Kampus
Mahasiswa
Olahraga
Opini
Pendidikan
Menanamkan Nilai Kejujuran dalam Pembinaan Sepak Bola Usia Muda
| Dok. Internet |
APERO FUBLIC I OPINI.- Indonesia Sepak bola Indonesia selalu punya tempat istimewa di hati masyarakat. Antusiasme suporter yang besar, talenta muda yang melimpah, serta semangat nasionalisme yang kuat menjadi modal penting bagi perkembangan sepak bola nasional.
Sepak bola bukan sekadar permainan tentang menang dan kalah. Di balik sorak sorai penonton dan ambisi prestasi, sepak bola sejatinya juga merupakan ruang pendidikan nilai, terutama bagi pemain usia muda.
Salah satu nilai paling mendasar yang seharusnya ditanamkan sejak dini adalah kejujuran. Tanpa kejujuran, pembinaan sepak bola usia muda berisiko kehilangan arah dan tujuan utamanya.Saya menulis artikel ini karena saya pernah punya pengalaman dalam dunia sepak bola.
Dalam konteks ini pembinaan di Indonesia, nilai kejujuran masih sering diuji. Kasus manipulasi usia, seleksi pemain yang tidak transparan, hingga praktik “titipan” menunjukkan bahwa pembinaan belum sepenuhnya berjalan di atas prinsip keadilan. Padahal, usia muda merupakan fase krusial pembentukan karakter.
Ketika pemain sejak awal diperkenalkan pada praktik yang tidak jujur, maka mereka akan tumbuh dalam sistem yang membenarkan kecurangan sebagai bagian dari permainan. Menanamkan kejujuran dalam pembinaan sepak bola di Indoensia saat ini masih menjadi PR bagi seluruh bagian yang terlibat khusus nya bagi PSSI karena ini adalah sebuah fondasi utama yang sangatlah penting.
Khususnya dalam sekolah sepak bola pengurus dan para pelatih ini yang memiliki peran yang sangat penting karena pelatih sebagai figur yang paling dekat dengan para pemain. Sikap pelatih dalam bersikap adil, terbuka, dan konsisten akan menjadi contoh nyata bagi pemain muda.
Kejujuran yang diajarkan melalui tindakan jauh lebih bermakna dibandingkan sekadar nasihat di ruang ganti. Selain pelatih, peran orang tua dan lingkungan juga tidak bisa diabaikan.
Tekanan agar anak cepat berprestasi sering kali mendorong jalan pintas yang justru merusak proses pembinaan. Ketika orang tua lebih menekankan hasil daripada proses, nilai kejujuran mudah tergerus. Padahal, sepak bola usia muda seharusnya menjadi ruang belajar, bukan arena kompetisi penuh kepentingan.
Banyak kasus yang saya temui pada saat saya masih berlatih sebuah SSB di Bandung, pemain atau anak yang mempunyai potensi yang bagus itu sering kalah dengan yang orang tua nya lebih dekat dengan pelatihnya itu menjadi kasus yang sangat besar khusus nya untuk kemajuan sepak bola Indonesia.
Oleh karena itu kejujuran tidak hanya harus di tetapkan kepada para pemain saja semua yang terlibat di mulai dari pelatih, manajemen, orang tua pemain juga harus mempunyai nilai kejujuran demi kemajuan para pemain dan sepak bola Indonesia. Jika Indonesia ingin memiliki masa depan sepak bola yang lebih baik, maka pembenahan harus dimulai dari akar.
Menanamkan nilai kejujuran sejak usia muda bukan pilihan, melainkan keharusan. Sebab, dari pembinaan yang jujur akan lahir pemain-pemain yang tidak hanya hebat di lapangan, tetapi juga berkarakter di luar lapangan.
Oleh: Abdillah Vega Mahendra
Mahasiswa Universitas Kebangsaan Republik Indonesia.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment