9/05/2020

Naskah Sastra Klasik: BHAGAWADGITA

Apero Fublic.- Serat adalah sejenis karya sastra terdahulu yang berisi tentang ajaran-ajaran budi pekerti dan kebaikan hidup. Serat masuk dalam kesastraan klasik daerah Jawa diantaranya daerah Sunda. Serat Bhagawadgita adalah cerita yang muncul dari India. Kemunculan serat Bhagawadgita karena pengaruh kesastraan Hindu dari India.

Namun dalam jalan cerita disesuai dengan kebudayaan di Indonesia, yaitu Sunda. Karya sastra klasik tentang Pandawa Lima memiliki banyak versi. Salah satunya yang kita bahas ini. Adalah hasil dari saduran Raden Raden Ngabei Hardjosaputro ke dalam Bahasa Jawa. Serat Bhagawadgita diambil dari epos cerita Mahabarata yang keenam dari yang menceritakan panglima perang dari Hindustan.

Bhagawadgita pada awalnya ditulis oleh Resi Wiyasa dalam Bahasa Sanskerta yang terdiri dari 700 seloka dalam delapan belas bab atau dikenal dengan delapan belas wiraossan (percakapan). Seloka adalah sejenis cara menulis yang berbentuk syair, pantun atau nasihat yang berbait-bait (kesastraan Melayu).

Karena ajaran Bhagawadgita sangat terkenal masa itu, membuat sastra Bhagawadgita cepat menyebar ke luar Hindustan (India). Naskah Bhagawadgita pertama kali ditulis diperkirakan antara tahun 450-460 Sebelum Masehi. Perkiraan dinisbatkan pada kesastraan Mahabarata yang juga ditulis beberapa waktu sebelumnya.

Masuknya pengaruh kebudayaan India ke Nusantara (Indonesia), juga mengikuti masuknya kesastraan India. Salah satunya adalah sastra klasik Bhagawadgita. Oleh pujangga di Nusantara naskah yang berbahasa sanskerta diterjemahkan kedalam bahasa daerah, terutama Bahasa Jawa Kuno dan masa-masa berikutnya ditulis juga kedalam bahasa Jawa Baru.

Cerita serat Bhagawadgita yang disadur oleh Raden Ngabei Hardjosapoetra menyebutkan juga kalau dari cerita keenam sastra klasik Mahabarata. Bercerita tentang perjalanan hidup lima putra Pandu yang dijuluki Pandawa yang berperang melawan saudaranya dikenal dengan Kurawa. Pertempuran antara Pandawa dan Kurawa terjadi di medan Kurusetra dikenal dengan Perang     Baratayuda.

Panglima perang kelompok Pandawa adalah Arjuna. Sebelum berperang senapati Arjuna diberi wejangan atau petua dari Sri Kresna yang berisi tentang ajaran hidup seorang kastria. Petua tersebulah yang kemudian dikenal dengan ajaran Bhagawadgita.

Bhagawad Gita.
(Kidung Suksma, utawa rerepening Jawata).
Wiraosan ingkang sapisan.
1.pangandikanipun Prabu Dristarastra.
Heh Sanjaya, sabanjure kapriye kahanane para putraningsung, lan sulane Pandhu, kang nedya bondayuda satekane ana Tegal Kuru,iya tegal kang sukci.

2.Aturipun Sanjaya.
Rikala Prabu Duryudana anguningani bilih wadyabalanipun para putraning Pandhu ingkang sakalangkung ageng punika sampun angrakit gelaring ngayuda, enggal merepeki gurunipun (Durna) sarwi umatur.

3. Kapirsanana guru, wadyanipun Pandhutanaya ingkang sakalang kung ageng sampun karakit gelaring ngaprang dening atmajaning Drupada, murid paduka ingkang lebda ing pengolah prang.

4.Lah punika para Senapati ageng ingkang angirit wadya sikep jempraning. Kados ta Suyudana, Wirata, tuwin Drupada, ingkang sami awahana rata, ingkang boboting ngayuda sami kaliyan Bima tuwin Arjuna.

5.Dhristoketu, Sekitana, sarta Narendra ing Prajakasi (Benares) ingkang surayeng ngalaga, Purujit Kuntiboja tuwin Narendra ing Nagri Swibi, sami bebanthenging manungsa.

6.Kang prakosa risang Abimayu, atmajanipun Sumbadra, tuwin kang ambeg sura pun Hutamuya, sutanipun Drupati sami wahana rata.

7.Dhuh para dwija (ingkang sampun kalahiraken kaping kali) (1), Sinten ingkang mungguh anindhihi wadyabala, saking pamanggih kula ingkang langkung prayogi inggih amung paduka.

8.Inggih  paduka pijambak punapa Sang Bisma (Senapati ning Kurawa kaprena eyangipun Duryudana utawi Pandhawa), punapa Karna tuwin Kripa sami pilih tandhingipun ing ngayuda, Aswatama, sarta Wikarna miwah atmajaning Samadati.

9.Saha para Senapati sanesipun malih, awit saking tresnanipun dateng..................(halaman 8).

Berikut terjenmahan ke dalam Bahasa Indonesia.
Bhagawadgita.
(Nyanyian Tuhan atau Senandung Dewata).
Percakapan kesatu.

1.Kata Prabu Dristarastra.
Hai Sanjaya, selanjutnya bagaimana keadaan para putraku dan anak-anak Pandu yang akan berperangtanding setelah mereka berada di Tegal Kuru, suatu tempat yang suci?
2.Jawab Sanjaya.
Ketika Prabu Duryudana mengetahui bahwa perajurit anak-anak Pandu yang begitu besar jumlahnya sudah bersiapsiaga menggelar perang, ia segera menemui Durna, gurunya, seraya berkata;

3.Lihatlah guru, anak buah Pandutanaya yang begitu banyak sudah bersiapsiaga dipimpin Drupada, murid guru yang ahli dalam taktik perang.

4.lihatlah disana para panglima besar beserta perajurit pemanah seperti Duryudana Wirata, dan Drupada degan kereta perangnya yang berkekuatan sama dengan Bima atau Arjuna.

5.Dristoketu, Sekitana, dan raja dari Prajakasi (Benares) yang gagah berani dalam perang, perajurit Kuntiboga beserta raja dari Negara Swibi  yang berbenteng manusia.

6.Yang gagah perkasa Risang Yodamannyu anak Sumbadra serta sang pemberani Hutamuya, anak Drupati, yang berkendaraan kereta.

7.Wahai para pendeta (yang sudah dilahirkan dua kali) (1), Siapakah yang pantas menjadi pemimpin perajurit, menurut pendapat saya yang paling tepat hanyalah guru.

8.Hanya guru atau Sang Bisma (panglima Kurawa yang masih Kakek Duryudana maupun Pendawa), ataupun Karna serta Kripa sama-sama terampil dalam perang, Aswatama dan wikarna serta anak-anak Samadati.

9. Juga para panglima perang lainnya, karena cinta terhadap....................(halaman 88).

Bagi Anda yang ingin lebih banyak tahu atau untuk referensi karya ilmiah dan inspirasi kesastraan. Dapat menjumpai buku dokumentasi alih aksara dan transliterasi  naskah klasik Bhagawadgita di Perpustakaan milik Pemerintah seperti Perpustakaan Daerah dan Perpustakaan Nasional Pusat di Jakarta. Atau mencari tahu di e-pusnas dengan kata pencarian Bhagawadgita. Buku terdiri dari dua bahasa, yaitu Bahasa Melayu Sunda dan terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia.

Oleh. Tim Apero Fublic
Editor. Desti. S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 6 Agustus 2020.
Sumber: Soimun Hp, Dkk. Bhagawadgita. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1992/1993.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment