7/06/2020

Secercah Harapan dari Pelosok Negeri

Apero Fublic.- Muara Enim. Pernah dengar nama "Danau Gerak." Sebuah desa yang sejuk, damai, dan tentram di pedalaman Provinsi Sumatera, tepatnya di Kabupaten Muara Enim, Kecamatan Semende Darat Ulu. 

Desaku terletak di dataran tinggi. Salah satu tempat  yang dijuluki "Negeri di atas Awan." Desaku terletak di bawah kaki bukit daerah Semende. Lima jam dari kota Muara Enim. Jalan yang berkelok-kelok dan terjal. Begitu pun dengan harumnya bauh yang tercium sampai ke Eropa, sejak dulu. Jauh sebelum negara kita merdeka.

Aku melihat bagaimana daerah lain. Saat telah masuk di Perguruan Tinggi, UIN Raden Fatah Palembang. Jauh berbeda dengan keadaan di desaku. Di malam dan siang hari listrik menyalah dengan baik. Begitu juga dengan jaringan telekomunikasi juga baik.

Saat hadirnya pandemi virus corona saya pulang ke desa tercinta. Karena wabah Covid 19 dengan segala permasalahannya telah membuat berbagai elemen sosial menjadi terhambat tak terkecuali pendidikan. Social distancing akhirnya diterapkan dan kuliah melalui daring.

Ada satu hal yang aku pahami. Bahwa pandemi covid-19 mengajarkan kepada akan kebutuhan teknologi informasi. Kita sekarang hidup di zaman yang semakin canggih. Betapa tidak, dimana belajar-mengajar dilakukan dengan teknologi informasi atau bahasa umumnya, online.

Belajar online, Kuliah online, KKN online, Sekolah online, Tugas online, semuanya serba online. Pejabat dan orang-orang di daerah maju. Rapat melalu zoom dan santai dengan internetnya. Begitu juga yang berada di wilayah memiliki listrik cukup. Juga akses internet bagus. Tentu semuanya mudah dan menyenangkan.

Lalu apa kabar anak-anak yg berada di pelosok negeri tanpa Cahaya Listrik dan sinyal yang memadai. Bagaimana agar pendidikan tetap jalan di tengah krisis pandemi seperti sekarang. Bagaimana dengan tugas mahasiswa yang akan dikirim melalui internet.

Kebaruan adalah peremajaan dari ia yang katanya mengalami penuaan.” Tapi sayangnya itu tidak bagi kami anak-anak Desa Danau Gerak. Dengan jumlah penduduk hanya 200 KK, Sekedar Listrik saja belum juah teralirkan. Lalu bagiamana masa depan kami dengan harapan-harapan dan mimpi-mimpi yang melambung tinggi tanpa cahaya??.

Akan kah nasib terus begini?? Pasrah dengan keadaan!!!. Bagaimana nasib pendidikan kita?. Bagaimana nasib cita-cita kita??. Cita-cita untuk bangsa dan negara kedepanya. Mana keadilan untuk kami!!!.

Tanpa penerangan, anak-anak sibuk mencari terang pengetahuan. Hanya saja anak-anak desa yang sedang menempuh pendidikan gusar dengan kebijakan yg didesak oleh  keadaan zaman.

Namun zaman itu tidak mewakili mereka. Lebih nyaman mereka disana, di kantor dan ber-AC. Dengan segala keresahan dan keterbatasan mau tidak mau harus ikut kebijakan. Waktu terus berubah dan manusia ikut berubah didalamnya. berubah ke arah yang lebih baik.

Hidup di desa dengan cahaya redup mengisi ruang atas nama ilmu. Bersama kesunyian malam pendidikan harus tetap jalan dan bertahan. Saat kesal dengan kegelapan, di dalam hati mengapa aku terlahir di sini. Mengapa tidak terlahir di kota, atau di daerah yang diperhatikan pemerintah.

Tidak sedikit anak-anak yg mengeluh atas keadaan ini. Untuk sekolah, mereka tidak butuh gedung menjulang, yang mereka butuh fasilitas yang memadai untuk tetap belajar. Kita Pancasilah bekan?. Silah ke lima, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kami belum sampai pada silah ke lima itu.

Paling tidak inilah yang menjadi PR bagi mereka yg sedang berkuasa dan berkewajiban agar memikirkan solusi kesejahteraan pendidikan dan segera direalisasikan. Bukan cuman harapan demi masa depan kami dan masa depan negeri ini.

Secercah harapan, untuk pendidikan  di Indonesia. Agar tidak sepucat yang banyak dikata mereka. Secercah cahaya dapat menyinari impian-impian. Ketika tunas muda yang mulai tumbuh bertebaran. #Salam Takzim dari Pelosok Negeri.

Oleh: Senianah.
Editor. Desti. S.Sos.
Danau Gerak, 6 Juli 2020.

Sy. Apero Fublic.

1 comment: