-->
Search
24 C
en
  • Penerbit MAF
  • Apero Book
  • JAF
  • LinkedIn
APERO FUBLIC
Terbitkan Artikel Anda
  • Apero Fublic
  • Popular
    • Politik
    • Ekonomi
    • Fotografi
    • Dunia Anak
    • Sosial & Masyarakat
  • Apero Fublic
  • Women
    • Women
    • Tokoh Wanita
    • Skil Wanita
    • Ibu dan Anak
    • Pendidikan & Kesehatan Wanita
  • Gatget
    • Video
  • World
  • Video
  • Featured
    • Penyakit Masyarakat
    • About
    • e-Galeri
    • Post Search
    • Daftar Kata
    • Peribahasa
    • Antologi Puisi INew
    • Antologi Puisi IINew
  • Find
    • Download Artikel
    • Download Feature
    • Andai-Andai
    • Post All
    • Flora Pangan
    • Fauna
    • Picture IndonesiaNew
    • Kamus Bahasa MusiNew
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Brand
    • Sport
    • Fashion
    • Fitness
    • Sunset-Sunrise
    • HijrahNew
    • NasihatNew
APERO FUBLIC
Search

Ruang Sponsor Apero Fublic

Ruang Sponsor Apero Fublic
Home Cerpen Kampus Mahasiswa Sastra Kita Aksara di Kota Hujan
Cerpen Kampus Mahasiswa Sastra Kita

Aksara di Kota Hujan

PT. Media Apero Fublic
PT. Media Apero Fublic
07 Jan, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

APERO FUBLIC  I  CERPEN.-  Suasana kota Bandung masih terasa sama seperti biasanya, hanya saja keramahan dan kedamaian Bandung malam ini tidak bisa menggapai jiwa Adira Prasmitha yang saat ini sedang dihampiri gundah. Di tengah hiruk pikuk jalanan Braga, Adira berjalan gontai diatas trotoar hendak kembali ke apartemen yang menjadi tempat singgahnya selama beberapa hari di Bandung.

Adira tidak terlalu mengenal Bandung, namun ia sangat menikmati suasanan damai di Bandung karena jujur saja kota ini merupakan salah satu kota impiannya sejak kecil. Adira pernah menyapa Bandung beberapa tahun lalu dan rasanya masih sama, yang membuatnya berbeda hanya karena sekarang ia lebih berani untuk menyusuri kota besar ini sendirian.

Lama menikmati udara dingin Bandung, kini Adira telah tiba di persinggahannya. Apartemen dengan lampu yang memenuhi bangunan tinggi itu menyapa pandangannya. Adira menarik tas selempangnya yang sempat merosot dari pundak, lantas kakinya perlahan masuk menaiki lift yang akan membawanya ke tempat peristirahatannya malam ini. Tepat setelah bunyi dentingan dan pintu lift terbuka, Adira melangkah menuju unit yang sudah disiapkan untuknya dengan langkah cepat karena tubuhnya sudah sangat lelah setelah seharian beraktivitas dengan naskah yang tidak pernah lepas dari hidupnya. Langkah Adira terhenti ketika ia berada di depan unit 317 yang tepat berada disamping unitnya, ia terdiam cukup lama saat aroma parfum yang sangat khas itu manusuk indra penciumannya karena saat ini pintu didepannya tidak tertutup dengan rapat. 

“Permisi mbak, bisa geseran dikit ga, ya? Saya mau masuk ke dalam,” seru suara perempuan dari belakang Adira. 

Adira lantas sedikit bergeser untuk memberi jalan, ia berbalik pelan dan menatap sebentar perempuan dengan sweather berwarna biru langit itu kemudian tersenyum kecil. “Oh, iya, silahkan! Maaf karena saya menghalangi, sepertinya saya salah mengenali unit saya,” ucap Adira tidak enak hati.

“Aku juga sering gitu kok, karena semua pintunya sama, untung ada nomor unitnya, kalau enggak bisa-bisa aku dikira maling karena berusaha masuk kamar orang,” jawab Perempuan itu ramah. “Oh iya, karena kita tetanggaan apa boleh berkenalan? Aku Anessa,” ucapnya seraya mengulurkan tangan hendak berkenalan.

Adira tersenyum kecil, lantas membalas uluran tangan itu, “Aku Adira, salam kenal, ya, walaupun aku hanya menetap sementara disini.” 

Anessa menepuk pundak Adira pelan, kemudian ia terdiam tidak enak saat sadar akan perbuatannya. “Eh, maaf ya, Adira aku jadi ga sopan, kamu sih bikin aku kelepasan gini.” Anessa mengelus bekas tepukannya di bahu Adira, “Aku juga jarang kesini kok, cuma mampir aja nemenin orang kesayangan yang mau manggung!” serunya.

Adira membuka sedikit mulutnya menunjukkan ekspresi girang, “Bandung jadi lebih asyik dong karena dibersamai orang tersayang.”

Anessa mengangguk setuju, saat hendak membuka mulut melanjutkan pembicaraan, suara bariton dari dalam unit menghentikan kegiatannya.

“Ecca, kenapa masih diluar?” 

 Mendengar hal itu lantas Adira merasa tidak enak karena sedari tadi ia menghalangi langkah gadis itu untuk masuk. “Sana masuk, udah dicariin tuh!”

Anessa mengangguk lesu, “Iya ih, padahal masih asyik ngobrol. Yaudah deh, nanti kita ngobrol lagi ya, Dira!” ucapnya kembali bersemangat, dan kemudian melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan sebelum masuk kedalam unitnya.

Sedangkan Adira hanya terkekeh kecil, ternyata Bandung membawanya bertemu dengan orang baru yang sama ramahnya dengan kota ini. 

*****

Pagi ini matahari menyapa hangat Adira dari celah jendela kamarnya yang sudah terbuka sejak tadi. Didepan laptopnya gadis itu terlihat frustasi, terbukti dari cepolan asal rambutnya yang kini mulai menyusut karena garukan penuh kebingungnya. Kerutan dikeningnya tak kunjung hilang sedari tadi, membuktikan bahwa gadis itu masih belum menemukan sesuatu yang ia pikirkan.

“Oh Tuhan, kenapa sih penulisan akhir cerita yang aku buat gak pernah sesuai sama yang aku mau? Selalu ada bagian yang bikin aku ngerasa ga cukup puas,” keluhnya seraya mendorong kacamatanya yang hendak merosot.

Adira melotot kearah laptopnya, mencoba kembali fokus kepada tulisannya. Namun suara getaran dari ponselnya berhasil membuat konsentrasinya buyar, helaan nafas kasarnya kembali terdengar sebelum menerima panggilan tersebut.

“Dira, aku udah di Bandung nih. Kamu bisa ketemuan kapan?” sapa suara yang sangat ia kenal dari ponselnya.

Adira mendengus malas,”Aku mau naskahan dulu dong, Nin. Memangnya kamu mau kita ketemuan tapi yang aku keluhin malah naskah aku yang ga selesai-selesai?” 

“Lama ih, kamu kan gak pernah nemuin ending yang pas buat cerita kamu itu, Dir, karena memang cerita itu gak pernah dimulai dan jelas gak ada akhirnya.”

Adira tersenyum miris, setuju dengan ucapan Anindia yang pagi ini terasa seperti pisau yang menusuk tepat di ulu hatinya, sangat sakit. Namun sayangnya memang itu faktanya dan Adira tidak ada keinginan sekalipun untuk mengelaknya.

“Maaf kalau aku lancang, Dir. Kamu emang harus disadarin supaya gak terus-terusan menjadikan sesuatu yang gak pernah ada itu sebagai harapan,” lanjut Anindia.

Adira mengangguk setuju walaupun Anindia tak bisa melihatnya, “Iya, Nin, terima kasih, ya, untuk faktanya pagi ini. Aku usahain jam 3 nanti nemuin kamu. Tentuin aja tempatnya dimana, nanti aku samperin.”

“Kamu kayaknya udah paham banget sama Bandung, ya, Dir? Seminggu disini udah bikin kamu kepikiran buat menetap kah?”

“Selalu kepikiran, Nin. Aku mau memulai ulang semuanya disini, biar kenangan yang menyakitkan itu gak terus-menerus mengejar aku,” jawab Adira yakin.

“Lakuin apa yang kamu mau, Dir. Hidup kamu tentunya tanggung jawab kamu, dan kamu yang paling paham apa yang kamu mau.”

*****

Sore ini Adira berakhir duduk didepan Anindia yang sedari tadi tersenyum penuh kemenangan didepannya. Gadis itu menopang dagu dengan kedua tangannya seakan mengejek Adira yang terus menerus mengalah untuknya. Naskah yang seharusnya ia selesaikan hari ini berakhir terbengkalai karena Anindia yang berhasil membujuknya.

“Kamu tuh harusnya menikmati Bandung, Dir. Bukannya malah bermesraan sama naskah-naskah kamu,” ceramah Anindia yang berhasil membuat Adira mendengus malas.

“Aku ke Bandung sekalian nyari inspirasi dan ngerjain naskah aku supaya cepat selesai, Nin.”
Anindia menjentikkan jarinya, “Nah itu, Dir, inspirasi kan bisa didapetin kalau kamu berkelana, contohnya jalan-jalan sama aku. Dunia tuh luas, dan kamu harus mengeksplor semua tempat.”

“Iya deh, sebahagia kamu aja, Nin.”

Lagi dan lagi Adira mengalah, karena jelas saja Anindia tidak bisa ia kalahkan dalam persoalan debat. Anindia sangat memahami Adira, bukan tanpa sengaja ia datangi Adira di Bandung, jelas ia tau Adira sedang kesulitan dengan naskahnya dan jika ia biarkan maka gadis itu akan terpaku di kamarnya dengan kepala penuh.

Lama mereka bercengkrama, menceritakan segala hal yang terjadi selama saling berjauhan. Matahari kian melengser dari tempatnya, berganti dengan semburat orange yang cahayanya menembus halus jendela café, menyorot teduh kearah panggung kecil yang kini mulai diisi berbagai alat musik.

“Kita baliknya maleman aja, ya, Dir? Aku masih kangen banget sama kamu, gak tau kapan lagi bisa main gini,” pinta Anindia, tentunya dengan wajah memelas yang sangat sulit untuk Adira tolak.

“Bilang aja kamu mau liat live music-nya, Nin. Emang di Tangerang gak ada, ya?” jawab Adira tepat sasaran, sudah hafal dengan tabiat sahabatnya itu.

“Ada lah, tapi kan aku jarang banget liat yang di Bandung dan bareng sama kamu gini.”

Adira hanya mengiyakan, sudah ia katakan bahwa ia akan kalah jika berdebat dengan Anindia. Kini keduanya sama-sama terdiam, menyaksikan orang-orang yang berlalu lalang diatas panggung. Pandangan Adira berhenti ketika melihat seorang perempuan yang tidak asing dimatanya.

“Anessa!” Panggilnya seraya melambai pelan. Tak perlu mengeluarkan suara yang keras karena jarak mereka cukup dekat dengan panggung. 

Anessa menoleh cepat, ia memberikan senyuman manisnya dan berjalan mendekati Adira. “Adira, kayaknya kita memang berjodoh, ya?” sapanya girang.

“Sepertinya,” jawab Adira, “Kamu kesini sendirian, Ness? Mau gabung sama kita, gak?” tawarnya.
Anessa menggelang, “Aku nggak sendirian, kok,” jawab Anessa. Ia menunjuk kearah panggung, sorot lampu yang tadinya mati kini bergerak menyorot ketengah panggung, menunjukkan 5 orang lelaki yang berdiri memegang alat musik. “Aku nemenin dia, Dir, lelaki yang akan menemani kita disini dengan suaranya.”

Adira terkejut, sangat terkejut. Begitupun dengan Anindia yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka berdua. Adira terpaku selama beberapa saat, tentu ia sangat mengenali wajah itu, bahkan ia sangat mengenalnya. 

“Aksara,” ucapnya lirih.

*****

Adira kembali ke Apartemennya bersama Anindia, hatinya tak sekuat itu untuk menatap dan menyaksikan seseorang yang pernah hadir dikehidupannya kini bersama wanita lain. Ia duduk bersimpuh disamping ranjang, menatap kosong kearah depan dan membiarkan ingatannya berhenti pada saat ia melihat Aksara-nya lagi.

Anindia membiarkan, ia paham seperti apa perasaan Adira sekarang. Luapan emosi yang selama ini Adira pendam menguar mengudara dan sulit untuk ia kendalikan. Ia masih tak berani untuk memberikan kalimat penenang apapun, karena Adira sendiri menolak untuk ia ajak bicara.
Lama terdiam dalam hening, suara doorbell yang ditekan berulang-ulang berhasil mengusik keterdiaman Adira. Anindia inisiatif bergerak, tepat setelah pintu itu terbuka matanya melotot kaget melihat Aksara dengan wajah gusar berdiri tepat dihadapannya, keringat bercucuran memenuhi wajah lelaki itu.

“Adira dimana?” kata pertama yang diucapkan Aksara.

“Ada di dalam, jangan datangi Adira kalau kamu hanya mau kasih dia luka, Sa,” peringat Anindia, tak ingin hal yang sama kembali menyakiti sahabatnya. Ia yang menemani Adira untuk bangkit dan ia tak ingin hal itu sia-sia.

“Saya sama sekali gak pernah kepikiran untuk menyakiti Adira, Nin.”

“Jangan ngomongin sesuatu yang udah jelas buktinya, Sa.”

Aksara mengusap rambutnya gusar, mau ia mengucapkan hal yang sama berulang kali pun Anindia tak akan lagi mempercayainya. Ia tau kesalahannya, dan ia datang untuk memperbaiki kesalahan tersebut, Aksara hanya ingin Adira tau, ia ingin Adira tak menganggapnya main-main.

Mendengar kericuhan didepan unitnya, Adira bangkit dari posisinya yang sedari kembali tadi tak berubah sedikitpun. Dari belakang Anindia, ia bisa melihat Aksara yang selama ini selalu ia rindukan. Ia terpaku, lagi dan lagi logikanya kalah dengan hatinya sendiri. Nyatanya, Adira masih belum membenci Aksara.

“Kamu mau jelasin apalagi, Aksa?”

“Semuanya, Dir.”

“Lantas, bagaimana dengan Anessa? Kamu kesini membiarkan Anessa sendirian dengan segala pertanyaan yang dia punya. Jangan mengulangi kesalahan yang pada akhirnya akan membaut kamu menyesal lagi, Sa,” ucap Adira.

Aksara menghembus nafas pelan, tak lagi gusar seperti sebelumnya setelah melihat Adira yang masih bersedia untuk menemuinya. “Anessa adik tiri aku, Dir, dia yang bilang kalau kamu ada disini” jawab Aksara tak ingin ada kesalahpahaman lagi, “Izinin aku untuk jelasin semunya, ya, Dir?”

Adira mengangguk, memberikan kesempatan kepada Aksara untuk menjelaskan dari sudut pandang lelaki itu bukanlah sebuah masalah untuknya. Ia hanya ingin semua pertanyaan yang mengambang selama 3 tahun ini menemukan jawabannya, ia tak ingin lagi menerka-nerka.

*****

Disinilah mereka sekarang, di taman Apartemen dengan penerangan yang bisa dibilang seadanya. Namun dari sini, mereka bisa menikmati udara malam yang menyapa langsung tubuh mereka. Adira dan Aksara duduk bersampingan di kursi besi yang sudah disediakan. Cukup lama mereka diam untuk menetralisir perasaan yang sudah bercampur padu.

“Maaf untuk semua hal yang terjadi karena rasa pengecutku, Dir. Kamu gak salah sama sekali, karena pada saat itu aku pun udah nggak punya tenaga untuk menghadapi isi kepalaku sendiri,” ucap Aksara, nada lelaki itu sarat akan penyesalan.

“Lantas kenapa kamu mendiamiku tanpa satu kata pun, Aksa? Aku manusia yang punya perasaan, Sa, dan dengan hubungan intens kita pada saat itu rasanya aku juga memiliki sedikit hak untuk mendapatkan kejelasan bukan keterdiaman yang membuat aku selalu bertanya-tanya.”

Aksara diam, ia merenung cukup lama untuk mengingat kembali kejadian beberapa tahun lalu. “Maaf karena saat itu aku gak berani untuk bertanggung jawab sama perasaan kamu, Dir. Bahkan untuk bertanggung jawab dengan diriku sendiri pun rasanya aku masih gak sanggup.”

“Pada saat itu duniaku rasanya berakhir, Dir. Semua hal yang aku rencanakan direnggut paksa tanpa adanya aba-aba, bahkan ketika kamu yang pada saat itu sudah masuk kedalam rencanaku pun terpaksa aku lepas agak tidak ikut sakit bersamaku.”

Adira menatap Aksara yang berada disampingnya, walaupun tak terlihat begitu jelas namun untungnya sinar bulan yang cukup terang malam ini membantunya untuk meneliti setiap inci sedikit perubahan dari wajah lelaki itu. perubahan itu sama sekali tak mengubah perasaan Adira kepada Aksara, masih sama dan akan selalu sama.

“Artinya, aku terlalu mudah untuk kamu lepaskan, Aksa. Hadirku pada saat itu belum cukup kuat untuk menjadi sandaran ketika dunia kamu runtuh.”

“Aku hanya gak mau kamu ikut sakit, Dir.”

“Kepergian kamu jauh lebih sakit, Sa. Membiasakan diri untuk melepas sesuatu yang menjadi bagian dari keseharian kamu rasanya seperti kehilangan sebagian dari diri kamu sendiri. Dan itu yang aku rasakan.”

Akasara lagi-lagi terdiam, tak pernah sekalipun dalam pikirannya akan meninggalkan luka yang cukup dalam untuk Adira.

“Ketika kamu merasa dunia kamu runtuh, lantas aku juga merasa kehilangan sebagian dari diriku. Kita impas, memilih saling mendiami satu sama lain dan akhirnya saling menyakiti,” jawab Adira, mencoba menerima alasan Akasara. “Dan jikalau hadirmu sekarang hanya ingin meninggalkan luka dikemudian hari, saranku lebih baik kita memilih untuk saling meninggalkan, Sa.”

Aksara menggeleng, ia tak ingin kehilangan Adira lagi. “Aku datang ke kota impian kamu hanya untuk merasakan kehadiran kamu, Dir. Selama ini yang aku lakukan hanya menghabiskan waktu untuk hal-hal yang bisa mengalihkakn pikiranku, aku mencoba menahan diri aku untuk nggak ganggu kehidupan kamu lagi, karena aku tau bagaimana rasanya ditinggalkan. Namun kenyataannya, ketika aku melihat kamu lagi, aku selalu ingin menjadi orang yang paling mengenal kamu, Dira.”

Jujur saja, hati Adira menghangat mendengar perkataan Aksara yang terdengar tulus, namun ia juga mencoba untuk memberi benteng agar dirinya tak lagi merasa sakit karena Aksara. 

“Sa, yang aku butuhkan bukan omongan belaka yang aku dan kamu sendiri gak tau kedepannya akan seperti apa. Aku gak bisa kasih kepastian apa-apa, hatiku masih terlalu ragu untuk percaya lagi,” Adira berucap tegas.

“Aku gak akan maksa kamu, Dir. Perasaan kamu udah cukup hancur setelah kejadian kemarin, tapi aku hanya ingin mengusahakan kamu lagi. Dan perasaan aku, biar itu menjadi tanggung jawab aku,” jawab Aksara penuh keyakinan. “Kamu harus melanjutkan hidup yang sudah kamu usahakan sejauh ini, Dira. Biar kesalahan kemarin aku tebus dengan usahaku hingga ragu kamu hilang sepenuhnya.”

Malam ini semua pertanyaan yang Adira pertanyakan dalam benaknya berhasil terjawab. Aksara datang dengan semua jawaban, lelaki yang selalu menjadi inspirasi dalam setiap tulisan Adira itu menjadi penutup akhir kisah dalam naskahnya. Entah akan seperti apa kedepannya, saat ini Adira hanya ingin merasakan kembali dirinya yang hilang selama beberapa tahun kebelakang.

Terima kasih Kota Hujan karena sudah menemukanku kembali dengan sang inspirasi, Aksara Galih Pramudya.


-End-

Nama : Nadilla Azahra
Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Prodi  Pendidikan Bahasa Inggris.
Editor. Tim Redaksi

Sy. Apero Fublic

Via Cerpen
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Older Posts
Newer Posts

You may like these posts

Post a Comment

Post Populer

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Sunday, July 14, 2024
Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sunday, July 14, 2024
Natal: Saat Kasih Menyapa Kaum Miskin sebagai Jantung Injil. (Renungan Natal berdasarkan Lukas 2:1–20)

Natal: Saat Kasih Menyapa Kaum Miskin sebagai Jantung Injil. (Renungan Natal berdasarkan Lukas 2:1–20)

Thursday, December 18, 2025
Banjir Dayeuhkolot Kenapa Kita Masih Kena Bencana yang Sama?

Banjir Dayeuhkolot Kenapa Kita Masih Kena Bencana yang Sama?

Thursday, December 18, 2025
Hustle Culture di Balik Begadang Mahasiswa: Prestasi Dikejar, Atensi Menghilang

Hustle Culture di Balik Begadang Mahasiswa: Prestasi Dikejar, Atensi Menghilang

Thursday, December 18, 2025

BULETIN APERO FUBLIC

BULETIN APERO FUBLIC

Translate

Search This Blog

Stay Conneted

facebook Like
twitter Follow
youtube Subscribe
vimeo Subscribe
instagram Follow
rss Subscribe

Featured Post

Dari Instagram ke TikTok : “Mengapa Platform Video Pendek Lebih Bebas dari Tekanan Pencapaian Sosial ?”

PT. Media Apero Fublic- Thursday, January 08, 2026 0
Dari Instagram ke TikTok : “Mengapa Platform Video Pendek Lebih Bebas dari Tekanan Pencapaian Sosial ?”
APERO FUBLIC   I  OPINI .-  Di era serba media sosial saat ini, platform seperti instagram maupun TikTok menjadi dua aplikasi yang paling sering di…

Most Popular

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Friday, January 17, 2020
Legenda Putri Bulan. Kesetiaan Yang di Abadikan Menjadi Sungai Sake

Legenda Putri Bulan. Kesetiaan Yang di Abadikan Menjadi Sungai Sake

Sunday, November 10, 2019
Mengenal Buah Raman

Mengenal Buah Raman

Tuesday, June 23, 2020
Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Wednesday, April 22, 2020
Legenda Asal Mula Bukit Pendape. Musi Banyuasin.

Legenda Asal Mula Bukit Pendape. Musi Banyuasin.

Tuesday, October 15, 2019
Legenda Cinta Puyang Gadis. Sumatera Selatan

Legenda Cinta Puyang Gadis. Sumatera Selatan

Saturday, March 21, 2020
Syair Khadamuddin. Syair Sastra Melayu Klasik

Syair Khadamuddin. Syair Sastra Melayu Klasik

Tuesday, June 25, 2019
Asal Mulah Sungai Keruh dan Kutukan Puyang Dulu

Asal Mulah Sungai Keruh dan Kutukan Puyang Dulu

Thursday, November 07, 2019
Mengenal Buah Pedare

Mengenal Buah Pedare

Monday, June 22, 2020
BPD Lumpatan II Serahkan langsung proposal usulan ke anggota DPRD MUBA pada reses II.

BPD Lumpatan II Serahkan langsung proposal usulan ke anggota DPRD MUBA pada reses II.

Thursday, April 23, 2020
Powered by Blogger
Apero Fublic

Website Archive

  • 202642
  • 20251139
  • 2024203
  • 2023142
  • 2022103
  • 2021365
  • 2020435
  • 2019281

MAJALAH KAGHAS

MAJALAH KAGHAS

JURNAL APERO FUBLIC. HUMANIORA

JURNAL APERO FUBLIC. HUMANIORA

TABLOID APERO FUBLIC

TABLOID APERO FUBLIC

SELAK MAJO

SELAK MAJO
Karikatur

Labels

Aceh Aceh Besar Aceh Tamiang Alor Amerika Serikat Andai-Andai Angkat Besi APERO FUBLIC Apero Herbal Apero Popularity Arkeologi Artikel Asahan Atambua BABEL Badan Pemerintah Bali Bandung Bangka Barat Bangkinang Banten Banyuasin Batu Bara Batusangkar Baubau Bawaslu Beladiri Belanda Belu Belum Bencana Bener Meriah Bengkayang Bengkulu Berita Berita Daerah Berita Daerah Berita Nasional Berita Internasional Berita Nasional Binjai Biruisme Bisnis BNN Bogor Bola BOLMONGUT BOLTARA Brand Brazil Budaya Budaya Daerah Budaya Dunia Buku Populer Buletin AF Bulungan Cerita Bersambung Cerita Kita Cerita Rakyat Cerpen Cililin Dairi Daratan Daratan dan Hutan Deli Serdang Desa Dongeng Dongeng Dunia DPR RI DPRD DRPD Dunia Anak e-Biografi Tokoh Ekonomi Ekonomi Islam Elektronik Energi Esai FASHION Fauna Feature Film Filsafat Flora Fotografi Gatget Healthy & Fitness Himpunan Muslim HSS HST Hukum Hukum Islam Ibu dan Anak Ilmu Kesastraan Indragiri Hulu Info Desa Iran Islam dan Budaya Islam dan Lingkungan Hidup Islam dan Masyarakat Islam dan Negara Islam dan Sosial JABAR Jakarta Jambi JATENG JATIM Jatinangor Jembrana Jepang Jurnal AF Jurnalisme Kita Jurnalistik KABAR Kabar Buku Kabar Desa Kabupaten HST KALBAR KALSEL KALTARA KALTENG KALTIM Kampar Kampus Kanada Kapolisian Karo Kata Mutiara Katolik Keislaman Kekristenan Kepemimpinan Kepolisian Kerinci Kesehatan Kesehatan dan Pendidikan Wanita kesenian Ketapang Kisah Legenda Kolaka Konawe Selatan Korupsi Kriminal Kuansing Kubu Raya Kuliner Kupang Labuhan Bajo Labuhan Batu Labuhanbatu LABURA Lamandau Lampung Tengah Langkat Laporan Penelitian Lebak Lebong Lembata Lewoleba Lingkungan Hidup Lombok Lubuk Linggau Lubuk Pakam Lubuklinggau Mahasiswa Majalah Kaghas Makassar Malang Malaysia Mappi Marinir Mask Medan Mempawah Menembak Meranti Merauke Militer Mitos Morowali Morut MORUT Muara Enim Muaro Jambi MUBA Muratara MUSI Musi Rawas Musik Nasional NTT Ogan Ilir OKI OKU Selatan OKU Timur Olahraga Opini Otomotif Padang Padang Lawas Padang Panjang Pagaruyung Palangkaraya Palembang Panjat Tebing Pantun Papua Barat Daya Papua Selatan Parigi Moutong Pariwisata Partai Pasuruan PDF Pekanbaru Pemerintahan Pendape Pendidikan Penyakit Masyarakat Perkebunan Perpustakaan Pertanian Pertanian dan Alam Pesisir Selatan Pinrang Politik Populer Bisnis Populer Iklan Populer Produk Populer Profesi Prabumulih PraLeader Problematika Seks Propaganda Public Figure Puisi Puisi Akrostik Purworejo Pustakawan PWI PWI Sumatera Selatan PWI Sumsel PWI SumSel Renang Riau Rote Ndao Samarinda Samosir Sampah dan Limbah Sastra Kita Sastra Klasik Sastra Lisan Sastra Moderen SDA Sejarah Sejarah Daerah Sejarah Islam Sejarah Kebudayaan Sejarah Umum Sekayu Semarang Senam Seniman Sepak Bola Sepeda Listrik Sepeda Motor Serang Seruyan Sibolga Silat Simalungun Singapura Skil Wanita Smart TV Solok Solok Kota Sorong Sosial dan Masyarakat Sosial Masyarakat Sport Suara Rakyat Sudut Pandang Sukabumi Sukamara SULSEL SULTENG SULTENGRA SUMBAR SUMBER Sumber Air Sumedang SUMSEL SUMUT Surabaya Surat Kita Syarce Tablet Tabloid AF Tamiang Tanah Datar TANAH DATAR Tangerang TANJABAR Tanjung Selor Tapanuli Utara TAPANUSEL TAPUT Tebing Tinggi Teknologi Temanggung TNI TNI AD TNI AL TNI AU Tokoh Wanita Tradisi UKM UKM-Bisnis UMKM Video Women World Yogyakarta

Laman Khusus

  • Cahaya
  • Daftar Kata Istilah Baru
  • e-Galeri Apero Fublic
  • Mari Kita Hijrah
  • Nasihat dan Motivasi
  • Apero Quote
  • Pribahasa Indonesia
  • Picture Indonesia
  • Pangeran Ilalang I
  • Pangeran Ilalang II

Pages

  • Pecakapan Sunset Sunrise
  • Flora Pangan Indonesia
  • Fauna Indonesia
  • Dawnload PDF Gratis
  • Dawnload Feature Gratis (PDF)

Recent Posts

Popular Posts

  • Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series
    Goda Series e-Bike APERO FUBLIC.- Berbicara tentang e-Bike atau sepeda Listrik saat ini memang tidak ada habisnya. Kendaraan praktis tanp...
  • Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly
    Sepeda Motor Listrik Produksi U^Winfly APERO FUBLIC.- U^Winfly merupakan Perusahaan Industrial pada sektor bergerak industri kendaraan list...
  • Natal: Saat Kasih Menyapa Kaum Miskin sebagai Jantung Injil. (Renungan Natal berdasarkan Lukas 2:1–20)
    APERO FUBLIC    I    MAHASISWA .-  Natal selalu membawa pesan sukacita, namun sukacita itu tidak lahir dari kemegahan dunia. Da...
  • Banjir Dayeuhkolot Kenapa Kita Masih Kena Bencana yang Sama?
    Banjir Dayeukolot (dok. internet) APERO FUBLIC  I    OPINI .-  Banjir besar yang melanda Dayeuhkolot lagi-lagi bikin warga kerepotan. Cura...
  • Hustle Culture di Balik Begadang Mahasiswa: Prestasi Dikejar, Atensi Menghilang
    “Burnout is not the price you have to pay for success” — Arianna Huffington APERO FUBLIC   I    ESAI . -  Tuntutan untuk selalu ...
  • Remaja di Era Media Sosial: Aktivitas Fisik, Kecemasan, dan Kebugaran Tubuh
    “ Ketika jari terus bergerak di layar, tubuh perlahan berhenti bergerak di dunia nyata ” APERO FUBLIC   I  ESAI .-  Kemudahan akses teknolog...
  • Shame Culture: Ketika Rasa Malu Menjadi Belenggu Kreativitas Generasi Muda
    APERO FUBLIC   I  OPINI .-  Dalam lingkungan sosial Indonesia yang kental dengan nilai-nilai tradisional, konsep shame culture atau budaya m...
  • Jangan Stres Saat Sakit: Fakta Ilmiah yang Harus Kamu Tahu
    APERO FUBLIC   I  OPINI .-  Sakit bukan cuma soal fisik. Ia juga menguji pikiran dan kesabaran kita. Makanya, setiap kali flu, d...
  • Media Sosial: Manfaat Besar atau Risiko Nyata bagi Remaja ?
    Perubahan Interaksi Sosial Remaja di Era Digital APERO FUBLIC   I  OPINI .-  Media sosial kini menjadi ruang utama bagi remaja Indonesia . D...
  • Membangun Ekosistem Cerdas melalui Transformasi Digital
    APERO FUBLIC  I  OPINI .-  Di era globalisasi dan kemajuan teknologi yang pesat, transformasi digital menjadi keniscayaan bagi pembangunan...

Editor Post

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Sunday, July 14, 2024
Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Friday, January 17, 2020
Mengenal Buah Raman

Mengenal Buah Raman

Tuesday, June 23, 2020
Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sunday, July 14, 2024
Bupati Toha Tegaskan Komitmen Pelayanan Listrik di Muba Wajib Maksimal

Bupati Toha Tegaskan Komitmen Pelayanan Listrik di Muba Wajib Maksimal

Wednesday, April 16, 2025
e-Antologi Puisi Pangeran Ilalang II

e-Antologi Puisi Pangeran Ilalang II

Sunday, June 23, 2019
Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Wednesday, April 22, 2020
Smartphone Oppo Terbaru Tahan Terbanting: Oppo A3 Pro 5G

Smartphone Oppo Terbaru Tahan Terbanting: Oppo A3 Pro 5G

Monday, July 15, 2024
Dongeng si Kera dan si Bangau. Dari Sulawesi Utara

Dongeng si Kera dan si Bangau. Dari Sulawesi Utara

Saturday, January 18, 2020
Mengenal Buah Pedare

Mengenal Buah Pedare

Monday, June 22, 2020

Popular Post

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Sunday, July 14, 2024
Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sunday, July 14, 2024
Natal: Saat Kasih Menyapa Kaum Miskin sebagai Jantung Injil. (Renungan Natal berdasarkan Lukas 2:1–20)

Natal: Saat Kasih Menyapa Kaum Miskin sebagai Jantung Injil. (Renungan Natal berdasarkan Lukas 2:1–20)

Thursday, December 18, 2025
Banjir Dayeuhkolot Kenapa Kita Masih Kena Bencana yang Sama?

Banjir Dayeuhkolot Kenapa Kita Masih Kena Bencana yang Sama?

Thursday, December 18, 2025
Hustle Culture di Balik Begadang Mahasiswa: Prestasi Dikejar, Atensi Menghilang

Hustle Culture di Balik Begadang Mahasiswa: Prestasi Dikejar, Atensi Menghilang

Thursday, December 18, 2025
Remaja di Era Media Sosial: Aktivitas Fisik, Kecemasan, dan Kebugaran Tubuh

Remaja di Era Media Sosial: Aktivitas Fisik, Kecemasan, dan Kebugaran Tubuh

Tuesday, December 23, 2025
Shame Culture: Ketika Rasa Malu Menjadi Belenggu Kreativitas Generasi Muda

Shame Culture: Ketika Rasa Malu Menjadi Belenggu Kreativitas Generasi Muda

Tuesday, December 23, 2025
Jangan Stres Saat Sakit: Fakta Ilmiah yang Harus Kamu Tahu

Jangan Stres Saat Sakit: Fakta Ilmiah yang Harus Kamu Tahu

Tuesday, December 30, 2025
Media Sosial: Manfaat Besar atau Risiko Nyata bagi Remaja ?

Media Sosial: Manfaat Besar atau Risiko Nyata bagi Remaja ?

Wednesday, December 10, 2025
Membangun Ekosistem Cerdas melalui Transformasi Digital

Membangun Ekosistem Cerdas melalui Transformasi Digital

Wednesday, December 10, 2025

Populart Categoris

Andai-Andai 3 Artikel 56 Berita 1073 Berita Daerah 1184 Berita Internasional 32 Berita Nasional 1115 Brand 117 Budaya Daerah 33 Cerita Bersambung 20 Cerita Kita 28 Cerita Rakyat 12 Cerpen 12 Dongeng 67 Ekonomi 25 Elektronik 21 FASHION 12 Fauna 4 Flora 62 Healthy & Fitness 14 Ibu dan Anak 1 Islam dan Budaya 11 Islam dan Lingkungan Hidup 7 Islam dan Masyarakat 3 Jurnalisme Kita 17 Kampus 224 Kesehatan 18 Kisah Legenda 10 Kuliner 22 Mitos 15 Opini 170 PDF 3 Pantun 6 Pariwisata 39 Penyakit Masyarakat 6 Problematika Seks 6 Puisi 48 Puisi Akrostik 5 Sampah dan Limbah 1 Sastra Kita 24 Sastra Klasik 53 Sastra Lisan 13 Sejarah Daerah 24 Sejarah Kebudayaan 28 Sepeda Listrik 15 Sport 2 Surat Kita 7 Tablet 20 Teknologi 147 Tokoh Wanita 9 UKM-Bisnis 12 Video 20 Women 4 World 3 e-Biografi Tokoh 23 kesenian 4
APERO FUBLIC

About Us

PT. Media Apero Fublic merupakan perusahaan Publikasi dan Informasi yang bergerak dalam bidang Industri Kesusastraan. Apero Fublic merupakan bidang usaha utama bidang jurnalistik.

Contact us: fublicapero@gmail.com

Follow Us

© Copyright 2023. PT. Media Apero Fublic by Apero Fublic
  • Disclaimer
  • Tentang Apero Fublic
  • Advertisement
  • Contact Us