9/04/2020

KABA: Rantak Si Gadih Ranti.

Apero Fublic.- Tuanku Maharajo adalah Raja Nagari Koto Tuo. Istrinya bernama Puti Balego Cayo, anak dari pamannya. Itu berarti Tuanku Maharajo anak dari paman istrinya, bersepupu. Rakyatnya juga sangat mencintai Tuanku Maharajo.

Kehidupan keluarga mereka bahagia aman dan tentram. Namun, ada satu hal yang membuat mereka resah. Yaitu, belum dikaruniai oleh yang maha kuasa seorang anak. Suatu hari istrinya menangis bersedih di pangkuan Maharajo.

“Kakanda, ada baiknya kita memanggil seorang dukun. Agar mengetahui siapa diantara kita yang mandul. Apabila aku yang mandul; Aku bersedia diasingkan di tepi hutan dan tinggal di dalam pondok sederhana. Tapi jangan aku diceraikan. Sedangkan kakanda boleh menikah dengan wanita lain yang Kakanda sukai. Kata Balego Cayo.

Mendengar itu, Tuanku Maharajo tertawa ringan mendengar perkataan istrinya. Dia tidak sampai hati berbuat demikian. Dia juga tidak pernah berpikir akan menikah lagi walau istrinya mandul. Sebab, istrinya sudah menjadi yatim piatu dan juga masih saudara sepupunya. Tidak mungkin dia berbuat menyakiti hati istrinya tercinta. Maharajo berniat bertapa untuk berdoa pada Allah agar dikaruniahi seorang anak.

“Adinda, kakanda berencana bertapa untuk mendekatkan diri pada Allah. Agar kita dikaruniahi seorang anak.” Kata Tuanku Maharajo.

“Kalau demikian kehendak kakanda. Aku sebagai istri akan mendukung dan mendoakan agar kakanda berhasil dalam pertapaan.” Kata Balego Cayo. Keingin bertapa itu disampaikan pada orang tua Maharajo, Tuanku Sutan Maharajo. Bermacama-macam nasihat diberikan pada Tuanku Maharajo. “Anakku, hal yang jangan pernah kau lakukan adalah mempelajari ilmu-ilmu yang bersifat syirik lagi menyesatkan.” Kata Tuanku Sutan Maharajo.

Di hari yang ditentukan berangkatlah Tuanku Maharajo ke Bukit Kepanasan di lereng Bukit Campak. Disertai seorang Pendekar yang akan mengajarkan ilmu silat. Juga seorang yang alim yang akan menuntun beribadah. Pendekar itu juga yang akan mengurus tempat dan makan mereka. Sehingga Tuanku Maharajo dapat beribadah dengan baik. Kegiatan diatur dengan baik, sehingga tidak ada waktu yang terbuang.

Setelah tiga bulan kemudian tinggal di hutan itu. Tampak ada tanda-tanda kehamilan pada Puti Balego Cayo. Dia ingin memberitahu suaminya Tuanku Maharajo. Tapi dia khawatir karena belum pasti. Tentu akan mengecewakan suaminya kalau salah, ternyata dia belum hamil. Karena tanda-tanda orang hamil biasanya tidak dia rasakan, seperti perubahan nafsu makan.

Akhirnya dia pergi menemui suaminya, memberi tahu kalau dia hamil. Tuanku Maharajo ingin memberitahu kedua orang tuanya hal itu. Puti Balego Cayo diminta menunggu saja di tempat bertapanya dihutan, Bukit Kepanasan.

Maka datanglah orang tua Maharajo. Waktu berlalu cepat, sekarang usia kandungan Balego Cayo sudah tujuh bulan. Di istana kedua orang tuanya, datuk, dan para mantri telah menanti kepulangan mereka.

Dua bulan berikutnya Balego Cayo melahirkan seorang anak perempuan yang cantik. Di pukullah beduk untuk memberitahu rakyat banyak. Banyak rakayat datang ikut bergembira, serta membawa makanan dengan ikhlas tanpa diminta oleh Tuanku Maharajo. Selama empat puluh hari rakyat datang terus bergantian untuk menjaga dan bergembira atas lahirnya Tuan Putri mereka, bernama Putih Gadih Ranti.

Pada hari keempat puluh diadakan acara Turun Mandi dan cukur rambut. Istana dihiasi dengan bermacam-macam hiasan dan buanga-bunga. Acara Turun Mandi dimana anak dibawa ke sungai untuk dimandikan.

Sepanjang jalan diarak dan diiringi musik rebana dan qasidah. Setelah kembali ke istana, selanjutnya diberikan pada kakek dan neneknya yang memberi hadiah. Begitu juga tamu-tamu yang datang juga memberi hadiah.

Puti Gadih Ranti tumbuh dengan baik dan sehat. Dua tahun kemudian lahir lagi seorang putra laki-laki. Membuat keluarga raja bertambah bahagia. Kemudian setiap dua tahun lahir lagi anak laki-laki.

Anak bungsu yang ke tujuh diberi nama Puti Bungsu. Puti Gadih Ranti memiliki sifat seperti anak laki-laki. Dia juga suka berteman dan bermain bersama anak-anak laki-laki. Umur sembilan tahun Gadih Ranti sudah pandai ilmu silat, memainkan pedang dan lainnya.

Di usia sepuluh tahun Gadih Ranti tidak lagi suka bermain. Sekarang dia suka membantu keluarga bekerja, seperti mengambil kayu bakar, membatu kerja di sawah, di ladang. Melihat semua itu, rakyat menjadi sangat menyayangi Putri Puti Gadih Ranti. Usia sepuluh tahun dia dipingit di atas anjung perak. Dia diajarkan keahlian wanita, seperti menenun, menyulam, menerawang, dan lainnya.

Sekarang Gadih Ranti bertambah dewasa. Dia tidak boleh lagi bermain di luar. Hanya sekali seminggu untuk mandi ke tepian mandi. Saat dia keluar itulah, banyak anak muda yang melihat Puti Gadih Ranti. Sehingga banyak yang tergila-gila dengan kecantikan Puti Gadih Ranti. Usia remaja dia tidak boleh keluar sama sekali. Maka akan diadakan acara Memancang Gelanggang untuk mencari jodoh Putih Gadih Ranti.

Karena Puti Gadih Ranti putri kesayangan rakyat, maka tempat menerima tamu diperluas. Makanan juga dibuat banyak. Acara Memancang Gelanggang diawali dengan mengarak Gadih Ranti ketepian dan dimandikan. Kemudian dia didandani dan duduk di anjungan peranginan untuk menyaksikan pertandingan yang dilakukan peserta yang ingin menikahinya.

Acara dipimpin oleh Raja Janang dari Bonjol. Hari pertama berjalan lancar, diahari kedua terjadi keributan entah apa yang terjadi. Puti Gadih Ranti pun turun ke tengah gelanggang untuk mengetahui yang terjadi. Maka dari itu, Gadih Ranti berkata lantang di tengah gelanggang. Gelanggang dibuka untuk mencari jodohnya.

Oleh karena itu dia menantang langsung semua peserta. Barang siapa yang dapat mengalahkannya, maka dia berhak menjadi suaminya. Bagi Puti Gadih Ranti dalam mencari seorang pendamping hidup. Tidak perlu yang tampan dan kaya. Yang penting dapat membimbing kejalan yang diridhoi Allah, serta baik memperlakukannya.
*****
Beberapa hari kemudian belum satupun yang dapat menarik hati Gadih Ranti. Dia akhirnya kembali turun langsung ke gelanggang. Sang ayah tidak khawatir dengan turun langsungnya Puti Gadih Ranti. Pertandingan pertama Gadih Ranti berhadapan dengan Sutan Pandakian anak Raja Kulai anak Raja Kulai.

Pertarungan kedua melawan Sutan Kenaikan anak Raja Janang yang sangat berkeinginan memperistri Gadih Ranti. Namun keduanya kalah dan kemudian berlanjut sampai pertandingan ke sepuluh. Menjelang soreh pertandingan pencarian jodoh Gadih Ranti dihentikan, dilanjutkan besok pagi.

Gadih Ranti melompat keatas panggung pertandingan. Tepuk tangan meriah menyambutnya. Adiknya Sutan Pamenan bersyukur sang kakak menang melawan Sutan Kenaikan yang sombong. Gelanggang pertandingan terus bertambah ramai. Banyak sekali yang ingin menyaksikan Putri Cantik yang pandai bermain silat.

Bertarung melawan sutan-sutan yang ingin memperistrinya. Gadih Ranti hanya kalah oleh Sutan Malin Putih anak dari gurunya sendiri. Tapi Sutan Malin Putih tidak mau meneruskan pertandingan karena merasa tidak sebanding dengan Gadih Ranti sebab dia bukan berasal dari keluarga raja.

Sudah empat hari pertandingan dan tidak ada lagi yang mendaftar untuk bertanding. Gadih Ranti berkeliling dan tidak menemukan lagi yang mau bertarung. Akhirnya sayembara pencarian jodoh diakhiri. Di dalam gelanggang ada seorang pemuda bernama Sutan Malano dari Palupuh. Dia hadir setiap hari tapi tidak ikut bertanding.

Saat ditanya Raja Janang mengapa tidak ikut bertanding. Alasannya karena dia berasal dari kerajaan kecil yang miskin. Akan sangat menyedihkan kalau dia kalah. Karena dia menyukai Gadih Ranti, meminta ayahnya melamarnya, tapi ayahnya keberatan. Hal itu diceritakan Raja Janang pada Gadih Ranti. Sehingga Gadih Ranti merasa tertarik dengan pemuda itu.

Satu bulan kemudian Gadih Ranti kembali dipingit dianjuangan perak. Dia keluar hanya sekali seminggu untuk mandi ketepian. Dia kembali benci dengan kehidupan seperti itu. Suatu hari, Gadih Ranti bersama tiga sahabatnya dan tiga dayangnya pergi dari istana. Masing-masing membawa buntalan pakaian dan berangkat waktu subuh. Gadih Ranti memiliki harimau peliharaan yang dia rawat sejak kecil, bernama Dubalang Kecil. Harimau inilah yang menjaga kutujuhnya.

Keesokan harinya sesudah sembahyang zuhur barulah Tuanku Marajo tahu bahwa Gadih Ranti sudah pergi dari istana. Tuanku Maharajo memerintahkan beberapa orang untuk mencari Gadih Ranti. Tetapi, jangankan bertemu jejaknya pun tidak di jumpai karena dihapus oleh harimau peliharaan Gadih Ranti, Dubalang Kecil. Mereka ada yang menyamar menjadi laki-laki, ada juga yang berpakaian seperti seorang putri. Di setiap tempat yang mereka lalui, selalu berganti pakaian. Sehingga jejak benar-benar tidak terlacak.

Tuanku Maharajo memanggil Tuanku Lubuak Landua guru Gadih Ranti untuk bermusyawara. Dia juga menyesal karena terlalu banyak ilmu yang diturunkan pada Puti Gadih Ranti. Dia bersedia ikut mencari Gadih Ranti, serta membujuk untuk pulang. Satu bulan berlalu, Gadih Ranti meninggalkan istana. Tidak satu pun bertemu dengan orang yang dia kenal. Seandainya bertemu dia juga menghindar.

Setelah tiba di Kurai Mandiangin dia mulai berpikir. Hendak kemana kiranya perjalanan mereka. Gadih Ranti meminta kepada enam temannya untuk pulang. Sedangkan dia tidak akan pulang. Gadih ranti takut kedua orang tuanya marah. Dia sebagai anak raja tentu tidak boleh berbuat semaunya. Tapi semua temannya tidak mau pulang. Karena mereka ikut pergi karena atas kemauan sendiri. Maka mereka tidak akan berpisah walau apapun terjadi.

Mendengar pernyataan teman demikian, maka Gadih Ranti akhirnya mau pulang. Dia tidak tega membawa sahabatnya dalam kesulitan perjalanan terus menerus. Tapi sebelum pulang dia ingin singgah di Palupua. Ingin melihat Lubuk Sakti yang banyak berisi ikan. Tapi ikan tidak boleh ditangkap karena berbahaya bisa membunuh penangkapnya. Mereka sepakat dan pergi menuju Palupua dipagi hari.

Mereka tiba, lalu menuju sebuah gubuk di tepi hutan untuk bermalam. Saat mereka tiba di gubuk, ada tiga anak muda melihat mereka. Salah seorang pemuda tampak menyukai Gadih Ranti, berwajah tampan dan berperawakan tinggi kuat. Mereka merasa lapar dan memasak makanan. Kemudian ada ketukan di pintu gubuk. Saat masuk orang itu bertanya.

“Kalau boleh tahu, apa maksud dan tujuan kalian datang ke Palupua?.”

“Kami sekelompok orang dusun yang pulang dari Ladang dan kami rupanya tersesat. Besok kami akan pergi kembali pulang.” Jawab Gadih Ranti.

Ternyata laki-laki itu adalah Sutan Maulano. Sekarang dia tahu keberadaan Gadih Ranti. Maka dia meminta ayah dan ibunya membujuk Gadih Ranti. Sebab Gadih Ranti tahu kalau dia berada di istana Palupua tentu orang tuanya akan tahu. Maka Gadih Ranti berkata dia lebih baik mengakhiri hidupnya di Lubuk Sakti.

Karena dia juga pasti dihukum oleh ibu dan ayahnya. Ibu Sutan Maulano berkata, tidak mungkin orang tua mau mencelakai anaknya, hanya karena urusan kecil. Atas saran teman tertuanya, Gadih Ranti akhirnya mau ikut ke istana Palupuah.

Puti Andam Sari ibu Sutan Maulano berniat mengambil Gadih Ranti menjadi anak dan menantunya. Sebagai ganti anak perempuannya yang mati bunuh diri karena tidak direstui menikah dengan pemuda pilihannya.

Tentu Gadih Ranti akan menolak kalau itu hanya keinginan Puti Andam Sari saja, sedangkan Sutan Maulano tidak berniat. Tapi sesungguhnya Sutan Maulano juga menyukai Puti Gadih Ranti. Sejak Gadih Ranti menghilang dia juga pergi mencari Gadih Ranti.
*****
Tuanku Batang Palupuah ayah Sutan Maulano ditemani beberapa orang mentri dan seorang penghulu pergi ke Nagari Koto Tuo menemui Tuanku Maharajo. Mereka ingin meninjau sikap Maharajo bagaimana kalau anaknya, Puti Gadih Ranti pulang.

Tuanku Maharajo merasa gembira ketika anaknya dipinang orang. Tapi dia merasa sedih dan menceritakan keadaan anaknya yang sudah menjadi gadis liar bersama enam temannya. Dia juga tidak tahu masih hidup atau sudah mati.

Kalau anaknya pulang Tuanku Maharajo akan menghukum berat. Seandainya rakyatnya meminta di hukum mati. Maka dia akan menghukum mati, Puti gadih Ranti. Tapi kesalahan itu juga datang dari dirinya, sebab terlalu banyak memberikan ilmu pada Gadih Ranti yang masih sangat muda. Dia juga ingat betapa sulitnya mendapatkan anak Gadih Ranti, sampai bertapa di Bukit Kepanasan.

Maka diberitahu kalau Gadih Ranti berada di isntana Negeri Palupuah. Mendengar itu, bahagialah Tuanku Maharajo dan pinangan pun diterima. Beberapa hari kemudian ayah dan Ibu Gadih Ranti dan para datuk pergi ke Negeri Palupuah untuk membicarakan tentang pernikahan Puti Gadih Ranti dengan Sutan Maulano.

Di istana Palupuah juga bersiap, menyambut secara adat kedatangan rombongan dari Nagari Koto Tuo. Begitu mengharukan pertemuan anak dan kedua orang tuanya. Mereka mengira kalau Gadih Ranti kurus kering karena kurang makan dan kurang tidur.

Tapi justru sebaliknya dia bertambah cantik. Puti Balego Cayo berterima kasih pada ibu Sutan Maulano yang telah membantu dan menyelamatkan anak mereka. Musyawara keluarga selesai dan Gadih Ranti, sahabatnya pulang ke Nagari Koto Tua.

Beberapa bulan kemudian dilangsungkan akad nikah Sutan Maulano dengan Puti Gadih Ranti di Nagari Koto Tuo. Pernikahan begitu meria, yang menyelenggarakan bermacam pertunjukan. Diantaranya acara khataman Al-Quran. Disinilah Sutan Maulano diketahui kemampuannya.

Sutan Maulano ternyata begitu fasih dan bersuara merdu saat membaca Al-Quran. Pandai juga dia dengan terjemahan Al-Quran sehingga dia begitu menguasai ilmu Al-Quran. Gadih Ranti semakain terpikat dengan Sutan Maulano. Sebab dia ingin mencari suami yang dapat menuntunnya dunia dan akhirat.

Setelah menikah Sutan Maulano tinggal di Koto Baru dirumah neneknya. Selalu membantu pekerjaan di rumah orang tua mereka. Baik di Nagari Koto Tuo dan di Nagari Palupuah. Sutan Maulano memiliki usaha perdagangan yang berhasil. Dia pun bermaksud mendirikan istana baru di negeri yang belum berpenghuni. Mereka hidup rukun dan bahagia, lalu dikaruniahi anak bernama Sutan Makrifat.

Tuanku Maharajo bertamah terus usianya. Dia bertambah lemah dan sering sakit-sakitan. Maka ingin menyerahkan tahtanya pada Puti Gadih Ranti. Sebab adiknya Sutan Pamenan belum cukup umur.

Gadih Ranti menolak, tapi karena dukungan dan desakan rakyat kahirnya dia terpaksa menggantikan ayahnya dengan gelar, Tuantu Puti Sari Mudo. Tujuh tahun kemudian adiknya Suan Pamenan sudah cukup umur. Maka dia menyerahkan tahta itu pada adiknya dengan gelar, Tuantu Maharajo Bungsu.

Sutan Maulano menggantikan kedudukan ayahnya, Taunku Batang Palupuah di Nagari Palupuah. Sewaktu kepemimpinan Nagari Koto Tua diserahkan pada adiknya. Gadih Ranti dan suaminya Sutan Maulano tinggal di istana, Nagari Palupuah bersama kedua anaknya, Sutan Makrifat dan Putri Cahayo Pagi.

Oleh: Selasih.
Rewrite. Tim Apero Fublic
Editor. Desti. S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 30 Agustus 2020.
Sumber: Selasih. Rantak Si Gadih Ranti. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1986.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment