Syarce

Syarce adalah singkatan dari syair cerita. Syair cerita bentuk penggabungan cerita dan syair sehingga pembaca dapat mengerti makna dan maksud dari isi syair.

Apero Mart

Apero Mart adalah tokoh online dan ofline yang menyediakan semua kebutuhan. Dari produk kesehatan, produk kosmetik, fashion, sembako, elektronik, perhiasan, buku-buku, dan sebagainya.

Apero Book

Apero Book adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi semua jenis buku. Buku fiksi, non fiksi, buku tulis. Selain itu juga menyediakan jasa konsultasi dalam pembelian buku yang terkait dengan penelitian ilmiah.

Apero Popularity

Apero Popularity adalah layanan jasa untuk mempolerkan usaha, bisnis, dan figur. Membantu karir jalan karir anda menuju kepopuleran nomor satu.

@Kisahku

@Kisahku adalah bentuk karya tulis yang memuat tentang kisah-kisah disekitar kita. Seperti kisah nyata, kisah fiksi, kisah hidayah, persahabatan, kisah cinta, kisah masa kecil, dan sebagaginya.

Surat Kita

Surat Kita adalah suatu metode berkirim surat tanpa alamat dan tujuan. Surat Kita bentuk sastra yang menjelaskan suatu pokok permasalaan tanpa harus berkata pada sesiapapun tapi diterima siapa saja.

Sastra Kita

Sastra Kita adalah kolom penghimpun sastra-sastra yang dilahirkan oleh masyarakat. Sastra kita istilah baru untuk menamakan dengan sastra rakyat. Sastra Kita juga bagian dari sastra yang ditulis oleh masyakat awam sastra.

Apero Gift

Apero Gift adalah perusahaan yang menyediakan semua jenis hadia atau sovenir. Seperti hadia pernikahan, hadia ulang tahun, hadiah persahabatan, menyediakan sovenir wisata dan sebagainya. Melayani secara online dan ofline.

11/21/2020

Lacoco En Nature "Bust Fit Concentate Serum.

Apero Fublic.- Lacoco En Nature "Bust Fit Concentate Serum. Produk serum yang berfungsi membantu merawat kekencangan payudara. Mengandung bua manggis dan rumput laut yang berfungsi untuk membantu melembabkan, mengencangkan dan juga sebagai anti oksidan.


Dilengkapi dengan quince hydrogel untuk memperbaiki elastisitas kulit dan meningkatkan kesehatan kulit. Serta mengandung bunga chamomile yang berfungsi sebagai anti bakteri. Diformulasikan dengan tekstur gel sehingga cepat menyerap dan tidak meninggalkan rasa lengket.


Manfaat, mengencangkan payudara atau Pinggul anda. Membantu mengatasi serangan bakteri kanker payudara. Menambah ukuran payudara atau pinggul anda secara alami. Menjaga kesehatan payudara anda. Memperbaiki elastisitas kulit dan meningkatkan kesehatan kulit payudara.


Sedangkan untuk cara pemakaiannya. Yaitu, gunakan 3-4 tetes untuk seluruh payudara. Ratakan dan pijat perlahan hingga menyerap selurunya. Gunakan dua kali sehari, dan hanya untuk obat luar. Selain itu dapat juga digunakan pada pinggul anda untuk menambah kemenarikan penampilan anda. Sehingga suami anda bertambah sayang pada anda.


Obat aman tanpa efek samping karena terbuat dari bahan-bahan herbal alami dan tidak mengandung bahan kimia. Kami merekomendasikan anda untuk kebaikan hubungan anda dan pasangan sah anda. Kemudian untuk menjaga kesehatan, dan beribadah. Bukan untuk pamer dan hal-hal buruk lainnya. Ihtiar dengan tujuan baik diperbolekan.


Netto. 30 ml

Bandan POM NA 18180102048.

Kontak: 082179992170.

 

Oleh. Rika Julianti.

Editor. Selita, S.Pd.

Tatafoto. Dadang Saputra.

Palembang, 22 November 2020.

 

Sy. Apero Fublic.

Kerut Dibawa Mata: Lacoco Intensive Treatmen Eye Serum Solusinya

Apero Fublic.- Apero Herbal. Berikut ini kami perkenalkan produk kosmetik terlaris di Indonesia dalam hal perawatan kecantikan. Terutama anti kerut di area mata anda. Kerutan akan sangat mengganggu penampilan anda. Apabila kerutan di sekitar mata anda tampak.

Maka anda akan terlihat sepuluh tahun lebih tua dari usia anda yang sebenarnya. Orang-orang yang tidak mengenal anda dengan baik, akan menyangka anda telah jauh lebih tua atau dewasa. Maka kami tawarkan produk unggulan dari NASA sebagai solusi perawatan kulit area mata anda.


Lacoco, "Intensive Treatment Eye Serum" produk serum untuk mata yang membantu mengurangi kerutan halus dan mencegah tanda penuaan pada kulit sekitar mata. Mengandung bahan aktif peptide yang dapat membantu mengurangi garis-garis halus pada wajah. Mengandung lida buaya untuk menjaga kelembaban kulit sekitar mata. Dilengkapi dengan ekstrak apel yang berfungsi sebagai anti oksidan. Dapat digunakan sebelum makeup dan cocok untuk semua kulit.


Manfaat, membantu mengurangi kerutan halus. Membantu mengatasi dan mencegah tanda penuaan dini pada kulit sekitar mata. Membantu menghilangkan garis-garis halus pada wajah. Membantu menjaga kelembaban kulit sekitar mata.


Di dalam Lacoco Intensive Treatmen Eye Serum, mengadung zat peptide yang membantu mengurangi garis-garis haalus. Aloe Veranya membuat kelembaban dan mengencangkan kulit area mata. Sedangkan zat apelnya sebagai anti oksidan.


Kemudian dilengkapi dengan polyglutamic acid sebagai peningkat elastisitas, mencerahkan, dan juga menjaga kelembaban kulit pada area mata. Nah, bagi anda yang peduli dengan masa muda anda, atau peduli dengan anugerah kecantikan pada wajah anda ada baiknya menggunakan Lacoco Intensive Treatmen Eye Serum.


Netto. 15 ml

Badan POM NA 18180101558

Hubungi kontak: 082179992170

 

Oleh. Eftaro. S.Hum.

Editor. Desti, S.Sos.

Tatafoto. Dadang Saputra

Sumber: Katalog produk Nasa

 

Sy. Apero Fublic.

Abah Aning dan Si Bodoh

Apero Fublic.- Menurut yang punya cerita, tersebutlah bahwa di ujung sebuah kampung yang jauh dan sunyi tinggallah sebuah keluarga yang terdiri atas sepasang suami istri dengan seorang anaknya. Anaknya kira-kira berumur dua belas tahun. Kampung terpencil dan rumah mereka juga jauh dari tetangganya. Tidak ada tempat belajar sehingga anak itu tidak pernah belajar. Anak itu tidak dapat menulis dan menghitung. Si Anak selalu patuh kepada orang tuanya.

Tidak pernah anak itu menyangkal perintah orang tuanya. Kalau orang tuanya tidak menyuruhnya, sehari-hari pekerjaannya hanya bermain saja. Pagi hari dia pergi bermain di pinggir kampung, pulang di sore hari. Kalau keluarganya bertanya dari mana. Dia menjawab kalau dia bermain ke hutan, melihat-lihat burung bermain-main.  Kadang-kadang geli hatinya melihat tingkah laku burung-burung itu, jelasnya.

Suatu hari, Anak itu diminta ibunya untuk mencari kayu api. “Bawak parang, untuk jaga-jaga. Siapa tahu bertemu binatang buas.” Kata ibunya. Dia mengiakan dan pergilah ke hutan mencari kayu bakar. Sesampai di hutan si Anak terus mengingat apa kata ibu. “Mencari kayu api.” Berkelilinglah dia sampai jauh kedalam hutan dan kemana-mana. Namun dia tidak menemukan kayu yang ada api. Sampai setengah hari dia tidak juga menemukan kayu api.

Tubuhnya sudah kepayahan, lalu dia beristirahat dibawa sebatang pohon besar. Dia memperhatikan pohon besar itu, sambil berpikir dimana kiranya dia mendapat kayu api di sekitar kampungnya. Setelah rasa lelah hilang, kembali dia mencari kayu yang ada apinya. Dari siang sampai magrib tapi dia tidak menemukan  kayu yang ada apinya. “Cari kayu api, sudah dapat bawak pulang.” Teringat terus kata-kata ibunya.

Saat mulai gelap dia takut untuk pulang, nanti dimarahi ibunya. Tapi suara-suara binatang buas sudah mulai keluar. Membuat si Anak itu takut dan terpaksa pulang. Biarlah dimarahi ibunya daripada dia diterkam binatang buas. Sesampai di rumah, ibunya bertanya mengapa dia pulang malam. Bagaimana dengan kayu api yang ibunya, minta.

“Oh, ibu capeklah saya, mencari kayu yang berapi di hutan dari pagi hingga malam. Dimana kiranya ada kayu yang ada apinya?.” Jawab si Anak dan dia pun bertanya. “Adu, alangkah bodohnya dirimu anakku. Mana ada kayu yang ada apinya. Maksud ibu kayu untuk memasak nasi atau memasak air minum.” Kata ibunya menahan rasa kesal.

“Kau ini, betul-betul sangat bodoh.” Sejak saat itu, suami-istri itu memanggil anaknya dengan si bodoh. Walau bodoh anak itu sangat jujur. Tidak pernah dia membohongi kedua orang tuanya. Apa yang diperintahkan orang tuanya dia selalu mengerjakannya. Kalau tidak diperintahkan dia juga tidak mengerjakannya.

*****

Bulan puasa hampir dimulai, tinggal beberapa hari lagi. Menurut kebiasaan masyarakat di kampung itu. Mereka selalu mencari orang yang akan memotong kerbau atau sapi. Sibuklah orang-orang mencari yang akan memotong kerbau. Malu rasanya pada warga sekampung kalau tidak membeli daging kerbau, memasuki bulan puasa. Makan daging kerbau adalah kebanggaan warga kampung mereka. Hari memotong kerbau mereka namakan, “hari memegang atau hari membantai.”

Pada hari membantai itu, si Anak bodoh diminta ayahnya pergi membeli satu kilogram daging kerbau. Maklumlah, mereka memang orang susah. Pekerjaan orang tua anak itu mencari daun nipa dan menjalin daun nipa menjadi atap. Hanya mampu membeli satu kilogram saja untuk puasa hari pertama. Ayahnya memberinya uang seringgit. Karena harga satu kilogram daging kerbau, seringgit. Mereka hanya membeli daging setahun satu kali.

Pendapatan mereka hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Untuk mendapatkan itupun sudah sangat kesulitan. Kadang mereka makan ubi dan sayuran saja. Kadang anak mereka menangkap ikan dan udang di sungai, sehingga mereka sering makan ikan. Hari memotong kebau atau hari membantai sudah tiba. Si Anak bodoh pergi ke pasar untuk membeli daging kerbau. Pesan ayahnya sebelum membeli agar dia menawar terlebih dahulu.

Dia selalu ingat pesan ayahnya, dan sesampai di pasar membeli daging kerbau. Kemudian dapatlah dia daging kerbau satu kilogram. Daging itu kemudian diikatnya di ujung tali. Kemudian dia pergi pulang. Di perjalanan pulang dia bertemu dengan seekor anjing.

Anjing itu terus mengikuti si Bodoh dari belakang. Dia takut kalau daging yang dia bawa dilarikan si Anjing. Dia menghalau anjing, tapi anjing tidak mau pergi jauh darinya. Berulang-ulang begitulah tingkah si Anjing. Dia lempar dengan tanah tetap saja si Anjing tidak pergi. Si Bodoh merah penasaran dengan sikaf si anjing. Terpikirkan olehnya untuk menanyai anjing.

“Hai Abang anjing, mengapa selalu mengikuti aku. Apakah abang Anjing mau makan daging. Kalau abang Anjing mau, bayarlah seringgit.” Kata si Bodoh. Lalu anjing itu menggongong-gonggong saja. Si Bodoh berpikir kalau si anjing mau membayar senilai harga daging, seringgit. Lalu dia melemparkan daging ke anjing. Tentu saja si anjing langsung menerkam dan membawanya berlari. Si Bodoh marah, karena menurutnya si anjing menipunya. Pergi belum membayar seharga seringgit. Maka dia kejar anjing itu kemana-mana. Anjing ketakutan berlari kesana-kemari sampai akhirnya terjepit di rumpun bambu yang lebat.

Saat mendekat si anjing, si Bodoh melihat tidak jauh dari terjepitnya anjing. Tergeletak sekarung uang dan si Bodoh mengambil uang itu seharga daging yang dilarikan anjing tadi. “Ternyata uang abang Anjing banyak sekali. “Aku ambil uang abang Anjing seringgit, ya. Kata si Bodoh.” Kemudian dia kembali ke pasar dan membeli satu kilogram daging kerbau.

Setiba di rumah si Bodoh menceritakan semuanya pada ayah dan ibunya pengalamannya. Mendengar itu, pergilah ayah si Bodoh ke rumpun bambu yang dimaksdu anaknya. Mendapati uang yang banyak itu, betapa gembira hati ayah dan ibu si Bodoh. Keesokan harinya si bodoh pergi ke pasar lagi. Di pasar dia menceritakan juga tentang pengalamannya kemarin.

Diantara orang yang mendengar ternyata adalah orang yang kehilangan uang. Rumanya baru saja dimasuki pencuri. Hilang uang satu karung. Oleh orang itu, dilaporkannya ke Polisi Kampung mereka. Kepala Kampung dan Polisi kampung datang memeriksa ayah si Bodoh. Ayah si Bodoh tidak mengakuinya dan tidak juga punya bukti.

“Bukankah kalian tahu kalau dia bodoh.” Mendengar pernyataan itu, Kepala Kampung dan polisi kampung tidak lama pulang. Karena kejadian itu, timbul pikiran ayah si Bodoh untuk membuangnya. Agar tidak bercerita pada orang lagi pada orang-orang. Maka si Bodoh diminta untuk pergi jauh dari rumah. Sebelum pergi, ibunya menyiapkan dua bungkus bekalnya. Satu bungkus sagu yang lebut, satu bungkus nasi yang keras.

“Nanti kalau engkau lapar, Bodoh. Makan terlebih dahulu yang bungkus lembut ini. Setelah itu, baru kau makan bungkusan yang keras.” Agar tidak lupa dengan pesan ibunya. Si Bodoh selalu mengulang-ulang perkataan ibunya. Perjalanan sudah jauh si bodoh pun telah lelah. Sekarang sampailah si Bodoh di sebuah gua. Di dalam gua hiduplah raksasa suami istri, dan anak mereka yang masih bayi.

“Nanti kalau engkau lapar, Bodoh. Makan terlebih dahulu yang bungkus lembut ini. Setelah itu, baru kau makan bungkusan yang keras.” Kata si Bodoh berulang-ulang. Sepasang raksasa penghuni gua tempat si Bodoh beristirahat. Kedua raksasa itu takut kalau si Bodoh ingin memakan anak mereka yang masih bayi.

“Jangan kau makan anak kami. Kau kami beri periuk ajaib yang bisa kau minta apa saja. Jika kau lapar, buka saja periuk ajaib itu pasti ada nasi.” Mendengar kata-kata raksasa itu. Maka pergilah si Bodoh dari dalam gua itu. Menjelang malam, sampailah si Bodoh di sebuah perkampungan warga.

Si Bodoh kemudian menginap di salah satu rumah warga kampung. Pada malam harinya dia menceritakan semua pengalamannya siang tadi. Termasuk dia diberi raksasa periuk ajaib. Mendengar cerita itu, pemilik rumah berniat menukar periuk ajaib si Bodoh dengan periuk biasa. Setelah malam si Bodoh tidur dan meletakkan periuk di dekatnya. Dia tidak curiga kalau pemilik rumah akan berbuat tidak baik, seperti menukar periuknya.

Karena kelelahan si Bodoh tertidur nyenyak sekali. Sehingga tidak disadarinya lagi yang terjadi. Waktu itulah si pemilik rumah menyampaikan niatnya pada istrinya. Bermusyawarahlah kedua suami istri itu. Lalu mereka menukar periuk si bodoh dengan periuk biasa. Keesokan harinya semua bangun dan keadaan seperti biasa dan tidak ada yang aneh. Si Bodoh pamit untuk kembali pulang kerumahnya. Sampailah si Bodoh di rumah orang tuanya kembali.

Si Bodoh menceritakan semua pengalamannya pada kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya gembira sebab mereka tahu kalau si Bodoh tidak pernah berbohong. Mereka memiliki uang banyak dan sekarang memiliki periuk ajaib. Suatu hari, mereka mencoba periuk ajaib menurut si Bodoh. Namun apa yang terjadi justru sebaliknya, periuk tidak dapat memenuhi permintaan mereka.

Sehingga kedua orang tua si Bodoh mulai curiga. Apakah si Bodoh sudah mulai bisa berbohong. Maka kembali si Bodoh diusir oleh kedua orang tuanya. Satu bungkus sagu yang lembut dan satu bungkus nasi keras diberikan ibu si Bodoh sebagai bekal. “Bodoh, kalau kau lapar, makan yang lembut terlebih dahulu dan setelah itu baru yang keras.” Pesan ibu si Bodoh sama seperti beberapa waktu lalu.

Sekarang si Bodoh tiba lagi di gua dimana dia istirahat beberapa hari yang lalu. Di dalam gua sambil melepas lelah si Bodoh terus berkata demikian. Raksasa suami istri kembali salah paham. Keduanya ketakutan mendengar kata-kata si Bodoh. Mereka tidak habis pikir mengapa si anak manusia itu ingin makan anak mereka terlebih dahulu. Raksasa laki-laki keluar dari dalam gua dan berkata pada si Bodoh.

“Jangan kau makan anakku. Ini aku beri kau sebuah tajak sakti untuk bertani. Sekali kau ayunkan maka bersilah seluruh ladang, pergilah.” Kata Raksasa itu. Si Bodoh menerima tajak sakti itu. Dia kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Seperti beberapa hari yang lalu dia akhirnya sampai di perkampungan warga dimana dia menginap. Karena sudah kenal, maka dia menginap di rumah warga tempat dia menginap beberapa hari yang lalu.

Kembali si Bodoh menceritakan pengalamannya. Dari rumah sampai di dalam gua dan mendapat tajak sakti untuk bertani dari raksasa, lalu dia sampai kembali ke rumah warga itu. Kerenah kelelahan, si Bodoh tertidur dengan nyenyaknya. Kembali pemilik rumah tempat dia menginap menukar tajak sakti dengan tajak biasa. Si bodoh tidak tahu dan tidak curiga pada pemilik rumah. Si Bodoh kembali pulang ke rumah orang tuanya.

Setiba di rumah si Bodoh menceritakan juga tetang tajak sakti. Namun saat di gunakan tidak ada tanda-tanda keajaiban. Marahlah kedua orang tua si Bodoh. Mereka yakin kalau si Bodoh sudah menjadi pembohong. Kedua orang tuanya kembali mengusir si Bodoh. Sebelum pergi si Bodoh diberikan bekal. Sebungkus bekal dari sagu yang bungkus lembut, dan satu lagi sebungkus bekal yang keras (nasi).

Pergilah si Bodoh dari rumah orang tuanya. Waktu berlalu dan si Bodoh kembali beristirahat di gua dimana dia beristirahat beberapa hari yang lalu. Seperti biasa di sepanjang jalan dan saat istirahat di mulut gua si Bodoh mengulang-ulang pesan ibunya.

“Makan yang lembut dahulu, kemudian baru makan yang keras.” Kata-kata si Bodoh kembali terdengar oleh dua raksasa suami istri yang punya anak masih bayi. Mereka tetap salah paham pada si Bodoh. Mereka pikir si Bodoh benar-benar bernafsu ingin makan anak mereka. Keduanya gemetar mendengar si Bodoh datang lagi. Lalu keluarlah suami raksasa mendekat si Bodoh.

“Jangan kau makan anakku, ini aku berikan kau tongkat sakti. Tongkat ini dapat memukul orang yang suka menipu orang. Bertambah ganas kalau yang di tipu orang itu adalah orang yang baik dan jujur, Pergilah.” Kata raksasa laki-laki itu. Si Bodoh pergi dan berjalan menyusuri jalan yang sudah dia lalui seperti biasa. Kembali tiba di kampung warga dimana dia bermalam, lalu menginap di rumah warga yang dia menginap beberapa hari lalu.

Sebelum tidur, kembali si Bodoh menceritakan pengalaman hari itu. Dari rumah sampai ke gua dan sampai ke rumah warga itu. Di gua dia diberikan raksasa tongkat ajaib. Kegunaan tongkat itu, untuk memukul orang yang suka menipu terutama dia menipu orang baik. Mendengar cerita itu, pemilik rumah menjadi gembira. Kembali dia punya niat menukar tongkat ajaib si Bodoh dengan tongkat biasa. Malam tiba, si Bodoh tidur nyenyak dan pemilik rumah bersama istrinya menukar tongkat si bodoh.

Walau sudah diceritakan si Bodoh tentang kegunaan tongkat itu, dapat memukul orang yang suka menipu. Tapi sepasang suami istri itu masih saja menukar tongkat itu. Kemudian benar apa kata si Bodoh. Setelah menukar tongkat ajaib si Bodoh dengan tongkat biasa. Tongkat itu bergerak sendiri lalu memukul sepasang suami istri itu tanpa ampun. Sehingga sekujur tubuh suami istri itu menjadi biru-biru bekas pukulan tongkat ajaib milik si Bodoh.

Tongkat itu baru berhenti memukuli sepasang suami istri pemilik rumah tempat si Bodoh menginap setelah mereka berniat mengembalikan periuk ajaib dan tajak sakti milik si Bodoh sebelumnya yang telah mereka tukar di malam hari. Keduanya pun meminta maaf pada si Bodoh. Tentu saja si Bodoh memaafkan orang yang telah menerimanya bertamu. Kembali si Bodoh pulang ke rumah orang tuanya.

Keajaiban terjadi dari benda-benda sakti milik si Bodoh. Uang yang banyak, periuk ajaib, tajak sakti, membuat kehidupan keluarga si Bodoh menjadi enak dan senang. Itulah kisah si Bodoh yang jujur dan selalu mengikuti perintah orang tuanya.

Rewrite. Tim Apero Fublic.
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 22 November 2020.
Sumber: Mastur, lahir di Hinai Kanan tahun 1920. Berbahasa Melayu. Masindan, Dkk. Sastra Lisan Melayu Langkat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987.

Sy. Apero Fublic

11/19/2020

Sejarah Kebudayaan: Cerita Empat Datuk dan Kejuruan

Apero Fublic.- Pada zaman dahulu sebelum berdirinya Kesultanan Langkat. Yang memerintah daerah kawasan Langkat adalah empat orang datuk, yang dikenal dengan istilah Datuk Empat Suku. Pertama Datuk Padang Tualang bernama O.K. Taat. Kedua Datuk Cempa yang bernama Datuk Sebiji. Ketiga Datu Terusan yang bernama Datuk Hakim, dan keempat Datuk Hinai yang juga dipanggil Datuk Hinai.

Mereka berempat diangkat menjadi pemimpin karena mempunyai pengaruh ditengah masyarakat. Mereka dinamakan Datu Empat Suku karena memimpin di empat daerah. Nama suku adalah nama daerah secara tradisional. Dari empat daerah yang dipimpin empat datuk bersatu menjadi satu daerah. Semuanya adalah orang Melayu. Tiap anak empat datuk tersebut apabila memiliki anak laki-laki di gelari, Orang Kaya. Kalau anak perempuan mereka digelari Encik atau Cik.

Selain Empat Datuk ada juga kawasan yang lebih kecil, yaitu kejuruan seperti Kejuruan Bahorok, Selesai, dan Stabat. Secara hukum posisi Empat Datuk lebih tinggi dari pemimpin Kejuruan. Kejuruan pada awalnya berdiri sendiri-sendiri. Memiliki raja-raja yang memimpin setiap kejuruan. Akan tetapi kemana kekuasaan mereka akan tunduk, tidak tahu. Akan tetapi kawasan mereka adalah wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh.

Atas gagasan salah seorang keluarga Datuk Empat Suku. Mereka semua mengakui sultan sebagai rajanya. Yang kebetulan waktu itu, Sultan Musa adalah keturunan Raja Benuang. Permusyawaratan ini dilakukan karena Datuk Empat Suku suka berselisi satu sama lain karena hal-hal kecil. Itulah sebabnya Abang dari Datuk Padang Tualang bernama Datuk Abdullah meminta Datuk Empat Suku berdamai saja.

“Kita berdamai satu sama lain, kemudian kita akui sultan sebagai pemimpin kita.” Dalam musyawara mereka. Hal yang dikhawatirkan Datuk Abdullah adalah apabila empat datuk yang selalu berselisi tersebut terus membesar. Akan terjadi perang saudara dan kehidupan rakyat tidak tentram. Sehingga untuk kedamaian dan persaudaraan keempat datuk mengakui sultan sebagai pemimpin tertinggi mereka.

Sultan Musa adalah sultan yang hebat. Dia memiliki daerah taklukkan yang banyak. Selain itu, sultan juga taat beragama sehingga agama Islam disebarluaskannya. Sultan kemudian menikah dengan seorang saudara perempuan Datuk Dewa bernama, Maryam. Walau Datuk Empat Suku mengakui sultan sebagai pemimpin tertinggi. Namun banyak kejuruan yang tidak mau mengakui sultan sebagai bagian dari kesultanan. Sehingga kejuruan satu sama lain sering terjadi peperangan-peperangan.

Kesultanan Aceh meluaskan kekuasaannya dan sampai ke Langkat. Sultan Musa tidak mau tunduk pada kesultanan Aceh. Sultan Musa lebih suka pada Kesultanan Siak. Sehingga Kesultanan Langkat masuk kedalam bagian Kesultanan Siak. Aceh tetap berusaha menundukkan Langkat. Kemudian Sultan Musa meminta bantuan kepada Belanda. Maka ditandatanganilah perjanjian dengan Belanda.

Belanda tidak mau melakukan perjanjian dengan Kesultanan Langkat. Apabila Datuk Empat Suku tidak setuju. Kalau mereka tidak setuju maka perjanjian dibatalkan. Selain itu, Datuk Empat Suku juga berperan siapa yang menjadi pengganti sultan. Yang disetujui oleh Datuk Empat Suku maka dialah yang menjadi sultan.

Jika tidak, maka Belanda membatalkannya. Jelas sudah, apa yang dikerjakan sultan harus mendapat izin dari Datuk Empat Suku. Setelah keempatnya setuju barulah sultan melaksanakannya. Itulah sedikit cerita tentang Datuk Empat Suku yang dahulu besar kekuasaannya di daerah Langkat. Sekarang Langkat adalah sebuah Kabupaten di Provinsi Sumatera Utara beribukota di Stabat.

Dalam hal ini, dapat kita pelajari bahwa sistem pemerintahan lokal sama halnya dengan sistem pemerintahan lokal di tempat lain di Indoensia. Gelar Datuk juga dapat di pahami seperti halnya dengan gelar, Puyang di Sumatera Selatan, Daeng, Teuku, Kiai yang berfungsi sebagai pimpinan lokal tradisional.

Rewrite. Tim Apero Fublic.
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 20 November 2020.
Sumber: Informan O.K. Yusuf, lahir di Padang Tualang, 1922, beragama Islam, Berbahasa Melayu. Masindan, Dkk. Sastra Lisan Melayu Langkat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987.


Sy. Apero Fublic.

MENGENAL: Museum Negeri Sumatera Selatan (MNSS)

Apero Fublic.- Museum Negeri Sumatera Selatan (MNSS) adalah sebuah museum milik Pemerintah yang dikelolah oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Sebelum otonomi daerah MNSS langsung dibawah naungan Direktorat Jendral Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tahun 1990 MNSS ditetapkan sebagai museum umum.

Museum Negeri Sumatera Selatan kemudian diberikan nama Museum Balaputra Dewa. Sesuai SK Mentri Pendidikan dan Kebudayaan NO. 0233/0/1990 tanggal 14 April 1990. Penamaan tersebut diambil dengan alasan bahwa, pada masa Pemerintahan Balaputra Dewa Kedatuan Sriwijaya mencapai zaman keemasannya. Sehingga Museum Negeri Sumatera Selatan lebih dikenal masyarakat dengan nama Museum Balaputra Dewa.

MNSS dibangun tahun 1977 dan selesai tahun 1983. MNSS dibentuk melalui surat keputusan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 0177/0/1984, tanggal 17 April 1984. MNSS diresmikan pada tanggal 5 November 1984 oleh Direktur Jendral Kebudayaan, Prof. Dr. Haryati Soebadio.

Memasuki masa Otonomi Daerah pada tahun 2001, kemudian berlakunya Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. Museum Negeri Sumatera Selatan pengelolaannya diserahkan kepada Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Selatan.

Museum Negeri Sumatera Selatan (MNSS) memiliki luas 23.565 meter persegi. Dengan koleksi mencapai 7.054 buah sampai dengan tahun 2020. MNSS memiliki infrasturktur diantaranya Gedung Pameran Tetap, I,II, dan III. Pameran Tetap I bertema Lintasan Sejarah Sumatera Selatan dari Pra Sriwijaya hingga sekitar kemerdekaan Indonesia. Pameran Tetap II bertema Kerajinan Tradisional Sumatera Selatan

Selain itu, terdapat fasilitas lain, yakni gedung pameran temporer, gedung auditorium, gedung perkantoran, laboratorium koleksi museum, gudang penyimpanan koleksi, bengkel penyajian koleksi, perpustakaan, ruang audivisual, rumah dinas kepala Museum, rumah dinas penjaga museum, musala, rumah limas dan benda pendukung lainnya.

Museum Balaputra Dewa atau Museum Negeri Sumatera Selatan beralamat di Jalan Srijaya 1, No 288, Kilometer 5, Kota Palembang, Sumatera Selatan. Jam buka dari Selasa sampai Kamis dari pukul 08:00 – 16:00 WIB. Untuk hari Sabtu dan Minggu buka dari pukul 09:00-15:00 WIB.

Bagi Anda yang belum tahu, untuk libur museum adalah hari Senin dan hari libur Nasional. Untuk tiket masuk murah sekali, seribu rupiah untuk kategori anak-anak. Dua ribu rupiah untuk kategori dewasa. Mari berkunjung ke museum Balaputra Dewa. Jelajahi wisata edukasi dan imejinasi.

Oleh. Rika Julianti
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra
Palembang, 20 November 2020.

Sy. Apero Fublic.

HIKAYAT SI PANDIR VERSI LANGKAT

Apero Fublic.- Di kawasan Melayu Nusantara ada hikayat yang lucu. Cerita ini, memiliki bermacam versi menyesuaikan keadaan bahasa dan budaya setempat. Seperti di daerah Melayu Sumatera Selatan, nama hikayat si Pandir dikenal si Pando. Versi cerita ini, dari masyarakat Langkat, Sumatera Utara.

Cerita si Pandir berkembang dengan sendirinya di tengah masyarakat. Kemungkinan, hikayat si Pandir terinspirasi dari cerita Abu Nawas dari Baghdad. Pandir bermakna bodoh, dungu, atau tolol. Tapi orang pandir lebih bodoh lagi dari orang bodoh. Orang bodoh masih dapat diajarkan. Tapi orang pandir sangat sulit diajarkan.

Di sebuah perkampungan orang Melayu, tinggallah satu keluarga. Sepasang suami istri tersebut memiliki seorang anak, bernama Pandir. Oleh karena itu, ayah si Pandir di panggil Pak Pandir yang bermakna ayah Pandir. Sedangkan ibu si Pandir dipanggil Mak Pandir. Mereka tinggal di gubuk kecil sederhana. Pak Pandir sangat malas bekerja. Pekerjaannya hanya tidur saja, dan bangun makan. Setelah makan dia tidur, bangun tidur dia makan.

Walau seorang petani Pak Pandir tidak memiliki lahan bertani yang luas. Tanamannya tidak teratur dan seadanya. Selain itu, pak Pandir juga hanya mengikuti tanaman apa yang orang tanam. Orang menanam padi, dia menanam padi, orang menanam sayuran dia juga menanam sayuran. Namun yang berbeda adalah kerapian dan keteraturan tanaman berbeda.

Setiap pagi istrinya menyiapkan makan pagi, sedikit nasi, sedikit sayur, dan sambal asam durian atau tempoyak. Masakan sang istri terasa begitu enak di lidah Pak Pandir. Pak Pandir bertanya sambal apa yang istrinya buat seenak itu.”Istriku, sambal apa yang kau buat enak sekali.” Tanya Pak Pandir. Mak Pandir bermaksud bercanda dengan sumainya.

“Itu sambal saya kasih kotoran anak kita.” Karena warna asam durian atau tempoyak memang kuning. Pak Pandir percaya apa yang istrinya katakan. Setelah makan dan merokok Pak Pandir pergi ke ladangnya. Namun semua pekerjaan Pak Pandir di ladang tidak pernah selesai. Sebab Pak Pandir apabila datang ke ladang lebih banyak tidur dari bekerja.

“Bergantianlah kita ke ladang, aku tengok pekerjaanmu tidak pernah selesai. Sedangkan ladang kita tidak seluas ladang orang-orang. Sekarang biarlah aku yang pergi ke ladang. Jaga Pandir dan jangan lupa mandikan dia. Jangan lupa lepaskan ayam-ayam kita, dan sore masukkan kandang kembali. Tidak sabar aku melihat pekerjaanmu yang tidak selesai-selesai.” Kata istrinya, Mak Pandir. Hari itu, mereka bergantian tugasnya. Pak Pandir di rumah mengerjakan pekerjaan istrinya, seperti memasak, mencuci dan mengurus rumah dan mengurus anak mereka si Pandir. “Baiklah.” Jawab Pak Pandir.

Mak Pandir berangkatlah ke ladang mereka. Setelah tengah hari Mak Pandir pulang, sebab lupa membawa bekal makan siang. Setiba di rumah mereka, istri Pak Pandir melihat makanan sudah tersedia, sayuran, nasi dan sambal petai. Sambal petai di campur dengan asam durian atau tempoyak. Saat istri Pak Pandir mencicipi sambal petai yang dicampur tempoyak atau asam durian. Rasanya aneh dan berbeda dari apa yang dia masak selama ini.

“Pak Pandir, mengapa sambal ini rasanya aneh dan pahit.” Tanya Mak Pandir.

“Kemarin saat aku bertanya, kau bilang sambal yang enak itu kau buat dari kotoran anak kita. Kemudian aku pencet perut anak kita sampai keluar kotorannya.” Jawab Pak Pandir dengan tenang. Bukan main marahnya Mak Pandir, dia berkata demikian hanyalah bercanda, mana ada masakan diberi kotoran manusia. Kemudian dia berlari ke kamar melihat anak mereka. Dilihat anak mereka si Pandir sudah tidak bernyawa lagi.

Betapa sedih hatinya mendapati anaknya sudah meninggal. “Karena anak kita sudah meninggal, maka panggilah lebai, untuk mengurus jenazah anak kita. Cirinya orang yang sering bersorban putih.” Kata Mak Pandir. Pak Pandir pergi mencari lebai. Ternyata Pak Pandir tidak tahu kalau Lebai itu tokoh agama.

Kemudian Pak Pandir pergi mencari lebai yang dikatakan istrinya. Dia pergi tergesah-gesah untuk menemukan lebai yang bersorban putih. Pak Pandir menjumpai pohon lempuyang yang diatasnya terdapat banyak burung berkepala putih, bernama Burung Banda Putih. Dengan usaha yang keras Pak Pandir dapat menangkap satu ekor burung.

Setiba di depan rumah, dia mengucap salam. “Assalamualaikum.” Istrinya menjawab dari dalam dan membuka pintu. Pak Pandir meminta istrinyu menutup jendela dan pintu. Dia berkata kalau lebai yang dia bawa liar dan dapat terbang. Setelah dilihat Mak Pandir, ternyata lebai yang Pak Pandir maksud adalah Burung Banda Putih. Betapa mendidih darah Mak Pandir, dan dia marah besar. Tidak seberapa lama kemudian lebai atau penghulu datang melayat dan mengurus jenazah anak mereka.

“Betul-betul kau ini, Pandir. Ahhhh...Sudahlah!!!. Hari sudah sore, segerahlah cari makanan rumput.” Kata istri Pak Pandir dengan amarah tinggi. Maksud istrinya adalah pakan, makanan kambing yaitu rumput. Pak Pandir dengan tergesah-gesah pergi takut istrinya sudah marah besar. Pak Pandir juga kesal sebab semua yang dia kerjakan salah. Padahal dia sudah menurut apa yang istrinya katakan.

Pak Pandir berjalan cepat, dia berpikir manan rumput. Beberapa saat kemudian dia berjumpa dengan sebuah ladang. Dia melihat bagaimana terampilnya orang itu menggunakan alatnya membabat rumput. Dalam pikiran Pak Pandir yang ditangan orang itulah makanan rumput. Sebab habis sudah rumput-rumput itu dibabat. Pak Pandir menghampiri orang itu.

“Bang ulung-Bang Ulung, bolehkan aku meminta alat di tanganmu itu.” Ujar Pandir dengan memelas.

“Lahh, sabit ini untuk pekerjaan saya membersihkan ladang. Bagaimana kalau kau beli saja pada tukang empu.” Jawab orang itu.

“Tolonglah kasihani aku, anakkku meninggal dan aku diminta instriku mencari apa yang ditanganmu, paman.” Kata Pak Pandir. Bang Ulung merasa kasihan dan dia memberikan sabit ditangannya. Dia pulang dan akan membeli lagi alat pertaniannya di pasar. Sesampai dirumah Pak Pandir memberikan sabit pada istrinya. Pak Pandir membawa sabit dengan mengikat dan menyeret. Sehingga sepanjang jalan terdengar suara klentang klentong sabit berbenturan dengan benda-benda di jalanan.

Pak Pandir sampai di rumah, dia mengucap salam dan istrinya membuka pintu. Pak Pandir memberikan sabit pada istrinya. Dia menjelaskan kalau sudah mendapatkan makanan rumput. Alat itu, menurut si pandir sangat pandai makan rumput. Dia melihatnya sendiri tadi diladang  Bang Ulung. “ Ya, Allah. Maksud aku, rumput untuk makanan kambing. Apa lagi yang makanannya rumput kalau bukan kambing kita.” Kata istrinya, sambil menangis kesal.

Mendengar meninggalnya anak Pak Pandir, lebai datang dengan segerah kerumah Pak Pandir. Lebai dibantu warga mengurus jenazah anak Pak Pandir. Setelah di solatkan dan dikafani, jenaza sudah siap dikuburkan. Pak Pandir diminta untuk mencari upih pelepa pinang. Upih pinang untuk membungkus jenaza anaknya, karena masih kecil tidak perlu menggunakan tikar.

Pak Pandir pikir upih untuk menarik jenaza anaknya sebagaimana anak-anak bermain. Anaknya juga masih kecil, pantas kalau ditarik dengan upih pinang. Setelah mendapat upih pinang Pak Pandir langsung saja meletakkan jenaza anaknya di dalam upih pinang. Lalu dia tarik menuju lobang kubur yang sudah digali warga. Pak Pandir juga yakin pekerjaannya sudah benar dan istrinya akan senang.

Saat sampai di lobang kuburnya yang sudah digali. Ternyata jenaza anaknya terjatuh di jalan. Tapi Pak Pandir kemudian menguburkan upih pinang saja. Lalu dia pulang dan melapor pada istrinya kalau sudah menguburkan jenaza anaknya. Dia menceritakan saat pulang dia menemukan ada orang membuang jenaza ankanya. Istri Pak Pandir curiga dan dia mencarinya. Ternyata itu, adalah jenazah anak mereka.

Lalu dia membawa ke kuburan dan warga datang kembali untuk membantu menguburkan anak mereka. Semua warga menggeleng-geleng mengetahui kebodohan Pak Pandir dan ditambah berpikir pendek. Padahal jenaza anak mereka siap ditandu warga setelah mendapatkan upih, tapi pak pandir membawa sendiri dengan upih pinang. Capek dehhhhh. Itulah kata warga di Kampung Pak Pandir.

Rewrite. Tim Apero Fublic
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 19 November 2020.
Sumber: T. Rahman, lahir di Binjai tahun 1920, berbahasa Melayu dan beragama Islam. Masindan, Dkk. Sastra Lisan Melayu Langkat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987.

Sy. Apero Fublic 

11/17/2020

Hikayat: si Minah Anak Yatim

Apero Fublic.- Si Minah adalah seorang anak yatim. Sewaktu kecil, ayahnya meninggal dunia entah kenapa. Minah dibesarkan oleh ibunya, tinggal di sebuah gubuk kecil terletak tidak jauh dari tebing sungai. Di seberang sungai, di depan gubuk si Minah.

Tinggallah kakak ayahnya yang perempuan. Juga mempunyai seorang anak gadis bernama, Merah. Uwa si Minah orang kaya namun sangat kikir dan pelit sekali. Untuk makan bersama ibunya, Minah memetik pakis di hutan. Sambil memetik pakis Minah suka bernyanyi-nyanyi.

Klepak, klepuk Mak.
Mak, patahi paku.
Ada asamnya, garamnnya tiada.
Ada garamnnya, asamnya tiada
.”

Begitulah pekerjaan si Minah setiap harinya. Setelah diperoleh pakis seikat besar, lalu dibawa pulang dan direbusnya. Kadang direbus dengan ditambahi garam. Sering juga direbus dibumbuhi asam. Setelah masak, pakis mereka makan. Pada suatu hari saat sedang memetik pakis dihutan untuk makan. Bertemulah si Minah dengan seekor ular lidi yang berada di dahan pohon kecil. Ular lidi itu kemudian berkata pada Minah.

“Kak Minah, Kak Minah, belakangmu penyet.” Ujar ular lidi tersebut. Lalu Aminah menjawab dengan tenang perkataan ular lidi itu. “Birlah belakangku penyet, aku ini memang orang miskin.” Aminah tidak memperdulikan ular lidi itu, dia melanjutkan memetik pakis. Setelah dirasakan cukup Aminah pulang.

Suatu hari bertanyalah Minah pada ibunya. “Umak, bagaimana rasa nasi. Tidak pernah kita memakannya.” Ibu Minah kemudian menjawab. “Cobalah kau minta pada Uwa-mu di seberang sana. Kalau engkau mau, mintalah. Akan tetapi apabila kau tidak diberinya, jangan menyesal.”

“Baiklah, biarlah aku coba.” Jawab Aminah, lalu dia melanjutkan. “Minta tolong pada saudara ayah, sekali-sekali, apa salahnya.”

Kemudian Minah pergi ketepian, dimana tertambat sampan milik mereka. Minah mendayung keseberang mendekati tepian saudara tua ayahnya. Setelah sampai dan menambatkan sampannya, Aminah menujuh rumah Uwanya. “Mau apa kau Aminah?.” Tanya Uwanya dengan nada tidak suka atas kedatangan Minah. “Ingin sekali Minah makan nasi, bagaimana rasanya. Minah mau pinjam beras Uwa satu Tim.” Jawab Minah.

“Ah, bagaimana kau akan membayarnya. Tidak ada harta sedikit pun yang kau miliki.” Jawab Uwa Minah. “Siapa tahu Uwa, mungkin ada rezeki suatu saat nanti.” Jawab Minah. “Ahh, tidak bisa meminjam. Lalu dia melanjutkan kata-katanya. “Tapi, apakah kau sanggup mencari kutuku sampai habis. Sampai tidak ada satu ekorpun  yang tertinggal. Setelah itu, kau aku beri padi satu Tim kepadamu.” Minah menjawab. “Itu pun jadilah, Wak.”

Keesokan paginya Aminah mulai mencari kutu Uwanya. Dari pagi sampai siang tak berhenti. Bukan hanya kutu, telur kutu pun dia ambil semua. Sampai tidak ada satupun kutu dan telur kutu lagi di rambut sang Uwa. “Sudah Wak, tidak ada lagi.” Kata Minah. “Ya sudah, kalau katamu sudah. Bawalah padi satu tim ini pulang.” Jawab Uwa Minah.

Aminah pulang dengan gembira sekali. Terbayang dia akan merasakan apa rasanya nasi. Mendayung sampannya, dan tibalah dia di tepian mandi mereka, sampan ditambatkan. Agar mudah menumbuk padi di lesung menjadi beras, maka padi dijemur terlebih dahulu. Digelarlah wadah penjemur padi, teran. Di tengah sungai tampak Uwa Minah mendayung sampan menuju tepian Minah.

Sesampainya, Uwa menghampiri Minah. “Minah, kau berbohong padaku. Ternyata masih ada satu ekor kutu di rambutku. Kau tahu, apa artinya ini.” Kata Uwa Minah dengan penuh amarah. “Berikan lagi padiku.” Tanpa banyak bicara, Uwa Minah menggulung teran wadah penjemur padi, beserta padi didalamnya. Lalu dia membawa pulang lagi padi yang sudah dia berikan pada keponakannya, Minah.

Minah hanya terdiam dan melihat saja. Ibu Minah hanya menyaksikan dari pintu gubuk mereka.  Minah begitu sedih dan mengadulah dia pada ibunya. “Umak, tidak ada rezeki kita pada padi itu.” Ibu Aminah membelai rambut anak gadisnya yang beranjak remaja. “Begitulah nasib orang miskin. Nasib rakyat jelata dan orang lemah.” Kata ibu Minah.

Keesokan harinya, kembali Minah memetik pakis seperti biasa. Sambil memetik pakis dia bernyanyi-nyanyi seperti biasa. Tanpa sengaja, Minah bertemu kembali dengan ular lidi yang sering mengganggunya. Kembali ular lidi itu berkata. “Kak Minah, Kak Minah, belakangmu penyet.” Minah menjawab dengan biasa. Dia tidak tersinggung atas ejekan ular lidi itu. “Biarlah, saya orang miskin.”

“Kalau miskin, Kak Minah ambillah aku.” Kata ular lidi itu, meminta dirinya diambil oleh Minah. Beberapa hari telah berlalu, setiap hari ular lidi meminta dirinya diambil oleh Minah. Tapi tidak diperdulikan oleh Minah. Sepulang dari memetik daun pakis di hutan. Minah duduk di dalam gubuknya bersama ibunya seraya berbincang-bincang. Minah melepas takuluknya yang lapuk tetapi menutupi rambutnya dengan baik.

Minah menggaruk-garuk kepalanya, dan dia menemukan sebuah butiran. Saat dia mengambil dan melihat ternyata sebutir buah padi. Entah bagaimana sebutir padi dapat menempel di rambutnya. Minah ingat waktu menjemur dia pernah menggaruk-garuk kepalanya beberapa kali. Mungkin saja butir padi menempel di tangannya yang berkeringat. Lalu saat dia menggaruk kepala, butir itu menyangkut di rambunya. “Umak, ini butir buah padi, sebutir menempel di rambutku. Kita apakan butir padi ini. Apa kita kembalikan pada Uwa saja.” Ujar si Minah.

“Ah, tidak usah. Masak sebutir saja dijadikan perhitungan oleh Uwa-Mu. Lagian untuk apa sebutir padi, berpiring-piring nasi saja sering dibuang Uwa-mu. Katanya kamu mau merasakan apa rasanya nasi. Kau masukkan saja sebutir padi itu kedalam kuali panas. Nanti kulitnya akan membuka, dan makanlah oleh mu.” Kata ibu Minah.

Minah meletakkan kuali di atas tungku api mereka. Setelah agak panas Minah memasukkan sebutir buah padi itu. Karena Minah ingin sekali merasakan apa rasanya nasi. Dalam pikiran mereka butir padi itu hanya akan meletus kecil seperti biji buah jagung. Kemudian meletuslah butir padi itu sebesar buah kelapa, ajaib. Betapa gembira Aminah dan ibunya. Mereka telah dianugerahi rezeki dari Allah SWT. Maknlah Minah dan ibunya dengan kenyang dan puas.

Keesokan harinya, seperti biasa Minah pergi ke hutan disekitar kampung mereka. Dia mencari daun pakis seperti biasa untuk makan mereka setiap hari. Tanpa diduga, kembali Minah bertemu ular lidi yang selalu mengganggunya, mengejeknya punggungnya penyet karena kurang makan. Kembali ular lidi itu meminta agar dirinya juga diambil dan dibawa pulang oleh Minah. Karena dimintai setiap hari, Minah menjadi kesal dan marah pada ular lidi itu. Minah kemudian memasukkan ular lidi itu kedalam bakul wadah daun pakis hutan yang dibawanya.

Sesampai di rumah, seraya merebus daun pakis untuk makan mereka. Minah menceritakan tentang ular lidi yang dia bawa itu. Ibu Minah tidak ambil pusing dan biasa saja. Sebab ular lidi tidak berbisa dan tidak menakutkan. Ukuran ular lidi beberapa kali lebih besar dari cicak. Ular lidi tampak diam, kadang berjalan di dinding gubuk atau di lantai tanah gubuk mereka.

Malan pun tiba, suasana gelap gulita di gubuk Minah dan Ibunya. Keduanya tidak memiliki lampu penerangan sebagaimana Uwa Minah di seberang, atau warga kampung yang lain. Maka, memasuki malam Minah dan Ibunya berbaring diatas tempat tidur yang terbuat dari bilah-bilah bambu. Mereka tertidur dengan nyenyak sekali.

Tanpa diketahui oleh Minah dan Ibunya. Ular lidi yang dibawa Minah pulang tampak menjulur-julur dan menggeliat-geliat. Lalu muncul asap membumbung dan memenuhi ruangan gubuk Minah. Kemudian, ular lidi berubah menjadi sosok seorang pemuda yang tampan dan berpakaian tenun songket yang indah. Dia seperti seorang pangeran Melayu yang gagah.

Keesokan harinya, terkejutlah Minah dan Ibunya. Si pemuda menceritakan kalau dia adalah ular lidi yang dibawa Minah kemarin siang. Dia adalah salah satu pangeran Sultan di tanah Melayu. Pangeran itu, kemudian melamar dan menikahi Minah. Minah menjadi menantu Sultan, merekapun hidup berkecukupan. Minah pun perlahan berubah, dia menjadi wanita cantik dan bersih. Hiduplah Minah dengan penuh kebahagiaan, bersama ibu, suami dan anak-anaknya.

Oleh. Tim Apero Fublic.
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 18 November 2020.
Sumber: Baktiar, lahir di Stabat tahun 1924, seorang Pegawai Negeri Sipil, berbahasa Melayu. Masindan, Dkk. Sastra Lisan Melayu Langkat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987.

Sy. Apero Fublic.

KAMPUNG OLAHRAGA: Gajah Mati Club Berlaga ke Musi Rawas.

Apero Fublic.- Kampung Olahraga. Kembali informasi olahraga masyarakat datang dari GMC (Gajah Mati Club). Kampung Olahraga adalah julukan untuk Desa Gajah Mati, Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Baru-baru ini telah mengikuti pertandingan persahabatan di Kabupaten Tetangga.

Pertandingan persahabatan berlangsung pada 14 November 2020.  Lokasi pertandingan di Desa Sungai Pinang, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan. Tim GMC yang selalu kompak bertanding dengan semangat yang tinggi. Sehingga mereka selalu merasa bersemangat saat bermain. Yang lebih bersemangat sekali atas sambutan warga setempat yang hangat dan ramah. Sehingga membuat suasana bersahaja. Sehingga terikat tali persahabatan satu sama lain.

Dalam jalan pertandingan Tim Gajah Mati Club masuk empat besar. Kemudian dalam pertandingan selanjutnya. Tim GMC tetap semangat dan berusaha sebaik-baiknya. Namun, mereka dapat meraih juara pertama. Sehingga tidak masuk final, babak akhir. Saat dikonformasi salah seorang tim via whatsApp, tentang kekalahan mereka.

“Dalam pertandingan memang ada menang dan kalah. Kita berolahraga tujuannya bukan mencari kemenangan dalam bertanding. Kemenangan hanya bonus dari semangat kita, hal yang penting adalah silahtuhrahmi dengan sahabat-sahabat di Musi Rawas. Mendapat pengalaman bermain dengan rekan-rekan yang hebat sehingga tim kita dapat pelajaran berharga,” Ujar Tahir, salah satu anggota Tim GMC.

Tim GMC sangat dewasa menyikapi tentang olahraga. Mereka tidak mempermasalahakan skor pertandingan. Yang terpenting olahraha dan silahtuhrahmi. Tidak malu mengakui kekurangan sendiri dan berbangga atas kelebihan sahabat-sahabatnya. Tidak menyalahkan siapa pun saat kalah bermain. Suatu contoh sikap anak muda yang patut ditiru oleh semua pemuda, bersifat kesatria. 

Apa pesan buat rekan-rekan penggemar bola voli di Musi Rawas?. “Buat semua rekan-rekan dan warga, terkhusus warga Desa Sungai Pinang terimakasih atas kebaikan sambutannya. Semoga dilain kesempatan kita dapat bermain kembali, silahtuhrahmi lagi. Kapan-kapan, buat rekan-rekan di Sungai Pinang datanglah bermain ke Kampung Olahraga, bermain voli dan silahtuhrahmi,” jawab Tahir.

Oleh. Padli, S.Pd.
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Musi Banyuasin, 17 November 2020.


Sy. Apero Fublic.

PEKAN ADAT SUMATERA SELATAN: Kenalkan Aksara Kuno Sumatera Selatan

Beberapa anak-anak yang mulai mengenal aksara kuno Sumatera Selatan
Apero Fublic.- Palembang. Penyelenggaraan Pekan Adat Sumatera Selatan bertujuan untuk mengenalkan, melestarikan, dan mengembangkan budaya-budaya yang dimiliki masyaraat Melayu di Sumatera Selatan. Baik itu berupa warisan kebudayaan atau budaya yang masih dipergunakan.

Pada pekan adat, berlokasi di taman Bukit Siguntang Kota Palembang. Diselenggarakan acara-acara, yaitu Rembuk Adat, Pergelaran Tradisi Lisan, Lomba Lukis, Karnaval Busana Adat, Lomba Permainan Rakyat, Lomba Musikalisasi Puisi, Demo Lukis dan lainnya. Salah satu acara yang menarik adalah Pengenalan aksara kuno Sumatera Selatan, yaitu Aksara Ulu, aksara Arab Melayu, dan Aksara Pallawa.

Berkesempatan hadir dalam agenda pengenalan aksara kuno Sumatera Selatan. Diantaranya Bapak Dr. Wahyu Rizki. A, S.S., M.M, sebagai nara sumber Narasumber Aksara Pallawa. Aksara Pallawa adalah aksara yang digunakan pada masa Nusantara dipengaruhi oleh kebudayaan India.

Hadir juga Ibu Dr. Nyimas Umi Kalsum, M. Hum, sebagai narasumber Aksara Arab Melayu. Beliau memang terkenal sebagai ahli ilmu filologi di Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Fakultas Adab dan Humaniora.

Untuk Narasumber Aksara Ulu seorang Mahasiswa Starta Dua di UIN Raden Fatah Palembang, Nuzulur Ramadhona, S. Hum. Pelatihan dan acara tersebut dilaksanakan pada tanggal 12 - 14 November 2020 yang berlokasi di Galeri Bukit Siguntang, Palembang.

Harapan besar diadakannya iven pengenalan aksara kuno Sumatera Selatan agar masyarakat Melayu Sumatera Selatan mengenali budaya bangsa. Semoga rakyat mencintai aksara kuno dan Pemerintah mau membuat nama-nama jalan, perkantoran Pemerintah dan sekolah-sekolah disandingkan dengan aksara kuno tersebut.

Oleh. Arip Muhtiar, S.Hum.
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 15 November 2020.

Sy. Apero Fublic.

11/16/2020

CARI MOBIL USAHA DAN MOBIL KELUARGA: KOYONG PADLI SOLUSINYA

Apero Fublic.- Siapa yang tidak kenal dengan dealer Thamrim Brother yang sudah memiliki cabang di seluruh Indonesia. Menyediaakan berbagai peroduk otomotif dari berbagai merek terenal. Sehingga memudahkan bagi masyarakat yang ingin memiliki mobil idaman.

Begitu juga di Kabupaten Musi Banyuasin dan sekitarnya. Anda tidak perlu repot dan merasa kesulitan dalam mencari kendaraan impian. Cukup hubungi Saudara Bapak Padli, S.Pd salah satu agen resmi dari dealer Thamrin Brother di Kota Sekayu. Tidak usaha khawatir, Anda dapat konsultasi gratis tentang informasi seputar otomotif atau membeli mobil.

Bapak Padli sudah sangat berpengalam dan terpercaya dalam melayani konsumen-konsumennya. Sehingga Anda akan merasa puas dalam membeli produk-produk otomotif melaluinya. Cukup hubungi melalui kontak handphone atau whatsApp: 085268664808.

Hubungi Padli Suzuki Sekayu: Dapatkan DP MURAH & Angsuran Ringan. Telpon langsung Koyong Kitek "Yong Padli" di 085268664808. Jual mobil usaha dan mobil keluarga.”

Oleh. Ahmad Reni Efita.
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra
Sekayu, 17 November 2020.

Catatan: Apero Fublic meluncurkan layanan jasa “Apero Popularity” suatu layanan yang mempopulerkan semua jenis bidang usaha: Populer Bisnis, Populer Produk, Populer Provesi, Populer Politik, Populer Promosi, dan lainnya. Keterangan lebih lanjut hubungi tim redaksi Apero Fublic melalui email fublicapero@gmail.com.

Sy. Apero Fublic.

11/15/2020

Pameran Bersama: Stand Komunitas Pecinta Sejarah UIN Raden Fatah Palembang

Apero Fublic.-  Kota Palembang. Tim Apero Fublic dalam meliput acara Pameran di Museum Negeri Sumatera Selatan, dengan tema “Sejarah dan Kebudayaan Sumatera Selatan. Pameran yang diikuti kurang lebih 28 peserta, 17 diantaranya dari komunitas. Acara dihadiri langsung oleh Gubernur Sumatera Selatan dan Sultan Mahmud Badaruddin IV.

Tim Apero Fublic menyempatkan mampir pada stand Pameran dari Program Studi Sejarah Peradaban Islam, Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Yang Memiliki koleksi-koleksi menarik yang dapat dijadikan edukasi visual bagi pengunjung.

Seperti replika bubu, merupakan alat tangkap ikan tradisional yang rama lingkungan. Suatu cara edukasi bagaimana masyarakat menangkap ikan dengan benar. Apalagi dizaman sekarang dengan banyaknya jenis pestisida, lalu digunakan penduduk meracuni sungai atau sumber air untuk menangkap ikan. Tentu sangat merugikan masyarakat serta merusak lingkungan ekosistem sungai dan danau. Bubu dibuat dari bila bambu dan berpenjalin terbuat dari jenis tumbuhan merambat (resam).

Kemudian koleksi menarik, tepak sirih. Tepak sirih adalah wadah untuk alat-alat makan sirih masyarakat Melayu. Tepak sirih juga digunakan sebagai simbol tatacara bermusyawarah, menghormati tamu, dan simbol adat istiadat. Sirih melambangkan persaudaraan, sebab zaman dahulu yang memakan sirih bukan hanya kaum wanita saja, tetapi juga kaum laki-laki.

Yang menarik lainnya adalah replika Surat Ulu. Media tulis surat ulu seperi bambu, tanduk dan kulit kayu dengan nama lokal Karas. Aksara ulu, menjadi tradisi tulis masyarakat Melayu Sumatera Selatan zaman dahulu.

Replika Cobek yang terbuat dari bambu dan kayu. Selain itu, ada replika lesung padi yang berbentuk persegi empat.

Namun apabila ingin merekonstruksi nilai budaya sebaiknya dibuat juga replika Lesung Padi yang bentuknya lebih tradisional. Lesung Padi yang sering dipakai masyarakt zaman lalu bentuknya berupa balok kayu sepanjang satu setengah meter. Pada bagian permukaan diratakan, ditengah dilobangi. Ujung kiri dan ujung kanan balok kayu bagian bawah ditipiskan. Kiri kanan yang memanjang juga berfungsi untuk mengangkat lesung.

Pembuatan lesung juga dibuat dengan kayu yang keras dan berat. Agar tahan lama dan saat menumbuk padi atau menumbuk lainnya tidak goyang. Penumbuk dengan alu biasanya dua orang agar cepat lebur. Kaki penumbuk biasanya diletakkan di atas sayap lesung sehingga lesung benar-benar mantap tidak bergerak.

Saat mampir adik-adik mahasiswa dan mahasiswi dari UIN Raden Fatah Palembang menyapa dengan ramah. Semuanya piawai menjelaskan fungsi dan kegunaan serta bahan-bahan pembuat koleksi mereka. Juga menjelaskan beragam koleksi lainnya. Ya, pada bidang sejarah dan kebudayaan memang keahlian mereka.

Berbincang-bincang pada penjaga stand Pameran Bersama. Apero Fublic menyinggung pakaian kuning mereka yang dipadukan dengan busana Melayu Sumatera Selatan. “Kami dari Komunitas Pencinta Sejarah, Kak. Pakain ini, adalah seragam dari Komunitas Kami.” Ujar Sherly Habso. Dia mahasiswi Jurusan Sejarah Peradaban Islam smester lima.

Banyak yang Kami tanyakan tentang koleksi mereka. Saat saya menunjuk gerabah berisi benda hitam. “Ini namanya Anglo, Kak. Berfungsi sebagai kompor atau pemanggang tradisonal berbahan bakar arang kayu, arang tempurung kelapa dan dapat juga dengan batu bara,” jelas Tio Andrianto, juga mahasiswa smester lima.

Kami merasa puas dengan keramahan adik-adik jurusan Sejarah Peradaban Islam. Memberikan banyak penjelasan dengan sabar dan ramah. Saat ini Komunitas Pecinta Sejarah diketuai oleh Surya Arief Wibowo dan pembimbing Bapak Kemas Rahman Panji, S.Pd. M.Pd.

Beberapa waktu kedepan komunitas ini juga bakal melaksanakan pemilihan Ketua dan Wakil Ketua untuk masa kepemimpinan 2020-2021. Semoga sukses terus Pecinta Sejarah, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Raden Fatah Palembang. Tim Apero Fublic kemudian melanjutkan melihat pameran yang lainnya.

Oleh. Rika Julianti
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 13 Novemer 2020.


Sy. Apero Fublic.