2/13/2022

ANDAI-ANDAI: Asal Usul Cendawan Tikus dan Cendawan Kuping

APERO FUBLIC.- Pada masa lalu, hiduplah sebuah keluarga di sebuah ladang. Mereka tidak memiliki rumah di Talang Embacang. Talang adalah nama pemukiman penduduk di pedalaman Sumatera Selatan. Ladang milik keluarga itu terletak tidak jauh dari Talang Embacang. Ladang mereka sangat subur, ditanami sayur mayur, umbi-umbian, tebu dan pisang. Padi baru saja ditanam sebulan lalu, sehingga belum terlalu tinggi rumpunnya. Masih terlihat batang-batang pohon yang menghitam bekas pembakaran sewaktu membuka ladang.

Pondok mereka terletak di tengah ladang, dinding terbuat dari kulit pohon,lantai dari bilah bambu, atap terbuat dari daun rumbiah. Ada kentongan yang terbuat dari kerangka kura-kura yang dinamakan getuk. Ternak mereka ayam, kucing, itik dan anjing. Keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan tiga anak laki-lakinya. Anak pertama bernama Antam umurnya dua belas tahun, kedua bernama Samdu umurnya sepuluh tahun, dan yang bungsu bernama Nalja umurnya delapan tahun.

Suatu hari, kakek mereka datang dari Talang. Ketiga kakak beradik begitu gembira. Kakek membawa kue dan suka bercerita andai-andai. Hari itu, mereka bermain dan mendengar cerita andai-andai kakeknya. Setelah selesai berandai-andai kakek minum kopi hangat, lalu memberi dua nasihat pada ketiga cucunya.

“Jadilah anak yang baik dan jujur. Jangan suka menuruti hawa nafsu dan berbohong. Karena akibatnya akan buruk sekali pada dirimu sendiri. Jangan kalian pikir berbohong adalah perbuatan pintar. Tapi berbohong adalah perbuatan jahat dan curang.” Nasihat sang kakek.

“Kami akan mengingat nasihat kakek.” Kata Nalja.

“Kalau kalian bermain di hutan, jangan bermain di dekat sebuah gaung besar. Karena disana ada negeri suban.” Pesan sang kakek lagi. Gaung berupa lobang besar pada tanah yang mengalir mata air. Hari pun sudah sore, kakek mau pulang ke Talang kembali.

“Bak, hati-hati di jalan. Ini ada madu, ikan kering, pisang masak dan sayuran.” Kata menantu si kakek. Ibu dari Nalja, Samdu dan Antam. Sedangkan ayah mereka turut mengantar kakek keluar pondok. Sang kakek berjalan menyusuri jalan ditengah ladang seraya menggendong keranjang yang penuh hasil ladang.

Waktu berlalu, padi mereka mulai berbuah dan sampailah masak menguning. Tebu pun mulai di panen untuk membuat gula. Sementara ibu dan ayah mereka sibuk memanen buah padi. Ketiganya bermain di hutan pinggir ladang.

“Kalian mau kemana?.” Panggil ayah mereka seraya menuai padi di tengah ladang.

“Kami nak bermain di hutan sebentar, Bak.” Jawab Samdu. Ibu juga berkata kalau jangan bermain terlalu jauh dan cepat pulang. Karena ada hewan buas seperti harimau atau beruang. Ketiganya mengiakan dan terus berjalan, dan keluar pagar ladang.

“Tuttttt. Tuttttt. Tutttttt.” Begitulah bunyi mainan mereka yang terbuat dari batang padi.

*****

Ketiga kakak beradik bermain dengan gembira sekali. Mereka berayun-ayun di akar-akar pohon dan menjelajah hutan. Mereka juga mencari buah-buahan yang dapat dimakan. Tanpa sadar ketiganya telah masuk hutan dimana ada gaung yang dilarang kakeknya. Sehingga mereka masuk kedalam dunia suban.

“Koyong, kenapa ada rumah orang dan kebun buah yang banyak.” Tanya Samdu pada kakanya Antam. Tampak sebuah rumah kayu besar beratap sirap papan. Di halaman tumbuh puluhan pohon buah yang berbuah lebat. Dahan-dahan melentur ke bawah karena menahan beban buah yang banyak. Buah berbentuk buah apel. Ada tiga warna buah, merah, kuning dan putih. Rumah tampak sepi, pintu pagar yang terbuat dari bilah bambu terbuka sedikit. Di atas pintu berdiri gapura bertiang kayu dan beratap ijuk.

“Ia, sejak kapan ada rumah orang di dekat ladang kita.” Kata Antam. Kedua nya tanpa curiga melangka mendekati ruma dan kebun itu.

“Jangan Koyong, ingat pesan kakek. Agar kita menjauhi gaung yang ada negeri suban. Mungkin kita sudah tersesat dan tidak sengaja kita masuk. Baiklah kita kembali, pulang.” Kata Nalja dengan rasa khawatir.

“Ah, kau penakut sekali, anak jantan pula.” Kata Antam. “Kita memang belum perna bermain ke hutan ini. Mungkin memang ada ladang orang.” Lanjutnya.

“Benar juga.” Ujar Samdu.

“Ayo kita cari tahu dan meminta buah yang enak itu.” Kata Antam. Kalau kau takut pulanglah, tapi saya tidak mau memberimu buah enak itu.” Ujar Antam pada Nalja. Tentu saja Nalja takut pulang sendiri dan dia juga ingin makan buah yang tampak enak itu. Mendekatlah ketiganya pada rumah itu, dan meneteskan air liur.

“Permisi. Ada orang.” Teriak Antam beberapa kali. Tapi tidak ada sahutan, oleh sebab itu Antam mengajak kedua adiknya masuk. Membuka pintu pagar dan melangkah masuk. Mereka pikir rumah tidak ada penghuninya. Nalja takut dan tidak mau. Tapi tangannya ditarik Samdu.

“Ada apa mau apa, cucu-cucu tiba di sini.” Sapa seorang nenek tua tiba-tiba. Ketiganya terlonjak kaget bukan kepalang dan wajah merah padam, ketiganya juga gemetaran. Nenek tua bongkok berjubah coklat, bertongkat kayu, mulutnya komat kamit mengunya siri-pinang. Kulit coklat yang sudah keriput dan matanya menatap tajam ketiga beradik itu.

“Ka..kami sedang bermain dan tersesat lalu tiba di sini.” Ujar Antam agak gemetar.

“benar begitu. Tapi mengapa kalian masuk halam rumah orang tanpa permisi.” Tanya si nenek lagi.

“Maaf Nek, boleh kami meminta buah nenek yang tampak enak itu.” Kata Samdu. Nenek itu tidak langsung menjawab. Dia memandangi ketiganya dengan tajam, baru dia berkata.

“Itu buah budi namanya. Jangan berbuat tidak baik, sebab akan menimbulkan hukuman. Aku mengizinkan kalian memakan tiga bua untuk satu warna. Ambilah, setelah makan buah kalian pulanglah. Aku mau pergi ke sungai mengangkat bubu.” Kata si nenek.

“Baiklah nenek, terimakasih.” Kata Antam dengan gembira sekali. Nenek tua bongkok itu mengambil sebuah keranjang dan pergi meninggalkan ketiganya. Tampak dia berjalan perlahan di jalan setapak. Sementara Antam, Samdu dan Nalja mendekati sebuah pohon. Ketiganya memetik buah itu, dan mulai memakannya.

“Buah ini sangat enak.” Ujar Samdu sambil memakan dengan lahap sekali.

“Kita hanya boleh memakan tiga bua, dalam satu warna, Koyong.” Kata Nalja mengingatkan.

“Ahhh, nenek itu sedang pergi. Buah ini begitu banyak, pasti dia tidak tahu berapa yang kita makan. Tidak ada yang melihat juga. Makanlah sepuasnya dan bilang kalau kita hanya makan tiga buah dalam satu warna.” Kata Antam. Samdu tersenyum dan sepakat.

Naljan hanya mengambil tiga buah dalam satu warna. Lalu dia duduk di bawa pohon makan dengan perlahan dan lahap. Lima buah dia habiskan, dan empat buah sisakan untuk ayah dan ibunya. Setelah puas makan, mereka mau pulang. Antam dan Samdu juga membawa banyak buah itu dengan memetik dahan buah, lalu meninggalkan rumah si nenek.

Beberapa saat kemudian ketiganya tiba di pinggiran ladang mereka. Saat masuk ladang, Antam dan Samdu merasa kepalanya pusing. Keduanya bertanya pada Nalja apakah kepala pusing seperti kepala mereka. Nalja menggeleng dan terus berjalan. Karena pusing Antam dan Samdu terjatu dan bersandar pada batang pohon hitam ditengah ladang mereka. Keduanya memanggil ibu dan ayahnya. Sementara Naljan tampak takut dan menangis. Dia kemudian berusaha menarik-narik kedua kakaknya agar ke pondok segera. Namun tenaga anak umur delapan tahun tak dapat berbuat apa-apa. Lalu dia berlari-lari menyusuri jalan setapak di tengah ladang menuju pondok. Dia memberi tahu keadaan kedua kakaknya. Lalu ayah dan ibu mereka mendatangi keduanya diikuti Naljan.

“Makkkk. Bakkkkkk. Naljan adikkuuuu.” Teriak keduanya. Saat melihat kedatangan kedua orang tuanya. Belum sampai kedekat keduanya, terdengar suara petir yang keras dan angin bertiup kencang. Kemudian hujan turun dengan derasnya. Kabut muncul menutupi tubuh Antam dan Samdu. Beberapa saat kemudian keduanya menghilang dari pandangan mata.

“Anaakkkkuuuuuu.” Teriak ibu, lalu menangis mengenang keduanya. Keesokan harinya Naljan menceritakan semua kejadian kemarin. Dimana mereka meminta buah budi pada seorang nenek-nenek. Mereka hanya diizinkan memakan tiga buah dalam satu warna. Namun kedua kakaknya tidak jujur, dan makan sesuka hatinya karena si nenek pergi. Mengertilah mereka kalau Antam, Samdu dan Naljan tersesat ke negeri suban. Ibu mereka selalu menangis setiap hari. Sampai pada suatu malam bermimpilah ibunya pada Antam dan Samdu.

“Ibu jangan menangis dan bersedih lagi, yang terjadi adalah kehendak tuhan. Kalau ibu, rindu pada kami datangi batang pohon dimana kami terjatu. Di batang pohon itu, akan tumbu cendawan kecil keabuan mirip warna buluh tikus dan cendawan berbentuk telinga. Masaklah jamur itu, akan terasa enak sekali. Dengan begitu, akan mengobati rasa rindu Umak, Bak dan Adik pada kami. Jamur akan tumbuh dimusim hujan sepanjang tahun.” Kata Antam.

“Ibu, Aku dan Koyong pamit, nak pergi jauh. Kami meminta maaf sebab melalaikan nasihat kakek dan nasihat Umak dan Bak. Sebab itulah kami menerima hukuman ini.” Kata Samdu. Sementara itu, Naljan juga bermimpi bertemu kedua kakaknya.

“Adikku, tetaplah jadi orang jujur dan baik. Patu pada kedua orang tua, serta selalu mendengarkan nasihat. Karena akan menyelamatkan hidupmu dan akan membahagiakan semua orang. Koyong minta maaf sebab telah berbuat salah, memberikan contoh yang salah.” Kata Antam. Lalu ketiganya berpelukan dan Naljan menangis sedih. Ayah Naljan membangunkannya karena dia menangis sedang tidur.

Sejak saat itulah, jamur tikus dan jamur kuping muncul di dunia ini. Sering tumbuh di batang-batang pohon rapu di hutan, atau di tengah ladang warga. Jamur itu tumbuh kembang biasanya setelah hujan di pagi hari. Ibu-ibu berbondong-bondong memunguti jamur, yang sangat enak rasanya.

Oleh. Joni Apero
Editor. Melly.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 13 Februari 2021.
Arti Kata: Koyong: Kakak. Umak: Ibu. Bak: Ayah. Pondok: Bangunan tempat tinggal sederhana. Getuk: Kentongan. Gaung: tanah berongga atau lobang besar pada tanah dimana mata air keluar dari dalamnya. Cendawan: Jamur. Talang: Kampung/desa. Nama pemukiman tradisional di provinsi Sumatera Selatan. Embacang: Nama jenis buah sejenis mangga.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment