Ilmu Sastra
Kampus
Mahasiswi
Pendidikan
Resensi
Dilema Tini dan Yah dalam Belenggu: Menjadi Modern Salah, Tradisional Pun Kalah?
APERO FUBLIC I RESENSI BUKU. -- Di tengah semakin terbuka akses pendidikan dan peluang karir untuk perempuan, ada sebuah paradoks sosial yang masih terlihat hingga saat ini. Perempuan modern didorong untuk tampil mandiri, cerdas, dan sukses di ranah publik, tetapi di sisi lain, mereka dibebani harapan untuk mematuhi norma-norma tradisional sebagai istri yang patuh, hangat, dan mengutamakan keluarga di lingkungan rumah. Ketika mereka lebih fokus pada karir, stigma sebagai perempuan yang mengabaikan tanggung jawab rumah tangga cepat melekat pada mereka.
Sebaliknya, jika mereka memilih untuk sepenuhnya mengabdikan diri ke urusan rumah tangga, sering kali dianggap kurang ambisius dan ketinggalan zaman. Masalah rumit ini sering dianggap sebagai tantangan khas era modern abad ke-21.
Namun, jika ditelusuri dari segi sejarah, pertentangan nilai ini sudah lama ada dalam struktur masyarakat Indonesia. Sebelum tema kesetaraan gender dan feminisme menjadi diskursus yang umum, Armijn Pane dalam novel klasiknya Belenggu (1940) telah dengan tajam menggambarkan alienasi perempuan, kelemahan institusi perkawinan, serta konflik antara nilai-nilai tradisional dan modern. Kehadiran novel ini di masa Pujangga Baru berfungsi sebagai refleksi psikologis-sosial yang mengguncang batasan sastra pada zamannya. Melalui dualitas karakter Tini dan Yah, Armijn Pane secara cerdas menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya berhadapan dengan konflik dari pria, melainkan juga terperangkap dalam jaringan harapan sosial yang bertentangan dan merugikan.
Sumber: Kumparan
Tini (Sumartini) menggambarkan prototipe "Manusia Indonesia Baru" di awal abad ke-20—seorang perempuan terdidik dengan pemahaman Barat, aktif di organisasi sosial, memiliki kesadaran diri yang tinggi, dan menolak untuk berada di bawah dominasi suaminya. Bagi Tini, keberadaan perempuan bukan hanya sekadar pelengkap dalam kehidupan laki-laki, melainkan sebagai subjek otonom yang berhak untuk mengeksplorasi diri dan memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Penerapan prinsip ini terlihat dari bagaimana Tini lebih banyak menghabiskan waktu dan energinya untuk pertemuan organisasi dan interaksi intelektual dibandingkan mengurus urusan rumah tangga. Namun, di balik tampilan progresif dan citra kemandirian tersebut, terdapat kerumitan psikologis yang mendalam. Tini mendambakan sebuah pernikahan yang setara—sebuah ide yang masih sangat baru bagi masyarakat kolonial pada waktu itu.
Ironisnya, ia terjebak dalam kesulitan emosional untuk menjalin kedekatan dengan suaminya, Dokter Sukartono. Ketika Tono menginginkan sosok istri yang tradisional, penuh kasih, melayani, dan tunduk, Tini justru hadir sebagai sosok yang kaku, tegas, dan dingin. Ketegangan ini mencapai klimaks di dalam rumah mereka, di mana Tini secara langsung mempertanyakan posisi istri yang selalu diharapkan untuk memenuhi ekspektasi suami. Pertanyaan ini menegaskan bahwa perjuangan emansipasi Tini menunjukkan bahwa struktur patriarki tidak hanya beroperasi melalui penindasan fisik, tetapi juga melalui internalisasi beban mental. Ia berjuang keras untuk membebaskan dirinya dari belenggu tradisi, tetapi harus membayar mahal dengan perasaan kesepian yang mendalam, karena institusi pernikahan dan masyarakat di sekitarnya belum memberikan ruang bagi perempuan yang menolak untuk patuh.
Kontras dalam Struktur Sosial
Berbeda jauh dengan Tini, karakter Yah atau Siti Rohayah muncul sebagai figur yang tersisih dan terasing dari tatanan sosial yang resmi. Latar belakangnya sebagai wanita penghibur menempatkannya pada posisi sosial terendah, menjadikannya sasaran penghinaan dan objek penilaian moral dari masyarakat yang munafik. Namun, lewat tokoh Yah, Armijn Pane menyuguhkan sebuah ironi naratif yang mendalam serta kritik psikologis terhadap pria. Meskipun Yah dianggap memiliki status sosial yang "kotor," ia justru menunjukkan stabilitas emosional dan kemampuan berempati yang tidak dapat ditunjukkan Tini di dalam keluarga Sukartono. Yah menjadi pendengar yang reflektif, penuh penerimaan, ramah, dan dapat menyembuhkan ego maskulin Tono yang terluka. Di hadapan Yah, Tono menemukan ketenangan psikologis; ia merasa dihargai, ditaati, dan kembali diakui sebagai pusat otoritas tanpa harus menghadapi pertentangan ideologi. Yah dengan sadar memilih untuk tidak bersaing dengan Tono, malah memberikan ruang domestik yang penuh kepatuhan—sebuah sifat yang amat diidam-idamkan Tono.
Namun, kenyamanan yang dihadirkan Yah sesungguhnya menyimpan tragedi tersendiri. Kelembutan dan kepatuhannya bukanlah tanda ketaatan yang bodoh, melainkan sebuah cara mempertahankan diri dari seorang wanita yang rusak oleh trauma masa lalu, pernikahan paksa, dan keputusasaan. Kesadaran Yah tentang batasan kebahagiaannya yang semu terlihat dalam ratapan batinnya saat menghadapi perpisahan, mencerminkan gambaran kelam tentang perjalanan yang semakin menyempit, "sebagai jalan yang dilalui oleh orang yang terpuruk, semakin mendalami penderitaan. " Jadi, Yah bukan hanya simbol dari idealisme perempuan tradisional yang bahagia, melainkan representasi menyedihkan individu yang identitasnya terpecah oleh stigma sosial dan eksploitasi masa lalu yang terus menghantuinya seperti bayangan.
Kritik terhadap Standar Ganda
Melalui perbandingan dialektis antara Tini dan Yah, Armijn Pane sebenarnya melancarkan kritik terhadap standar ganda masyarakat patriarki dalam menilai perempuan. Tini dihukum dan dicap sebagai istri yang gagal karena ia terlalu mandiri, rasional, dan menolak dengan tegas peran domestik yang dianggap sebagai sifat alami perempuan. Di sisi lain, Yah memiliki segala kebajikan tradisional yang diharapkan dalam struktur patriarki—ia hangat, melayani, dan patuh, namun keberadaannya tetap ditolak dan tidak dianggap layak mendapatkan pengakuan sosial akibat noda di masa lalunya. Melalui dualitas ini, Belenggu mengungkapkan sebuah realitas pahit: bahwa dalam sistem sosial yang tidak adil, apapun pilihan eksistensial yang diambil oleh perempuan, mereka selalu dikenai stigma bersalah. Jika perempuan memilih jalur modern dan mengejar aktualisasi diri, mereka dianggap egois dan melanggar kodrat; jika mereka menyesuaikan diri dengan nilai tradisional tetapi memiliki ketidakstabilan atau masa lalu yang gelap, mereka akan diasingkan. Dalam kerangka makro ini, metafora "Belenggu" dalam judul novel menemukan makna filosofis yang paling mendalam. Belenggu yang diingatkan Armijn Pane melampaui hanya konflik domestik atau cinta segitiga yang sepele; belenggu ini adalah struktur kesadaran masyarakat, norma-norma kuno, dan konstruksi sosial yang mengikat, membatasi, dan mengatur bagaimana seorang perempuan seharusnya hidup dan mendefinisikan diri mereka.
Lebih dari delapan puluh tahun setelah buku ini menciptakan perdebatan di kalangan para cendekiawan Pujangga Baru, tantangan pengetahuan yang diajukan oleh Armijn Pane masih terdengar jelas dan relevan di masa sekarang. Perempuan di abad ke-21 memang telah meraih banyak hak resmi—mereka kini dapat mengakses institusi pendidikan tinggi, menduduki posisi penting dalam perusahaan, serta memiliki kekuasaan finansial yang mandiri, tetapi beban psikologis dan budaya yang digambarkan pada 1940 belum sepenuhnya sirna. "Harapan untuk menjadi segalanya" (sindrom wanita super) malah menjadi belenggu baru di mana wanita modern terpaksa berhasil dalam karier di ruang publik dan juga harus sempurna tanpa cacat dalam mengurus kehidupan pribadi di ruang privat.
Belenggu telah berubah dari sekadar sebuah karya sastra sejarah menjadi sebuah refleksi psikologis yang jelas bagi pembaca masa kini. Novel ini meminta kita untuk meneliti kembali makna sejati tentang kebebasan pribadi dan emansipasi. Di akhir cerita, karya penting ini mengingatkan kita bahwa pemisahan antara istilah "modern" dan "tradisional" seringkali hanyalah alat pengendalian sosial yang dibentuk oleh pandangan masyarakat. Perjuangan sejati wanita—yang belum selesai sejak zaman Tini dan Yah hingga sekarang—adalah perjuangan untuk mendapatkan hak penuh atas tubuh, pikiran, dan pilihan hidup mereka, tanpa harus terus-menerus dinilai berdasarkan standar moral yang ganda.
Oleh : Aurel Riska Ramadhani
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Syarif Kidayatullah Jakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Ilmu Sastra

Post a Comment