11/21/2020

Abah Aning dan Si Bodoh

Apero Fublic.- Menurut yang punya cerita, tersebutlah bahwa di ujung sebuah kampung yang jauh dan sunyi tinggallah sebuah keluarga yang terdiri atas sepasang suami istri dengan seorang anaknya. Anaknya kira-kira berumur dua belas tahun. Kampung terpencil dan rumah mereka juga jauh dari tetangganya. Tidak ada tempat belajar sehingga anak itu tidak pernah belajar. Anak itu tidak dapat menulis dan menghitung. Si Anak selalu patuh kepada orang tuanya.

Tidak pernah anak itu menyangkal perintah orang tuanya. Kalau orang tuanya tidak menyuruhnya, sehari-hari pekerjaannya hanya bermain saja. Pagi hari dia pergi bermain di pinggir kampung, pulang di sore hari. Kalau keluarganya bertanya dari mana. Dia menjawab kalau dia bermain ke hutan, melihat-lihat burung bermain-main.  Kadang-kadang geli hatinya melihat tingkah laku burung-burung itu, jelasnya.

Suatu hari, Anak itu diminta ibunya untuk mencari kayu api. “Bawak parang, untuk jaga-jaga. Siapa tahu bertemu binatang buas.” Kata ibunya. Dia mengiakan dan pergilah ke hutan mencari kayu bakar. Sesampai di hutan si Anak terus mengingat apa kata ibu. “Mencari kayu api.” Berkelilinglah dia sampai jauh kedalam hutan dan kemana-mana. Namun dia tidak menemukan kayu yang ada api. Sampai setengah hari dia tidak juga menemukan kayu api.

Tubuhnya sudah kepayahan, lalu dia beristirahat dibawa sebatang pohon besar. Dia memperhatikan pohon besar itu, sambil berpikir dimana kiranya dia mendapat kayu api di sekitar kampungnya. Setelah rasa lelah hilang, kembali dia mencari kayu yang ada apinya. Dari siang sampai magrib tapi dia tidak menemukan  kayu yang ada apinya. “Cari kayu api, sudah dapat bawak pulang.” Teringat terus kata-kata ibunya.

Saat mulai gelap dia takut untuk pulang, nanti dimarahi ibunya. Tapi suara-suara binatang buas sudah mulai keluar. Membuat si Anak itu takut dan terpaksa pulang. Biarlah dimarahi ibunya daripada dia diterkam binatang buas. Sesampai di rumah, ibunya bertanya mengapa dia pulang malam. Bagaimana dengan kayu api yang ibunya, minta.

“Oh, ibu capeklah saya, mencari kayu yang berapi di hutan dari pagi hingga malam. Dimana kiranya ada kayu yang ada apinya?.” Jawab si Anak dan dia pun bertanya. “Adu, alangkah bodohnya dirimu anakku. Mana ada kayu yang ada apinya. Maksud ibu kayu untuk memasak nasi atau memasak air minum.” Kata ibunya menahan rasa kesal.

“Kau ini, betul-betul sangat bodoh.” Sejak saat itu, suami-istri itu memanggil anaknya dengan si bodoh. Walau bodoh anak itu sangat jujur. Tidak pernah dia membohongi kedua orang tuanya. Apa yang diperintahkan orang tuanya dia selalu mengerjakannya. Kalau tidak diperintahkan dia juga tidak mengerjakannya.

*****

Bulan puasa hampir dimulai, tinggal beberapa hari lagi. Menurut kebiasaan masyarakat di kampung itu. Mereka selalu mencari orang yang akan memotong kerbau atau sapi. Sibuklah orang-orang mencari yang akan memotong kerbau. Malu rasanya pada warga sekampung kalau tidak membeli daging kerbau, memasuki bulan puasa. Makan daging kerbau adalah kebanggaan warga kampung mereka. Hari memotong kerbau mereka namakan, “hari memegang atau hari membantai.”

Pada hari membantai itu, si Anak bodoh diminta ayahnya pergi membeli satu kilogram daging kerbau. Maklumlah, mereka memang orang susah. Pekerjaan orang tua anak itu mencari daun nipa dan menjalin daun nipa menjadi atap. Hanya mampu membeli satu kilogram saja untuk puasa hari pertama. Ayahnya memberinya uang seringgit. Karena harga satu kilogram daging kerbau, seringgit. Mereka hanya membeli daging setahun satu kali.

Pendapatan mereka hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Untuk mendapatkan itupun sudah sangat kesulitan. Kadang mereka makan ubi dan sayuran saja. Kadang anak mereka menangkap ikan dan udang di sungai, sehingga mereka sering makan ikan. Hari memotong kebau atau hari membantai sudah tiba. Si Anak bodoh pergi ke pasar untuk membeli daging kerbau. Pesan ayahnya sebelum membeli agar dia menawar terlebih dahulu.

Dia selalu ingat pesan ayahnya, dan sesampai di pasar membeli daging kerbau. Kemudian dapatlah dia daging kerbau satu kilogram. Daging itu kemudian diikatnya di ujung tali. Kemudian dia pergi pulang. Di perjalanan pulang dia bertemu dengan seekor anjing.

Anjing itu terus mengikuti si Bodoh dari belakang. Dia takut kalau daging yang dia bawa dilarikan si Anjing. Dia menghalau anjing, tapi anjing tidak mau pergi jauh darinya. Berulang-ulang begitulah tingkah si Anjing. Dia lempar dengan tanah tetap saja si Anjing tidak pergi. Si Bodoh merah penasaran dengan sikaf si anjing. Terpikirkan olehnya untuk menanyai anjing.

“Hai Abang anjing, mengapa selalu mengikuti aku. Apakah abang Anjing mau makan daging. Kalau abang Anjing mau, bayarlah seringgit.” Kata si Bodoh. Lalu anjing itu menggongong-gonggong saja. Si Bodoh berpikir kalau si anjing mau membayar senilai harga daging, seringgit. Lalu dia melemparkan daging ke anjing. Tentu saja si anjing langsung menerkam dan membawanya berlari. Si Bodoh marah, karena menurutnya si anjing menipunya. Pergi belum membayar seharga seringgit. Maka dia kejar anjing itu kemana-mana. Anjing ketakutan berlari kesana-kemari sampai akhirnya terjepit di rumpun bambu yang lebat.

Saat mendekat si anjing, si Bodoh melihat tidak jauh dari terjepitnya anjing. Tergeletak sekarung uang dan si Bodoh mengambil uang itu seharga daging yang dilarikan anjing tadi. “Ternyata uang abang Anjing banyak sekali. “Aku ambil uang abang Anjing seringgit, ya. Kata si Bodoh.” Kemudian dia kembali ke pasar dan membeli satu kilogram daging kerbau.

Setiba di rumah si Bodoh menceritakan semuanya pada ayah dan ibunya pengalamannya. Mendengar itu, pergilah ayah si Bodoh ke rumpun bambu yang dimaksdu anaknya. Mendapati uang yang banyak itu, betapa gembira hati ayah dan ibu si Bodoh. Keesokan harinya si bodoh pergi ke pasar lagi. Di pasar dia menceritakan juga tentang pengalamannya kemarin.

Diantara orang yang mendengar ternyata adalah orang yang kehilangan uang. Rumanya baru saja dimasuki pencuri. Hilang uang satu karung. Oleh orang itu, dilaporkannya ke Polisi Kampung mereka. Kepala Kampung dan Polisi kampung datang memeriksa ayah si Bodoh. Ayah si Bodoh tidak mengakuinya dan tidak juga punya bukti.

“Bukankah kalian tahu kalau dia bodoh.” Mendengar pernyataan itu, Kepala Kampung dan polisi kampung tidak lama pulang. Karena kejadian itu, timbul pikiran ayah si Bodoh untuk membuangnya. Agar tidak bercerita pada orang lagi pada orang-orang. Maka si Bodoh diminta untuk pergi jauh dari rumah. Sebelum pergi, ibunya menyiapkan dua bungkus bekalnya. Satu bungkus sagu yang lebut, satu bungkus nasi yang keras.

“Nanti kalau engkau lapar, Bodoh. Makan terlebih dahulu yang bungkus lembut ini. Setelah itu, baru kau makan bungkusan yang keras.” Agar tidak lupa dengan pesan ibunya. Si Bodoh selalu mengulang-ulang perkataan ibunya. Perjalanan sudah jauh si bodoh pun telah lelah. Sekarang sampailah si Bodoh di sebuah gua. Di dalam gua hiduplah raksasa suami istri, dan anak mereka yang masih bayi.

“Nanti kalau engkau lapar, Bodoh. Makan terlebih dahulu yang bungkus lembut ini. Setelah itu, baru kau makan bungkusan yang keras.” Kata si Bodoh berulang-ulang. Sepasang raksasa penghuni gua tempat si Bodoh beristirahat. Kedua raksasa itu takut kalau si Bodoh ingin memakan anak mereka yang masih bayi.

“Jangan kau makan anak kami. Kau kami beri periuk ajaib yang bisa kau minta apa saja. Jika kau lapar, buka saja periuk ajaib itu pasti ada nasi.” Mendengar kata-kata raksasa itu. Maka pergilah si Bodoh dari dalam gua itu. Menjelang malam, sampailah si Bodoh di sebuah perkampungan warga.

Si Bodoh kemudian menginap di salah satu rumah warga kampung. Pada malam harinya dia menceritakan semua pengalamannya siang tadi. Termasuk dia diberi raksasa periuk ajaib. Mendengar cerita itu, pemilik rumah berniat menukar periuk ajaib si Bodoh dengan periuk biasa. Setelah malam si Bodoh tidur dan meletakkan periuk di dekatnya. Dia tidak curiga kalau pemilik rumah akan berbuat tidak baik, seperti menukar periuknya.

Karena kelelahan si Bodoh tertidur nyenyak sekali. Sehingga tidak disadarinya lagi yang terjadi. Waktu itulah si pemilik rumah menyampaikan niatnya pada istrinya. Bermusyawarahlah kedua suami istri itu. Lalu mereka menukar periuk si bodoh dengan periuk biasa. Keesokan harinya semua bangun dan keadaan seperti biasa dan tidak ada yang aneh. Si Bodoh pamit untuk kembali pulang kerumahnya. Sampailah si Bodoh di rumah orang tuanya kembali.

Si Bodoh menceritakan semua pengalamannya pada kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya gembira sebab mereka tahu kalau si Bodoh tidak pernah berbohong. Mereka memiliki uang banyak dan sekarang memiliki periuk ajaib. Suatu hari, mereka mencoba periuk ajaib menurut si Bodoh. Namun apa yang terjadi justru sebaliknya, periuk tidak dapat memenuhi permintaan mereka.

Sehingga kedua orang tua si Bodoh mulai curiga. Apakah si Bodoh sudah mulai bisa berbohong. Maka kembali si Bodoh diusir oleh kedua orang tuanya. Satu bungkus sagu yang lembut dan satu bungkus nasi keras diberikan ibu si Bodoh sebagai bekal. “Bodoh, kalau kau lapar, makan yang lembut terlebih dahulu dan setelah itu baru yang keras.” Pesan ibu si Bodoh sama seperti beberapa waktu lalu.

Sekarang si Bodoh tiba lagi di gua dimana dia istirahat beberapa hari yang lalu. Di dalam gua sambil melepas lelah si Bodoh terus berkata demikian. Raksasa suami istri kembali salah paham. Keduanya ketakutan mendengar kata-kata si Bodoh. Mereka tidak habis pikir mengapa si anak manusia itu ingin makan anak mereka terlebih dahulu. Raksasa laki-laki keluar dari dalam gua dan berkata pada si Bodoh.

“Jangan kau makan anakku. Ini aku beri kau sebuah tajak sakti untuk bertani. Sekali kau ayunkan maka bersilah seluruh ladang, pergilah.” Kata Raksasa itu. Si Bodoh menerima tajak sakti itu. Dia kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Seperti beberapa hari yang lalu dia akhirnya sampai di perkampungan warga dimana dia menginap. Karena sudah kenal, maka dia menginap di rumah warga tempat dia menginap beberapa hari yang lalu.

Kembali si Bodoh menceritakan pengalamannya. Dari rumah sampai di dalam gua dan mendapat tajak sakti untuk bertani dari raksasa, lalu dia sampai kembali ke rumah warga itu. Kerenah kelelahan, si Bodoh tertidur dengan nyenyaknya. Kembali pemilik rumah tempat dia menginap menukar tajak sakti dengan tajak biasa. Si bodoh tidak tahu dan tidak curiga pada pemilik rumah. Si Bodoh kembali pulang ke rumah orang tuanya.

Setiba di rumah si Bodoh menceritakan juga tetang tajak sakti. Namun saat di gunakan tidak ada tanda-tanda keajaiban. Marahlah kedua orang tua si Bodoh. Mereka yakin kalau si Bodoh sudah menjadi pembohong. Kedua orang tuanya kembali mengusir si Bodoh. Sebelum pergi si Bodoh diberikan bekal. Sebungkus bekal dari sagu yang bungkus lembut, dan satu lagi sebungkus bekal yang keras (nasi).

Pergilah si Bodoh dari rumah orang tuanya. Waktu berlalu dan si Bodoh kembali beristirahat di gua dimana dia beristirahat beberapa hari yang lalu. Seperti biasa di sepanjang jalan dan saat istirahat di mulut gua si Bodoh mengulang-ulang pesan ibunya.

“Makan yang lembut dahulu, kemudian baru makan yang keras.” Kata-kata si Bodoh kembali terdengar oleh dua raksasa suami istri yang punya anak masih bayi. Mereka tetap salah paham pada si Bodoh. Mereka pikir si Bodoh benar-benar bernafsu ingin makan anak mereka. Keduanya gemetar mendengar si Bodoh datang lagi. Lalu keluarlah suami raksasa mendekat si Bodoh.

“Jangan kau makan anakku, ini aku berikan kau tongkat sakti. Tongkat ini dapat memukul orang yang suka menipu orang. Bertambah ganas kalau yang di tipu orang itu adalah orang yang baik dan jujur, Pergilah.” Kata raksasa laki-laki itu. Si Bodoh pergi dan berjalan menyusuri jalan yang sudah dia lalui seperti biasa. Kembali tiba di kampung warga dimana dia bermalam, lalu menginap di rumah warga yang dia menginap beberapa hari lalu.

Sebelum tidur, kembali si Bodoh menceritakan pengalaman hari itu. Dari rumah sampai ke gua dan sampai ke rumah warga itu. Di gua dia diberikan raksasa tongkat ajaib. Kegunaan tongkat itu, untuk memukul orang yang suka menipu terutama dia menipu orang baik. Mendengar cerita itu, pemilik rumah menjadi gembira. Kembali dia punya niat menukar tongkat ajaib si Bodoh dengan tongkat biasa. Malam tiba, si Bodoh tidur nyenyak dan pemilik rumah bersama istrinya menukar tongkat si bodoh.

Walau sudah diceritakan si Bodoh tentang kegunaan tongkat itu, dapat memukul orang yang suka menipu. Tapi sepasang suami istri itu masih saja menukar tongkat itu. Kemudian benar apa kata si Bodoh. Setelah menukar tongkat ajaib si Bodoh dengan tongkat biasa. Tongkat itu bergerak sendiri lalu memukul sepasang suami istri itu tanpa ampun. Sehingga sekujur tubuh suami istri itu menjadi biru-biru bekas pukulan tongkat ajaib milik si Bodoh.

Tongkat itu baru berhenti memukuli sepasang suami istri pemilik rumah tempat si Bodoh menginap setelah mereka berniat mengembalikan periuk ajaib dan tajak sakti milik si Bodoh sebelumnya yang telah mereka tukar di malam hari. Keduanya pun meminta maaf pada si Bodoh. Tentu saja si Bodoh memaafkan orang yang telah menerimanya bertamu. Kembali si Bodoh pulang ke rumah orang tuanya.

Keajaiban terjadi dari benda-benda sakti milik si Bodoh. Uang yang banyak, periuk ajaib, tajak sakti, membuat kehidupan keluarga si Bodoh menjadi enak dan senang. Itulah kisah si Bodoh yang jujur dan selalu mengikuti perintah orang tuanya.

Rewrite. Tim Apero Fublic.
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 22 November 2020.
Sumber: Mastur, lahir di Hinai Kanan tahun 1920. Berbahasa Melayu. Masindan, Dkk. Sastra Lisan Melayu Langkat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment