Kampus
Kesehatan
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Skincare Fever Glowing Today, Pollution Tomorrow : Ketika Tren Kecantikan Mengancam Lingkungan dan Kesehatan Mental
APERO FUBLIC I OPINI.- Perkembangan industri kecantikan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami perubahan yang signifikan. Skincare kini bukan lagi sekedar produk perawatan kulit, tetapi juga menjadi salah satu bagian dari gaya hidup Masyarakat modern, khususnya generasi muda.
Media Sosial menjadi ruang utama munculnya berbagai tren kecantikan baru yang sangat pesat sehingga dapat mempengaruhi pola pikir Masyarakat. Setiap hari, pengguna media sosial disuguhkan dengan berbagai konten mengenai kulit glowing, wajah mulus tanpa jerawat, hingga rekomendasi produk skincare viral yang dianggap wajib dimiliki. Peristiwa tersebut secara tidak langsung membentuk standar kecantikan baru di Masyarakat.
Banyak orang merasa harus memiliki penampilan sempurna agar diterima dalam lingkungan sosialnya. Sehingga, muncul perilaku komsutif dalam penggunaan skincare. Di mana masyarakat membeli berbagai produk sacara terus-menerus tanpa mempertimbangkan kebutuhan kulit maupun dampak jangka Panjang terhadap lingkungan.
Di balik perkembangan industri skincare terlihat yang menjanjikan, terdapat persoalan
lingkungan yang mulai mengkhawatirkan, yaitu limbah skincare. Limbah skincare merupakan
sampah yang berasal dari produk perawatan kulit, baik berupa kemasan maupun sisa
kandungan bahan kimia didalamnya.
Kemasan produk seperti botol plastic, tube, sachet, pump, dan wadah sekali pakai terus meningkat setiap tahunnya. Dijelaskan bahwa Industri kecantikan menghasilkan lebih dari 120 miliar unit kemasan tiap tahunnya dan sebanyak 40% kemasan ini berbahan plastik sekali pakai yang sulit terurai dan didaur ulang (Shalmot,2020).
Sampah kemasan plastik yang tidak terkelola dengan baik dapat terbawa aliran air dan berdampak pada ekosistem perairan. Beberapa kandungan bahan aktif dalam skincare diketahui dapat memberikan efek negatif terhadap organisme laut dan merusak keseimbangan lingkungan.
Bahkan, bahan tertentu dalam sunscreen dan produk perawatan kulit dapat mengganggu
pertumbuhan organisme laut serta merusak terumbu karang. Kondisi ini menunjukkan bahwa limbah skincare bukan hanya persoalan sampah biasa, melainkan ancaman serius yang perlahan merusak lingkungan hidup dan dapat berdampak juga terhadap Kesehatan manusia.
Permasalah ini melibatkan banyak pihak mulai dari konsumen, Perusahaan kosmetik, influencer, content creator, hingga media sosia itu sendiri. Konsumen menjadi pelaku utama Di sisi lain, Perusahaan kosmetik terus memproduksi berbagai produk baru demi memenuhi permintaan pasar yang semakin besar.
Influencer dan beauty content creator juga berkontribusi terhadap perilaku komsutif Masyarakat karena meraka sering mempromosikan produk skincare terbaru dengan klaim hasil instan yang menarik perhatian audiens.
Remaja dan Perempuan usia muda menjadi kelompok yang paling rentan terpengaruh tren
skincare. Banyak dari mereka membeli produk viral tanpa mempertimbangkan kebutuhan kulit yang sebenarnya. Tekanan sosial di media digital membuat mereka merasa harus selalu tampil sempurna agar diterima dalam lingkungan pertemanan maupun media sosial.
Akibatnya, muncul rasa insecure, rendah diri, overthingking, hingga kecemasan sosial Ketika penampilan mereka dianggap tidak sesuai dengan standar kecantikan yang sedang ramai.
Masalah limbah skincare mulai meningkat seiring berkembangnya era digital dan media sosial.
Dalam beberapa tahun terakhir, tren skincare berkembang secara pesat karena didukung
promosi besar-besaran di internet, dengan adanya kehadiran berbagai platform belanja online membuat Masyarakat semakin mudah membeli produk kecantikan hanya dalam hitungan menit. Skincare kini tidak lagi dipandang sekedar kebutuhan perawatan kulit, tetapi telah merubah menjadi simbol gaya hidup modern.
Fenomena tersebut kemudian memunculkan budaya FOMO (Fear Of Missing Out), yaitu rasa takut tertinggal tren yang sedang popoler. Dalam dunia skincare, budaya FOMO membuat seseorang merasa harus mencoba produk viral agar dianggap mengikuti perkembangan zaman.
Ketika ada produk baru yang ramai dibahas influencer, Masyarakat langsung terdorong untuk membeli meskipun produk sebelumnya belum habis digunakan. Hingga pada akhirnya, banyak produk skincare menumpuk dirumah dan akhirnya dibuang sebelum digunakan sampai habis.
Budaya FOMO juga memberikan dampak besar terhadap Kesehatan mental Masyarakat.
Banyak orang merasa cemas apabila tidak mengikuti tren yang sedang viral. Mereka takut
dianggap kurang menarik, kurang modern, atau tidak merawat diri.
Tekanan untuk selalu tampil glowing seperti influencer di media sosial membuat seseorang terus membandingkan dirinya dengan orang lain. Kondisi tersebut menyebabkan Banyak orang merasa tidak puas dengan dirinya sendiri dikarenakkan terlalu fokus pada penampilan fisik.
Ketika hasil skincare tidak sesuai harapan, seseorang dapat merasa kecewa, minder, bahkan kehilang rasa percaya diri. Tidak sedikit pula yang merasa Lelah secara mental karena terus mengejar standar kecantikan yang sebenarnya yang tidak realistis.
Untuk mengangatasi masalah tersebut diperlukan kesadaran dari berbagai pihak. Konsumen perlu mulai membeli habis sebelum membeli yang baru juga menjadi Langkah sederhana untuk mengurangi limbah skincare sesuai kebutuhan, bukan sekedar mengikuti tren.
Salah satunya dengan menggunakan produk sampai skincare. Selain itu, Masyarakat juga perlu membangun pola pikir yang lebih sehat mengenai kecantikan. Kulit sehat tidak harus selalu sempurna seperti yang ditampilkan di media sosial.
Perusahaan kosmetik juga harus mulai menggunakan kemasan ramah lingkungan dan menyediakan sistem isi ulang (refil) guna mengurangi penggunaaan plastic sekali pakai. Edukasi mengenai dampak limbah skincare terhadap lingkungan dan Kesehatan mental juga perlu diperluas melalui kampanye sosial agar masyarakat lebih sadar terhadap bahaya perilaku konsumtif.
Menurut saya, penggunaan skincare pada dasarnya bukan sesuatu yang salah. Merawat kulit merupakan bagian menjaga Kesehatan dan meningkatkan rasa percaya diri. Namun, masalah muncul Ketika skincare berubah menjadi simbol gaya hidup konsumtif yang dipengaruhi budaya FOMO.
Saat ini banyak orang membeli produk hanya karena viral di media sosial tanpa memikirkan apakah produk tersebut benar-benar dibutuhkan atau tidak. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial memiliki pengaruh besar terhadap pola konsumsi Masyarakat.
Strandar kecantikan yang terus dibentuk secara digital membuat banyak orang kehilangan kesadaran terhadap dampak lingkungan dari kebiasaan mereka sendiri. Tidak hanya itu, tekanan untuk selalu tampil sempurna juga membuat banyak orang mengalami rasa insecure dan kurang percaya diri terhadap dirinya sendiri.
Kecantikan seharusnya tidak hanya tentang penampilan luar, tetapi jugs tentang kepedulian terhadap lingkungan dan Kesehatan mental. Menggunakan skincare secara bijak merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sosial yang perlu dibangun dari sekarang. Sebab pada akhirnya, lingkungan yang sehat dan mental yang baik jauh lebih penting dibandingkan sekedar mengikuti tren kecantikan yang terus berubah.
Oleh: Salna Aulia Sakinah
Mahasiswi Psikologi Islam, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment