Cerita Kita
Kampus
Opini
Langkah Pelan di Tengah Air Mata : Kisah 3,5 Tahun Menggapai Gelar
APERO FUBLIC I CERITA KITA.- Perjalanan ini dimulai tanpa sorak sorai, hanya ada aku, tekadku, dan harapan kecil yang tidak pernah berhenti meskipun sering kebingungan.
Hai kenalin aku Arin, terlahir dari keluarga sederhana dengan mimpi yang tumbuh ditengah keterbatasan. Sejak awal aku tau jalanku mungkin tidak akan mudah, tapi aku juga tau bahwa mimpi tidak pernah salah lahir dimanapun ia dititipkan.
Aku belajar bermimpi dari orang tua yang tidak banyak bicara tentang harapan, tapi bekerja setiap hari tanpa rasa lelah, dan dari doa-doa sederhana yang selalu dipanjatkan diam-diam. Aku yakin bahwa sejauh apapun aku melangkah nanti aku harus tetap berjalan.
Tidak semua perjalanan menuju gelar itu ramai oleh sorak sorai. Sebagian justru berjalan dalam diam yang penuh harapan, ditemani lelah dan tangis yang tidak selalu bisa diceritakan.
perjalanan ini dimulai dari keinginan anak yang terlahir dari keluarga yang sederhana tidak menuntut harta dan tidak memperhatikan penampilannya demi mimpi dan keinginan yang sudah dibangun sejak lahir, dan bisa bertahan sampai selesai.
Hari-hari kuliah tidak selalu tentang semangat dan tawa, ada pagi-pagi ketika langkah terasa berat, ada malam-malam panjang yang diisi tangis tanpa suara.
Tugas datang bersamaan dengan ragu, nilai kadang tidak sesuai dengan usaha, aku selama kuliah tidak pernah punya laptop sendiri setiap kali mau mengerjakan tugas aku selalu minjem punya teman, dan bahkan kalau kerja kelompok aku selalu dibagian ngetik atau scripts agar meskipun aku tidak punya laptop sendiri tapi aku juga bisa belajar seperti yang lain.
Aku menjalani kuliah dengan keadaan yang jauh dari kata ideal, selama kuliah aku tidak punya laptop sendiri, tugas-tugas kukerjakan dengan meminjam ke sana ke mari, menunggu giliran.
Di saat teman-temanku sibuk membuka layarnya masing-masing, aku justru bertanya pelan, “Boleh nanti aku pinjam laptopmu untuk mengerjakan tugas ini?”
Hari-hari kuliahku berpindah dari satu laptop ke laptop yang lain terkadang sampai aku merasa sangat malu untuk selalu minjam laptop itu, kadang aku menunggu malam untuk mengerjakan tugas hanya menunggu giliran, kadang juga tidak ada pinjaman laptop karena semuanya dipakai dan Aku rela nulis tangan sampai selesai.
Tapi dibalik itu semua aku juga bersyukur karena meskipun aku tidak punya laptop sendiri, tapi teman-temanku selalu meminjamkan laptopnya, dan dari itu aku yakin kalo niat kita tulus dan benar pasti Allah permudah jalannya.
Bukan karena aku tidak mau memiliki atau membeli, tapi karena keadaan dan faktor ekonomi yang harus aku terima dan jalani, meskipun seperti itu tidak pernah menjadi alasan aku berhenti berjuang justru menjadikanku lebih semangat lagi untuk berjuang.
Di rumah ada ibu yang lebih sering terbaring daripada berdiri, sakit-sakitan membuat ibu tak bisa banyak terlibat dalam perjalanan kuliahku bahkan dari awal masuk kuliah sampai selesai, tapi Aku juga sadar ibu sakit bukan karena disengaja akan tetapi karena manusia-manusia itu yang tidak punya hati nurani yang mau membunuh ibuku, tapi Aku juga menerima dengan lapang dada. Aku hanya fokus untuk kesembuhan ibuku dan masa depanku.
Aku kadang merindukan sosok ibu yang banyak terlibat dalam perjalanan masa depan anak-anaknya, Aku iri kepada teman-temanku yang dilindungi yang selalu ditanyakan yang selalu diperhatikan oleh ibunya, setiap kali Aku meneteskan air mata ketika melihat keadaan ibuku tidak sama dengan orang tua umumnya.
Di sini aku punya bapak yang sangat luar biasa, bekerja seharian tanpa lelah, suaranya jarang didengar tapi perjuangannya yang sangat mengharukan, bapakku tidak pernah menampakkan rasa sedihnya, takutnya, kesalnya, tapi ketika melihat bapak, Aku merasa ada mimpi dan keinginan yang besar untuk anak-anaknya.
Seringkali Aku ketika berbicara tentang kedua orang tua, Aku tidak pernah berhenti meneteskan air mata bukan karena apa, melainkan karena perjuangan kedua orang tuaku betapa sangat luar biasa, dan juga tidak ada peran ibu di saat Aku lagi membutuhkannya sampai sekarang, tapi Aku menerima, Aku sadar, dan Aku ikhlas, Aku yakin meskipun ibuku seperti itu, tapi ibu selalu mendoakan keselamatanku dan masa depanku.
Ibuku ada tapi perannya hilang.
Aku kuliah sambil kerja bukan karena keinginan akan tetapi karena Aku melihat keadaan ekonomi keluargaku, dengan Aku bekerja meskipun hasilnya tidak banyak tapi cukup untuk makan sehari-hari itu sudah lebih dari cukup, apalagi Aku sebagai anak rantau yang tiap bulan ada tagihan, kalau tidak dengan sambil bekerja Aku dapat dari mana uang jajan.
Aku menyimpan keinginan-keinginanku sendiri, menunda hal-hal yang ingin kumiliki, dan tak terlalu memperhatikan penampilan. Aku belajar menahan gengsi, karena Aku tahu, perjuanganku bukan hanya tentang diriku. Ada orang tua yang ingin kutenangkan, ada doa yang ingin kubalas dengan keberhasilan.
Banyak hari kulewati dengan sendirian. Mengatur hidup, waktu, dan perasaan tanpa sandaran. Ada saat-saat Aku ingin berhenti, merasa tertinggal, dan lelah menjadi kuat. Tetapi aku terus melangkah, karena Aku tahu siapa dan apa yang sedang aku perjuangkan.
Aku memilih untuk tidak ngekos. Bukan karena jarak yang dekat, melainkan karena Aku harus berhemat sebisa mungkin. Setiap minggu Aku rela pulang-pergi, menempuh perjalanan panjang yang sering kali menguras tenaga.
Mosholla, pom bensin, Makam Sunan Ampel selalu menjadi tempat istirahatku. Tidur di jalan bukan pilihan yang nyaman, tapi itulah cara agar aku bisa terus bertahan ditengah keadaan ekonomi dan menyeimbangkan pengeluaran.
Perjalanan itu melelahkan, namun aku menjalaninya dengan ikhlas. Karena bagiku, setiap kilometer yang kutempuh adalah pengorbanan demi satu tujuan.
Tetap kuliah, tetap bekerja, dan tetap melangkah sampai selesai.
Aku mungkin tidak tampil sempurna. Pakaianku sederhana, penampilanku biasa saja. Namun di balik itu, ada pengorbanan yang tak selalu terlihat. Aku rela terlihat biasa, asal orang tuaku bisa sedikit lebih tenang dan aku bisa terus melanjutkan masa depanku.
Hingga akhirnya, setelah 3,5 tahun, aku sampai di titik ini. Aku lulus bukan karena hidupku mudah, tetapi karena aku bertahan. Gelar ini bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan bukti dari perjuangan yang panjang, sunyi, tangis dan penuh kesabaran.
Perjalanan ini mengajarkanku satu hal, bahwa anak yang berjalan dengan keterbatasan, selama ia tidak pernah berhenti, maka ia akan sampai.
PENULIS: Norie Khoiril Qiromah
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Cerita Kita

Post a Comment