1/17/2021

Mengenal Sastra Masyarakat Melayu Sasak.

Apero Fublic.- Melayu Sasak adalah identitas mayoritas penduduk yang mendiami Pulau Lombok, di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Melayu Sasak mayoritas beragama Islam, dan ada sedikit yang masih menganut kepercayaan pra-Islam yaitu Sasak Boda. Sasak Boda bentuk kepercayaan asli yang mungkin sudah ada sebelum masuknya pengaruh asing.

Masyarakat Melayu Sasak pandai menenun kain. Konon dari aktivitas menenun tersebut muncul istilah sak sak yang akhirnya menjadi nama identitas mereka. Namun, kata Sasak juga ditemukan pada prasasti pujungan yang ditemukan di Kabupaten Tabanan, Bali. Bahasa Melayu Sasak sangat dekat dengan bahasa Melayu Bima, Sulawesi Tenggara dan bahasa Melayu Samawa.

Selain dari itu, masyarakat Melayu Sasak juga memiliki kesastraan sendiri. Hasil karya nenek moyang mereka yang diwariskan pada generasinya. Seperti sastra lisan, kisah mitos, mantera dan lainnya. Berikut ini, contoh sastra mantra dari masyarakat Melayu Sasak. Berikut mantera puji . Mantra ini untuk menjadi kebal senjata tajam.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Allah menjadi payungku.
Nabi Muhammad tongkatku.
Allah kunciku.
Nabi Muhammad kunciku.
Supaya aku mengunci badanku.
Berkat lailahailallah, Muhammadarrosulullah.

Kemudian jenis cerita lisan legenda seperti cerita asal ulus nama Desa Montong Betok. Cerita Jenaka dimana banyak tersebar cerita-cerita lucu, seperti cerita Loq Godek dait Loq Tontel atau Si Kera dan Si Kodok. Cerita fabel atau cerita dengan tokoh para hewan, seperti cerita tikus dan kera. Cerita raksasa dan cerita hantu. Seperti cerita tentang hantu atau berhala.

Cerita hantu berkeliaran di setiap sore menjelang magrib. Maka dari itu agar anak-anak jangan bermain di luar rumah. Cerita berhala atau cerita hantu adalah untuk menakuti anak-anak yang suka bermain di luar rumah pada sore hari. Sebagai contoh cerita Denawa Kerbar Datun Raksasa yang berarti Denawa Kembar Raja Raksasa. Cerita Inaq Rai Selaq berarti cerita Ibu Rai Hantu Manusia.

Sastra masyarakat Melayu Sasak juga terdapat cerita tentang Datu dan Datun. Datu berarti raja dan Datun berarti ratu atau raja perempuan. Datu adalah gelar pemimpin asli Nusantara sebelum masuk pengaru India (Raja), dan Islam (sultan). Seperti cerita Datu Untal, Datu Aca dait Datun Began yang berarti Raja Aca dan Ratu Tikus.

Ada juga sastra lisan yang menceritakan mitos pada masyarakat Melayu Sasak. Cerita-cerita yang membawakan keajiban-keajaiban. Seperti cerita Lelampak Lendong Kaoq atau Alas Tempat Duduk Dari Kulit Kerau. Putri Nyale, Anak Iwok berarti Anak Yatim, Amaq Walu Kanca Anakna berarti Bapak Walu dan Anaknya.

Sastra lisan masyarakat Melayu Sasak juga ada berbentuk seni. Seperti sastra lisan lelakak atau pantun. Sama halnya masyarakat Melayu pada umumnya, kaum muda mudi yang gemar berpantun. Begitu juga dengan muda-mudi masyarakat Melayu Sasak. Lelakaq atau pantun juga berfungsi sebagai hiburan, nasihat, ungkapan perasaan, dan lainnya.

Lelakaq Penyelemor adalah lelakaq atau pantun penghibur. Fungsi untuk menghibur dan bergembira ria.

Lamun kencili lantong tali.
Kelaq kelor sintung tumpah.
Ndaq sili inaq rari.
Nyelemorang atu susah.
Terjemahan:
Kalau burung kencili membawa tali.
Rebus kelor hanya untuk tumpah.
Jangan marah bibi.
Menghibur hati susah.

Lelakaq nyoake adalah lelakaq atau pantun pengabdian yaitu pantun menyatakan tekad seseorang untuk mengabdi pada raja.

Emben paoq emben gule.
Paoq amplem manis mateng.
Embe taoq kaji ngaule.
Mule tulen tgedeng raden.
Terjemahan:
Dimana mangga dimana gula.
Mangga mempelam manis matang.
Di mana tempat hamba mengabdi.
Sudah pasti di istana.

Untuk kata paoq sama dengan kata pada masyarakat Melayu di Sumatera Selatan. Paoh juga nama buah sejenis mangga. Lelakaq Kasmaran adalah lelakaq atau pantun muda mudi atau pantun percintaan. Tentu isinya penuh dengan curahan isi hati.

Jejojoq daan Beleka.
Sabuk Bali bekantong dua.
Benciq lomboq langanku seda.
Sanggup kaji ngantong sida.
Terjemahan:
Jelojok barat Baleka.
Ikat pinggang Bali bersaku dua.
Tinggi ramping menawan saya.
Sanggup saya mengantar Anda.

Kemudian ada lelakaq pepija atau pantun teka-teki. Cara berpantun ini seperti pantun bersambut di kawasan Melayu pada umumnya. Biasanya dibentuk satu kelompok pemuda dan satu kelompok gadis. Mereka berpantun dengan saling melengkapi sampiran yang diberikan lawan berpantung. Berikut lelakaq teka-teki.

Selebung Batu Baleq.
Uah kedung gin ta kumbeq.
Buaq ara-ara.
Selek bewena.
Dedara-dedara.
Lowek telena.
Tongko Labuan.
Dentok nakaruan.
Terjemahan:
Selebuk Batu Beleq.
Sudah terlanjur akan kita apakan.
Buah ara-ara.
Patah cabangnya.
Gadis-gadis.
Becek kelaminnya.
Bangau di Labuan.
Kelak baru jelas.
Lelakak Tuduh atau pantun nasib yang berisi ratapan seorang yang kecewa karena keinginannya tidak tercapai. Contoh sebagai berikut:
Selebuk Batu Beleq.
Penggorong baku bawi.
Uah kedung gin te kumbeq.
Tesorong isiq janji.
Ijuk malaq daun kere.
Ndeq araq bangket taoq ngaro.
Terjemahan:
Selebung Batu Beleq.
Pinggir kali tempat babi.
Sudah terlanjur akan diapakan.
Didorong oleh janji.
Ijuk bambu daun lontar.
Ketan kukus sebakul.
Saya tidak heran adik tidak mau.
Tidak ada sawah tempat menanam padi.

Selanjutnya ada lelakaq sindirian atau pantun sindirian dimana mereka berpantun sindir menyindir dan cela mencela. Kemudian ada juga lelakaq agama atau pantun bertema keagamaan.

Daun waru jari lelayang.
Bau paku sedin erat.
Pacu-pacu gaweq sembahyang.
Jari sango leq aherat.
Terjemahan:
Daun waru jadi layang-layang.
Petik paku pinggir parit.
Rajin-rajin mengerjakan sembahyang.
Jadi bekal di akhirat.

Nama tumbuhan paku (pakis), dan kata ara untuk nama pohon bua ara. Kedua kata tersebut  juga terdapat di dalam kosa kata bahasa Melayu Sumatera Selatan. Kemudian sastra lisan masyarakat Melayu Sasak juga ada jenis Basa Becik atau kerante kodeq.

Sastra ini adalah mantra seperti di daerah lainnya. Basa becik dibagi kedalam empat bagian, yaitu jejampi, puji, senggeger, dan begik. Fungsi sastra basa becik untuk pengobatan, kekebalan tubuh, pembuat cinta (pelet), dan pembuat penyakit pada orang lain atau sihir (santet).

Buku dokumentasi sastra lisan Melayu Sasak berjudul Sastra Lisan Sasak. Di terbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1987. Buku disusun oleh Shaleh Saidi, Nazir Thoir, I Gusti Nugraha Bagus, I Ketut Asa Kartika, Maria Gorethy Nie Nie. Kalau Anda ingin lebih mendalam mempelajari sastra lisan Sasak dapat menemukan buku di perpustakaan Daerah atau Perpustakaan Pusat.

Oleh. Tim Apero Fublic.
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 17 Januari 2021.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment