8/13/2020

Asal Usul Nama Tanah Alas. Aceh Tenggara.

Apero Fublic.- Di Aceh Tenggara ada sebuah daerah yang bernama, Tanah Alas. Tentu kita ingin mengetahui apa sebabnya daerah itu dinamakan Tanah Alas. Berikut ini, cerita dari masyarakat setempat mengenai asal usul nama Tanah Alas. Sekarang Tanah Alas adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh.

Menurut cerita masyarakat, di kawasan Tanah Alas pada masa dahulu adalah sebuah danau yang dikelilingi oleh gunung-gunung yang tinggi. Air danau berasal dari dari gunung yang dekat dengan Blang Kejeren. Air dari gunung mengalir ke sebuah sungai. Sampai sekarang sungai tersebut masih ada, yaitu Sungai Alas.

Pegunungan yang mengelilingi danau tersebut diantaranya, Gunung Parkisan si sebelah timur dan Gunung Biak Mentalang di sebelah barat. Kemudian terdapat pegunungan lainnya yang mengelilingi kawasan danau tersebut. Pegunungan tersebut merupakan bagian dari perbukitan Bukit Barisan. Bukit Barisan adalah bukit yang membentang sepanjang Pulau Sumatera.

Bentuk danau memanjang lurus, dari hulu ke hilir. Panjang danau diperkirakan kurang lebih sembilan kilometer. Gunung yang terletak di pinggiran danau sebelah timur dan barat tinggi dan tebal. Sedangkan dibagian hilir atau bagian selatan ke arah Singkel. Pegunungan yang tipis dan rendah dan banyak jurang-jurangnya.

Penduduk Tanah Alas pada masa dahulu tinggal di pegunungan-pegunungan sekitar danau tersebut. Mereka hidup sebagai petani dan pemburu. Sebagaimana kehidupan masyarakat masa lalu. Taman di lembah Tanah Alas sangat subur. Karena proses alam telah menyuburkan tanahnya. Penduduk Tanah Alas sangat menyukai ikan Jurong.

Proses alam terjadi dari waktu ke waktu. Suatu saat dimusim hujan. Hujan turun deras dalam waktu yang cukup lama. Sehingga air danau meluap dan kawasan lembah menjadi penuh. Tergenang air danau yang melimpa ruah. Sebagaimana disebutkan tadi, di kawasan sebelah hilir danau terdapat jurang-jurang dan berdinding tipis.

Kawasan jurang-jurang dibagian hilir menjadi retak dan pecah. Sehingga air danau tidak ada lagi pembatas. Air danau mengalir ke hilir dan memasuki jurang-jurang. Lama kelamaan, retak dan pecah menjadi lebar. Air danau akhirnya menjadi kering. Menyisakan cekungan tanah dasar danau yang datar.

Waktu berlalu danau telah kering. Datanglah orang-orang dari Blang Kajeren, yaitu Orang Melayu Gayo. Mereka sangat takjub tanah datar yang begitu luas. Orang Melayu Gayo menyebut tanah datar bekas dasar danau dengan, Alas. Mereka mengumpamakan dengan tikar yang terbentang rata di lantai. Alas sama artinya dengan tikar. Alas berarti sesuatu yang menjadi tumpuan sebelah bawah.

Di Blang Kejeren banyak pegunungan, besar atau kecil. Sangat sulit menemukan tanah yang datar dan luas. Tidak ada tanah datar seperti tikar terbentang. Maka mereka menamakan kawasan tersebut dengan, Tanah Alas. Atau tanah yang datar seperti tikar terbentang.

Selain orang Melayu Gayo ada kelompok lain yang datang ke kawasan tersebut. Yaitu, orang Melayu Deli dari kawasan pesisir. Orang Melayu Deli mengatakan tanah danau yang kering itu dengan, Alas.

Dengan maksud kalau kawasan itu adalah alas dari gunung-gunung sekitarnya. Alas juga dalam bahasa Melayu sama dengan halnya tikar. Apabila mereka ingin tidur atau makan. Mereka selalu menggunakan alas, membentang alas. Pada zaman dahulu alas sudah pasti bentuk tikar.

Dari dua kelompok orang Melayu tersebutlah akhirnya daerah Kutacane dikenal dengan Tanah Alas. Cerita ini sangat masuk akal dan cenderung tidak mengada-ada. Tidak ada bau mitos dan legenda. Apabila ditinjau dari sistem pemukiman orang Melayu zaman dahulu. Memang mendiami bukit-bukit tinggi, kaki gunung. Peradaban tersebut dikenal dengan zaman megalitikum.

Kalau kita mengkaji ilmu antropologi tentang peninggalan zaman megalitikum. Memang pemukiman orang Melayu terdapat disepanjang kaki bukit Barisan. Bukan hanya di Pulau Sumatera, tapi juga diseluruh kawasan Asia Tenggara terdapat pemukiman zaman megalitikum. Sepertinya cerita asal usul nama Tanah Alas memiliki nilai kesesuaian.

Kajian nama-nama tradisional, Tanah Alas sesuai. Karena berdasarkan hal-hal yang dijumpai masyarakat awalnya. Selain itu, nama serupa di daerah Sumatera Barat juga dijumpai, Tanah Datar. Tanah Datar dan Tanah Alas memiliki makna yang sama.

Rewrite: Tim Apero Fublic.
Editor. Desti. S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang. 14 Agustus 2020.
Sumber: Bahrum Yunus, Dkk. Struktur Sastra Lisan Alas. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment