11/19/2020

HIKAYAT SI PANDIR VERSI LANGKAT

Apero Fublic.- Di kawasan Melayu Nusantara ada hikayat yang lucu. Cerita ini, memiliki bermacam versi menyesuaikan keadaan bahasa dan budaya setempat. Seperti di daerah Melayu Sumatera Selatan, nama hikayat si Pandir dikenal si Pando. Versi cerita ini, dari masyarakat Langkat, Sumatera Utara.

Cerita si Pandir berkembang dengan sendirinya di tengah masyarakat. Kemungkinan, hikayat si Pandir terinspirasi dari cerita Abu Nawas dari Baghdad. Pandir bermakna bodoh, dungu, atau tolol. Tapi orang pandir lebih bodoh lagi dari orang bodoh. Orang bodoh masih dapat diajarkan. Tapi orang pandir sangat sulit diajarkan.

Di sebuah perkampungan orang Melayu, tinggallah satu keluarga. Sepasang suami istri tersebut memiliki seorang anak, bernama Pandir. Oleh karena itu, ayah si Pandir di panggil Pak Pandir yang bermakna ayah Pandir. Sedangkan ibu si Pandir dipanggil Mak Pandir. Mereka tinggal di gubuk kecil sederhana. Pak Pandir sangat malas bekerja. Pekerjaannya hanya tidur saja, dan bangun makan. Setelah makan dia tidur, bangun tidur dia makan.

Walau seorang petani Pak Pandir tidak memiliki lahan bertani yang luas. Tanamannya tidak teratur dan seadanya. Selain itu, pak Pandir juga hanya mengikuti tanaman apa yang orang tanam. Orang menanam padi, dia menanam padi, orang menanam sayuran dia juga menanam sayuran. Namun yang berbeda adalah kerapian dan keteraturan tanaman berbeda.

Setiap pagi istrinya menyiapkan makan pagi, sedikit nasi, sedikit sayur, dan sambal asam durian atau tempoyak. Masakan sang istri terasa begitu enak di lidah Pak Pandir. Pak Pandir bertanya sambal apa yang istrinya buat seenak itu.”Istriku, sambal apa yang kau buat enak sekali.” Tanya Pak Pandir. Mak Pandir bermaksud bercanda dengan sumainya.

“Itu sambal saya kasih kotoran anak kita.” Karena warna asam durian atau tempoyak memang kuning. Pak Pandir percaya apa yang istrinya katakan. Setelah makan dan merokok Pak Pandir pergi ke ladangnya. Namun semua pekerjaan Pak Pandir di ladang tidak pernah selesai. Sebab Pak Pandir apabila datang ke ladang lebih banyak tidur dari bekerja.

“Bergantianlah kita ke ladang, aku tengok pekerjaanmu tidak pernah selesai. Sedangkan ladang kita tidak seluas ladang orang-orang. Sekarang biarlah aku yang pergi ke ladang. Jaga Pandir dan jangan lupa mandikan dia. Jangan lupa lepaskan ayam-ayam kita, dan sore masukkan kandang kembali. Tidak sabar aku melihat pekerjaanmu yang tidak selesai-selesai.” Kata istrinya, Mak Pandir. Hari itu, mereka bergantian tugasnya. Pak Pandir di rumah mengerjakan pekerjaan istrinya, seperti memasak, mencuci dan mengurus rumah dan mengurus anak mereka si Pandir. “Baiklah.” Jawab Pak Pandir.

Mak Pandir berangkatlah ke ladang mereka. Setelah tengah hari Mak Pandir pulang, sebab lupa membawa bekal makan siang. Setiba di rumah mereka, istri Pak Pandir melihat makanan sudah tersedia, sayuran, nasi dan sambal petai. Sambal petai di campur dengan asam durian atau tempoyak. Saat istri Pak Pandir mencicipi sambal petai yang dicampur tempoyak atau asam durian. Rasanya aneh dan berbeda dari apa yang dia masak selama ini.

“Pak Pandir, mengapa sambal ini rasanya aneh dan pahit.” Tanya Mak Pandir.

“Kemarin saat aku bertanya, kau bilang sambal yang enak itu kau buat dari kotoran anak kita. Kemudian aku pencet perut anak kita sampai keluar kotorannya.” Jawab Pak Pandir dengan tenang. Bukan main marahnya Mak Pandir, dia berkata demikian hanyalah bercanda, mana ada masakan diberi kotoran manusia. Kemudian dia berlari ke kamar melihat anak mereka. Dilihat anak mereka si Pandir sudah tidak bernyawa lagi.

Betapa sedih hatinya mendapati anaknya sudah meninggal. “Karena anak kita sudah meninggal, maka panggilah lebai, untuk mengurus jenazah anak kita. Cirinya orang yang sering bersorban putih.” Kata Mak Pandir. Pak Pandir pergi mencari lebai. Ternyata Pak Pandir tidak tahu kalau Lebai itu tokoh agama.

Kemudian Pak Pandir pergi mencari lebai yang dikatakan istrinya. Dia pergi tergesah-gesah untuk menemukan lebai yang bersorban putih. Pak Pandir menjumpai pohon lempuyang yang diatasnya terdapat banyak burung berkepala putih, bernama Burung Banda Putih. Dengan usaha yang keras Pak Pandir dapat menangkap satu ekor burung.

Setiba di depan rumah, dia mengucap salam. “Assalamualaikum.” Istrinya menjawab dari dalam dan membuka pintu. Pak Pandir meminta istrinyu menutup jendela dan pintu. Dia berkata kalau lebai yang dia bawa liar dan dapat terbang. Setelah dilihat Mak Pandir, ternyata lebai yang Pak Pandir maksud adalah Burung Banda Putih. Betapa mendidih darah Mak Pandir, dan dia marah besar. Tidak seberapa lama kemudian lebai atau penghulu datang melayat dan mengurus jenazah anak mereka.

“Betul-betul kau ini, Pandir. Ahhhh...Sudahlah!!!. Hari sudah sore, segerahlah cari makanan rumput.” Kata istri Pak Pandir dengan amarah tinggi. Maksud istrinya adalah pakan, makanan kambing yaitu rumput. Pak Pandir dengan tergesah-gesah pergi takut istrinya sudah marah besar. Pak Pandir juga kesal sebab semua yang dia kerjakan salah. Padahal dia sudah menurut apa yang istrinya katakan.

Pak Pandir berjalan cepat, dia berpikir manan rumput. Beberapa saat kemudian dia berjumpa dengan sebuah ladang. Dia melihat bagaimana terampilnya orang itu menggunakan alatnya membabat rumput. Dalam pikiran Pak Pandir yang ditangan orang itulah makanan rumput. Sebab habis sudah rumput-rumput itu dibabat. Pak Pandir menghampiri orang itu.

“Bang ulung-Bang Ulung, bolehkan aku meminta alat di tanganmu itu.” Ujar Pandir dengan memelas.

“Lahh, sabit ini untuk pekerjaan saya membersihkan ladang. Bagaimana kalau kau beli saja pada tukang empu.” Jawab orang itu.

“Tolonglah kasihani aku, anakkku meninggal dan aku diminta instriku mencari apa yang ditanganmu, paman.” Kata Pak Pandir. Bang Ulung merasa kasihan dan dia memberikan sabit ditangannya. Dia pulang dan akan membeli lagi alat pertaniannya di pasar. Sesampai dirumah Pak Pandir memberikan sabit pada istrinya. Pak Pandir membawa sabit dengan mengikat dan menyeret. Sehingga sepanjang jalan terdengar suara klentang klentong sabit berbenturan dengan benda-benda di jalanan.

Pak Pandir sampai di rumah, dia mengucap salam dan istrinya membuka pintu. Pak Pandir memberikan sabit pada istrinya. Dia menjelaskan kalau sudah mendapatkan makanan rumput. Alat itu, menurut si pandir sangat pandai makan rumput. Dia melihatnya sendiri tadi diladang  Bang Ulung. “ Ya, Allah. Maksud aku, rumput untuk makanan kambing. Apa lagi yang makanannya rumput kalau bukan kambing kita.” Kata istrinya, sambil menangis kesal.

Mendengar meninggalnya anak Pak Pandir, lebai datang dengan segerah kerumah Pak Pandir. Lebai dibantu warga mengurus jenazah anak Pak Pandir. Setelah di solatkan dan dikafani, jenaza sudah siap dikuburkan. Pak Pandir diminta untuk mencari upih pelepa pinang. Upih pinang untuk membungkus jenaza anaknya, karena masih kecil tidak perlu menggunakan tikar.

Pak Pandir pikir upih untuk menarik jenaza anaknya sebagaimana anak-anak bermain. Anaknya juga masih kecil, pantas kalau ditarik dengan upih pinang. Setelah mendapat upih pinang Pak Pandir langsung saja meletakkan jenaza anaknya di dalam upih pinang. Lalu dia tarik menuju lobang kubur yang sudah digali warga. Pak Pandir juga yakin pekerjaannya sudah benar dan istrinya akan senang.

Saat sampai di lobang kuburnya yang sudah digali. Ternyata jenaza anaknya terjatuh di jalan. Tapi Pak Pandir kemudian menguburkan upih pinang saja. Lalu dia pulang dan melapor pada istrinya kalau sudah menguburkan jenaza anaknya. Dia menceritakan saat pulang dia menemukan ada orang membuang jenaza ankanya. Istri Pak Pandir curiga dan dia mencarinya. Ternyata itu, adalah jenazah anak mereka.

Lalu dia membawa ke kuburan dan warga datang kembali untuk membantu menguburkan anak mereka. Semua warga menggeleng-geleng mengetahui kebodohan Pak Pandir dan ditambah berpikir pendek. Padahal jenaza anak mereka siap ditandu warga setelah mendapatkan upih, tapi pak pandir membawa sendiri dengan upih pinang. Capek dehhhhh. Itulah kata warga di Kampung Pak Pandir.

Rewrite. Tim Apero Fublic
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 19 November 2020.
Sumber: T. Rahman, lahir di Binjai tahun 1920, berbahasa Melayu dan beragama Islam. Masindan, Dkk. Sastra Lisan Melayu Langkat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987.

Sy. Apero Fublic 

0 komentar:

Post a Comment