11/17/2020

Hikayat: si Minah Anak Yatim

Apero Fublic.- Si Minah adalah seorang anak yatim. Sewaktu kecil, ayahnya meninggal dunia entah kenapa. Minah dibesarkan oleh ibunya, tinggal di sebuah gubuk kecil terletak tidak jauh dari tebing sungai. Di seberang sungai, di depan gubuk si Minah.

Tinggallah kakak ayahnya yang perempuan. Juga mempunyai seorang anak gadis bernama, Merah. Uwa si Minah orang kaya namun sangat kikir dan pelit sekali. Untuk makan bersama ibunya, Minah memetik pakis di hutan. Sambil memetik pakis Minah suka bernyanyi-nyanyi.

Klepak, klepuk Mak.
Mak, patahi paku.
Ada asamnya, garamnnya tiada.
Ada garamnnya, asamnya tiada
.”

Begitulah pekerjaan si Minah setiap harinya. Setelah diperoleh pakis seikat besar, lalu dibawa pulang dan direbusnya. Kadang direbus dengan ditambahi garam. Sering juga direbus dibumbuhi asam. Setelah masak, pakis mereka makan. Pada suatu hari saat sedang memetik pakis dihutan untuk makan. Bertemulah si Minah dengan seekor ular lidi yang berada di dahan pohon kecil. Ular lidi itu kemudian berkata pada Minah.

“Kak Minah, Kak Minah, belakangmu penyet.” Ujar ular lidi tersebut. Lalu Aminah menjawab dengan tenang perkataan ular lidi itu. “Birlah belakangku penyet, aku ini memang orang miskin.” Aminah tidak memperdulikan ular lidi itu, dia melanjutkan memetik pakis. Setelah dirasakan cukup Aminah pulang.

Suatu hari bertanyalah Minah pada ibunya. “Umak, bagaimana rasa nasi. Tidak pernah kita memakannya.” Ibu Minah kemudian menjawab. “Cobalah kau minta pada Uwa-mu di seberang sana. Kalau engkau mau, mintalah. Akan tetapi apabila kau tidak diberinya, jangan menyesal.”

“Baiklah, biarlah aku coba.” Jawab Aminah, lalu dia melanjutkan. “Minta tolong pada saudara ayah, sekali-sekali, apa salahnya.”

Kemudian Minah pergi ketepian, dimana tertambat sampan milik mereka. Minah mendayung keseberang mendekati tepian saudara tua ayahnya. Setelah sampai dan menambatkan sampannya, Aminah menujuh rumah Uwanya. “Mau apa kau Aminah?.” Tanya Uwanya dengan nada tidak suka atas kedatangan Minah. “Ingin sekali Minah makan nasi, bagaimana rasanya. Minah mau pinjam beras Uwa satu Tim.” Jawab Minah.

“Ah, bagaimana kau akan membayarnya. Tidak ada harta sedikit pun yang kau miliki.” Jawab Uwa Minah. “Siapa tahu Uwa, mungkin ada rezeki suatu saat nanti.” Jawab Minah. “Ahh, tidak bisa meminjam. Lalu dia melanjutkan kata-katanya. “Tapi, apakah kau sanggup mencari kutuku sampai habis. Sampai tidak ada satu ekorpun  yang tertinggal. Setelah itu, kau aku beri padi satu Tim kepadamu.” Minah menjawab. “Itu pun jadilah, Wak.”

Keesokan paginya Aminah mulai mencari kutu Uwanya. Dari pagi sampai siang tak berhenti. Bukan hanya kutu, telur kutu pun dia ambil semua. Sampai tidak ada satupun kutu dan telur kutu lagi di rambut sang Uwa. “Sudah Wak, tidak ada lagi.” Kata Minah. “Ya sudah, kalau katamu sudah. Bawalah padi satu tim ini pulang.” Jawab Uwa Minah.

Aminah pulang dengan gembira sekali. Terbayang dia akan merasakan apa rasanya nasi. Mendayung sampannya, dan tibalah dia di tepian mandi mereka, sampan ditambatkan. Agar mudah menumbuk padi di lesung menjadi beras, maka padi dijemur terlebih dahulu. Digelarlah wadah penjemur padi, teran. Di tengah sungai tampak Uwa Minah mendayung sampan menuju tepian Minah.

Sesampainya, Uwa menghampiri Minah. “Minah, kau berbohong padaku. Ternyata masih ada satu ekor kutu di rambutku. Kau tahu, apa artinya ini.” Kata Uwa Minah dengan penuh amarah. “Berikan lagi padiku.” Tanpa banyak bicara, Uwa Minah menggulung teran wadah penjemur padi, beserta padi didalamnya. Lalu dia membawa pulang lagi padi yang sudah dia berikan pada keponakannya, Minah.

Minah hanya terdiam dan melihat saja. Ibu Minah hanya menyaksikan dari pintu gubuk mereka.  Minah begitu sedih dan mengadulah dia pada ibunya. “Umak, tidak ada rezeki kita pada padi itu.” Ibu Aminah membelai rambut anak gadisnya yang beranjak remaja. “Begitulah nasib orang miskin. Nasib rakyat jelata dan orang lemah.” Kata ibu Minah.

Keesokan harinya, kembali Minah memetik pakis seperti biasa. Sambil memetik pakis dia bernyanyi-nyanyi seperti biasa. Tanpa sengaja, Minah bertemu kembali dengan ular lidi yang sering mengganggunya. Kembali ular lidi itu berkata. “Kak Minah, Kak Minah, belakangmu penyet.” Minah menjawab dengan biasa. Dia tidak tersinggung atas ejekan ular lidi itu. “Biarlah, saya orang miskin.”

“Kalau miskin, Kak Minah ambillah aku.” Kata ular lidi itu, meminta dirinya diambil oleh Minah. Beberapa hari telah berlalu, setiap hari ular lidi meminta dirinya diambil oleh Minah. Tapi tidak diperdulikan oleh Minah. Sepulang dari memetik daun pakis di hutan. Minah duduk di dalam gubuknya bersama ibunya seraya berbincang-bincang. Minah melepas takuluknya yang lapuk tetapi menutupi rambutnya dengan baik.

Minah menggaruk-garuk kepalanya, dan dia menemukan sebuah butiran. Saat dia mengambil dan melihat ternyata sebutir buah padi. Entah bagaimana sebutir padi dapat menempel di rambutnya. Minah ingat waktu menjemur dia pernah menggaruk-garuk kepalanya beberapa kali. Mungkin saja butir padi menempel di tangannya yang berkeringat. Lalu saat dia menggaruk kepala, butir itu menyangkut di rambunya. “Umak, ini butir buah padi, sebutir menempel di rambutku. Kita apakan butir padi ini. Apa kita kembalikan pada Uwa saja.” Ujar si Minah.

“Ah, tidak usah. Masak sebutir saja dijadikan perhitungan oleh Uwa-Mu. Lagian untuk apa sebutir padi, berpiring-piring nasi saja sering dibuang Uwa-mu. Katanya kamu mau merasakan apa rasanya nasi. Kau masukkan saja sebutir padi itu kedalam kuali panas. Nanti kulitnya akan membuka, dan makanlah oleh mu.” Kata ibu Minah.

Minah meletakkan kuali di atas tungku api mereka. Setelah agak panas Minah memasukkan sebutir buah padi itu. Karena Minah ingin sekali merasakan apa rasanya nasi. Dalam pikiran mereka butir padi itu hanya akan meletus kecil seperti biji buah jagung. Kemudian meletuslah butir padi itu sebesar buah kelapa, ajaib. Betapa gembira Aminah dan ibunya. Mereka telah dianugerahi rezeki dari Allah SWT. Maknlah Minah dan ibunya dengan kenyang dan puas.

Keesokan harinya, seperti biasa Minah pergi ke hutan disekitar kampung mereka. Dia mencari daun pakis seperti biasa untuk makan mereka setiap hari. Tanpa diduga, kembali Minah bertemu ular lidi yang selalu mengganggunya, mengejeknya punggungnya penyet karena kurang makan. Kembali ular lidi itu meminta agar dirinya juga diambil dan dibawa pulang oleh Minah. Karena dimintai setiap hari, Minah menjadi kesal dan marah pada ular lidi itu. Minah kemudian memasukkan ular lidi itu kedalam bakul wadah daun pakis hutan yang dibawanya.

Sesampai di rumah, seraya merebus daun pakis untuk makan mereka. Minah menceritakan tentang ular lidi yang dia bawa itu. Ibu Minah tidak ambil pusing dan biasa saja. Sebab ular lidi tidak berbisa dan tidak menakutkan. Ukuran ular lidi beberapa kali lebih besar dari cicak. Ular lidi tampak diam, kadang berjalan di dinding gubuk atau di lantai tanah gubuk mereka.

Malan pun tiba, suasana gelap gulita di gubuk Minah dan Ibunya. Keduanya tidak memiliki lampu penerangan sebagaimana Uwa Minah di seberang, atau warga kampung yang lain. Maka, memasuki malam Minah dan Ibunya berbaring diatas tempat tidur yang terbuat dari bilah-bilah bambu. Mereka tertidur dengan nyenyak sekali.

Tanpa diketahui oleh Minah dan Ibunya. Ular lidi yang dibawa Minah pulang tampak menjulur-julur dan menggeliat-geliat. Lalu muncul asap membumbung dan memenuhi ruangan gubuk Minah. Kemudian, ular lidi berubah menjadi sosok seorang pemuda yang tampan dan berpakaian tenun songket yang indah. Dia seperti seorang pangeran Melayu yang gagah.

Keesokan harinya, terkejutlah Minah dan Ibunya. Si pemuda menceritakan kalau dia adalah ular lidi yang dibawa Minah kemarin siang. Dia adalah salah satu pangeran Sultan di tanah Melayu. Pangeran itu, kemudian melamar dan menikahi Minah. Minah menjadi menantu Sultan, merekapun hidup berkecukupan. Minah pun perlahan berubah, dia menjadi wanita cantik dan bersih. Hiduplah Minah dengan penuh kebahagiaan, bersama ibu, suami dan anak-anaknya.

Oleh. Tim Apero Fublic.
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 18 November 2020.
Sumber: Baktiar, lahir di Stabat tahun 1924, seorang Pegawai Negeri Sipil, berbahasa Melayu. Masindan, Dkk. Sastra Lisan Melayu Langkat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment