Kampus
Mahasiswa
Olahraga
Opini
Pendidikan
Prestasi Atlet dan Minimnya Perhatian terhadap Pembinaan Daerah
APERO FUBLIC I OPINI.- Prestasi gemilang para atlet Indonesia di ajang internasional selalu menjadi sorotan utama. Baru-baru ini, kita kembali disuguhkan kisah heroik dari cabang olahraga tertentu yang menyabet medali emas di kancah Asia atau bahkan Olimpiade.
Sorak sorai penonton, puji syukur pejabat, dan bonus melimpah pun mengalir deras. Namun, di balik kilauan itu, ada cerita kelam yang jarang disentuh: minimnya perhatian terhadap pembinaan atlet di tingkat daerah. Ironisnya, atlet-atlet berprestasi itu lahir dari akar rumput daerah, tapi justru dibiarkan layu karena kurangnya dukungan sistematis.
Bayangkan, seorang bocah di pelosok Nusa Tenggara Timur atau Sulawesi Tenggara yang berbakat luar biasa dalam lari cepat atau angkat besi. Ia berlatih dengan fasilitas seadanya—lapangan berdebu, alat seken, dan pelatih sukarelawan yang bergantung pada semangat pribadi.
Tanpa bantuan yang memadai, ada juga Kisah atlet binaraga di Kabupaten Malang yang terpaksa mengonsumsi ayam tiren (mati kemaren) adalah kasus nyata yang viral pada Mei 2025, sebanyak 7 dari 12 atlet binaraga PBFI Kabupaten Malang terpaksa memakan ayam tiren selama sebulan karena keterbatasan dana untuk membeli protein segar, padahal mereka harus mempersiapkan diri untuk Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) Jatim 2025.
Berapa persen dari mereka yang bisa menembus level nasional? Data dari Kementerian Pemuda dan Olahraga menunjukkan bahwa lebih dari 70% atlet elite Indonesia berasal dari daerah, tapi investasi pembinaan di sana hanya sekitar 20-30% dari total anggaran olahraga nasional. Ini bukan sekadar angka; ini soal nasib generasi penerus.
Masalahnya bukan hanya soal dana. Infrastruktur minim, seperti stadion yang rusak atau kolam renang yang bocor, membuat proses pembinaan terhambat. Pelatih daerah sering kali kekurangan pelatihan berkelanjutan, sementara program deteksi bakat masih sporadis.
Akibatnya, banyak talenta terpendam hilang begitu saja. Saya ingat kisah seorang atlet voli muda dari Papua yang terpaksa berhenti karena biaya transportasi ke pusat pelatihan nasional tak terjangkau. Padahal, potensinya bisa jadi penyelamat tim nasional di masa depan.
Pemerintah dan stakeholder olahraga kerap bangga dengan medali, tapi lupa bahwa prestasi itu adalah puncak gunung es. Pembinaan daerah adalah fondasinya. Bandingkan dengan negara tetangga seperti Thailand atau Vietnam, yang secara konsisten berinvestasi di grassroot level. Mereka punya program scouting rutin, beasiswa atlet daerah, dan fasilitas standar internasional di tingkat provinsi. Hasilnya? Prestasi stabil, bukan naik-turun seperti kita.
Solusinya tak rumit, tapi butuh komitmen nyata. Pertama, alokasikan minimal 50% anggaran olahraga untuk pembinaan daerah, dengan prioritas pada provinsi tertinggal. Kedua, bentuk tim khusus untuk deteksi dan pengembangan bakat sejak usia dini, bekerja sama dengan pemerintah daerah dan swasta. Ketiga, tingkatkan kualitas pelatih melalui sertifikasi nasional dan insentif yang layak. Swasta pun bisa ikut andil lewat CSR, seperti membangun sport center mini di kabupaten-kabupaten.
Jika kita terus abaikan pembinaan daerah, prestasi olahraga kita akan seperti kembang api: indah sesaat, lalu padam. Saatnya berpikir jangka panjang. Atlet daerah bukan sekadar cadangan; mereka adalah harapan bangsa. Mari dorong pemerintah untuk bertindak, agar setiap anak di pelosok negeri punya kesempatan mengejar mimpi emas. Prestasi sejati lahir dari kesetaraan, bukan keberuntungan semata.
PENULIS : Muhammad Ilham Nurfalah
Mahasiswa Program Studi Ilmu keolahragaan, Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment