Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Krisis Empati di Tengah Ledakan Informasi Digital
APERO FUBLIC I OPINI.- Bayangkan dalam satu hari, seseorang dapat menyaksikan puluhan bahkan ratusan informasi tentang bencana, konflik, dan ketidakadilan masyarakat hanya melalui layar ponsel. Semua hadir begitu cepat, silih berganti, tanpa jeda.
Di tengah derasnya arus tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah semakin banyak informasi membuat kita semakin peduli?.
Ironisnya, yang terjadi sering kali justru sebaliknya. Ledakan informasi digital tidak selalu menghasilkan peningkatan kepekaan sosial, melainkan dalam banyak kasus memicu penurunan empati. Kita hidup di era ketika tragedi semakin mudah diakses, tetapi semakin sulit dirasakan secara mendalam.
Dengan kata lain, kita mengetahui lebih banyak, tetapi merasakan lebih sedikit.
Data menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat penggunaan media sosial yang tinggi. Laporan Digital 2025 mencatat lebih dari 140 juta pengguna aktif.
Artinya, sebagian besar masyarakat terus-menerus terpapar arus informasi yang nyaris tanpa henti. Namun, intensitas paparan ini membawa konsekuensi psikologis yang tidak sederhana.
Dalam perspektif psikologi sosial, fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep desensitisasi, yaitu menurunnya respons emosional akibat paparan berulang terhadap stimulus yang sama.
Ketika seseorang terlalu sering melihat penderitaan, baik melalui berita maupun media sosial, respons empatinya cenderung melemah. Tragedi yang seharusnya menggugah justru perlahan menjadi hal yang biasa.
Selain itu, konsep information overload juga memperjelas kondisi ini. Manusia memiliki keterbatasan dalam memproses informasi. Ketika jumlah informasi yang diterima melebihi kapasitas tersebut, individu cenderung merespons secara cepat dan dangkal.
Akibatnya, pemahaman menjadi superfisial dan keterlibatan emosional pun ikut berkurang. Dampak lanjutannya terlihat pada munculnya fenomena slacktivism, yaitu bentuk partisipasi sosial yang minim keterlibatan nyata.
Media sosial memungkinkan individu mengekspresikan kepedulian secara instan melalui tanda suka, komentar, atau unggahan ulang. Di satu sisi, hal ini menunjukkan adanya kesadaran sosial.
Namun di sisi lain, ia menciptakan ilusi kepedulian seolah telah berkontribusi, padahal tidak ada tindakan konkret yang dilakukan. Kepedulian pun berubah menjadi performa, bukan komitmen.
Lebih jauh lagi, sistem algoritma media sosial turut memperkuat pola tersebut. Konten yang memicu emosi, termasuk penderitaan, lebih mudah viral dan mendapatkan perhatian luas. Dalam logika ini, nilai suatu isu tidak lagi ditentukan oleh urgensinya, melainkan oleh daya tariknya di ruang digital.
Akibatnya, perhatian publik menjadi tidak stabil, isu yang hari ini dianggap penting dapat dengan cepat tergantikan oleh isu lain keesokan harinya.
Sebagian pihak berpendapat bahwa melimpahnya informasi justru memperkuat empati sosial, karena masyarakat menjadi lebih sadar terhadap berbagai persoalan kemanusiaan di berbagai belahan dunia.
Tidak dapat dimungkiri, banyak gerakan sosial dan aksi kemanusiaan memang lahir dari viralnya suatu isu. Namun, persoalan utamanya terletak pada keberlanjutan. Kepedulian yang muncul sering kali bersifat sesaat bahkan cepat hadir, tetapi juga cepat menghilang.
Di sinilah letak krisis yang sebenarnya. Masalahnya bukan pada kurangnya informasi, melainkan pada cara kita meresponsnya. Kita mungkin mengetahui lebih banyak daripada sebelumnya, tetapi belum tentu merasakan lebih dalam. Jika kondisi ini terus berlanjut, masyarakat berisiko menjadi terbiasa melihat penderitaan tanpa benar-benar tergerak untuk peduli.
Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar akses informasi, melainkan kesadaran dalam mengelolanya. Literasi digital tidak cukup hanya dimaknai sebagai kemampuan mencari dan menyebarkan informasi, tetapi juga kemampuan untuk memilah, memahami, dan memberi ruang bagi refleksi. Di tengah arus yang serba cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak justru menjadi kunci menjaga kepekaan.
Lebih dari itu, kepedulian perlu didorong keluar dari ruang digital menuju tindakan nyata. Empati tidak boleh berhenti pada layar ponsel saja, tetapi harus hadir dalam kehidupan sosial sehari-hari. Jika tidak, kita bukan hanya akan kehilangan empati, tetapi juga perlahan kehilangan makna kemanusiaan itu sendiri di tengah kemajuan teknologi di zaman sekarang ini.
PENULIS. Indah Puspita Sari
Mahasiswi Prodi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bangka Belitung.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment