2/13/2022

ANDAI-ANDAI: Uwa Labu

APERO FUBLIC.- Pada zaman dahulu di Talang Duku hiduplah seorang wanita berumur lima puluhan tahun.  Hidup berdua dengan suaminya, karena mereka tidak memiliki anak. Dia memiliki tabiat yang buruk, pelit, suka menghasut dan memiliki sifat iri dan dengki. Jangankan dengan orang lain, dengan dirinya sendiri dia juga pelit. Dia dikenal dengan panggilan, Uwak Labu karena sifat buruknya itu. Dia diibaratkan pohon labu yang hanya membesarkan buah tapi batangnya tetap kecil dan merambat tumbuhan lain untuk hidup.

Pada suatu hari Uwa Labu datang ke rumah tetangga samping rumahnya. Dia membawa seekor ayam jantan. Saat bertamu dia sangat pandai berkata-kata dan rama sekali. Sampailah pembicaraan alasan kedatangan Uwa Labu.

“Begini Surai, saya minta tolong, uwakan sudah tua. Uwa ingin punya kambing jantan yang belang merah dan hitam. Jadi uwa bermaksud menukar ayam uwa dengan anak kambing jantanmu. Kau juga memiliki banyak kambing.” Kata Uwa Labu.

Surai terkejut atas permintaan Uwa Labu. Tapi Surai orang yang baik, dan tidak pelit. Dia berpikir sejenak, kalau diukur dengan akal sehat tidak sesuai seeokor ayam ditukar seekor kambing.

“Baiklah Uwa, saya terima tawaran Uwa.” Kata Surai menyetujui, jauh di dalam lubuk hatinya menilai tidak sesuai sekali. Rasa tidak enaklah yang menyebabkan dia setuju. Uwa labu gembira sekali karena keinginannya tercapai. Beberapa bulan kemudian, anak kambing tumbuh besar. Kembali Uwa Labu mendatangi rumah Surai. Seperti biasa dia datang dengan rama dan banyak cerita bohong. Surai menerima dengan baik Uwa Labu. Dia meminta istrinya untuk menghidangkan makanan dan membuat minuman hangat.

“Begini Surai, Uwa datang untuk meminta tolong lagi. Uwa sudah tua, ingin sekali punya sapi. Jadi Uwa ingin menukar kambing jantan Uwa dengan anak sapimu.” Kata Uwa Labu. Surai sangat kaget, mendengar permintaan Uwa Labu tersebut. Lama dia berpikir dan sambil menarik nafas dalam dia menyetujui.

“Baiklah Uwa, saya setuju.” Kata Surai. Maka bertukarlah anak sapi jantan dengan kambing jantan. Setahun kemudian, anak sapi jantan itu tumbuh besar. Betapa gembira Uwa Labu dengan pencapaiannya itu. Belum puas rasanya, Uwa Labu ingin menukar dengan kerbau. Kembali dia datang ke rumah Surai. Dengan cara seperti biasa.

“Surai, Uwa meminta tolong lagi. Uwa sudah tua ini, ingin memiliki kerbau jantan. Uwa mau menukar sapi Uwa dengan anak kerbau jantanmu.” Kata Uwa Labu. Surai dengan berat hati sekali menyetujui permintaan Uwa Labu. Maka bertukarlah sapi Uwa Labu dan anak kerbau jantan milik Surai.

Setahun berlalu, sekarang anak kerbau sudah besar sekali. Uwa Labu sangat bergembira sekali. Dia bercerita pada suaminya kalau dia begitu pintar dan beruntung. Bermodal seekor ayam jantan dia sekarang mendapat seekor kerbau jantan. Dia berkata kalau orang baik mudah dibodohi dan diakali. Itulah mengapa dirinya tidak mau menjadi orang baik.

*****

Pada suatu hari, Uwa Labu pulang dari menggembalakan kerbaunya. Kerbau jantan sedang birahi ingin kawin. Tapi Uwa Labu tidak mengerti dia terus menarik kerbaunya, lalu dia ikatkan di tiang rumah panggungnya. Kemudian Uwa Labu naik ke rumahnya, dan berbincang-bincang dengan suaminya. Beberapa saat kemudian, di belakang rumah mereka lewat sekawanan kerbau, tentu saja ada beberapa kerbau betina.

Kerbau milik Uwa Labu ingin bergabung dengan kawanan itu. Karena dia sedang birahi, sudah saatnya waktu kawin bagi kerbau. Kerbau meronta-ronta dan menarik sekuat-kuatnya. Kerbau jantan besar tentu tenaganya sangat kuat. Membuat tiang rimah roboh dan diikuti roboh pulah rumah Uwa Labu. Uwa labu dan suaminya tertimpa reruntuhan rumahnya dan akhirnya meninggal dunia. Sementara kerbau jantan miliknya berlari bergabung dengan kawanan kerbau. Ternyata kawanan kerbau itu milik Surai.

Surai tidak menyadari kalau kerbau milik Uwa Labu telah kembali dengan sendirinya. Sementara penduduk membantu mengangkat jenaza dari reruntuhan rumah, kemudian menguburkan Uwa Labu dan Suaminya. Begitulah akhir hidup orang yang memanfaatkan kebaikan orang baik untuk kepentingan pribadinya.

Oleh. Joni Apero
Editor. Deni Sutra.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 13 Februari 2021.
Andai-andai ini diangkat dari sastra lisan masyarakat di Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment