Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Pertanian
Sorgum dari Bima: Jalan Keluar dari Ketergantungan Impor Pangan?
APERO FUBLIC I OPINI.- Indonesia masih menghadapi persoalan serius dalam sektor pangan, yaitu tingginya ketergantungan terhadap komoditas impor. Gandum dan kedelai menjadi dua contoh bahan pangan strategis yang pasokannya sangat dipengaruhi kondisi global.
Ketika terjadi konflik internasional, gangguan logistik, atau kenaikan harga dunia, Indonesia ikut merasakan dampaknya melalui lonjakan harga dan ancaman kelangkaan bahan baku. Data menunjukkan bahwa Indonesia mengimpor lebih dari 10 juta ton gandum per tahun untuk memenuhi kebutuhan industri pangan nasional.
Situasi ini menegaskan bahwa ketahanan pangan Indonesia masih rapuh karena terlalu bergantung pada pasar luar negeri. Pertanyaannya, sampai kapan kondisi ini akan terus dibiarkan?.
Di tengah tantangan tersebut, sorgum mulai dilirik sebagai alternatif pangan lokal yang potensial. Tanaman ini memiliki daya adaptasi tinggi, tahan kekeringan, dan dapat tumbuh di lahan marginal.
Salah satu contoh nyata pengembangannya terlihat di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Pemerintah bersama masyarakat mulai mengembangkan sorgum sebagai bagian dari diversifikasi pangan nasional.
Pada tahun 2022, pemerintah menyiapkan lahan awal seluas 200 hektare di Bima untuk perluasan tanam sorgum. Bahkan, dalam target nasional, pengembangan sorgum diarahkan mencapai 40.000 hektare di 17 provinsi. Langkah ini menunjukkan bahwa solusi pangan tidak selalu harus datang dari luar negeri, tetapi bisa tumbuh dari potensi daerah sendiri.
Pengalaman negara lain membuktikan bahwa diversifikasi pangan bukan hal yang mustahil. Jepang, setelah Perang Dunia II, mendorong perubahan pola konsumsi dari beras ke gandum dan produk olahan melalui kebijakan pangan dan edukasi masyarakat.
Korea Selatan juga mengalami pergeseran konsumsi pangan seiring urbanisasi dan perkembangan industri modern. Di Ethiopia, pangan lokal seperti teff berhasil dipertahankan sebagai identitas nasional sekaligus penopang ketahanan pangan.
Dalam konteks global, sorgum sendiri bukan komoditas kecil. Menurut data FAO, produksi sorgum dunia berada pada kisaran 55–65 juta ton per tahun, dengan produsen utama seperti Amerika Serikat, India, Nigeria, Ethiopia, dan Sudan. Artinya, sorgum telah terbukti menjadi sumber pangan penting di banyak negara.
Meski potensinya besar, pengembangan sorgum di Indonesia tidak lepas dari berbagai hambatan. Secara budaya, nasi masih dianggap sebagai simbol utama makanan pokok sehingga masyarakat sulit beralih ke sumber karbohidrat lain.
Dari sisi pasar, produk olahan sorgum masih terbatas dan belum populer dibandingkan beras atau gandum. Dari sisi produksi, hasil panen sorgum rata-rata berkisar 2–4 ton per hektare, lebih rendah dibanding padi yang dapat mencapai 5–6 ton per hektare.
Harga sorgum di pasaran juga relatif lebih tinggi karena ekosistem produksi dan distribusinya belum terbentuk secara massal. Tanpa strategi yang tepat, sorgum berisiko hanya menjadi wacana tanpa dampak nyata.
Di balik tantangan tersebut, sorgum tetap relevan sebagai solusi masa depan. Keunggulan utamanya bukan sekadar pada jumlah produksi, melainkan pada ketahanan dan efisiensi.
Sorgum membutuhkan air lebih sedikit dibanding padi, tahan terhadap kekeringan, dan cocok ditanam di wilayah dengan kondisi iklim ekstrem. Dalam era perubahan iklim, karakter ini menjadi sangat penting.
Dari sisi kesehatan, sorgum kaya akan serat, mineral, dan antioksidan. Penelitian dalam Journal of Cereal Science menunjukkan bahwa sorgum mengandung senyawa bioaktif yang membantu mengontrol gula darah, meningkatkan rasa kenyang, dan mendukung kesehatan metabolik.
Dengan demikian, pengembangan sorgum tidak hanya menjawab persoalan ketahanan pangan, tetapi juga mendukung kualitas konsumsi masyarakat.
Pengembangan sorgum perlu dilakukan melalui pendekatan yang realistis dan bertahap. Sorgum tidak harus menggantikan nasi secara langsung, tetapi dapat diperkenalkan melalui produk pangan modern seperti tepung, mi, roti, biskuit, sereal, dan camilan sehat.
Inovasi produk penting agar sorgum lebih mudah diterima masyarakat, terutama generasi muda. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, UMKM, petani, dan industri pangan perlu diperkuat untuk membangun rantai pasok dari hulu hingga hilir.
Pemerintah juga dapat memberikan insentif, pelatihan budidaya, bantuan teknologi, serta kampanye edukasi konsumsi pangan lokal. Jika dilakukan secara konsisten, sorgum dapat berkembang menjadi komoditas strategis nasional.
Keberhasilan Bima membuktikan bahwa kemandirian pangan dapat dimulai dari daerah. Sorgum bukan sekadar tanaman alternatif, melainkan simbol keberanian untuk keluar dari ketergantungan impor.
Indonesia memiliki lahan, sumber daya, dan pengetahuan untuk membangun sistem pangan yang lebih mandiri. Kini persoalannya bukan lagi apakah kita mampu, tetapi apakah kita mau memulainya sekarang.
PENULIS: Faiqotuz Zahrah dan Azka Talitha Putri Teguh.
Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang, Fakultas Pertanian-Peternakan, Prodi Teknologi Pangan.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment