Cerpen
Kampus
Mahasiswa
Sastra Kita
Aksara di Kota Hujan
APERO FUBLIC I CERPEN.- Suasana kota Bandung masih terasa sama seperti biasanya, hanya saja keramahan dan kedamaian Bandung malam ini tidak bisa menggapai jiwa Adira Prasmitha yang saat ini sedang dihampiri gundah. Di tengah hiruk pikuk jalanan Braga, Adira berjalan gontai diatas trotoar hendak kembali ke apartemen yang menjadi tempat singgahnya selama beberapa hari di Bandung.
Adira tidak terlalu mengenal Bandung, namun ia sangat menikmati suasanan damai di Bandung karena jujur saja kota ini merupakan salah satu kota impiannya sejak kecil. Adira pernah menyapa Bandung beberapa tahun lalu dan rasanya masih sama, yang membuatnya berbeda hanya karena sekarang ia lebih berani untuk menyusuri kota besar ini sendirian.
Lama menikmati udara dingin Bandung, kini Adira telah tiba di persinggahannya. Apartemen dengan lampu yang memenuhi bangunan tinggi itu menyapa pandangannya. Adira menarik tas selempangnya yang sempat merosot dari pundak, lantas kakinya perlahan masuk menaiki lift yang akan membawanya ke tempat peristirahatannya malam ini. Tepat setelah bunyi dentingan dan pintu lift terbuka, Adira melangkah menuju unit yang sudah disiapkan untuknya dengan langkah cepat karena tubuhnya sudah sangat lelah setelah seharian beraktivitas dengan naskah yang tidak pernah lepas dari hidupnya. Langkah Adira terhenti ketika ia berada di depan unit 317 yang tepat berada disamping unitnya, ia terdiam cukup lama saat aroma parfum yang sangat khas itu manusuk indra penciumannya karena saat ini pintu didepannya tidak tertutup dengan rapat.
“Permisi mbak, bisa geseran dikit ga, ya? Saya mau masuk ke dalam,” seru suara perempuan dari belakang Adira.
Adira lantas sedikit bergeser untuk memberi jalan, ia berbalik pelan dan menatap sebentar perempuan dengan sweather berwarna biru langit itu kemudian tersenyum kecil. “Oh, iya, silahkan! Maaf karena saya menghalangi, sepertinya saya salah mengenali unit saya,” ucap Adira tidak enak hati.
“Aku juga sering gitu kok, karena semua pintunya sama, untung ada nomor unitnya, kalau enggak bisa-bisa aku dikira maling karena berusaha masuk kamar orang,” jawab Perempuan itu ramah. “Oh iya, karena kita tetanggaan apa boleh berkenalan? Aku Anessa,” ucapnya seraya mengulurkan tangan hendak berkenalan.
Adira tersenyum kecil, lantas membalas uluran tangan itu, “Aku Adira, salam kenal, ya, walaupun aku hanya menetap sementara disini.”
Anessa menepuk pundak Adira pelan, kemudian ia terdiam tidak enak saat sadar akan perbuatannya. “Eh, maaf ya, Adira aku jadi ga sopan, kamu sih bikin aku kelepasan gini.” Anessa mengelus bekas tepukannya di bahu Adira, “Aku juga jarang kesini kok, cuma mampir aja nemenin orang kesayangan yang mau manggung!” serunya.
Adira membuka sedikit mulutnya menunjukkan ekspresi girang, “Bandung jadi lebih asyik dong karena dibersamai orang tersayang.”
Anessa mengangguk setuju, saat hendak membuka mulut melanjutkan pembicaraan, suara bariton dari dalam unit menghentikan kegiatannya.
“Ecca, kenapa masih diluar?”
Mendengar hal itu lantas Adira merasa tidak enak karena sedari tadi ia menghalangi langkah gadis itu untuk masuk. “Sana masuk, udah dicariin tuh!”
Anessa mengangguk lesu, “Iya ih, padahal masih asyik ngobrol. Yaudah deh, nanti kita ngobrol lagi ya, Dira!” ucapnya kembali bersemangat, dan kemudian melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan sebelum masuk kedalam unitnya.
Sedangkan Adira hanya terkekeh kecil, ternyata Bandung membawanya bertemu dengan orang baru yang sama ramahnya dengan kota ini.
*****
Pagi ini matahari menyapa hangat Adira dari celah jendela kamarnya yang sudah terbuka sejak tadi. Didepan laptopnya gadis itu terlihat frustasi, terbukti dari cepolan asal rambutnya yang kini mulai menyusut karena garukan penuh kebingungnya. Kerutan dikeningnya tak kunjung hilang sedari tadi, membuktikan bahwa gadis itu masih belum menemukan sesuatu yang ia pikirkan.
“Oh Tuhan, kenapa sih penulisan akhir cerita yang aku buat gak pernah sesuai sama yang aku mau? Selalu ada bagian yang bikin aku ngerasa ga cukup puas,” keluhnya seraya mendorong kacamatanya yang hendak merosot.
Adira melotot kearah laptopnya, mencoba kembali fokus kepada tulisannya. Namun suara getaran dari ponselnya berhasil membuat konsentrasinya buyar, helaan nafas kasarnya kembali terdengar sebelum menerima panggilan tersebut.
“Dira, aku udah di Bandung nih. Kamu bisa ketemuan kapan?” sapa suara yang sangat ia kenal dari ponselnya.
Adira mendengus malas,”Aku mau naskahan dulu dong, Nin. Memangnya kamu mau kita ketemuan tapi yang aku keluhin malah naskah aku yang ga selesai-selesai?”
“Lama ih, kamu kan gak pernah nemuin ending yang pas buat cerita kamu itu, Dir, karena memang cerita itu gak pernah dimulai dan jelas gak ada akhirnya.”
Adira tersenyum miris, setuju dengan ucapan Anindia yang pagi ini terasa seperti pisau yang menusuk tepat di ulu hatinya, sangat sakit. Namun sayangnya memang itu faktanya dan Adira tidak ada keinginan sekalipun untuk mengelaknya.
“Maaf kalau aku lancang, Dir. Kamu emang harus disadarin supaya gak terus-terusan menjadikan sesuatu yang gak pernah ada itu sebagai harapan,” lanjut Anindia.
Adira mengangguk setuju walaupun Anindia tak bisa melihatnya, “Iya, Nin, terima kasih, ya, untuk faktanya pagi ini. Aku usahain jam 3 nanti nemuin kamu. Tentuin aja tempatnya dimana, nanti aku samperin.”
“Kamu kayaknya udah paham banget sama Bandung, ya, Dir? Seminggu disini udah bikin kamu kepikiran buat menetap kah?”
“Selalu kepikiran, Nin. Aku mau memulai ulang semuanya disini, biar kenangan yang menyakitkan itu gak terus-menerus mengejar aku,” jawab Adira yakin.
“Lakuin apa yang kamu mau, Dir. Hidup kamu tentunya tanggung jawab kamu, dan kamu yang paling paham apa yang kamu mau.”
*****
Sore ini Adira berakhir duduk didepan Anindia yang sedari tadi tersenyum penuh kemenangan didepannya. Gadis itu menopang dagu dengan kedua tangannya seakan mengejek Adira yang terus menerus mengalah untuknya. Naskah yang seharusnya ia selesaikan hari ini berakhir terbengkalai karena Anindia yang berhasil membujuknya.
“Kamu tuh harusnya menikmati Bandung, Dir. Bukannya malah bermesraan sama naskah-naskah kamu,” ceramah Anindia yang berhasil membuat Adira mendengus malas.
“Aku ke Bandung sekalian nyari inspirasi dan ngerjain naskah aku supaya cepat selesai, Nin.”
Anindia menjentikkan jarinya, “Nah itu, Dir, inspirasi kan bisa didapetin kalau kamu berkelana, contohnya jalan-jalan sama aku. Dunia tuh luas, dan kamu harus mengeksplor semua tempat.”
“Iya deh, sebahagia kamu aja, Nin.”
Lagi dan lagi Adira mengalah, karena jelas saja Anindia tidak bisa ia kalahkan dalam persoalan debat. Anindia sangat memahami Adira, bukan tanpa sengaja ia datangi Adira di Bandung, jelas ia tau Adira sedang kesulitan dengan naskahnya dan jika ia biarkan maka gadis itu akan terpaku di kamarnya dengan kepala penuh.
Lama mereka bercengkrama, menceritakan segala hal yang terjadi selama saling berjauhan. Matahari kian melengser dari tempatnya, berganti dengan semburat orange yang cahayanya menembus halus jendela café, menyorot teduh kearah panggung kecil yang kini mulai diisi berbagai alat musik.
“Kita baliknya maleman aja, ya, Dir? Aku masih kangen banget sama kamu, gak tau kapan lagi bisa main gini,” pinta Anindia, tentunya dengan wajah memelas yang sangat sulit untuk Adira tolak.
“Bilang aja kamu mau liat live music-nya, Nin. Emang di Tangerang gak ada, ya?” jawab Adira tepat sasaran, sudah hafal dengan tabiat sahabatnya itu.
“Ada lah, tapi kan aku jarang banget liat yang di Bandung dan bareng sama kamu gini.”
Adira hanya mengiyakan, sudah ia katakan bahwa ia akan kalah jika berdebat dengan Anindia. Kini keduanya sama-sama terdiam, menyaksikan orang-orang yang berlalu lalang diatas panggung. Pandangan Adira berhenti ketika melihat seorang perempuan yang tidak asing dimatanya.
“Anessa!” Panggilnya seraya melambai pelan. Tak perlu mengeluarkan suara yang keras karena jarak mereka cukup dekat dengan panggung.
Anessa menoleh cepat, ia memberikan senyuman manisnya dan berjalan mendekati Adira. “Adira, kayaknya kita memang berjodoh, ya?” sapanya girang.
“Sepertinya,” jawab Adira, “Kamu kesini sendirian, Ness? Mau gabung sama kita, gak?” tawarnya.
Anessa menggelang, “Aku nggak sendirian, kok,” jawab Anessa. Ia menunjuk kearah panggung, sorot lampu yang tadinya mati kini bergerak menyorot ketengah panggung, menunjukkan 5 orang lelaki yang berdiri memegang alat musik. “Aku nemenin dia, Dir, lelaki yang akan menemani kita disini dengan suaranya.”
Adira terkejut, sangat terkejut. Begitupun dengan Anindia yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka berdua. Adira terpaku selama beberapa saat, tentu ia sangat mengenali wajah itu, bahkan ia sangat mengenalnya.
“Aksara,” ucapnya lirih.
*****
Adira kembali ke Apartemennya bersama Anindia, hatinya tak sekuat itu untuk menatap dan menyaksikan seseorang yang pernah hadir dikehidupannya kini bersama wanita lain. Ia duduk bersimpuh disamping ranjang, menatap kosong kearah depan dan membiarkan ingatannya berhenti pada saat ia melihat Aksara-nya lagi.
Anindia membiarkan, ia paham seperti apa perasaan Adira sekarang. Luapan emosi yang selama ini Adira pendam menguar mengudara dan sulit untuk ia kendalikan. Ia masih tak berani untuk memberikan kalimat penenang apapun, karena Adira sendiri menolak untuk ia ajak bicara.
Lama terdiam dalam hening, suara doorbell yang ditekan berulang-ulang berhasil mengusik keterdiaman Adira. Anindia inisiatif bergerak, tepat setelah pintu itu terbuka matanya melotot kaget melihat Aksara dengan wajah gusar berdiri tepat dihadapannya, keringat bercucuran memenuhi wajah lelaki itu.
“Adira dimana?” kata pertama yang diucapkan Aksara.
“Ada di dalam, jangan datangi Adira kalau kamu hanya mau kasih dia luka, Sa,” peringat Anindia, tak ingin hal yang sama kembali menyakiti sahabatnya. Ia yang menemani Adira untuk bangkit dan ia tak ingin hal itu sia-sia.
“Saya sama sekali gak pernah kepikiran untuk menyakiti Adira, Nin.”
“Jangan ngomongin sesuatu yang udah jelas buktinya, Sa.”
Aksara mengusap rambutnya gusar, mau ia mengucapkan hal yang sama berulang kali pun Anindia tak akan lagi mempercayainya. Ia tau kesalahannya, dan ia datang untuk memperbaiki kesalahan tersebut, Aksara hanya ingin Adira tau, ia ingin Adira tak menganggapnya main-main.
Mendengar kericuhan didepan unitnya, Adira bangkit dari posisinya yang sedari kembali tadi tak berubah sedikitpun. Dari belakang Anindia, ia bisa melihat Aksara yang selama ini selalu ia rindukan. Ia terpaku, lagi dan lagi logikanya kalah dengan hatinya sendiri. Nyatanya, Adira masih belum membenci Aksara.
“Kamu mau jelasin apalagi, Aksa?”
“Semuanya, Dir.”
“Lantas, bagaimana dengan Anessa? Kamu kesini membiarkan Anessa sendirian dengan segala pertanyaan yang dia punya. Jangan mengulangi kesalahan yang pada akhirnya akan membaut kamu menyesal lagi, Sa,” ucap Adira.
Aksara menghembus nafas pelan, tak lagi gusar seperti sebelumnya setelah melihat Adira yang masih bersedia untuk menemuinya. “Anessa adik tiri aku, Dir, dia yang bilang kalau kamu ada disini” jawab Aksara tak ingin ada kesalahpahaman lagi, “Izinin aku untuk jelasin semunya, ya, Dir?”
Adira mengangguk, memberikan kesempatan kepada Aksara untuk menjelaskan dari sudut pandang lelaki itu bukanlah sebuah masalah untuknya. Ia hanya ingin semua pertanyaan yang mengambang selama 3 tahun ini menemukan jawabannya, ia tak ingin lagi menerka-nerka.
*****
Disinilah mereka sekarang, di taman Apartemen dengan penerangan yang bisa dibilang seadanya. Namun dari sini, mereka bisa menikmati udara malam yang menyapa langsung tubuh mereka. Adira dan Aksara duduk bersampingan di kursi besi yang sudah disediakan. Cukup lama mereka diam untuk menetralisir perasaan yang sudah bercampur padu.
“Maaf untuk semua hal yang terjadi karena rasa pengecutku, Dir. Kamu gak salah sama sekali, karena pada saat itu aku pun udah nggak punya tenaga untuk menghadapi isi kepalaku sendiri,” ucap Aksara, nada lelaki itu sarat akan penyesalan.
“Lantas kenapa kamu mendiamiku tanpa satu kata pun, Aksa? Aku manusia yang punya perasaan, Sa, dan dengan hubungan intens kita pada saat itu rasanya aku juga memiliki sedikit hak untuk mendapatkan kejelasan bukan keterdiaman yang membuat aku selalu bertanya-tanya.”
Aksara diam, ia merenung cukup lama untuk mengingat kembali kejadian beberapa tahun lalu. “Maaf karena saat itu aku gak berani untuk bertanggung jawab sama perasaan kamu, Dir. Bahkan untuk bertanggung jawab dengan diriku sendiri pun rasanya aku masih gak sanggup.”
“Pada saat itu duniaku rasanya berakhir, Dir. Semua hal yang aku rencanakan direnggut paksa tanpa adanya aba-aba, bahkan ketika kamu yang pada saat itu sudah masuk kedalam rencanaku pun terpaksa aku lepas agak tidak ikut sakit bersamaku.”
Adira menatap Aksara yang berada disampingnya, walaupun tak terlihat begitu jelas namun untungnya sinar bulan yang cukup terang malam ini membantunya untuk meneliti setiap inci sedikit perubahan dari wajah lelaki itu. perubahan itu sama sekali tak mengubah perasaan Adira kepada Aksara, masih sama dan akan selalu sama.
“Artinya, aku terlalu mudah untuk kamu lepaskan, Aksa. Hadirku pada saat itu belum cukup kuat untuk menjadi sandaran ketika dunia kamu runtuh.”
“Aku hanya gak mau kamu ikut sakit, Dir.”
“Kepergian kamu jauh lebih sakit, Sa. Membiasakan diri untuk melepas sesuatu yang menjadi bagian dari keseharian kamu rasanya seperti kehilangan sebagian dari diri kamu sendiri. Dan itu yang aku rasakan.”
Akasara lagi-lagi terdiam, tak pernah sekalipun dalam pikirannya akan meninggalkan luka yang cukup dalam untuk Adira.
“Ketika kamu merasa dunia kamu runtuh, lantas aku juga merasa kehilangan sebagian dari diriku. Kita impas, memilih saling mendiami satu sama lain dan akhirnya saling menyakiti,” jawab Adira, mencoba menerima alasan Akasara. “Dan jikalau hadirmu sekarang hanya ingin meninggalkan luka dikemudian hari, saranku lebih baik kita memilih untuk saling meninggalkan, Sa.”
Aksara menggeleng, ia tak ingin kehilangan Adira lagi. “Aku datang ke kota impian kamu hanya untuk merasakan kehadiran kamu, Dir. Selama ini yang aku lakukan hanya menghabiskan waktu untuk hal-hal yang bisa mengalihkakn pikiranku, aku mencoba menahan diri aku untuk nggak ganggu kehidupan kamu lagi, karena aku tau bagaimana rasanya ditinggalkan. Namun kenyataannya, ketika aku melihat kamu lagi, aku selalu ingin menjadi orang yang paling mengenal kamu, Dira.”
Jujur saja, hati Adira menghangat mendengar perkataan Aksara yang terdengar tulus, namun ia juga mencoba untuk memberi benteng agar dirinya tak lagi merasa sakit karena Aksara.
“Sa, yang aku butuhkan bukan omongan belaka yang aku dan kamu sendiri gak tau kedepannya akan seperti apa. Aku gak bisa kasih kepastian apa-apa, hatiku masih terlalu ragu untuk percaya lagi,” Adira berucap tegas.
“Aku gak akan maksa kamu, Dir. Perasaan kamu udah cukup hancur setelah kejadian kemarin, tapi aku hanya ingin mengusahakan kamu lagi. Dan perasaan aku, biar itu menjadi tanggung jawab aku,” jawab Aksara penuh keyakinan. “Kamu harus melanjutkan hidup yang sudah kamu usahakan sejauh ini, Dira. Biar kesalahan kemarin aku tebus dengan usahaku hingga ragu kamu hilang sepenuhnya.”
Malam ini semua pertanyaan yang Adira pertanyakan dalam benaknya berhasil terjawab. Aksara datang dengan semua jawaban, lelaki yang selalu menjadi inspirasi dalam setiap tulisan Adira itu menjadi penutup akhir kisah dalam naskahnya. Entah akan seperti apa kedepannya, saat ini Adira hanya ingin merasakan kembali dirinya yang hilang selama beberapa tahun kebelakang.
Terima kasih Kota Hujan karena sudah menemukanku kembali dengan sang inspirasi, Aksara Galih Pramudya.
-End-
Nama : Nadilla Azahra
Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Cerpen

Post a Comment