Kampus
Lingkungan Hidup
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Terminal Bungurasih Banjir Lagi: Sampai Kapan Kita Hanya Mengeluh?
APERO FUBLIC I OPINI.- Ada pemandangan yang terasa sudah terlalu familiar di Terminal Purabaya, Bungurasih, Waru, Sidoarjo. Setiap kali hujan deras mengguyur kawasan itu, hampir bisa dipastikan genangan air akan segera mengepung salah satu terminal bus tersibuk di Indonesia Timur itu.
Penumpang mengangkat sepatu, kios-kios pedagang kecil kebanjiran, dan bus-bus memperlambat laju menembus genangan. Lalu semua orang mengeluh, beberapa pejabat turun meninjau, dan kehidupan pun kembali normal — sampai banjir berikutnya datang.
Warga sekitar sendiri sudah menyebutnya terang-terangan: Terminal Purabaya dan Desa Bungurasih sudah jadi langganan banjir. Bukan sekali, bukan dua kali. Ini persoalan yang berulang setiap tahun, bahkan setiap musim hujan (Detik.com).
Pada Januari 2025, hujan lebat yang mengguyur wilayah Waru mengakibatkan genangan air di berbagai titik terminal, mulai dari shelter bus kota, jalur pintu masuk, area drop off, hingga jalur MPU, dengan ketinggian antara 15 hingga 20 sentimeter.
Banjir mengganggu kenyamanan penumpang dan memaksa bus memperlambat laju demi keselamatan. Tak lama berselang, pada Februari 2025, area terminal kembali terendam hingga setinggi mata kaki.
Yang lebih mengkhawatirkan, banjir tidak hanya menggenangi terminal, tetapi juga menerjang 10 desa di Kecamatan Waru, termasuk Desa Bungurasih, dengan penyebab utama diduga meluapnya sejumlah sungai seperti Sungai Sinir, diperparah oleh sistem irigasi yang kurang optimal dan tingginya permukaan air laut.
Pertanyaannya bukan lagi mengapa banjir bisa terjadi — jawabannya sudah cukup jelas secara teknis. Pertanyaan yang lebih mendesak adalah: mengapa masalah ini tidak pernah benar-benar selesai?.
Salah satu akar masalah yang kerap diabaikan adalah penurunan tanah (land subsidence) yang terjadi hingga beberapa sentimeter setiap tahunnya, ditambah bangunan liar di sempadan sungai yang menghambat aliran air. Ini bukan persoalan yang bisa diselesaikan hanya dengan membersihkan eceng gondok atau menyedot genangan dengan pompa darurat. Ini adalah krisis infrastruktur yang memerlukan komitmen jangka panjang.
Ironinya, Terminal Purabaya bukan sembarang fasilitas publik. Ia adalah simpul transportasi vital yang melayani jutaan perjalanan setiap tahunnya, penghubung Surabaya dengan berbagai kota di Jawa dan luar Jawa. Ketika terminal ini lumpuh oleh banjir — bahkan sejenak — dampaknya terasa hingga ke seluruh rantai pergerakan orang dan barang.
Warga dan pengguna terminal sudah lama menyuarakan harapan yang sederhana: bukan hanya penanganan darurat yang sifatnya jangka pendek, tetapi solusi permanen yang terencana dan terukur. Harapan itu wajar dan sudah seharusnya didengar.
Pengelola terminal memang tidak tinggal diam. Berbagai langkah antisipasi dilakukan, mulai dari pembersihan eceng gondok di Sungai Buntung, revitalisasi gorong-gorong, hingga rencana penutupan pintu air saat hujan tinggi. Langkah-langkah ini patut diapresiasi, namun jelas belum cukup untuk menjawab akar persoalan yang jauh lebih dalam.
Banjir di Terminal Bungurasih bukan sekadar masalah drainase. Ia adalah cerminan dari bagaimana kita selama ini mengelola ruang, mengawasi sempadan sungai, dan merencanakan infrastruktur publik di kawasan yang terus berkembang. Selama penanganannya hanya reaktif — baru bergerak setelah banjir datang — maka siklus ini akan terus berulang tanpa ujung.
Sudah saatnya ada terobosan nyata: masterplan penanggulangan banjir kawasan Waru yang komprehensif, anggaran yang memadai untuk normalisasi sungai, serta pengawasan ketat terhadap pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan. Terminal Bungurasih terlalu penting untuk terus dibiarkan menjadi korban musim hujan.
PENULIS: Ahzam Zarkasy Septian Danu
Mahasiswa Program Magister Teknik Sipil Universitas 17 Agustus Surabaya.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment