11/19/2020

Sejarah Kebudayaan: Cerita Empat Datuk dan Kejuruan

Apero Fublic.- Pada zaman dahulu sebelum berdirinya Kesultanan Langkat. Yang memerintah daerah kawasan Langkat adalah empat orang datuk, yang dikenal dengan istilah Datuk Empat Suku. Pertama Datuk Padang Tualang bernama O.K. Taat. Kedua Datuk Cempa yang bernama Datuk Sebiji. Ketiga Datu Terusan yang bernama Datuk Hakim, dan keempat Datuk Hinai yang juga dipanggil Datuk Hinai.

Mereka berempat diangkat menjadi pemimpin karena mempunyai pengaruh ditengah masyarakat. Mereka dinamakan Datu Empat Suku karena memimpin di empat daerah. Nama suku adalah nama daerah secara tradisional. Dari empat daerah yang dipimpin empat datuk bersatu menjadi satu daerah. Semuanya adalah orang Melayu. Tiap anak empat datuk tersebut apabila memiliki anak laki-laki di gelari, Orang Kaya. Kalau anak perempuan mereka digelari Encik atau Cik.

Selain Empat Datuk ada juga kawasan yang lebih kecil, yaitu kejuruan seperti Kejuruan Bahorok, Selesai, dan Stabat. Secara hukum posisi Empat Datuk lebih tinggi dari pemimpin Kejuruan. Kejuruan pada awalnya berdiri sendiri-sendiri. Memiliki raja-raja yang memimpin setiap kejuruan. Akan tetapi kemana kekuasaan mereka akan tunduk, tidak tahu. Akan tetapi kawasan mereka adalah wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh.

Atas gagasan salah seorang keluarga Datuk Empat Suku. Mereka semua mengakui sultan sebagai rajanya. Yang kebetulan waktu itu, Sultan Musa adalah keturunan Raja Benuang. Permusyawaratan ini dilakukan karena Datuk Empat Suku suka berselisi satu sama lain karena hal-hal kecil. Itulah sebabnya Abang dari Datuk Padang Tualang bernama Datuk Abdullah meminta Datuk Empat Suku berdamai saja.

“Kita berdamai satu sama lain, kemudian kita akui sultan sebagai pemimpin kita.” Dalam musyawara mereka. Hal yang dikhawatirkan Datuk Abdullah adalah apabila empat datuk yang selalu berselisi tersebut terus membesar. Akan terjadi perang saudara dan kehidupan rakyat tidak tentram. Sehingga untuk kedamaian dan persaudaraan keempat datuk mengakui sultan sebagai pemimpin tertinggi mereka.

Sultan Musa adalah sultan yang hebat. Dia memiliki daerah taklukkan yang banyak. Selain itu, sultan juga taat beragama sehingga agama Islam disebarluaskannya. Sultan kemudian menikah dengan seorang saudara perempuan Datuk Dewa bernama, Maryam. Walau Datuk Empat Suku mengakui sultan sebagai pemimpin tertinggi. Namun banyak kejuruan yang tidak mau mengakui sultan sebagai bagian dari kesultanan. Sehingga kejuruan satu sama lain sering terjadi peperangan-peperangan.

Kesultanan Aceh meluaskan kekuasaannya dan sampai ke Langkat. Sultan Musa tidak mau tunduk pada kesultanan Aceh. Sultan Musa lebih suka pada Kesultanan Siak. Sehingga Kesultanan Langkat masuk kedalam bagian Kesultanan Siak. Aceh tetap berusaha menundukkan Langkat. Kemudian Sultan Musa meminta bantuan kepada Belanda. Maka ditandatanganilah perjanjian dengan Belanda.

Belanda tidak mau melakukan perjanjian dengan Kesultanan Langkat. Apabila Datuk Empat Suku tidak setuju. Kalau mereka tidak setuju maka perjanjian dibatalkan. Selain itu, Datuk Empat Suku juga berperan siapa yang menjadi pengganti sultan. Yang disetujui oleh Datuk Empat Suku maka dialah yang menjadi sultan.

Jika tidak, maka Belanda membatalkannya. Jelas sudah, apa yang dikerjakan sultan harus mendapat izin dari Datuk Empat Suku. Setelah keempatnya setuju barulah sultan melaksanakannya. Itulah sedikit cerita tentang Datuk Empat Suku yang dahulu besar kekuasaannya di daerah Langkat. Sekarang Langkat adalah sebuah Kabupaten di Provinsi Sumatera Utara beribukota di Stabat.

Dalam hal ini, dapat kita pelajari bahwa sistem pemerintahan lokal sama halnya dengan sistem pemerintahan lokal di tempat lain di Indoensia. Gelar Datuk juga dapat di pahami seperti halnya dengan gelar, Puyang di Sumatera Selatan, Daeng, Teuku, Kiai yang berfungsi sebagai pimpinan lokal tradisional.

Rewrite. Tim Apero Fublic.
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 20 November 2020.
Sumber: Informan O.K. Yusuf, lahir di Padang Tualang, 1922, beragama Islam, Berbahasa Melayu. Masindan, Dkk. Sastra Lisan Melayu Langkat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987.


Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment