9/12/2020

Pantai Bongen: Dua Mata Koin

Apero Fublic.- Sekayu. Bongen adalah istilah lokal untuk menyebut pasir yang muncul di dasar Sungai Musi ketika air susut antara bulan Agustus hingga September. Menyusutnya air Sungai Musi di Kota Sekayu, Musi Banyuasin menimbulkan fenomena yang unik dan indah.

Di musim kemarau yang terjadi sekali setahun, hamparan pasir bak kilau mutiara dan jernihnya air berpadu menjadikan keindahan di mata. Dikala senja keemas-emasan dan angin sepoi-sepoi mengelus wajah, dikala itulah warga berbondong-bondong datang ke pantai bongen Muba.

Ario Amirullah, salah seorang pengunjung Pantai Bongen mengatakan, "kita ini kurang hiburan, karena itulah setiap akhir pekan saya selalu ke sini bersama teman-teman, sekadar untuk menikmati senja atau memotret gelak tawa manja gadis remaja."

Fenomena ini secara jeli dimanfaatkan oleh Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kab. Muba pada tahun 2019 lewat kegiatan Festival Bongen (Bongen Fest). Ramai khalayak menyaksikan kegiatan yang memadukan antara seni, fashion, dan wisata alam unik di Muba tersebut.

Okta Vianus, pendiri media sosial Pesona Muba mengatakan, "Festival Bongen 2019 berhasil memunculkan suatu ikon pariwisata baru di Muba, menjadi magnet yang menyedot wisatawan lokal Muba dan daerah sekitarnya. Namun, tahun ini adalah duka kita bersama. Wabah covid 19 belum jua sirna, tersebab itu kita harus berlebar dada mematuhi himbauan dan peraturan pemerintah perihal Covid-19".

Di masa pandemi datangnya musim bongen bagai dua sisi mata uang. Masyarakat perlu diingatkan untuk memahami risiko jika berada di tempat keramaian, sebilah sisi musim bongen juga membawa berkah bagi banyak pedagang kecil yang ada di sekitar Sekayu Water Front.

Terkait fenomena masyarakat yang berkunjung ke Pantai Bongen ini, juru bicara Gugus Tugas Kabupaten Musi Banyuasin, Seftiani Peratita, SS, MKes (12/09/2020) mengatakan, "Di Sekayu memang ada peningkatan kasus, karena itu diharapkan agar masyarakat tidak terlena.

Terkait ramai masyarakat berkunjung ke Bongen, kita akan terus mensosialisasikan dan menghimbau masyarakat untuk disiplin terhadap protokes, tapi kita tidak bisa bersikap tegas karena sejauh ini kita belum punya regulasi yang mengatur mengenai sanksi bagi masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan. Kami terus bekerja secara maksimal, semoga musibah ini lekas berlalu." tutupnya.

Oleh. Herdoni Safriansyah
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Sekayu, 12 September 2020.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment