Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Media Sosia l: Teman Belajar Atau Penghambat Prestasi ?
APERO FUBLIC I OPINI.- Saat ini, media sosial ( medsos ) sudah tidak asing lagi di kehidupan masyarakat. Sebab media sosial bisa menjadi media komunikasi. Adapun fenomena penggunaan media sosial di kalangan pelajar menunjukkan dua sisi yang kontras, di mana di satu sisi media sosial ini dapat menjadi sumber belajar yang efektif, tetapi di sisi lain juga berpotensi menimbulkan kecanduan, gangguan mental dan penurunan prestasi.
Media sosial kini bukan sekedar sarana hiburan, melainkan ruang yang membentuk cara berpikir dan perilaku pelajar, sehingga tanpa di sadari intensitas penggunaannya yang berlebihan dapat berdampak langsung pada menurunnya konsentrasi dan prestasi belajar.
Di zaman era digital ini, sudah tidak asing bagi kita mendengar kata media sosial. Media sosial yang menemani kita setiap hari bahkan setiap detik dan menitnya.
Di kalangan pelajar saat ini sudah pasti dan sangat pasti sudah memiliki handphone jangankan anak remaja balita saja di era sekarang itu rata-rata sudah memiliki handphone. Penggunaan media sosial dikalangan siswa atau pelajar bisa saja mengakibatkan perubahan perilaku dan pola belajar mereka.
Penggunaan media sosial yang berlebihan dikalangan pelajar baik itu pelajar SD,SMP atau SMA jika tanpa pengawasan ketat dari orang tua bisa saja menjerumuskan mereka kedalam pergaulan bebas. Pelajar dari jenjang SD,SMP dan SMA masih harus diperhatikan walaupun mereka terlihat sudah memasuki usia remaja.
Justru, usia tersebutlah yang rentan terbawa arus pergaulan bebas. Jika tidak dipantau atau diperhatikan maka yang ditakutkan yaitu terjadinya pergaulan bebas sehingga menganggu proses belajar pelajar tersebut dan mengakibatkan penurunan prestasi.
Tidak hanya pergaulan bebas saja, jika penggunaan media sosial tidak terpantau takutnya lepas kontrol dan banyaknya kasus cyberbullying di media sosial yang berawal dari sebuah komentar, dan bisa saja mengakibatkan perundungan, atau kekerasan lainnya.
Selain itu juga jika tidak bisa mengendalikan atau tidak bisa membatasi penggunaan medsos ini dapat mengakibatkan gampangnya merasa insecure karena mungkin melihat postingan orang-orang yang status sosialnya lebih dari kita.
Riset yang dilakukan oleh Nasrullah tahun 2015 juga menyatakakn bahwa penggunaan teknologi atau penggunaan media sosial dapat memberi efek negative kepada siswa atau pelajar terutama dalam berperilaku.
Siswa juga cenderung meniru setiap perilaku menyimpang yang di akses melalui media sosial seperti facebook, telegram, tiktok, whatsapp , Instagram, youtube atau platform media sosial yang lainnya.
Banyak siswa yang terjebak dalam penggunaan media sosial yang tidak sesuai dengan usia merekaa, mulai dari perundungan daring ( cyberbullying), penyebaran konten negative, hingga ketergantungan yang berdampak pada prestasi dan perkembangan sosial mereka.
Selain itu, beberapa kasus seperti cyberbullying atau kasus yang mengakibatkan ngedownnya mental atau stress yang diakibatkan adanya konflik karena tidak bisa membatasi penggunaan medsos akan mengakibatkan penurunan konsentrasi, yang mungkin disebabkan oleh konflik-konflik yang dialami pelajar atau siswa sehingga dapat menurunnya prestasi yang disebabkan oleh stress, kecemasan yang berlebihan, depresi, perbandingan citra tubuh hingga fomo ( Fear Of Missing Out).
Lembaga We Are Social dalam Nasrullah (2015) mempublikasikan hasil risetnya bahwa pengguna internet dan media sosial di Indonesia cukup tinggi. Ada sekitar 15% atau sama dengan 38 juta lebih pengguna internet atau media sosial.
Dari total jumlah penduduk sekitar 62 juta orang terdaftar serta memiliki akun di media sosial facebook. Dan dari riset tersebut juga menunjukkan bahwa rata-rata pengguna internet di Indonesia menghabiskan waktu hamper 3 jam untuk terkoneksi dan berselancar di media sosial melalui perangkat telpon genggam.
Dari data tersebut menunjukkan bahwa rata-rata orang yang menghabiskan wkatu di medsos kurang lebih 3 jam bahkan bisa saja lebih, jika seorang pelajar keseringan scroll atau bermain medsos lainnya ataupun gaming atau bermain game seperti mabar mobile legend dan lainnya maka akan berdampak pada prestasi pelajar tersebut.
Bayangkan seorang siswa atau pelajar tanpa henti menggenggam handphone dan terus-terusan dan kecanduan bermain media sosial, yang dimana tugas-tugas sekolahnya terbengkalai, dan malas mengerjakan tugas dari gurunya.
Akibatnya, siswa tersebut mengalami gangguan konsentrasi belajar hingga mengakibatkan fomo, nilai akademik nya semakin menurun bahkan hampir tidak naik kelas.
Selain penurunan nilai akademik, ada juga perubahan drastis dari segi perilaku yang tadinya baik-baik saja atau yaa dibilang anak tersebut itu pergaulannya terjaga, tetapi ada terpengaruh sedikit akibat dari penggunaan media sosial yang berlebihan.
Sehingga cara berpakaian pun ikut berubah, gaya hidupnya yang semakin hedon, sering merasa insecure, selalu membandingkan hidupnya denga napa yang dia lihat di sosial media, sehingga mengalami juga gangguan kecemasan.
Data dari hasil pengawasan, ternyata ada dugaan bahwa ada pengaruh konten di media sosial, kata ketua KPAI Marganet Aliyatul Maimunah dikutip minggu, 9 November 2025 ( sumber MetroTv Knowledge to Elevate ). Margenet menyebutkan bahwa kasus ini menjadi peringatan keras tentang dampak negative media sosial bagi seorang siswa atau pelajar.
Oleh karena itu, Marganet meminta orang tua agar dapat memberikan pengawasan ekstra kepada anak-anaknya. Tak hanya di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya.
Marganet mengungkapkan “ Juga tentu atensi kepada seluruh orang tua, ternyata upaya pengawasan kepada anak tidak hanya terkait dengan aktivitas di dunia nyata tetapi juga aktivitas anak-anak saat berada di dunia maya atau di dunia siber”.
Setuju dengan hal yang disampaikan oleh Marganet bahwa anak-anak, siswa atau pelajar harus memberikan pengawasan yang ekstra supaya dapat terkendali dan aman.
Takutnya dampak negative melekat dalam diri seorang pelajar tersebut jika tidak di awasi dengan ekstra. Adapun dampak negative yang berbahaya bagi kalangan anak remaja atau seorang siswa atau pelajar yaitu:
1.Paparan konten kekerasan dan radikalisme yaitu media sosial dapat menjadi wadah penyebaran konten ekstrem yang mempengaruhi cara berpikir anak muda.
Algoritma media sosial sering kali menampilkan konten serupa berdasarkan riiwayat pencarian, sehingga pengguna tanpa sadar terus terpapar ide berbahaya. Dan dapat menganggu konsentrasi atau fokus belajar jika tidak dalam pengawasan orang tua, dan tentunya dapat menurunkan prestasi.
2.Kecanduan dan Penurunan Produktivitas, waktu yang dihabiskan berlebihan di media sosial dapat menyebabkan kecanduan digita, sehingga mengakibatkan timbulnya rasa malas belajar dan sering menunda-nunda untuk mengerjakan tugas dari gurunya.
Remaja yang terlalu sring berselancar di dunia maya mungkin berisiko menurun konsentrasinya dalam belajar, berkurangnya interaksi sosial langsung, dan kehilangan motivasi untuk berkembang di dunia nyata.
3.Penyebaran Hoaks dan MisInformasi yang dapat dengan cepat menyebarnya informasi palsu dan mudah tersebar luas di platform media sosial. Tanpa kemampuan berpikir kritis, generasi muda saja bisa percaya begitu saja dan bahkan ikut menyebarkan berita hoaks tersebut tanpa tahu faktanya.
4.Gangguan mental dan perbandingan, media sosial ini sering menampilkan citra palsu tentang kebahagiaan atau kesuksesan orang lain. hal tersebut dapat memicu perasaan rendah diri, stress, insecure atau suka membanding-bandingkan kehidupannya dengan orang lain, bahkan depresi pada remaja yang belum memiliki kestabilan emosi.
5, Cyberbullying dan kekerasan daring, salah satu sisi paling gelap media sosial adalah munculnya perundungan digital. Banyak remaja menjadi korban perjanjian, fitnah atau ancaman di dunia maya, yang dapat berakhir Pada trauma psikologis jangka Panjang.
6.Peran Orang Tua, peran orang tua tentunya sangat penting karena pengawasan paling utama adalah di rumah para pelajar tersebut, dan jikalau di sekolah itu menjadi tugas dan tanggung jawab seorang pendidik untuk mengawasi siswanya supaya tidak menggunakan handphone atau bermain media sosial di kelas atau lingkungan sekolahan.
Dan di produktivitaskannya seperti program Gerakan literasi siswa atau kegiatan pojok baca, bebersih lingkungan dan menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman dan terkendali.
Media sosial selain berdampak negative, bisa juga berdampak positif bagi seorang pelajar dengan media sosial, semua orang bisa terhubung dengan dunia luar dan luas. Bahkan bisa berteman dengan teman dari seluruh dunia.
Ada banyak platform atau aplikasi media sosial umunm digunakan oleh masyarakat, seperti facebook, twitter, Instagram, youtube, tiktok dan yang lainnya. tidak hanya orang dewasa saja, tetapi aplikasi media sosial tersbut juga banyak digemari oleh remaja, bahkan anak-anak serta pelajar.
Jika pengawasan dari orang tua seimbang, dan siswa nya dapat di pantau serta dikasih peraturan ketat dari orang tua dan sangat di awasi yaitu untuk meminimalisir dampak negative tersbut terjadi.
Adapun dampak positif dari penggunaan media sosial jika kita menggunakannya dengan bijak yang pertama dapat menambah wawasan dan pengetahuan menjadi semakin luas, dan dapat membantu siswa untuk berkomunikasi dengan orang lain, sehingga siswa mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas.
Jika media sosial digunakan dengan bijak dan dalam pengawasan dari orang tua maka siswa akan mendapatkan hal baik lainnya seperti mudah dalam pembelajaran karena banyak fitur fitur pembelajaran dan lain-lain, dan prestasi siswa akan bagus jika penggunaan media sosial ini digunakan untuk sarana pembelajaran.
PENULIS: Nandini Prameswari
Mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas IsIam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.
Dosen Pengampu:
- Dr. Dendih Fredi Firdaus, M.Pd.
- Hartin Rizky Sujono, M.Pd.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment