Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Budaya Konsumtif Produk Kecantikan di Era TikTok
APERO FUBLIC I OPINI.- Perkembangan teknologi dan media sosial pada era digital memberikan pengaruh besar terhadap gaya hidup masyarakat, termasuk dalam dunia kecantikan. Salah satu media sosial yang paling berpengaruh saat ini adalah TikTok.
Melalui platform tersebut, berbagai tren skincare dan makeup dapat menyebar dengan cepat melalui konten video singkat yang menarik perhatian pengguna. Banyak beauty influencer memberikan rekomendasi berbagai produk kecantikan mulai dari skincare, makeup, hingga body care dengan klaim mampu membuat kulit menjadi lebih sehat, cerah, dan menarik dalam waktu singkat.
Fenomena tersebut secara tidak langsung memengaruhi perilaku masyarakat, khususnya remaja dan Generasi Z, dalam membeli produk kecantikan yang sedang populer di media sosial. Tidak sedikit orang membeli skincare atau makeup bukan berdasarkan kebutuhan kulit mereka, melainkan karena produk tersebut sedang viral di media sosial dan rasa penasaran setelah melihat ulasan influencer atau pengguna lain di TikTok.
Bahkan, muncul istilah “racun TikTok” yang digunakan ketika seseorang merasa terdorong membeli suatu produk setelah melihat konten di media sosial. Akibatnya, muncul perilaku konsumtif dalam dunia kecantikan yang menyebabkan seseorang membeli produk secara berlebihan tanpa mempertimbangkan manfaat dan kebutuhan kulit mereka yang sebenarnya.
Penggunaan TikTok saat ini membuat banyak remaja menjadi lebih konsumtif dalam membeli produk kecantikan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi intensitas penggunaan TikTok, maka semakin tinggi pula kecenderungan remaja untuk berperilaku konsumtif.
Selain itu, beauty influencer juga memiliki pengaruh besar terhadap keputusan pembelian masyarakat. Ulasan produk yang terlihat meyakinkan sering membuat penonton percaya bahwa produk tersebut mampu memberikan hasil yang bagus bagi kulit mereka.
Tidak sedikit konten yang menggunakan kalimat seperti “wajib beli”, “langsung mencerahkan”, atau “produk terbaik” sehingga membuat masyarakat merasa perlu membeli produk tersebut agar tidak tertinggal tren.
Perilaku konsumtif dalam dunia kecantikan tentu dapat memberikan dampak negatif. Dari segi keuangan, seseorang dapat menjadi lebih boros karena membeli produk yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Selain itu, penggunaan terlalu banyak skincare juga dapat merusak skin barrier akibat penggunaan kandungan yang tidak sesuai dengan kondisi kulit.
Tidak hanya berdampak pada kesehatan kulit, fenomena ini juga memengaruhi kondisi mental seseorang. Standar kecantikan yang sering ditampilkan di media sosial dapat membuat sebagian orang merasa kurang percaya diri terhadap penampilannya sendiri. Rasa takut tertinggal tren atau fear of missing out (FOMO) juga mendorong masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan produk kecantikan yang sedang viral.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya memengaruhi cara seseorang berbelanja, tetapi juga memengaruhi pola pikir dan standar kecantikan masyarakat.
Banyak remaja merasa harus memiliki kulit yang sempurna seperti yang ditampilkan di media sosial sehingga mereka terus mencoba berbagai produk kecantikan tanpa mempertimbangkan kondisi kulit masing-masing. Jika dilakukan secara terus-menerus, hal ini dapat menimbulkan rasa tidak puas terhadap diri sendiri dan menurunkan kepercayaan diri.
Namun, media sosial sebenarnya juga dapat memberikan dampak positif apabila digunakan dengan bijak. TikTok dapat menjadi sumber informasi dan edukasi mengenai kesehatan kulit apabila pengguna mampu memilih konten yang bermanfaat.
Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih kritis dalam memilih produk kecantikan dan tidak mudah terpengaruh oleh tren yang sedang viral. Skincare sebaiknya digunakan sesuai kebutuhan kulit, bukan hanya demi mengikuti perkembangan tren di media sosial.
Selain memahami kebutuhan kulit, masyarakat juga perlu lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Pengguna sebaiknya tidak langsung percaya terhadap semua ulasan produk yang muncul di internet karena tidak semua produk cocok untuk setiap jenis kulit.
Dengan sikap yang lebih kritis, masyarakat dapat menghindari perilaku konsumtif dan lebih menghargai kesehatan kulit dibanding hanya mengikuti tren yang sedang populer. Dengan demikian, masyarakat dapat memanfaatkan media sosial secara lebih sehat tanpa terjebak dalam perilaku konsumtif yang berlebihan.
PENULIS: Aprila Firanty
Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan D3 Akuntansi, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment