Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Di Balik Dinding Pesantren: Ketika Pendidikan Santriwati Masih Dipandang Sebelah Mata
APERO FUBLIC I OPINI.- Di tengah arus perkembangan pendidikan modern di Indonesia, masih terdapat kenyataan yang jarang diperhatikan oleh masyarakat luas. Di beberapa pesantren tradisional, sebagian santriwati hanya menempuh pendidikan formal hingga tingkat sekolah dasar.
Setelah itu, mereka lebih diarahkan untuk mendalami ilmu agama dan menghabiskan waktunya untuk mengaji tanpa melanjutkan pendidikan formal ke jenjang yang lebih tinggi. Keadaan ini bukan sekadar persoalan pilihan pribadi, melainkan bagian dari pola sosial yang telah lama tumbuh dan diwariskan di lingkungan sekitar.
Pandangan bahwa perempuan tidak perlu memiliki pendidikan tinggi karena pada akhirnya akan berperan sebagai ibu rumah tangga masih melekat kuat dalam sebagian masyarakat. Pemikiran tersebut perlahan membentuk cara pandang banyak anak perempuan terhadap masa depan mereka sendiri.
Pendidikan dianggap bukan kebutuhan utama, melainkan sesuatu yang dapat dikesampingkan. Ditambah dengan faktor ekonomi dan tradisi keluarga, kesempatan perempuan untuk memperoleh pendidikan yang lebih layak menjadi semakin terbatas.
Padahal, pendidikan memiliki peranan penting dalam membentuk kualitas hidup seseorang, termasuk perempuan. Perempuan yang berpendidikan tidak hanya mampu mengembangkan potensi dirinya, tetapi juga dapat memberikan pengaruh besar bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Oleh karena itu, persoalan rendahnya akses pendidikan bagi santriwati di pesantren tradisional menjadi hal yang penting untuk dikaji lebih dalam, agar dapat dipahami bagaimana budaya, lingkungan, dan pola pikir masyarakat memengaruhi masa depan pendidikan perempuan.
“Perempuan tidak usah sekolah tinggi, yang penting bisa ngaji dan jadi istri yang baik.”
Kalimat sederhana itu masih sering terdengar di beberapa lingkungan pesantren tradisional di Jawa. Bagi sebagian orang, ucapan tersebut mungkin terdengar biasa saja, bahkan dianggap sebagai nasihat yang baik.
Namun, di balik kalimat itu tersimpan sebuah realitas yang perlahan membatasi masa depan banyak anak perempuan. Ketika anak laki-laki didorong untuk bermimpi tinggi dan melanjutkan pendidikan, sebagian santriwati justru tumbuh dengan keyakinan bahwa sekolah bukanlah hal yang penting bagi mereka.
Tidak sedikit santriwati yang harus menghentikan pendidikan formal setelah lulus sekolah dasar. Setelah itu, kehidupan mereka dipenuhi kegiatan mengaji, membantu pekerjaan rumah, dan mempersiapkan diri untuk peran domestik di masa depan.
Sebagian dari mereka sebenarnya memiliki keinginan untuk melanjutkan sekolah, memakai seragam putih abu-abu seperti remaja lain, atau mengejar cita-cita yang pernah mereka bayangkan.
Namun keinginan tersebut perlahan memudar karena lingkungan terus menanamkan pemahaman bahwa pendidikan tinggi bagi perempuan hanyalah sesuatu yang tidak terlalu diperlukan.
Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Ada banyak faktor yang saling berkaitan dan terus mempertahankan keadaan tersebut.
Keterbatasan ekonomi keluarga sering membuat pendidikan anak perempuan menjadi pilihan terakhir untuk diprioritaskan. Selain itu, budaya masyarakat yang memandang perempuan cukup berada di ranah rumah tangga membuat motivasi belajar mereka semakin menurun.
Dalam situasi seperti ini, banyak santriwati akhirnya menerima keadaan tanpa pernah benar-benar diberi kesempatan untuk menentukan masa depan mereka sendiri.
Di balik dinding pesantren yang tampak tenang dan penuh nilai religius, tersimpan kisah-kisah tentang mimpi yang perlahan dipendam, harapan yang dibatasi, dan pertanyaan besar: apakah perempuan memang tidak berhak memiliki pendidikan setinggi laki-laki?
Budaya yang Membentuk Cara Pandang
Di balik keputusan banyak santriwati yang berhenti sekolah, ada budaya yang bekerja secara perlahan namun kuat membentuk cara pandang masyarakat. Dalam sebagian lingkungan tradisional, perempuan sejak kecil sudah diarahkan untuk memahami bahwa tugas utamanya kelak adalah menjadi istri yang patuh dan pengurus rumah tangga.
Mereka diajarkan cara menjaga sikap, melayani keluarga, dan mengurus pekerjaan domestik, tetapi jarang didorong untuk membangun mimpi atau mengejar pendidikan tinggi. Akibatnya, banyak anak perempuan tumbuh dengan keyakinan bahwa sekolah bukanlah jalan penting untuk masa depan mereka.
Pemikiran seperti “untuk apa perempuan sekolah tinggi kalau akhirnya di dapur juga” masih terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi. Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi diam-diam mematahkan banyak harapan.
Ketika anak laki-laki diberi kesempatan untuk merantau, kuliah, bahkan mengejar karier, sebagian anak perempuan justru diminta merasa cukup dengan kemampuan dasar membaca, menulis, dan mengaji. Tidak sedikit keluarga yang menganggap mondok sudah lebih dari cukup bagi anak perempuan, sementara pendidikan formal dipandang hanya akan membuang waktu dan biaya.
Yang lebih menyedihkan, pandangan ini sering diterima begitu saja tanpa dipertanyakan. Banyak santriwati akhirnya memilih diam dan mengikuti keputusan keluarga, meskipun di dalam hati mereka menyimpan keinginan untuk terus belajar.
Padahal, pendidikan agama dan pendidikan formal bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan berdampingan dan saling melengkapi. Namun, selama budaya masih menempatkan perempuan sebatas pelengkap dalam kehidupan rumah tangga, maka kesempatan mereka untuk berkembang akan terus terhalang.
Di balik tradisi yang terlihat menjaga nilai-nilai kebaikan, ada mimpi-mimpi perempuan yang perlahan dipersempit bahkan sebelum sempat tumbuh sepenuhnya.
Lingkungan Sosial dan Pengaruh Perkataan Sekitar
Tidak semua luka datang dari bentakan atau larangan keras. Terkadang, luka itu tumbuh dari kalimat-kalimat sederhana yang terus diucapkan setiap hari. “Perempuan nanti juga di rumah.” “Ngapain sekolah tinggi kalau ujung-ujungnya jadi istri.” “Yang penting bisa ngaji.”
Ucapan seperti itu mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang, tetapi bagi banyak santriwati, kata-kata tersebut perlahan membentuk batas terhadap mimpi mereka sendiri. Semakin sering didengar, semakin kuat keyakinan bahwa mereka memang tidak pantas berharap terlalu tinggi.
Lingkungan sosial memiliki kekuatan besar dalam menentukan cara seseorang memandang dirinya. Ketika seorang anak perempuan tumbuh di tengah masyarakat yang menganggap pendidikan tinggi bukan hak penting bagi perempuan, rasa percaya dirinya perlahan terkikis.
Mereka mulai takut bermimpi, takut dianggap melawan tradisi, bahkan takut dicap terlalu ambisius hanya karena ingin melanjutkan sekolah. Pada akhirnya, banyak santriwati memilih memendam keinginannya sendiri dan menerima keadaan sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya terjadi.
Yang paling mengkhawatirkan, tekanan sosial ini diwariskan terus-menerus tanpa disadari.
Anak perempuan melihat kakaknya berhenti sekolah, lalu menganggap itu hal yang wajar. Orang tua mengulang nasihat yang dulu mereka dengar dari generasi sebelumnya.
Masyarakat terus mempertahankan pola pikir yang sama hingga akhirnya keadaan tersebut dianggap normal. Tidak ada yang benar-benar bertanya mengapa banyak perempuan kehilangan kesempatan belajar, karena semua sudah terbiasa melihat mimpi perempuan dipersempit sejak kecil.
Di balik lingkungan yang tampak tenang dan penuh nasihat, sebenarnya ada tekanan sosial yang perlahan membunuh keberanian perempuan untuk menentukan masa depannya sendiri.
Pengalaman Pribadi Saat Menjadi Santri di Pondok Pesantren
Saat saya menjadi santri di Pondok Pesantren Quran di Kudus, Jawa Tengah, saya melihat langsung kenyataan yang selama ini jarang dibicarakan. Di sana, banyak santriwati yang tidak melanjutkan pendidikan formal setelah lulus sekolah dasar. Sebagian besar dari mereka hanya memiliki ijazah SD, lalu menghabiskan waktunya untuk mondok dan menghafal Al-Qur’an.
Awalnya saya mengira itu adalah pilihan mereka sendiri, tetapi semakin lama saya tinggal di lingkungan pesantren, saya mulai memahami bahwa banyak dari mereka sebenarnya tidak memiliki kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Saya bertemu dengan banyak santriwati yang sebenarnya memiliki keinginan untuk terus sekolah. Ada yang ingin menjadi guru, perawat, bahkan ada yang bercita-cita kuliah di luar kota.
Namun, keinginan itu perlahan hilang karena keadaan dan lingkungan sekitar terus mengatakan bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi. Setelah khatam Al-Qur’an, sebagian dari mereka dijodohkan oleh orang tua dan akhirnya menikah di usia yang masih sangat muda.
Pernikahan itu sering kali bukan berasal dari keinginan pribadi, melainkan keputusan keluarga yang harus diterima tanpa banyak pertanyaan.
Yang paling membuat saya sedih adalah melihat bagaimana sebagian dari mereka tampak kehilangan harapan setelah menikah. Di usia ketika remaja lain masih belajar, mengejar cita-cita, dan mencari jati diri, mereka justru harus langsung menjalani kehidupan rumah tangga. Banyak yang merasa hidupnya sudah selesai setelah menikah, seolah tidak ada lagi tujuan lain yang bisa mereka capai.
Pengalaman ini membuat saya sadar bahwa masih banyak perempuan muda yang sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi tidak mendapatkan kesempatan untuk berkembang karena terbatas oleh budaya, lingkungan, dan keputusan orang lain atas hidup mereka.
Keterbatasan Ekonomi Menjadi Alasan Tambahan
Selain faktor budaya, masalah ekonomi juga menjadi salah satu alasan utama banyak santriwati tidak melanjutkan pendidikan formal. Sebagian keluarga merasa biaya sekolah terlalu mahal, sehingga mereka memilih cukup menyekolahkan anak di pesantren tanpa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dalam kondisi ekonomi yang sulit, pendidikan anak perempuan sering kali tidak menjadi prioritas utama.
Tidak sedikit santriwati yang setelah lulus harus membantu pekerjaan rumah, menjaga adik, atau bekerja untuk membantu kebutuhan keluarga. Keadaan ini membuat mereka semakin sulit memiliki kesempatan untuk kembali bersekolah.
Di usia ketika anak lain masih belajar dan mengejar cita-cita, sebagian santriwati justru sudah memikirkan tanggung jawab keluarga dan kebutuhan ekonomi.
Bahkan, ada juga santriwati yang dijodohkan setelah lulus dari pesantren dan akhirnya menikah di usia muda.
Setelah menikah, kesempatan untuk melanjutkan pendidikan menjadi semakin kecil karena mereka harus fokus mengurus rumah tangga. Akibatnya, banyak anak perempuan kehilangan kesempatan untuk berkembang dan meraih masa depan yang sebenarnya mereka inginkan.
Santriwati dan Potensi yang Sering Tidak Terlihat
Meskipun banyak santriwati hanya memiliki pendidikan formal sampai tingkat SD, sebenarnya mereka memiliki banyak kemampuan dan potensi yang besar. Kehidupan di pesantren mengajarkan mereka untuk hidup disiplin, mandiri, sederhana, dan bertanggung jawab.
Selain itu, mereka juga memiliki pengetahuan agama yang cukup kuat serta terbiasa menjalani kegiatan yang teratur setiap hari. Kemampuan-kemampuan tersebut sebenarnya menjadi modal penting untuk berkembang di masa depan.
Namun, potensi itu sering kali tidak terlihat karena kurangnya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan formal. Banyak santriwati yang sebenarnya cerdas dan memiliki keinginan belajar lebih tinggi, tetapi keadaan membuat mereka harus berhenti sekolah lebih cepat.
Akibatnya, kemampuan yang mereka miliki sulit berkembang secara maksimal, baik dalam bidang pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan sosial.
Padahal, perempuan yang memiliki pendidikan baik dapat memberikan pengaruh besar bagi keluarga dan masyarakat. Seorang ibu yang berpendidikan akan lebih mudah mendidik anak-anaknya, mengambil keputusan dengan bijak, dan membantu meningkatkan kualitas hidup keluarganya.
Karena itu, santriwati juga seharusnya mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dan mengembangkan potensi mereka.
Pendidikan agama dan pendidikan formal bukanlah hal yang saling bertentangan, tetapi dapat berjalan bersama untuk menciptakan perempuan yang berilmu, mandiri, dan bermanfaat bagi banyak orang.
Penutup
Rendahnya pendidikan santriwati bukan hanya disebabkan oleh masalah sekolah atau biaya, tetapi juga karena budaya dan pola pikir masyarakat yang masih menganggap pendidikan tinggi tidak terlalu penting bagi perempuan.
Pandangan seperti ini membuat banyak anak perempuan kehilangan kesempatan untuk belajar, berkembang, dan meraih cita-cita mereka. Akibatnya, banyak santriwati harus berhenti sekolah di usia muda dan memiliki pilihan masa depan yang terbatas.
Padahal, perempuan juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Pendidikan bukan hanya tentang mencari pekerjaan, tetapi juga tentang menambah wawasan, membangun rasa percaya diri, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan di masa depan. Perempuan yang berpendidikan dapat memberikan dampak baik bagi keluarga, masyarakat, dan generasi berikutnya.
Karena itu, masyarakat perlu mengubah cara pandang bahwa perempuan hanya cukup belajar agama dan mengurus rumah tangga. Santriwati tidak hanya membutuhkan ilmu agama, tetapi juga pengetahuan umum agar mampu mengikuti perkembangan zaman dan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Dengan memberikan kesempatan pendidikan yang lebih baik, santriwati dapat tumbuh menjadi perempuan yang berilmu, mandiri, dan mampu membangun masa depan yang lebih baik untuk dirinya maupun orang di sekitarnya.
PENULIS: Dian Utami
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment