitas menonton video pendek, semakin besar pula kecenderungan mahasiswa mengalami gangguan fokus, mudah terdistraksi, kesulitan mengatur waktu belajar, dan lebih sulit menyelesaikan tugas yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Penelitian yang sama juga menemukan bahwa banyak mahasiswa mengalami kesulitan mempertahankan perhatian dalam waktu lama serta memiliki kecenderungan menunda pekerjaan akademik. Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi video pendek secara berlebihan tidak hanya memengaruhi kebiasaan belajar, tetapi juga dapat mengubah cara seseorang mempertahankan fokus dalam aktivitas sehari-hari.
Jika kondisi ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin kita akan menghadapi generasi yang terbiasa mengetahui banyak hal secara cepat, tetapi kesulitan memahami sesuatu secara mendalam.
Mengapa Kita Perlu Peduli?
Kemampuan fokus bukan sekadar urusan belajar. Fokus merupakan dasar dari kemampuan berpikir, memahami masalah, mengambil keputusan, dan menghasilkan gagasan yang berkualitas.
Ketika kemampuan fokus terus menurun, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh masyarakat secara luas. Sulit membayangkan lahirnya generasi yang kreatif, kritis, dan produktif jika mereka terus-menerus kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi.
Karena itu, persoalan ini tidak cukup diselesaikan dengan menyuruh anak muda mengurangi penggunaan media sosial. Yang dibutuhkan adalah kesadaran bersama mengenai dampak penggunaan media sosial yang berlebihan, disertai kemampuan untuk mengelola waktu dan perhatian dengan lebih baik.
Saatnya Merebut Kembali Fokus
Teknologi bukanlah musuh. Video pendek juga tidak sepenuhnya buruk. Banyak informasi, edukasi, dan kreativitas yang lahir dari platform tersebut. Namun, kita perlu menyadari bahwa perhatian adalah sesuatu yang berharga.
Membatasi waktu penggunaan media sosial, menyediakan waktu tanpa gawai, membiasakan membaca buku, dan melatih diri untuk fokus pada satu aktivitas dalam waktu tertentu dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga kesehatan mental sekaligus kemampuan berkonsentrasi.
Pada akhirnya, ancaman terbesar generasi muda saat ini bukanlah kekurangan informasi. Justru sebaliknya, kita hidup di tengah banjir informasi yang tidak pernah berhenti. Persoalannya adalah apakah kita masih mampu mengendalikan perhatian kita sendiri di tengah arus konten yang terus berdatangan.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti menganggap generasi muda malas atau tidak disiplin. Bisa jadi mereka sedang berjuang mempertahankan fokus di tengah dunia digital yang setiap hari berlomba-lomba merebut perhatian mereka.
Jika kondisi ini terus diabaikan, yang hilang bukan hanya kemampuan untuk fokus, tetapi juga kemampuan untuk berpikir secara mendalam dan kritis.
Oleh: Elvi Mawarni
Mahasiswi Jurusan Psikologi, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment