Ibu dan Anak
Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Anak Cerdas Tapi Mudah Cemas: Dampak Tekanan Belajar terhadap Psikologi Anak di Era Digital
Source: retizen.republika.co.id |
Di balik deretan angka dan peringkat yang membanggakan, ada banyak cerita yang tidak pernah benar-benar terlihat.
APERO FUBLIC I OPINI.- Di era digital saat ini menjadi anak pintar seolah menjadi sebuah keharusan, seorang anak yang mendapatkan nilai tinggi, peringkat kelas, pencapaian lomba, serta berbagai prestasi akademik lainnya sering dijadikan standar utama dalam sebuah keberhasilan bahkan hal ini menjadi kebanggaan tersendiri, baik bagi siswa maupun sekolah.
Tetapi, tuntutan tersebut tidak hanya datang dari pihak sekolah, akan tetapi tuntutan tersebut juga berasal dari lingkungan keluarga dan sosial yang tanpa disadari secara perlahan hal ini menciptakan tekanan tersendiri bagi anak.
Sekilas kondisi ini terlihat positif karena dapat mendorong anak untuk berkembang. Namun, dibalik deretan angka yang membanggakan, sebenarnya banyak anak yang sedang berjuang menghadapi tekanan mental yang hampir tidak terlihat, meskipun mereka tetap belajar dan terus berusaha namun secara emosional mereka dalam keadaan yang lelah.
Tekanan Belajar dan Dampak Psikologis
Fenomena tekanan belajar saat ini menjadi semakin nyata, banyak anak-anak yang tidak lagi belajar karena rasa ingin tahu melainkan karena rasa takut dan kekhawatiran yang berlebihan, mereka takut gagal, takut mengecewakan orang tua, takut dibandingkan dengan teman sebaya, dan merasa harus selalu menjadi yang terbaik.
Kondisi seperti inilah yang nantinya dapat memicu berbagai dampak psikologis, seperti stres, kecemasan, dan kelelahan mental. Tekanan yang terus menerus terjadi dalam jangka panjang, dapat memengaruhi perkembangan emosional anak, mereka jadi lebih mudah merasa tidak cukup baik, kurang percaya diri dan sulit menikmati proses belajar.
Bahkan anak yang terus berada dalam tekanan akan cenderung kehilangan semangat belajar dan tidak sedikit pula yang mulai meragukan dirinya sendiri. Padahal masa anak-anak dan remaja adalah fase penting untuk tumbuh dan mengenal diri sendiri dengan lebih sehat.
Pengalaman Pribadi: Di Balik Tekanan Belajar
Salah satu hal yang membuat saya semakin memahami tekanan belajar adalah pengalaman pribadi yang saya alami sejak kecil. Waktu masih berada di bangku TK, saya sudah mulai mengenal yang namanya peringkat karena pada waktu itu saya mendapat peringkat dua dan tiga. Mungkin bagi sebagian orang itu hal yang biasa saja, tetapi tanpa disadari dari situlah saya mulai menganggap bahwa nilai dan peringkat itu penting.
Awal masuk sekolah dasar saya tidak mendapatkan peringkat sama sekali karena saya pikir waktu itu adalah masa awal saya beradaptasi dengan lingkungan belajar yang masih terasa baru dan asing.
Akan tetapi, ketika saya sudah duduk dibangku SD kelas dua saya berhasil mendapatkan peringkat empat, saya sangat senang karena kala itu ada satu momen yang tidak saya lupakan bahkan sampai saat ini saya masih mengingatnya dengan jelas. Saat momen pengambilan rapot, semua rapot siswa diberikan langsung kepada orang tua dan rapot saya di berikan kepada ayah saya.
Pulang dari sekolah ayah pulang dengan wajah gembira sembari berkata bahwa saya masuk kategori lima besar, saya pun turut bahagia mendengarnya bukan karena peringkat yang saya dapatkan tapi karena melihat orang tua bangga terhadap saya.
Sejak saat itu saya mulai berusaha belajar lebih giat agar bisa terus melihat mereka senang. Usaha itu sempat berhasil ketika peringkat saya naik menjadi tiga, namun disemester berikutnya saya justru sama sekali tidak mendapatkan peringkat.
Saya pulang dengan perasaan sedih dan menyesal, saya terus meminta maaf kepada ibu saya dan ibu hanya berkata “tidak apa-apa nak” sembari tersenyum, meskipun begitu rasa kecewa itu tetap saya rasakan.
Pengalaman itu justru membuat saya menanamkan dalam diri saya bahwa saya harus bisa menjadi juara kelas. Alhamdulillah di saat kelas empat saya berhasil mencapainya dan bahkan mempertahankannya sampai kelas lima, pada saat itu juga saya berhasil meraih juara pertama dalam perlombaan OSN (Olimpiade Sains Nasional) tingkat kecamatan mewakili sekolah.
Saya sangat senang dan bangga karena sebelumnya saya sempat mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dari teman-teman, saya merasa kemenangan itu seperti menjadi cara saya untuk membuktikan bahwa saya mampu.
Namun, disisi lain ada perasaan yang sulit saya jelaskan karena pada saat itu meskipun orang tua saya tampak bahagia tetapi saya tidak benar-benar merasakan apresiasi itu secara langsung.
Saat memasuki SMP saya selalu meraih juara pertama dan berhasil membanggakan kedua orang tua saya, setip kali saya meraih juara, ibu selalu mengajak keluarga untuk merayakannya.
Dari situ saya terbiasa berpikir bahwa saya harus selalu menjadi yang terbaik, tetapi lama kelamaan saya mulai sadar kalau saya belajar bukan lagi karena ingin memahami tapi saya takut mengecewakan, saya merasa jika saya tidak mendapatkan peringkat saya adalah anak yang tidak berguna.
Ada satu momen lagi yang membekas di ingatan saya, kala itu ketika saya kembali mendapatkan juara pertama di kelas dengan penuh semangat saya memberi tahukan hal tersebut kepada ayah saya, namun respon yang saya terima justru berbanding terbalik dengan apa yang saya harapkan seolah hal itu menjadi sesuatu yang sudah wajar.
Saya sangat merasa kecewa karena apa yang saya pikir adalah pencapaian besar ternyata tidak selalu berarti bagi orang lain.
Akhirnya dari pengalaman itu saya mulai menyadari bahwa tekanan belajar tidak selalu datang dari luar adakalanya tekanan itu justru tumbuh dari dalam diri sendiri terutama ketika kita terlalu menggantungkan nilai diri pada sebuah pencapaian.
Faktor Penyebab Tekanan Akademik
Tekanan belajar tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu penyebabnya adalah sistem pendidikan yang lebih berorientasi pada hasil akhir dari pada proses.
Selain itu, orang tua juga menjadi faktor yang cukup berpengaruh disebabkan ekspektasi yang sering kali diberikan dengan harapan anak tersebut dapat menjadi yang terbaik, meskipun harapan tersebut dilandasi dengan niat baik tapi hal tersebut dapat berubah menjadi beban jika tidak disampaikan dengan baik.
Disisi lain lingkungan sekolah yang kompetitif turut memperkuat tekanan tersebut. Anak sering kali merasa harus bersaing untuk mendapatkan pengakuan. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk mulai memandang pendidikan secara lebih manusiawi, guru dan orang tua perlu memahami bahwa setiap anak memiliki kemampuan dan keunikan yang berbeda.
Di era digital juga perkembangan teknologi dapat memperbesar tekanan tersebut, anak-anak dengan mudah melihat pencapaian orang lain melalui media sosial sehingga tanpa sadar mereka mulai membandingkan diri. Perbandingan ini sering membuat mereka merasa tertinggal padahal setiap anak memiliki proses dan kemampuan yang berbeda.
Pentingnya Dukungan dan Keseimbangan
Menghadapi kondisi ini, anak tidak hanya membutuhkan pendidikan akademik tetapi anak juga membutuhkan dukungan emosional yang memadai. Oleh karena itu, peran orang tua dan guru sangat penting karena anak merasa di dengar, dipahami, dan dihargai bukan hanya dinilai dari hasil belajar.
Penting bagi orang tua dan pendidik untuk mulai menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat serta memberikan apresiasi terhadap proses belajar anak, karena dengan begitu anak dapat merasa lebih tenang dalam menjalani proses belajar.
Selain itu, memberi ruang bagi anak untuk beristirahat dan mengekspresikan diri menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan. Dukungan yang seimbang antara tuntutan dan pemahaman akan membantu anak berkembang secara lebih sehat baik secara akademik maupun emosional.
Penurup: Renungan dan Harapan
Pada akhirnya, keberhasilan seorang anak tidak seharusnya diukur hanya dari angka dan pencapaian akademik semata. Lebih dari itu, keberhasilan juga tercermin dari kemampuan anak dalam mengelola emosi, menghadapi tekanan, dan menjalani proses belajar dengan sehat.
Tekanan belajar memang tidak sepenuhnya dapat dihindari, tetapi dapat dikelola dengan baik. Anak yang tumbuh di antara tuntutan dan dukungan akan lebih siap menghadapi tantangan di masa depan, karena pada dasarnya anak yang bahagia dan sehat secara mental memiliki peluang yang lebih besar untuk berkembang dan mencapai potensi terbaik dalam dirinya.
PENULIS: Salsa Tri Ananda
Mahasiswi Prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Ibu dan Anak

Post a Comment