Feature
Kampus
Kimia
Kuliner
Mahasiswa
Opini
Teknologi
Sayuran Cepat Layu di Rumah ? Ini Rahasia Kesegaran Sayuran di Supermarket
APERO FUBLIC I FEATURE.- Pernah mengalami hal ini? Kita membeli selada, bayam, atau brokoli yang terlihat sangat segar di supermarket. Daunnya hijau cerah, renyah, dan tampak seperti baru dipanen dari kebun.
Namun hanya dua atau tiga hari setelah disimpan di kulkas rumah, sayuran itu mulai berubah. Daunnya layu, warnanya tidak lagi cerah, dan rasanya tidak lagi segar.
Anehnya, ketika kita kembali ke supermarket beberapa hari kemudian, sayuran yang terlihat serupa justru masih tampak segar di rak penjualan.
Bahkan beberapa produk sayuran kemasan terlihat tetap bagus meskipun kemungkinan sudah disimpan lebih lama daripada sayuran yang kita simpan di rumah.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Ternyata rahasianya tidak hanya pada kulkas supermarket atau kualitas sayurannya. Di balik kemasan plastik yang terlihat sederhana itu sering terdapat teknologi yang dirancang secara ilmiah.
Teknologi ini disebut Modified Atmosphere Packaging (MAP). Secara sederhana, teknologi ini bekerja dengan mengatur udara di dalam kemasan sayuran agar proses alami pada sayuran berjalan lebih lambat.
Sayuran Ternyata Masih “Hidup”
Banyak orang mengira bahwa setelah dipanen, sayuran langsung berhenti mengalami perubahan. Padahal sebenarnya sayuran masih terus mengalami proses alami di dalam sel-selnya.
Sayuran masih menggunakan oksigen dari udara dan menghasilkan karbon dioksida serta uap air. Proses ini mirip dengan cara kita bernapas. Akibatnya, sayuran perlahan berubah setelah dipanen.
Air dari daun terus berkurang sehingga daun menjadi layu, warna hijau juga bisa memudar tekstur yang awalnya renyah perlahan menjadi lembek.
Semakin cepat proses ini terjadi, semakin cepat pula sayuran menjadi tidak segar. Karena proses ini tidak bisa dihentikan sepenuhnya, para ilmuwan mencoba cara lain: ‘Membuat Proses Tersebut Berjalan Lebih Lambat.’
Mengatur Udara Agar Sayuran “Tidak Cepat Tua”
Di sinilah teknologi Modified Atmosphere Packaging digunakan. Udara yang kita hirup biasanya mengandung sekitar 21% oksigen. Dalam teknologi MAP, jumlah oksigen di dalam kemasan sedikit dikurangi.
Sebaliknya, karbon dioksida ditingkatkan dalam jumlah tertentu. Perubahan kecil ini ternyata memiliki pengaruh besar. Ketika oksigen berkurang, aktivitas alami sayuran menjadi lebih lambat.
Bayangkan seperti orang yang berjalan santai dibandingkan orang yang berlari. Keduanya tetap bergerak, tetapi yang berjalan santai membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai tujuan.
Hal yang sama terjadi pada sayuran. Sayuran tetap mengalami proses alami, tetapi prosesnya menjadi lebih lambat. Akibatnya, sayuran bisa bertahan segar lebih lama.
Kemasan yang “Bisa Bernapas”
Kemasan MAP mungkin terlihat seperti plastik biasa. Namun sebenarnya kemasan ini memiliki sifat khusus.
Plastik tersebut tidak benar-benar tertutup rapat. Gas seperti oksigen dan karbon dioksida masih bisa bergerak melewati kemasan dalam jumlah kecil.
Agar lebih mudah dipahami, bayangkan ketika seseorang menyemprotkan parfum di ruangan. Aroma parfum itu perlahan menyebar ke seluruh ruangan meskipun kita tidak melihat pergerakannya.
Hal yang mirip terjadi pada gas di dalam kemasan sayuran. Molekul gas bergerak perlahan melewati plastik kemasan. Pergerakan gas ini harus diatur dengan hati-hati.
Jika kemasan terlalu rapat, oksigen bisa habis dan sayuran malah cepat rusak. Jika kemasan terlalu terbuka, udara di dalam kemasan akan sama seperti udara diluar sehingga efek pengawetan tidak terjadi.
Karena itu, kemasan MAP dirancang agar pertukaran gas terjadi secara perlahan dan seimbang.
Sains di Balik Kemasan Plastik
Walaupun terlihat sederhana, kemasan sayuran sebenarnya dirancang dengan banyak pertimbangan ilmiah. Para peneliti mempelajari bagaimana gas bergerak di dalam kemasan, bagaimana sayuran bereaksi terhadap udara di sekitarnya, dan bagaimana suhu memengaruhi proses tersebut.
Ilmu yang digunakan untuk memahami hal ini banyak dipelajari dalam bidang teknik, termasuk teknik kimia. Ilmu ini membantu para peneliti merancang kemasan yang mampu menjaga kondisi udara di sekitar sayuran agar tetap stabil.
Dengan kata lain, kesegaran sayuran di rak supermarket bukan hanya karena plastik pembungkusnya, tetapi karena rekayasa ilmiah yang mengatur lingkungan di dalam kemasan tersebut.
Mengapa Teknologi Ini Penting?
Teknologi seperti MAP tidak hanya penting bagi supermarket. Teknologi ini juga berkaitan dengan masalah yang lebih besar, yaitu pemborosan makanan. Di Indonesia, jumlah makanan yang terbuang setiap tahun sangat besar.
Kajian pemerintah menunjukkan bahwa kehilangan dan pemborosan pangan bisa mencapai puluhan juta ton setiap tahun. Sebagian besar makanan yang terbuang berasal dari bahan pangan segar seperti buah dan sayuran yang mudah rusak selama penyimpanan dan distribusi.
Dengan teknologi seperti MAP, umur simpan sayuran bisa menjadi lebih panjang. Hal ini membantu mengurangi kerusakan selama perjalanan dari petani ke pasar atau supermarket.
Teknologi ini juga sangat penting di negara tropis seperti Indonesia, dimana suhu lingkungan yang hangat dapat membuat sayuran lebih cepat rusak.
Penutup
Jadi, lain kali ketika kita melihat sayuran kemasan di supermarket, mungkin kita tidak lagi menganggapnya hanya sebagai plastik pembungkus biasa.
Karena dibaliknya ada teknologi yang mampu membuat sayuran bertahan lebih lama, sehingga distribusi pangan menjadi lebih efisien, dan risiko pemborosan makanan dapat berkurang.
Hal ini menjadi semakin penting di negara tropis seperti Indonesia, di mana suhu lingkungan yang hangat dapat mempercepat kerusakan bahan pangan segar.
Dengan teknologi MAP inilah kita mampu merasakan kesegaran sayuran yang tampak seperti “baru dipanen” hingga sampai ke meja makan kita.
PENULIS : Christine Gabriela
Mahasiswi Teknik Kimia, Institut Teknologi Sawit Indonesia
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment