7/26/2020

Masyarakat Kera Mandi Atau Mekmen. Apakah Kamu Termasuk?

Apero Fublic.- Dunia digital bagian dari Teknologi Informasi. Sekarang telah menjadi bagian gaya hidup yang tidak terpisahkan pada masyarakat modern. Kebutuhan informasi, kebutuhan bisnis, kebutuhan popularitas, kebutuhan hiburan dan eksistensi diri.

Pengguna dari Teknologi Informasi mencakup seluruh elemen masyarakat. Dari masyarakat sipil biasa, menengah, dan atas. Dari pemimpin negara, pemimpin politik sampai ke masyarakat pedesaan di pelosok dunia. Semua kalangan umur, dari anak-anak, tua, muda, dewasa. Jenis kelamin pria dan wanita semuanya sudah mengenal Teknologi Informasi pada smartphone.

Dalam permasalahan penyakit sosial ini. Dampak dari perkembangan Teknologi Informasi. Yang kita temui diantaranya adalah penyakit Masyarakat Kera Mandi disingkat dengan MAKEMAN. Kalau dieja kedalam bahasa Inggris, Makeman berbunyi mekmen. Sehingga istilah penyebutan Masyarakat Kera Mandi dengan sebutan mekmen.

Sebelum masuk pembahasan kita bahas dahulu tentang apa Kera Mandi. Kera adalah sejenis hewan primata yang habitatnya di darat dan tempat tinggalnya pepohonan. Di daerah lain dinamakan moyet. Kera selalu memiliki kawanan, ada yang banyak dan ada yang sedikit. Kawanan kera yang banyak terkadang mencapai ratus ekor kera. Terdiri dari besar dan kecil, tua muda, jantan dan betina.

Pada musim kemarau panjang kawanan kera mendekati sumber air. Mereka datang untuk minum dan ada juga yang mandi. Sebelum minum dan mandi, selama mereka di sekitar sumber air. Suara kera tidak pernah diam. Krak.. krikk. Kraakk ..kriik. Bising, ribut, berisik dan sebagainya. Semak-semak disekitar itu hancur mereka gilas. Selama itu, tidak pernah diam dan sangat ramai. Melompat-lompat, berlarian di tanah, di tebing sungai, berkelahi, ada yang kawin dan lainnya. Pokoknya sangat ramai sekali.

Bagaimana hubungan masyarakat yang mengidap penyakit mekmen atau Masyarakat Kera Mandi dengan masyarakat kita. Terletak pada kehebohan mereka di dunia internet. Lalu mereka bawa ke dunia nyata. Kehebohan tersebut bukan karena hal baik. Tapi kehebohan karena hal-hal sepele, tidak penting, hoax, kekanak-kanakan dan amoral (paling sering masalah seks). Berikut ini, penyebab munculnya kelompok Masyarakat Kera Mandi atau mekmen:

1.Baru Mengenal Teknologi Internet (baru beli Hp, smartphone).
Faktor pertama munculnya Masyarakat Kera mandi atau mekmen adalah. Biasanya diawali orang yang baru membeli henpone (Hp), smartphone dan dia belum memiliki pengetahuan tentang internet. Tidak mengerti teknologi edit video, edit kata-kata, edit foto dan sebagainya. Sehingga dia mudah percaya dan terhasut oleh apa yang dia konsumsi di media internet.

Dia menganggap yang di internet sama seperti di media TV Nasional misalnya TVRI, Metro TV, Kompas TV. Atau artikel-artikel di media nasional yang berbadan hukum. Mereka juga tidak tahu, terkadang media berbadan hukum juga kurang objektif. Orang-orang yang baru berkenalan dengan teknologi dan baru membeli henpone (hasil kreditan) yang sangat mudah terpapar hoax. Atau konten jelek lainnya.

2.Kurang Ilmu Pengetahuan (Tolol).
Dalam permasalahan kurangnya ilmu pengetahuan. Juga bagian dari munculnya Masyarakat Kera Mandi. Seandainya dia memiliki handpone canggih, berjumlah lebih dari satu. Sudah memiliki sejak smartphone muncul pertama kalinya, sudah mengenal teknologi digital, seperti edit video dan segalanya macam editan. Tapi dia masih termakan isu hoax, percaya yang tidak-tidak di internet.

Maka golongan ini adalah golongan orang yang tidak memiliki intelektual memadai atau nyaris kurang. Misalnya ikut ribut isu kelepon bukan makanan syariah. Saat melihat video editan suara makan telur untuk tangkal virus corona. Ikut merebus telur, sibuk menyebarkan video tersebut. Maka kelompok ini disebut kurang ilmu pengetahuan dan digolongkan Masyarakat Kera Mandi atau Mekmen.

3.Tidak Dapat Berpikir Kritis dan Logis.
Masyarakat Kera Mandi atau mekmen juga disebabkan ketidakmampuan berpikir kritis. Tidak dapat berpikir logis dan masuk akal sehat (tahayul). Mereka mudah mengikuti dan segerah mempercayai dengan begitu saja apa yang dilihat, didengar, dibaca dimedia internet. Cara berpikir ini memang sudah mendarah daging pada masyarakat umum, terutama di Indonesia.

Percaya dengan hal-hal aneh dan berbau mistis, gaib dan ajaib. Tidak berpikir mengapa bisa begitu, tidak berpikir apa hubungannya, sumber dari mana. Pokoknya saat melihat video, membaca tulisan, atau melihat gambar langsung menerima tanpa koreksi. Maka disebut tidak mampu berpikir kritis atau mental babu, mental budak.

Seperti permasalahan kelepon makanan tidak syariah. Maka belilah kurma adalah makanan syariah. Berawal dari tulisan entah siapa yang membuat. Masyarakat muslim Indonesia ribut dan heboh. Hanya tulisan kecil jelek dan editan amatiran saja.

Kalau berpikri logis, makanan kelepon dari tepung, dibumbuhi gula dan kelapa. Apa yang tidak syariah. Makanan syariah adalah makanan halal, sehat, tidak beracun, berbahan dari yang halal dan baik. Kalau kita lihat umat Islam di Indonesia. Pola pikir masih sangat rendah dan dibawa rata-rata.

4.Kurang Pekerjaan
Kurangnya pekerjaan juga menjadi faktor pemicu munculnya Masyarakat Kera Mandi atau mekmen. Misalnya dia seorang karyawan saat bekerja pekerjaan selesai. Karena berkumpul dengan rekan kerja tidak ada yang dibahas. Maka mereka membahas isu-isu aneh, hoax, viral, dan hal-hal jelek lainnya.

Saat berbincang itu timbul spekulasi masing-masing, tentu yang jelek dan akal-akalan mereka. Lalu mereka sama-sama percaya, mengajak orang percaya, ikut menyebarkan dan memviralkan. Kelompok pemalas, duduk-duduk nongkrong atau sebaginya sebagaimana orang kurang pendidikan biasanya.

5.Kurang Iman
Masyarakat Kera Mandi atau mekmen juga disebabkan faktor kurang beriman orang tersebut pada tuhannya. Dia tidak takut dosa, tidak malu pada diri sendiri. Pokoknya apa yang dia lihat, yang dia baca langsungdi viralkan. Dia sebar dan ikut-ikutan masuk sebagai hakim. Padahal banyak hal yang dapat dia kerjakan atau yang perlu dia bahas. Misalnya mendidik anaknya atau mengajarkan anaknya pelajaran sekolah.

6. Kekanak-Kanakan
Faktor keenam yang menyebabkan munculnya Masyarakat Kera Mandi (mekmen), adalah sifat mereka yang kekanak-kanakan. Misalnya mudah emosi karena hal di media internet. Kalau ada pemimpin politik yang lagi mencari popularitas dengan cara melontarkan pernyataan anti Islam, atau pernyataan yang tidak biasa. Maka langsung disebar-sebar dan dikomentari tanpa kendali.

Langsung marah, langsung emosi, mengajak orang untuk menentang, untuk demo, mencaci maki di media internet. Padahal orang itu cuma mencari popularitas saja. Seperti Donald Tramp yang menyatakan anti Islam. Dia meraih simpati besar di Amerika Serikat. Sebab Islam dikenal di Amerika Serikat adalah agama teroris, anti LGBT, kejam, perang dan sebagainya. Dia meraih simpati dari banyak manusia-manusia yang tidak mengerti Islam. Sehingga mereka masuk dalam kategori Masyarakat Kera Mandi atau mekmen.

Berbanding terbalik dengan politisi penantang Danald Trump dari Parta Demokrat, Joe Biden (Josep Robinette). Dia menampilkan posisi sebagai oposisi. Trump anti Islam dia berpihak pada Islam. Dimana dia mengutif hadis tentang amar maruf nahi munkar. Kedua tokoh ini adalah contoh orang-orang ini sedang mencari popularitas di masyarakat. Memberikan bahan untuk media pendukung mereka untuk mengulas dan merilis berita atau artikel.

Jadi, kita sikapi dengan biasa saja, dan tidak turut larut apalagi memviralkan tentang mereka. Jangan sampai jadi alat mereka, alat media, alat buser dalam menjalankan keinginan mereka. Apabila kalian masih masuk dalam permainan tersebut. Maka kalian termasuk kedalam golongan Masyarakat Kera Mandi atau pengidap penyakit sosial mekmen. Dalam mencari pemimpin bukan populernya, tapi apa programnya dan latar belakangnya.

Hal demikian juga terjadi diseluruh dunia, termasuk di Indoensia. Seperti orang partai memberikan pernyataan kontroversial. Misalnya agama tersebut agama keras, dan sebagainya. Atau calon pemimpin politik mempublikasikan kata-kata tidak sesuai dari biasa. Artis yang bersensasi, orang berbuat bodoh agar viral di media sosial.

Ada pernyataan orang yang disebut budayawan di Jakarta. Kemudian membuat pernyataan kalau Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan Fiktif. Itu adalah trik dari youtuber untuk menarik viewer. Jadi hal yang perlu diperhatikan. Untuk video-video youtuber jangan dijadikan reverensi berpikir dan bertindak. Youtuber dengan orang-orang biasa, tanpa memiliki kemampuan dibidangnya jangan dipercaya. Cukup jadikan hiburan semata.

Kita sebagai warganet lihat saja sebagai hiburan atau lelucon. Jangan ikut masuk permainan mereka atau skenario mereka. Cukup cibir saja di dalam hati kita. Jangan dikomentari pada kolom komentar. Jangan di share, jangan di viralkan. Atau kamu spam saja dan blokir akun-akun demikian. Sebab hanya merusak bukan mendidik.

Sekarang pertanyaanya, apakah kamu termasuk Masyarakat Kera Putih atau golongan mekmen???. Jawab oleh kamu sendiri sebab kamu pengguna internet di handpone kamu!!!. Kamu baru beli Hp, Ya?. Mulai sekarang jadilah warganet yang bijak dan kritis. 

Oleh. Tim Apero Fublic.
Editor. Desti. S.Sos.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang. 27 Juli 2020.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment