Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Agama Sebagai Kompas Moral: Refleksi Mahasiswa di Tengah Arus Modernisasi
APERO FUBLIC I OPINI.-- Sering kali, kita menganggap mata kuliah agama di perguruan tinggi hanya sekadar pengulangan materi dasar yang sudah hafal di luar kepala. Saya juga masih bertanya kenapa materi kuliah agama masih wajib, padahal materi dasarnya sudah kita dapatkan sejak TK?
Namun, setelah mengikuti perkuliahannya, saya menyadari bahwa belajar agama bukan sekadar untuk menambah pengetahuan, melainkan sebagai proses memperbaiki cara berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupan. Di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, manusia sering kali dihadapkan pada berbagai tantangan.
Kemajuan teknologi memberikan banyak kemudahan, tetapi juga membawa dampak negatif apabila tidak disertai dengan nilai-nilai moral. Informasi yang beredar tanpa batas, gaya hidup yang semakin individualis, hingga menurunnya rasa kepedulian terhadap sesama menjadi bukti bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Oleh karena itu, agama hadir sebagai pedoman yang membantu manusia membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Melalui perkuliahan agama, saya tidak hanya belajar mengenai ibadah, tetapi juga memahami bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara hubungan dengan Allah SWT dan hubungan dengan sesama manusia. Menjadi seorang muslim tidak cukup hanya rajin beribadah saja, namun tantangan terbesarnya justru ketika menghadapi gempuran media sosial.
Bisakah kita tetap jujur walau tak ada yang mengawasi? Mampukah kita menahan emosi di kolom komentar? Di sinilah akhlak diuji, bukan hanya di masjid, tapi di ruang digital. Hal lain yang saya rasakan selama mengikuti mata kuliah agama adalah pentingnya membangun sikap kritis dalam memahami ajaran Islam.
Agama bukan untuk dipelajari secara hafalan semata, tetapi juga dipahami makna dan hikmahnya. Banyak persoalan kehidupan modern yang membutuhkan cara pandang Islam agar kita tidak mudah terpengaruh oleh budaya atau pemikiran yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.
Sebagai mahasiswa, saya juga belajar bahwa ilmu pengetahuan dan agama bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Justru keduanya saling melengkapi. Ilmu membantu manusia berkembang dan menciptakan berbagai kemajuan, sedangkan agama mengarahkan agar ilmu tersebut digunakan untuk kebaikan.
Ilmu tanpa agama bagaikan pisau bermata dua, ia bisa menyembuhkan sekaligus membunuh. Agama hadir sebagai sarung pelindungnya, memastikan setiap temuan teknologi digunakan untuk kemaslahatan umat, bukan kehancuran. Perkuliahan agama juga memberikan ruang untuk melakukan refleksi diri.
Saya mulai menyadari bahwa menjadi pribadi yang lebih baik adalah proses yang harus terus diusahakan setiap hari. Tidak ada manusia yang sempurna, tetapi setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri melalui ilmu, ibadah, dan akhlak yang baik. Kesadaran inilah yang menjadi salah satu pelajaran paling berharga selama mengikuti mata kuliah agama.
Bagi saya, belajar agama bukanlah kewajiban yang berhenti setelah nilai mata kuliah keluar. Justru pembelajaran yang sesungguhnya dimulai ketika ilmu tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagaimana kita bersikap kepada orang tua, menghormati dosen, menghargai teman yang berbeda pendapat, menjaga lisan di media sosial, hingga bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan, semuanya merupakan bagian dari implementasi ajaran agama.
Pada akhirnya, saya menyimpulkan bahwa mata kuliah agama memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter mahasiswa. Di tengah dunia yang terus berubah, agama menjadi kompas yang membantu kita tetap berada di jalan yang benar. Ilmu yang tinggi akan menjadi lebih bermakna apabila disertai dengan keimanan dan akhlak yang baik.
Saya tidak ingin menjadikan nilai mata kuliah ini sebagai garis finish. Justru di sanalah garis start sesungguhnya: bagaimana saya bersikap pada orang tua, menjaga amanah organisasi, hingga merespons perbedaan pendapat.
Karena sejatinya, tujuan belajar agama bukan hanya untuk mengetahui, melainkan untuk menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah SWT dan lebih bermanfaat bagi sesama manusia. Inilah ujian sesungguhnya dari agama yang sudah saya pelajari.
Oleh: Firstia Lovelly
Mahasiswi Jurusan Ilmu Ekonomi, Fakultas FEB, Universitas Andalas.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment