Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Perpustakaan
UIN Raden Fatah Palembang: Antara Transformasi Menuju PTN-BH dan Tanggung Jawab Moral terhadap Mahasiswa
APERO FUBLIC I OPINI.- Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, atau yang lebih akrab disebut UIN Raden Fatah, berdiri di atas warisan sejarah yang panjang dan terhormat. Didirikan pada tahun 1964 sebagai Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Fatah, lembaga ini telah melahirkan ribuan alumni yang tersebar di berbagai penjuru negeri, mengabdi sebagai ulama, pendidik, birokrat, dan pemimpin masyarakat.
Transformasi menjadi UIN pada tahun 2014 bukan sekadar perubahan nama—ia adalah pengakuan atas kapasitas dan potensi yang dimiliki oleh lembaga ini untuk berkembang menjadi universitas multidisiplin yang komprehensif. Namun, pengakuan formal tidak selalu berbanding lurus dengan kesiapan substansial.
Dalam satu dekade terakhir sebagai UIN, Raden Fatah Palembang telah menunjukkan kemajuan yang tidak bisa diabaikan. Pertumbuhan jumlah program studi, peningkatan jumlah dosen bergelar doktor, serta semakin banyaknya publikasi ilmiah yang terindeks di jurnal-jurnal internasional bereputasi adalah pencapaian nyata yang layak untuk diapresiasi.
Akreditasi institusi yang berhasil meraih predikat "Unggul" dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2023 menjadi bukti bahwa secara administratif dan akademis, UIN Raden Fatah mampu memenuhi standar mutu yang ditetapkan secara nasional. Ini adalah modal yang sangat berharga.
Namun, di balik deretan pencapaian tersebut, ada pertanyaan mendasar yang perlu diajukan dengan jujur: apakah kemajuan yang tercatat secara institusional itu benar-benar dirasakan oleh para mahasiswa sebagai subjek utama pendidikan?
Pertanyaan ini bukan lahir dari sinisme yang tidak berdasar. Ia lahir dari pengamatan terhadap berbagai realita yang terjadi di lapangan—realita yang kerap berbeda jauh dari narasi resmi yang dipublikasikan dalam brosur penerimaan mahasiswa baru.
Salah satu persoalan yang paling mendesak untuk dibenahi adalah kesenjangan antara kapasitas infrastruktur dengan jumlah mahasiswa yang terus bertambah setiap tahunnya. Data terakhir menunjukkan bahwa UIN Raden Fatah Palembang saat ini menampung lebih dari 25.000 mahasiswa aktif dari berbagai jenjang dan program studi.
Tetapi, pembangunan fasilitas fisik—ruang kelas, laboratorium, ruang baca, dan fasilitas pendukung lainnya—belum bergerak dengan kecepatan yang sebanding. Akibatnya, tidak jarang terjadi situasi di mana satu ruang kelas yang dirancang untuk 40 mahasiswa harus menampung lebih dari 60 orang, dan proses belajar-mengajar pun berlangsung dalam kondisi yang jauh dari ideal.
Persoalan infrastruktur ini sebenarnya bukan hal baru dan bukan juga persoalan yang hanya dialami oleh UIN Raden Fatah semata. Hampir semua PTKIN di Indonesia menghadapi tantangan serupa: biaya pengembangan infrastruktur yang besar berhadapan dengan keterbatasan anggaran yang bersumber dari APBN.
Namun, apa yang membedakan sebuah institusi yang berkomitmen pada kemajuan dari yang sekadar berstatus quo adalah kesungguhan dalam mencari solusi kreatif dan mengelola sumber daya yang ada secara optimal.
Di sinilah UIN Raden Fatah perlu lebih berani dalam berinovasi—misalnya melalui skema kerja sama dengan pihak swasta, pengembangan wakaf produktif, atau optimalisasi pemanfaatan aset yang dimiliki.
Dimensi lain yang tidak kalah pentingnya adalah kualitas proses akademik itu sendiri. Sistem pembelajaran yang baik tidak hanya ditentukan oleh tersedianya gedung yang megah atau teknologi yang canggih, tetapi terutama oleh kualitas interaksi antara dosen dan mahasiswa dalam proses pencarian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Dalam konteks ini, UIN Raden Fatah perlu lebih serius mendorong budaya akademik yang sehat—di mana diskusi terbuka dihargai, penelitian didorong sebagai bagian integral dari proses pembelajaran, dan mahasiswa dilatih untuk berpikir kritis dan kreatif, bukan sekadar menghafalkan materi untuk keperluan ujian semata.
Isu relevansi kurikulum juga perlu mendapat perhatian yang lebih serius. Di tengah perubahan dunia yang berlangsung dengan sangat cepat—ditandai oleh revolusi industri 4.0, munculnya kecerdasan buatan, dan perubahan besar dalam pasar kerja—kurikulum pendidikan tinggi yang tidak mampu mengikuti perkembangan zaman akan menghasilkan lulusan yang gagap menghadapi tantangan nyata.
UIN Raden Fatah, dengan kekuatan utamanya di bidang ilmu-ilmu keislaman, perlu lebih berani dalam mengintegrasikan ilmu-ilmu tersebut dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kontemporer, sehingga menghasilkan lulusan yang tidak hanya fasih membaca kitab kuning, tetapi juga mampu membaca tanda-tanda zaman.
Tidak lengkap rasanya berbicara tentang kemajuan UIN Raden Fatah tanpa menyinggung kualitas kehidupan mahasiswa secara keseluruhan. Biaya pendidikan yang semakin meningkat, keterbatasan beasiswa yang tersedia.
sistem asrama yang belum mampu mengakomodasi semua mahasiswa yang membutuhkan, hingga sulitnya akses layanan kesehatan dan konseling bagi mahasiswa yang mengalami masalah—semua ini adalah bagian dari ekosistem pendidikan yang perlu dibenahi secara menyeluruh.
Mahasiswa bukanlah sekadar angka statistik dalam laporan tahunan; mereka adalah manusia yang membawa harapan, mimpi, dan potensi besar yang perlu mendapat dukungan penuh dari institusi tempat mereka belajar.
Ada satu hal yang patut diapresiasi dengan tulus: semangat para civitas akademika UIN Raden Fatah untuk terus bergerak maju. Para dosen yang dengan keterbatasan fasilitas tetap berupaya memberikan pembelajaran yang bermutu, para mahasiswa yang dengan segala keterbatasan tetap berprestasi di berbagai kompetisi nasional dan internasional.
Serta para pimpinan yang terus berupaya menggalang dukungan dan sumber daya untuk pengembangan kampus—mereka semua adalah aset dan kekuatan sejati dari universitas ini. Modal sosial ini adalah fondasi yang tidak ternilai harganya.
Ke depan, ada tiga hal mendasar yang perlu menjadi prioritas utama UIN Raden Fatah Palembang dalam perjalanannya menuju perguruan tinggi yang benar-benar unggul.
Pertama, perbaikan dan pengembangan infrastruktur fisik yang berkelanjutan dan terencana, dengan memastikan bahwa setiap mahasiswa mendapatkan lingkungan belajar yang layak dan kondusif.
Kedua, penguatan budaya akademik yang mendorong kebebasan berpikir, semangat meneliti, dan integritas intelektual sebagai nilai-nilai utama yang dijaga bersama.
Ketiga, peningkatan kesejahteraan dan dukungan komprehensif bagi mahasiswa, sehingga mereka dapat menjalani proses pendidikan dengan tenang dan fokus tanpa terbebani oleh berbagai persoalan non-akademis yang seharusnya bisa diselesaikan oleh institusi.
UIN Raden Fatah Palembang memiliki semua bahan yang diperlukan untuk menjadi institusi pendidikan Islam yang benar-benar besar—sejarah yang panjang, warisan intelektual yang kaya, civitas akademika yang berdedikasi, dan posisi strategis sebagai pusat peradaban Islam di Sumatera Selatan.
Yang diperlukan hanyalah keberanian untuk melihat diri sendiri dengan jujur: mengakui apa yang belum berjalan baik, dan dengan tekad yang kuat bergerak untuk memperbaikinya.
Karena pada akhirnya, kebesaran sebuah universitas tidak diukur dari kemegahan spanduk-spanduknya, melainkan dari kualitas manusia-manusia yang dilahirkannya untuk melayani agama, bangsa, dan kemanusiaan.
PENULIS: Salsabil Zahro
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Fakultas Adab dan Humaniora, dan Humaniora, Jurusan Ilmu Perpustakaan.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment