Cerpen
Kampus
Mahasiswa
Pendidikan
Sastra Kita
Harapan Yang Tersimpan Di Kotak Abu
APERO FUBLIC I CERPEN.- Tepat pada 23 desember 2021, hari dimana Elia melihat seseorang yang berhasil membuatnya kagum untuk pertama kalinya dengan senyuman yang membuat hati Elia merasa tak karuan. Elia bertanya-tanya siapa dia dan kenapa ia baru melihatnya sekarang, setelah satu semester berada di SMA Karaya.
Hari itu, adalah hari dimana seluruh siswa SMA Karaya bergotong royong membersihkan lingkungan sekolah untuk persiapan untuk pembagian raport hasil belajar selama satu semester. Di salah satu kelas 10, dua orang teman sedang bermain kejar-kejaran. Iya, disaat yang lain sibuk bersih-bersih mereka berdua malah sibuk bermain. Mereka adalah teman dekat sejak pertama kali masuk SMA, sebenarnya mereka sudah saling mengenal sejak SMP. Namun baru saling mengenal lebih dekat lagi sewaktu SMA. Ketika mereka sedang asyik bermain, sampai lah ketika salah satu dari mereka melihat ke arah seberang kelas, yang kemudian dia berhenti. Lalu ia bertanya kepada temannya,
“itu siapa?”.
Kemudian temannya menjawab, “hah, yang mana?”.
“Itu yang duduk bareng temannya sambil tertawa.”
“Oh itu, namanya Nala.” jawab temannya.
“Tapi kenapa aku tidak pernah lihat dia ya?” Tanyanya lagi.
“Dia itu beda sesi sama kamu.” Jawab temannya lagi.
“Oh, pantesan.”jawab Elia.
Memang pada saat semester 1 kegiatan belajar mengajar dialihkan secara online, lalu dialihkan lagi secara sesi/bergantian. Karena pada saat itu sedang adanya virus menular. Dan mendekati ujian semester dialihkan lagi secara offline.
“kamu kenapa El?” tanya Rifa.
Keluarlah satu kata dari mulut Elia “Lucu.”
Rifa tercengang dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut temannya itu.. Karena itulah Rifa terkejut dengan apa yang terjadi dengan Elia. Apalagi Elia pada saat itu juga baru saja patah hati. Dan anehnya lagi ia langsung terlihat memiliki ketertarikan dengan orang yang baru ia temui itu. Elia adalah anak pertama yang dikenal tidak mudah tertarik kepada orang lain. Itu juga menjadi salah satu alasan temannya terkejut.
Lalu, Elia berinisiatif mengajak Rifa untuk mencabut rumput di samping kelas mereka, tidak lupa dengan tatapan yang mudah ditebak oleh Rifa. Senyuman lelaki itu mampu membuat Elia merekahkan senyuman lebar. Karena senyuman dan tawa itulah yang membuat Elia akan selalu mengingatnya kala itu.
Sejak hari itu mereka semakin sering bertemu, bahkan setiap hari di sekolah. Dan sejak hari itu Elia jatuh hati pada sosok yang bernama Nala. Nala merupakan anak kedua yang terkenal cuek dan juga tidak mudah untuk diluluhkan, sekaligus teman satu angkatan Elia.
Elia mulai mencari tahu tentang Nala dimulai dengan nomor handphone nya dengan bantuan dari Rifa. Entah apa yang ada dipikiran Elia saat dia mulai menghubungi Nala untuk pertama kalinya. Awalnya Nala menjawab pesan Elia respon yang bagus dan cepat, namun lama kelamaan ia mulai cuek dan membuat Elia berpikir bahwa respon Nala sebelumnya hanya karena penasaran saja. Jadi, Elia berniat untuk tidak menghubungi Nala lagi.
Elia pikir saat itu perasaan itu mungkin hanya sebentar sama seperti sebelumnya. Dan ia berusaha untuk tidak membuat rasa terlalu dalam kepada Nala. Namun ia lagi-lagi memikirkan Nala dan entah kenapa ia kembali mencari tahu tentang Nala kembali. Tidak hanya mencari tahu ia juga menghubungi Nala kembali. Sejak saat itu mereka mulai sering mengirimi pesan satu sama lain. Walaupun selalu Elia yang memulai percakapan di antara keduanya Selama itu, di sekolah mereka seperti orang yang tidak kenal atau seperti tidak terjadi apapun.
Karena sering bertukar pesan mereka bisa dikatakan menjadi dekat. Tetapi, kedekatan mereka tidak bertahan lama. Kedekatan mereka hanya bisa bertahan selama hampir 1 tahun. Setelah kedekatan itu berakhir, Elia masih tetap melihat dan memperhatikan Nala dari kejauhan tanpa adanya komunikasi. Ia juga masih sering mencari tahu tentang Nala kepada teman sekelas Nala dan teman dekat Elia sendiri yang merupakan tetangga dan juga teman Nala sewaktu SD dan SMP yaitu Cupi. Awalnya Elia dan Cupi cuman sebatas teman biasa di kelas belum sedekat sekarang. Namun mereka menjadi teman dekat setelah Elia tidak berteman dekat dengan Rifa.
Dan momen yang paling disukai oleh Elia adalah pada saat class meeting berlangsung. Karena pada saat itu ia akan melihat Nala bermain sepak bola dengan leluasa. Nala memiliki bakat di salah satu bidang olahraga yaitu bermain sepak bola. Pada momen ini menjadi kesempatan untuk Elia mengambil foto Nala ketika sedang bermain sepak bola. Namun bukan Elia yang mengambil foto Nala,tetapi Elia malah meminta bantuan kepada sepupunya yaitu Rea.
“Re, temenin aku yuk.” Pinta Elia kepada sepupunya itu.
“Kemana?” tanya Rea dengan mengangkat sebelah alisnya.
“Ke lapangan futsal, sekarang sudah giliran kelas dia yang tanding.” Jelas Elia.
“Kamu tidak bosan ya, ini sudah 2 tahun. Masih aja suka sama Nala segitunya.” Celetuk Rea.
Benar yang dikatakan Rea, sudah selama itu Elia menyukai Nala tanpa ada respon yang baik dari Nala.
"Sudahlah, nanti aja bahas itu. Sekarang ayo ikut aku." Jawab Elia tanpa peduli yang dikatakan sepupunya itu.
Rea hanya bisa menggelengkan kepala terheran-heran dengan kelakuan Elia. Akhirnya Rea tetap menemani Elia ke lapangan. Sampai di lapangan mereka langsung duduk di pinggir lapangan. Pada pertengahan pertandingan Elia selalu memperhatikan dan meminta kepada Rea untuk memotret Nala secara diam-diam.
Setelah pertandingan hampir selesai Elia mengajak Rea untuk segera pergi dari lapangan untuk menghindari pertemuannya dengan Nala. Karena ia takut kalau Nala mengetahui bahwa dirinya ada di sana Nala akan merasa tidak nyaman dengan kehadiran Elia. Namun, ternyata Nala juga memperhatikan bahwa Rea sedang memotretnya. Ia juga mengetahui bahwa pasti Elia yang meminta kepada Rea untuk memotretnya. Tetapi, walaupun Elia selalu memperhatikan Nala, ia tidak menyadari bahwa Nala mengetahui hal itu.
Setelah momen itu, Elia kembali selalu memperhatikan Nala dari kejauhan. Mereka juga menjadi sangat sering berpapasan di sekolah, padahal jarak kelas mereka lumayan jauh. Tetapi juga tentu pertemuan itu ternyata bisa dibuat secara sengaja oleh keduanya. Entah apa maksud dari perlakuan Nala kepada Elia. Setiap berpapasan dengan Elia ia sesekali melirik ke arah Elia. Namun, hal itu tidak disadari oleh Elia karena ia selalu merasa bahwa Nala selalu menghindarinya.
Rasa yang dimiliki oleh Elia berlangsung sampai mereka lulus SMA, bahkan setelah mereka lulus dari SMA. Pada saat hari kelulusan Elia berniat untuk mengajak Nala untuk foto bersama. Pada saat Elia dihampiri oleh teman-teman dan sepupu nya, ia langsung mengajak sepupunya yaitu Rea untuk membantunya menemui dan mengajak Nala foto berdua. Untuk memastikan bahwa Nala tidak akan menolak ajakannya ia mengirimkan pesan kepada Nala, tetapi waktu itu nomor Nala tidak aktif. Jadi, Elia dan Rea mencari dan menanyakan kepada teman Nala keberadaan Nala.
Akhirnya mereka bertemu dengan Nala di gerbang belakang. Saat itu, bukan Elia yang berbicara langsung kepada Nala. Tetapi malah Rea yang berbicara kepada Nala bahwa Elia mengajaknya untuk foto berdua.
“Nala, ini Elia mau foto berdua sama kamu boleh?” tanya Rea.
“Boleh, mau foto dimana?” Jawab Nala
“Disitu aja, gimana?” Elia menjawab cepat.
“Boleh, ayo.” jawab Nala
Setelah mereka selesai foto, Elia dan Rea beranjak pergi dari sana begitu juga Nala. Namun di saat Elia tidak menoleh lagi ke belakang, ternyata Nala berbalik dan memperhatikan Elia sambil tersenyum tipis. Tapi pikiran mereka hanya tertuju pada momen-momen mereka selama masa SMA. Yang dulunya bisa bertemu setiap hari di sekolah. Namun, setelah hari kelulusan itu mereka tidak pernah bertemu lagi bahkan di kebetulan manapun.
Elia akan selalu mengingat momen-momen tersebut, dengan perasaan yang tetap sama. Tanpa adanya tuntutan balasan atas perasaanya kepada Nala. Tidak ada yang tahu bagaimana perasaan Nala kepada Elia. Elia selalu berharap ia dan Nala akan bertemu lagi.
~End~
Nama : Nezza Aulia
Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Prodi Pendidikan Bahasa Inggris.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Cerpen

Post a Comment