Cerita Kita
Opini
Bukan Alatnya, Tapi Sudut Pandangnya: Cerita di Balik Karya Irsyad al Faqih di Ibu Kota Nusantara
APERO FUBLIC I OPINI.- Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur kini menjadi sejarah baru bagi Indonesia. Merekam momen pembangunan ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak fotografer dan videografer. Di antara sekian banyak dokumentasi yang beredar di media sosial, karya seorang pemuda asal Samarinda, Irsyad Al Faqih, berhasil menarik perhatian publik.
Menariknya, di saat banyak kreator berlomba-lomba memakai kamera canggih bernilai puluhan juta rupiah, Irsyad justru datang dengan peralatan yang terbilang sangat sederhana.
Di balik karya visual IKN-nya yang viral, ia ternyata hanya menggunakan kamera mirrorless keluaran lama, yakni Sony A6000, lengkap dengan lensa bawaan kit 16-50mm.
Lewat alat standar inilah Irsyad membuktikan bahwa sebuah foto yang memukau tidak selalu bergantung pada harga dan spesifikasi alat yang selangit, melainkan pada kejelian sang fotografer dalam melihat sudut pandang yang pas.
Hal ini langsung terlihat pada hasil jepretan pertamanya di Taman Kusuma Bangsa. Foto ini terlihat menarik bukan karena editan yang berlebihan, melainkan karena penempatan posisi yang tepat.
Irsyad memanfaatkan teknik framing, yaitu menggunakan elemen bangunan di depannya sebagai bingkai alami agar mata kita langsung tertuju pada patung di kejauhan.
Hanya dengan kamera standar dan lensa bawaan (kit), ia membuktikan bahwa bangunan yang megah bisa terlihat jauh lebih hidup jika difoto dengan pemahaman posisi, bukan sekadar asal jepret.
Kepekaan Irsyad ternyata tidak hanya berhenti pada foto pemandangan luas. Pada foto selanjutnya, ia mencoba mengambil detail yang lebih spesifik, yaitu ukiran nama Bapak Proklamator, Soekarno, di dasar monumen dengan latar belakang tiang bendera Merah Putih yang menjulang.
Keputusan untuk beralih dari memotret monumen besar ke detail nama pahlawan ini menunjukkan ada pesan yang ingin ia sampaikan.
Lewat foto ini, Irsyad seolah mengingatkan bahwa IKN tetap dibangun dengan menghargai sejarah bangsa. Sebuah pesan yang tersampaikan dengan sangat tenang lewat sebuah foto.
Karya-karya yang matang ini wajar jika membuat banyak orang penasaran dengan sosok di baliknya. Ketika kita membuka profil Instagram pribadinya, terlihat sebuah akun yang diatur dengan sangat rapi.
Pemilihan warna hitam-putih yang konsisten, sorotan (highlights) yang tertata, serta keterangan profil yang jelas menunjukkan identitasnya sebagai Videographer, AI Creative, dan bagian dari Google Indonesia.
Gambar 1. 4 Keterangan Gambar: Karya Irsyad yang mendapat apresiasi dan dibagikan ulang oleh berbagai akun informasi media.
(Sumber: Karya Irsyad Al Faqih)
Konsistensi dan kualitas karya tersebut akhirnya mendatangkan hasil yang sangat positif. Foto-foto IKN karya Irsyad dengan cepat viral dan tersebar luas. Berbagai akun informasi hingga komunitas mulai dari XINAYEL, IKN Nusantara Info, gerbangtara.id, wonderfullkaltim, hingga staycation.id antusias membagikan ulang (repost) foto-foto tersebut.
Apresiasi dari berbagai pihak ini menegaskan satu hal: karya yang dibuat dengan niat dan visual yang rapi akan selalu diterima dengan baik oleh masyarakat luas.
Gambar 1. 5 Keterangan Gambar: Interaksi hangat dan edukatif di kolom komentar yang menjadi bukti nyata (social proof) dari dampak sebuah karya.
(Sumber: Karya Irsyad Al Faqih)
Hal yang paling memuaskan dari sebuah karya adalah ketika visual tersebut benar-benar dinikmati oleh publik. Jika kita melihat kolom komentar di unggahan Irsyad, ada banyak sekali tanggapan positif yang masuk.
Netizen memuji keberhasilannya dalam menangkap suasana IKN secara natural dan modern. Visual yang dibagikan Irsyad bahkan membuat banyak orang rindu dan berkeinginan untuk segera berkunjung langsung ke IKN.
Di tengah banyaknya pujian tersebut, pemuda ini tetap menanggapinya dengan ramah dan rendah hati. Ia menyempatkan diri untuk membalas dan menyematkan pesan yang cukup berkesan:
"Semoga karya ini bisa menjadi pengingat bahwa setiap sudut punya cerita, dan setiap lensa punya cara unik untuk menceritakannya. Maju terus kreativitas Indonesia!" Kalimat ini menjadi penutup yang pas, menyadarkan kita bahwa mahakarya tidak selalu bermula dari alat yang serba mewah, melainkan dari ketulusan si pembuat karya.
Pada akhirnya, pengalaman Irsyad Al Faqih mendokumentasikan IKN adalah sebuah cerita inspiratif bagi banyak anak muda. Ia mengajarkan kita untuk tidak ragu memulai sebuah karya hanya karena merasa peralatannya kurang memadai.
Dengan mata yang jeli, kemauan belajar, dan konsistensi, kamera yang sederhana pun mampu menghasilkan karya yang luar biasa.
(Mari telusuri lebih dalam jejak rekam dan karya visual Muhammad Irsyad Al Faqih melalui portofolio digitalnya di ichaaaddfolio.netlify.app atau terhubung langsung secara profesional melalui LinkedIn: www.linkedin.com/in/irsyad-alfaqih).
PENULIS:
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Cerita Kita

Post a Comment