Opini
Pengaruh Media Sosial Terhadap Munculnya Narcissitic Personal Disorder Pada Anak Remaja
APERO FUBLIC I OPINI.- Anak remaja pada fase saat ini sedang mencari jati dirinya apalagi perkembangan media sosial yang sangat pesat dan diminati oleh hampir seluruh remaja sering kali memicu berbagai perilaku. Sifat remaja yang masih labil dabat terpengaruh oleh penggunaan media sosisl yang tidak terbatas, jadi sejauh mana sih “ Pengaruh Media Sosial Terhadap Munculnya Narcissitic Personal Disorder Pada Anak Remaja?”.
Menurut DSM-5 TR, Narcissitic Personal Disorder (NPD) atau gangguan narsistik merupakan kondisi mental dimana seseorang memiliki pandangan yang berelebihan terhadap dirinya sendiri, merasa lebih unggul dibanding orang lain, dan sangat sangat membutuhkan pujian dari orang lain.
Selain itu, orang yang memiliki NPD cenderung kurang memiliki rasa empati terhadap orang-orang di sekitarnya. Penggunaan media sosial ini sering kali digunakan untuk berekspersi dan membentuk citra diri dan tidak jarang, remaja menilai dirinya berdasarkan jumlah like, viewers, komentar, dan followers yang mereka miliki.
Ketergantungan terhadap media sosial itu memicu para remaja untuk menampilkan diri secara berlebihan. Jika kondisi ini terus berlanjut, kebiasaan tersebut beresiko membentuk perilaku yang terobsesi terhadap citra diri remaja tersebut, yang merupakan salah satu ciri-ciri dari NPD.
Berdasakan hasil kuesioner yang telah kami buat lalu dibagikan melalui Google From dengan isi soal sebagai berikut :
1. Saya menggunakan media sosial hampir setiap hari.
2. Saya menghabiskan cukup banyak waktu saat menggunakan media sosial.
3. Saya membuka media sosial tanpa tujuan tertentu.
4. Saya sering memeriksa notifikasi media sosial.
5. Saya mengikuti informasi atau tren yang sedang populer.
6. Media sosial menjadi bagian dari aktivitas harian saya.
7. Saya mempertimbangkan isi sebelum membagikan sesuatu.
8. Saya memilih konten terbaik sebelum dipublikasikan.
9. Saya memperhatikan respon terhadap konten yang saya bagikan.
10. Saya pernah menghapus konten yang kurang mendapat respon.
11. Saya tidak terlalu memikirkan respon terhadap konten saya.
12. Saya tetap merasa nyaman meskipun konten saya tidak banyak diperhatikan.
13. Saya merasa senang ketika konten saya mendapat respon positif.
14. Saya merasa kurang puas jika respon tidak sesuai harapan.
15. Saya pernah membandingkan diri dengan orang lain di media sosial.
16. Saya merasa beberapa orang memiliki kehidupan yang lebih menarik.
17. Saya memperhatikan bagaimana saya tampil di media sosial.
18. Saya jarang memikirkan pendapat orang lain tentang saya.
19. Saya merasa senang saat orang lain memberikan tanggapan pada konten saya.
20. Saya menjadi lebih bersemangat ketika mendapat perhatian.
21. Saya beberapa kali memeriksa kembali respon orang lain.
22. Saya merasa dihargai ketika mendapatkan tanggapan positif.
23. Saya tidak mempermasalahkan jika orang lain mendapat perhatian lebih.
24. Saya pernah membagikan ulang (repost/share) konten orang lain.
25. Saya membagikan konten yang sesuai dengan suasana hati saya.
26. Saya membagikan konten agar orang lain memahami apa yang saya rasakan.
27. Saya merasa konten yang saya bagikan dapat mencerminkan diri saya.
28. Saya membagikan konten tanpa banyak pertimbangan.
29. Saya tidak pernah merasa iri terhadap orang lain di media sosial.
30. Saya tidak pernah memikirkan bagaimana orang lain menilai saya.
Kami memberikan kuesioner tersebut kepada 15 orang, tercatat 2 responden menunjukan score tinggi terkait kecenderungan NPD. Meskipun jumlah responden masih terbatas, hasil tersebut menunjukan bahwa media sosial memiliki pengaruh terhadap cara remaja memandang dan menilai dirinya sendiri.
Di era digitalisasi yang terus berkembang, remaja sering kali secara tidak sadar terjebak untuk selalu tampil sempurna demi mendapatkan perhatian dan pujian.
Alih-alih menjadi tempat untuk berbagi cerita, media sosial justru kerap membuat seseorang bergantung untuk mencari validasi dari orang lain. Jika hal ini dilakukan secara terus-menerus tanpa disadari, maka dapat memicu munculnya sikap narastik.
Media sosial pada dasarnya adalah sarana untuk berekspersi, jadi harus berhati-hati dalam menggunakannya.Keinginan untuk terus memosting sesuatu di media sosial tidak boleh sampai menjadikan seseorang memiliki sifat narsistik.
Sikap narsistik yang berkembang secara terus-menerus dapat menjadi awal dari gannguan kepribadian, seperti NPD.Oleh karna itu, penting bagi para remaja untuk tetap menjaga diri agar tidak bergantung pada penilaian dari orang lain dimedia sosial.Dengan begitu, remaja dapat menjadi versi diri terbaik mereka masing-masing tanpa kehilangan jati diri yang sebenarnya.
Penulis : Khumayra Zhallika P.L dan Wanda Veria A.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Opini

Post a Comment