4/02/2020

PRANATA PEMBERDAYA SOSIAL (Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I).


PROGRAM STUDI S2 SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH PALEMBANG

Abstrak

Pranata sosial memiliki bentuk dan keragaman sesuai dengan peran dan fungsinya. Keragaman tersebut harus dilihat  sebagai khasanah sosial yang dapat dijadikan sebagai modal sosial (social capital) di dalam proses pembangunan masyarakat. Permasalahannya adalah  bagaimana  keragaman pranata sosial dapat sinergi sehingga mampu memberikan kontribusi pada Pembangunan Kesejahteraan Sosial.

Secara substansi tujuan Makalah ini mengkaji “strategi Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I dalam melestarikan adat istiadat serta peran Lembaga Pemangku Adat sebagai salah satu pranata perawatan sosial dalam Membangun Kesadaran Masyarakat Tentang Arti Pentingnya Melestarikan Adat istiadat dan budaya Lokal Palembang“adalah mencoba mengidentifikasi dan menganalisis tiga unsur penting dalam mewujudkan pengembangan pranata  sosial dalam Masyaratkat Seberang Ulu 1 yakni: adanya kesamaan persepsi dan kesadaran; komitmen bersama dan aksi bersama. Strategi Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I  Kota Palembang Dalam Melestarikan Budaya Lokal Palembang.

Strategi yang pertama adalah memberdayakan Lembaga Pemangku Adat, dan masyarakatnya, program pengembangan sumber daya manusia tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan seperti mengadakan penataran–penataran adat istiadat dan budaya lokal dan mengadakan studi banding, Kedua, menyusun program kerja, Ketiga, melakukan perlindungan budaya lokal Palembang, Keempat, melakukan pengembangan budaya lokal Palembang, Kelima, melakukan pengelolaan dan pemanfatan budaya lokal Palembang dan Keenam, melalukan sosialisasi adat istiadat dan kebudayaaan lokal.

Keywords : Pranata sosial, lembaga adat, strategi pelastarian.

A. Pendahuluan
Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki kebudayaan beragam. Indonesia memiliki suku yang sangat beragam, dengan suku yang beragam berarti Indonesia juga memiliki tradisi-tradisi kebudayaan yang beragam pula. Di setiap daerah, tradisi-tradisi tersebut juga memiliki berbagai macam tata cara pelaksanaannya, atau juga bisa berbeda dari segi tempat pelaksanaannya.

Ada juga di suatu daerah yang memiliki tata cara pelaksanaan yang hampir sama, namun istilah yang digunakan berbeda. Manusia memerlukan suatu bentuk keyakinan dalam hidupnya karena keyakinan akan melahirkan tata nilai guna menopang hidup budayanya. Dengan keyakinan yang sempurna, hidup manusia tidak akan ragu. Keyakinan yang benar haruslah bersumber dari nilai yang benar.[1]

Proses perubahan kebudayaan kemudian bertambah cepat, dan banyak unsur baru dengan suatu ragam yang besar di berbagai tempat di dunia dalam permasalahan ini strategi sangat diperlukan untuk menjaga kebudayaan  dalam melestarikan budaya lokal asli. Dari Y.A. Untoro menurut Quinn strategi adalah “pola atau rencana mengeintergrasikan tujuan, kebijakan dan aksi utama dalam hubungan kohesif”.[2]

Suatu strategi yang baik akan membantu organisasi dalam mengalokasikan sumber daya yang dimilik. Strategi kebudayaan menurut Van Pursen adalah siasat atau strategi manusia menghadapi hari esok, suatu proses belajar (learing process) yang senantiasa besifat sinambung. Didalam proses itu, kreativitas dan intersivitas merupakan faktor krusial karena meyangkut berbagai pertimbangan etis atas pergeseran – pergeseran yang terjadi dalam kebudayaaan.[3]

Semua unsur kebudayaan dapat dipandang dari sudut ketiga wujud masing–masing tadi. Dalam kebudayaan terdapat tujuh unsur yaitu:
1.Bahasa
2.Sistem pengetahuan
3.Organisasi sosial
4.Sistem peralatan hidup dan teknologi
5.Sistem mata pencaharian hidup
6.Sistem religi
7.Kesenian.[4]
Melestarikan tidak berarti membuat sesuatu menjadi awet dan tidak mungkin punah. Melestarikan berarti memelihara untuk waktu yang sangat lama. Jadi upaya pelestarian warisan budaya lokal berarti upaya memelihara warisan budaya lokal untuk waktu yang sangat lama. Karena upaya pelestarian merupakan upaya memelihara untuk waktu yang sangat lama maka perlu dikembangkan pelestarian sebagai upaya yang berkelanjutan.

Untuk itu perlu ditumbuh kembangkan motivasi yang kuat untuk ikut tergerak dan berpartisipasi melaksanakan pelestarian, antara lain.
1. Motivasi untuk menjaga, mempertahankan dan mewariskan warisan budaya yang diwarisinya dari generasi sebelumnya.
2. Motivasi untuk meningkatkan pengetahuan dan kecintaan generasi penerus bangsa terhadap nilai-nilai sejarah kepribadian bangsa dari masa ke masa melalui pewarisan khasanah budaya dan nilai-nilai budaya secara nyata yang dapat dilihat, dikenang dan dihayati.
3.Motivasi untuk menjamin terwujudnya keragaman atau variasi lingkungan budaya.
4. Motivasi ekonomi yang percaya bahwa nilai budaya lokal akan meningkat bila terpelihara dengan baik sehingga memiliki nilai komersial untuk meningkatkan kesejahteraan pengampunya.
5. Motivasi simbolis yang meyakini bahwa budaya lokal adalah manifestasi dari jati diri suatu kelompok atau masyarakat sehingga dapat menumbuh kembangkan rasa kebanggaan, harga diri dan percaya diri yang kuat.[5] Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa pelestarian budaya lokal juga mempunyai muatan ideologis yaitu sebagai gerakan untuk mengukuhkan kebudayaan, sejarah dan identitas dan juga sebagai penumbuh kepedulian masyarakat untuk mendorong munculnya rasa memiliki masa lalu yang sama diantara anggota komunitas.[6]

Sehubungan dengan penulisan penelitian yang akan dilaksanakan, peneliti menerangkan beberapa hasil penelitian terdahulu yang relevan serta berguna untuk membantu penulis dalam menyusun penelitian yang sedang direncanakan. Tinjauan pustaka merupakan salah satu unsur penting dalam sebuah penelitian, karena fungsi untuk menjelaskan posisi masalah yang akan diteliti di antara penelitian yang pernah dilakukan lain dengan maksud menghindari duplikasi (plagiasi). Adapun hasil tinjauan pustaka yang dilakukan sebagai berikut:

Agus Budi Wibowo dalam penelitiannya yang berjudul “Strategi Pelestarian Benda/Situs Cagar Budaya Berbasis Masyarakat Kasus Pelestarian Benda/Situs Cagar Budaya Gampong Pande Kecamatan Kutaraja Banda Aceh Provinsi Aceh“, Jurnal, 2014. Mengungkapkan Cagar budaya tidak hanya menceritakan peradaban suatu masyarakat dalam suatu wilayah, tetapi juga perwujudan peradaban umat manusia dan elibatan masyarakat melalui upaya pemberdayaan. Tujuan pemberdayaan pada hakekatnya memampukan masyarakat agar dapat mengaktualisasi diri dalam pengelolaan lingkungan budaya yang terdapat di sekitarnya dan memenuhi kebutuhannya secara mandiri tanpa ketergantungan dengan pihak-pihak lain.[7]

Reny Triwardani dalam penelitiannya yang berjudul Implementasi Kebijakan Desa Budaya dalam Upaya Pelestarian Budaya Lokal” jurnal, 2014 mengungkapkan bahwa pada tahapan implementasi kebijakan desa budaya sebagai model pelestarian budaya lokal perlu diikuti dengan kebijakan tata kelola desa budaya sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat konservasion budaya lokal ini.[8]

Volare Amanda Wirastari dan Rimadewi Suprihardj dalam penelitiannya yang berjudul Pelestarian Kawasan Cagar Budaya Berbasis Partisipasi Masyarakat (Studi Kasus: Kawasan Cagar Budaya Bubutan, Surabaya)” jurnal, 2012 mengungkapkan bahwa pada Kampung Alun-Alun Contong yang merupakan sentra perdagangan, bentuk partisipasi yang sesuai adalah 1) mengadakan festival budaya dengan kerjasama dengan pemerintah, profesional, dan masyarakat dan 2) mengadakan diskusi antara masyarakat, pemerintah, dan professional untuk langkah pelestarian kawasan cagar budaya yang berkelanjutan di Kampung Alun-Alun Contong.[9]


Penulis melihat dari laporan penelitian maupun jurnal sebagaimana yang telah di jelaskan di atas terdapat persamaan bahasan, yaitu sama-sama meneliti Pelestarian Budaya namun terdapat perbedaan dalam penelitian tersebut, yaitu pembahasan tentang  startegi Lembaga Pemangku Adat dan lokasi penelitian. Belum ada yang meneliti tentang startegi Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I dalam melestarikan budaya Lokal palembang. Maka penelitian ini urgen dilakukan karena berfokus padaornamen yang melekat pada bangunan.

Untuk dapat mengendalikan penelitian dan memperjelas ruang lingkup penelitian, dengan tujuan mendapatkan hasil uraian penelitian secara sistematis.Pembatasan yang dimaksudkan agar peneliti tidak terjerumus ke dalam banyaknya data yang ingin diteliti.[10] Agar tidak menimbulkan terlalu luasnya penafsiran dan agar penelitian ini menjadi fokus, maka di sini penulis perlu memberi batasan masalah sehingga penelitian ini nantinya akan terpusat pada permasalahan yang diteliti dan juga lebih terarah. Dalam penelitian ini, Penulis berfokus kepada Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I Kota Palembang dalam Strategi melestarikan budaya lokal kota Palembang.

Harnojoyo mengungkapkan, Lembaga Pemangku Adat ini sangat dibutuhkan fungsinya di tengah-tengah masyarakat, karena adat istiadat memegang peran yang sangat penting dan dapat memberikan dampak yang positif dalam kehidupan masyarakat:
“Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa adat istiadat merupakan jati diri bagi Bangsa Indonesia, sekaligus mendasari bagian terbesar perilaku sosial budaya bangsa kita. Keberadaan adat istiadat dan kebiasaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari mampu memperdayakan masyarakat dalam mencapai taraf hidup yang lebih baik dilihat dari sisi sosial, ekonomi maupun sisi lainnya. Dengan demikian akan terkondisi suasana yang aman sehingga dapat mendorong peningkatan peran dan fungsi lembaga adat dalam upaya mendukung dan berpartisipasi secara aktif guna menunjang Kelancaran penyelenggaraan pemerintah, pelaksanaan pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan pada semua tingkat pemerintah di daerah.”[11]

Berdsarkan Peraturan Daerah Kota Palembang  Nomor 9 Tahun 2009 tentang Pemberdayaan, Pelestarian dan Pengembangan Adat Isitadat serta Pembentukan Lembaga Adat pada Bab IV Pembentukan Lembaga Adat Pasal 8 dalam rangka penyelenggaraan upaya pemberdayaan, pelestarian dan pengembagan adat istiadat dan nilai – nilai sosial budaya masyarakat, dibentuk Lembaga Adat di tingkat kecamatan dan kota  dan pada pasal 9 Lembaga sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 8, terdiri dari:
I. Lembaga Adat kecamatan yang disebut sebagai Lembaga Pemangkut adat

II. Lembaga Adat kota yang disebut Dewan Pembina adat.[12]

Lembaga Pemangku Adat Kota Palembang sudah tersebar di 16 kecamatan yang ada di kota Palembang.Palembang banyak memiliki kebudayaan yang harus dilestarikan di antaranya Baso Palembang, Kesenian Dul Muluk, Tarian Gending Sriwijaya, Lagu Daerah (Dek Sangke), Rumah Limas, Kain Songket, Batik Palembang, Adat Perkawinan, dan lain sebagainya.[13] Inilah sebagian kebudayaan yang perlu dilestarikan oleh seluruh lapisan masyarakat Kota Palembang.

B. Landasan Teori
Dalam penelitian kebudayaan ini penulis menggunakan teori singkronisasi budaya, Hamelink menguraikan Singkronisasi budaya adalah “lalu lintas produk budaya masih berjalan satu arah dan pada dasarnya mempunyai model yang sinkronik.[14] Terbentuknya budaya dari beberapa unsur Elemen, dan waktu yang sangat panjang dan rumit penggabungan dari system agama dan politik, adat istiadat, bahasa, pakaian, bangunan rumah, karya seni, dan karakter ristik daerah nya. Budaya juga termasuk hal yang tidak bisa di pisahkan dari diri manusia dari lahir sampai tua sehingga masyrakat menganggap budaya di wariskan sejak manusia lahir di muka bumi.

Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa ada keterkaitan erat antara kebudayaan dengan sosiologi. Sosiologi mempelajari masyarakat, dimana dalam suatu masyarakat ada kebudayaan, tingkah laku, organisasi yang ada dalam masyarakat tersebut. Kebudayaan lahir dan berkembang di antara masyarakat keduanya saling berkaitan erat dan ada timbal balik di dalamnya, kebudayaan tidak akan berkembang tanpa masyarakat. Masyarakat tidak akan berkembang tanpa ada kebudayaan yang mendasarinya.

Yang kedua Penulis mengunakan teori pelestarian, menurut A. Chaedar Alwasilah pelestarian adalah sebuah upaya yang berdasar, dan dasar ini disebut juga faktor-faktor yang mendukungnya baik itu dari dalam maupun dari luar dari hal yang dilestarikan. Maka dari itu, sebuah proses atau tindakan pelestarian mengenal strategi atapun teknik yang didasarkan pada kebutuhan dan kondisinya masing-masing.[15]

Kajian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian antropologi. Ilmu antropologi adalah ilmu tentang manusia khususnya tentang kebudayaan, adat-istiadat serta tradisi. Dalam penelitian ini pendekatan antropologi mampu mengungkap dan menjelaskan asal-usul sejarah, perkembangan lembaga dan budaya lokal, dan mampu mengungkap nilai-nilai di dalam masyarakat Sumatera Selatan khususnya di Kecamatan Seberang Ulu I Kota palembang.

Dengan demikian manusia dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena dalam kehidupannya tidak mungkin tidak berurusan dengan hasil-hasil kebudayaan, setiap hari manusia melihat dan menggunakan kebudayaan, bahkan kadang kala disadari atau tidak manusia merusak kebudayaan.Interaksi sosial tersebut merupakan suatu proses, dimana timbul hubungan timbal balik antarindividu dan antarkelompok, serta antarindividu dengan kelompok. Karena proses tersebut maka akan timbul: kelompok sosial, kebudayaan, lembaga-lembaga sosial, stratifikasi sosial, dan kekuasaan dan wewenang.

C. Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Metode adalah cara, prosedur, atau teknik untuk mencapai suatu tujuan secara efektif dan efisien.[16] Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif, David William mendefinisikan penelitian kualitatif adalah pengumpulan data padasuatu latar alamiah, dengan menggunakan metode alamiah, dan dilakukan oleh orangatau peneliti yang tertarik secara alamiah.[17]

Sedang jenis penelitian yang dipakai oleh peneliti adalah jenis deskriptif kualitatif yang mempelajari masalah-masalah yang ada serta tata cara kerja yang berlaku. Dalam penelitian ini penulis menggunakan dua macam pendekatan yakni pendekatan sosiologi dan pendektan antropologi. Untuk jelasnya dapat diperhatikan sebagai berikut : Pendekatan antropologi adalah penelitian tentang ilmu sosial yang mempelajari asal – usul dan hubungan sosial manusia atau ilmu tentang struktur dan fungsi tubuh manusia.

Pendekatan Sosiologi Dalam penelitian ini juga menggunakan pendekatan sosiologi. William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkopf  menuturkan Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.[18] Dengan demikian, jenis penelitian kualitatif dengan metode deskriptif dan mengunakan pendekatan sosiologi dan antropolgi yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, yaitu ingin mendapatkan pemahaman yang lengkap mengenai pokok permasalahan yang diteliti sehingga menjawab rumusan masalah yang dipersoalkan.

D. Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I
Dari peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 2007, Dewan Pembina Adat Kota Palembang dan Lembaga Pemangku Adat di kecamatan- kecamatan seluruh kota palembang didirikan, Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I di dirikan atas prakarsa pemuka masyarakat setempat memalalui musyawarah dan mufakat yang ditetapkan dengan keputusan walikota setelah mendapatkan pertimbangan camat, sesusai Peraturan Daerah Kota Palembang No 09 Tahun 2009 Tentang Pemberdayaan, Pelestarian Dan Pengembangan Adat Istiadat Serta Pembentukan Lembaga Adat.

Menurut Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 09 Tahun 2009 tentang “Tentang Pemberdayaan, Pelestarian Dan Pengembangan Adat Istiadat Serta Pembentukan Lembaga Adat”, Lembaga Adat adalah Lembaga organisasi kemasyarakatan yang karena kesejarahan atau asal usulnya memuliakan hukum adat dan serta Melestarikan adat dan budaya lokal mendorong anggotaAnggotanya untuk melakukan kegiatan pelestarian serta pengembangan adat budaya Palembang.[19]

Mengutuskan Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I sebagai bagian dari lembaga Pemangku Adat setingkat Kecamatan. Berdirinya Lembaga Pemangku Adat khususnya di Kecamatan Seberang Ulu I tidak bisa dilepaskan dari berdirinya Dewan Pembina Adat Kota Palembang.[20]

Dewan pembina Adat adalah lembaga yang mengawasi, mengkoordinir, dan memberikan arahan pada Pemangku Adat dalam pembinaan  dan penyelengaraan kegiataan yang dilaksanakan oleh Lembaga Pemang Adat dan Menfasilitas penyelesaian masalah yang berkaitan dengan tugas dan fungsi Pemangku Adat.[21] Lembaga pemangku adat Kecamatan seebarang ulu I didirikan pada tahun 2010, dengan ketua saat itu bapak H. Ibrahim Lakoni, dan sekretariat lembaga pemangku adat kecamatan seberang ulu I bertepatan di Kantor Camat Seberang Ulu I.[22]

Pada tahun 2015 pada periode ini ketua Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I bergantin dan yang terpilih adalah bapak. Drs. H tjek Wan Rasyid dan sekretariat pindah kediaman Tjek Wan Rasyid.

Lembaga adat adalah perangkat organisasi. yang tumbuh dan berkembang bersamaan dengan sejarah suatu masyarakat adat untuk mengatur, mengurus, dan menyelesaikan berbagai permasalahan-permasalahan kehidupan sesuai dengan hukum adat yang berlaku.[23]

Lembaga Adat berfungsi bersama pemerintah merencanakan, mengarahkan, mensinergikan program pembangunan agar sesuai dengan tata nilai adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan yang berkembang dalam masyarakat demi terwujudnya keselarasan, keserasian, keseimbangan, keadilan dan kesejahteraan masyarakat Selain itu, Lembaga adat berfungsi sebagai alat kontrol keamanan, ketenteraman, kerukunan, dan ketertiban masyarakat, baik preventif maupun represif, antara lain:
1.Menyelesaikan masalah sosial kemasyarakatan.
2.Penengah (Hakim Perdamaian) mendamaikan sengketa yang timbul di masyarakat.
Kemudian, lembaga adat juga memiliki fungsi lain yaitu :
3.Membantu pemerintah dalam kelancaran dan pelaksanaan pembangunan di segala bidang terutama dalam bidang keagamaan, kebudayaan dan kemasyarakatan.
4.Melaksanakan hukum adat dan istiadat dalam Kecamatan adatnya
5.Memberikan kedudukan hukum menurut adat terhadap hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan hubungan sosial kepadatan dan keagamaan.
6.Membina dan mengembangkan nilai-nilai adat dalam rangka memperkaya, melestarikan dan mengembangkan kebudayaan nasional pada umumnya dan kebudayaan adat khususnya.

Peranan Lembaga Pemangku adat kecamatan seberang telah menerapkan strategi–strategi untuk melestarikan adat isitidat dan budaya lokal Palembang, Melestarikan tidak berarti membuat sesuatu menjadi awet dan tidak mungkin punah. Melestarikan berarti memelihara untuk waktu yang sangat lama. Jadi upaya pelestarian warisan budaya lokal berarti upaya memelihara warisan budaya lokal untuk waktu yang sangat lama. Karena upaya pelestarian merupakan upaya memelihara untuk waktu yang sangat lama maka perlu dikembangkan pelestarian sebagai upaya yang berkelanjutan.

Oleh karena itu, strategi pelestarian adat istiadat dan budaya lokal palembang di dalam pembangunan Strategi yang dilaksanakan oleh Lembaga Pemangku adat dan  Pemerintah dapat dilakukan melalui pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) dan  masyarakat. Secara konkret, pemikiran tersebut didasarkan pada alasan bahwa masyarakat lokal tidak dapat diabaikan dalam segala kegiatan yang menyangkut keberadaan dan keberlangsungan warisan budaya di sekitarnya.

1. Memberdayakan Lembaga Pemangku Adat
Strategi yang pertama adalah memberdayakan Lembaga Pemangku Adat, dan masyarakatnya, dalam usaha memberdayakan sumber daya manusia (SDM) dan masyarakat melalui beberapa kegiataan. Intinya adalah Lembaga Pemangku Adat lebih memiliki kemampuan, tidak hanya dapat meningkatkan kapasitas dan kemampuannya dalam memanfaatkan potensi yang dimilikinya untuk melestarikan budaya lokal.

Tetapi sekaligus meningkatkan kemampuan Besosialisasi dan Pendekatan dengan aparatur pemerintahan beserta masyarakatnya dimana warisan budaya lokal tersebut berada Dalam proses pemberdayan, program pengembangan sumber daya manusia melalui peningkatan pengetahuan, wawasan, dan cakrawala berpikir akan mendorong memotivasi, dan membangkitkan kesadaran potensi yang dimilikinya, selanjutnya berupaya untuk mengembangkannya. Program pengembangan sumber daya manusia tersebut dilakukan melalui kegiatan-kegiatan seperti Berikut:

a. Mengadakan Penataran-Penataran, Cek wan rasyid berkata.
"Penataran ini dilakukan oleh dewan pembina adat kota palembang bekerja sama dengan lembaga pemangku adat kecamatan, penataran semacam ini memiliki peranan penting dan temanya pun berkaitan dengan budaya lokal.”[24]
Penataran-penataran memegang peranan penting di dalam membuka wawasan dan pola pikir para Lembaga Pemangku Adat dan masyarakat, khususnya dalam mengelola pelestarian budaya lokal yang ada wilayah di Palembang dengan sebaik-baiknya, sehingga pelestarian budaya dapat dilaksanakan secara berdaya dan berhasil.


b. Mengadakan Studi Banding
Kegiatan studi banding merupakan suatu kegiatan pembangunan yang  diarahkan untuk membuka pola pikir dan pola pandang Lembaga Pemangku Adat terhadap keberadaan lembaga dan hal-hal apa saja yang dapat dilakukan di dalam melayani masyarakat yang menjadi objek studi banding. Aparatur pemerintahan dan Lembaga Pemangku Adat dapat mengambil hal-hal yang positif dalam upaya pelestarian budaya.

Pada tahun 2015 pemerintah kota palembang mengajak dewan adat dan lembaga adat kota palembang melakukan study banding ke ternate, rombongan mereka yang berjumlah 59 orang bertujuan mempelajari keberhasilan pemerintah kota ternate, Maluku Utara dalam memberdayakan budaya lokal dan masyarakat adat. Bapak Edi riva’i Mengatakan: “Kita diajak Pemerintah dan Dewan Pembina Adat Kota Palembang melakukan study banding dan juga berziarah ke makam Sultan mahmud badarddin ke Kota Ternate dan untuk berdiskusi, apa yang bisa kita ambil dan apa yang harus kita pelajari untuk diterapkan dikota palembang.”[25]

2. Menyusun Program Kerja
Program kerja biasanya disebut dengan agenda kegiatan merupakan sebuah rencana kegiatan organisasi yang disusun untuk jangka waktu tertentu dan telah disepakati oleh seluruh pengurus.“Program kerja lembaga pemangku adat dibuat satu tahun sekali yang melibatkan jajaran lembaga pemangkut adat yang dihadiri oleh dewan pembina adat serta dinas kebudayaan dan pariwisata”.[26]
Sesuai kerangka pikir tersebut, upaya berdasarkan strategi, ada beberapa program yang dilakukan oleh lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I yang bergerak dalam bidang pembangunan kebudayaan, pelestarian Kebudayaan.
“Penyusunan program kerja dilaksanakan oleh Dewan Pembina Adat yang telah beberapa kali mengadakan rapat kerja, Penyusunan program kerja melibatkan jajaran – jajaran Pemerintah Kota Palembang dari Dinas BPMK dan  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Parawisata dan Peserta rapat dari Lembaga pemangku adat dari berbagai Kecamatan di Kota Palembang.”[27]
Untuk mensosialisasi program kerja harus terjadinya kontak sosial secarah harfiah bersama-sama menyentuh, Kontak  sosial baru terjadi apabila adanya hubungan fisikal, sebagai gejala sosial hal itu bukan semata–mata hubungan badaniah, karena hubungan sosial terjadi tidak saja secara menyetuh seseorang, namun orang dapat berhubungan dengan orang lain tanpa harus menyentuhnya. “Sosialisasi program kerja di tingkat Kecamatan, dilakukan bersama-sama pemerintah setempat pada waktu rapat yang diadakan Camat atau Lurah juga pada hari–hari pertemuan seperti acara perkawinan tahlilan dan hari- hari besar lainnya.”.[28]
3. Melakukan Perlindungan Budaya Lokal Palembang.
Cek Rasyid menyampaikan: “adat istiadat dan budaya lokal yang telah di data oleh lembaga pemangku adat kecematan seberang ulu I untuk di berikan perlindungan seperti tradisi kelahiran, tradisi penikahan, tradisi kematian, tari tanggai, tari gending sriwijaya, berbalas pantu, adat sopan santun, pencak silat, dulmuk, wayang palembang dan pencak silat, Lembaga Pemangku Adat kecamatan Seberang Ulu I dan Dewan Pembina Adat Kota Palembang Ikut dalam kegiatan acara Pembahasan Tentang “Perda: Dasar Hukum Eksitensu masyarakat Hukum Adat Dan Komplikasi Adat Istiadat” Narasumbernya H.Albar Sentosa, SH, SU.”

Perlindungan pada dasarnya merupakan upaya untuk mencegah dan menanggulangi  budaya dari kerusakan, kehancuran dan kemusnahan dengan cara penyelamatan, pengamanan, dan pemeliharaan. Dalam kaitannya dengan budaya lokal, Melestarikan merupakan tindakan perlindungan yang paling pentinng terdapat kegiatan-kegiatan lain yang biasanya ditujukan untuk melindungi budaya lokal.

Dalam melindungi budaya lokal Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I mencari tahu tentang budaya lokal yang masih ada dan perlu dilindungi di Kecamatan Seberang Ulu I, Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I salah satu wadah untuk melestarikan dan wajib melindungi tradisi dan budaya lokal yang berkembang dalam kehidupan masyarakat di wilayah Kecamatan Seberang Ulu I Pelindungan tradisi dilakukan melalui menghimpun , mengolah, dan menata informasi sebagai hak kekayaan mengkaji nilai tradisi dan budaya lokal.

4.Sosialisasi Adat Istiadat dan Kebudyaaan Lokal
Setelah melakukan program kerja lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I memalukan program–progran kelembagaan dengan melakukan sosilisasi ke masyarakat Kecamatan Seberang Ulu untuk membangun dukungan masyarakat dan Pemerintah, Melestarian Budaya Lokal identik dengan sosialisasi Melestarikan budaya dengan mengakan kegiataan yang besifatat kebudayaan kegiatan pelestarian dan pemeliharaan Kebudayaan lokal membutuhkan anggaran yang tidak sedikit.

I.Terjun Ke Lapangan
Strategi aspek sosial budaya, meliputi  pertama, mewadahi aktivitas budaya serta festival budaya seperti maupun Pementasan Tari dan kesenian Teater. Kedua, dengan tema kawasan budaya, mendukung fungsi lama dengan melibatkan ketua Adat dari Lembaga Pemangku Adat, masyarakat, pemerintah maupun dari institusi yang berkaitan dengan Adat Istiadat dan Budaya Lokal.
"Cek Wan Rasyid menyebut pelestarian budaya lokal seharusnya didukung oleh seluruh berbagai bentuk, komitmen, fasilitas, dan pendanaan. Cek wan rasyid lebih lanjut menyebut bahwa masalah dukungan merupakan tantangan bagi pelestarian budaya dan bahkan menyebut dukungan pemerintah selaku pemangku kebijakan berdampak langsung bagi perkembangan budaya lokal. Strategi partisipasi masyarakat ini, meliputi: pertama, melibatkan masyarakat dalam pemeliharaan dan melestarikan. Kedua, meningkatkan kesadaran dan rasa kepemilikan masyarakat terhadap budaya lokal palembang Sehingga interaksi yang terjadi dalam aktivitas Lembaga merupakan kegiatan belajar, dimana dalam aktivitas tersebut akan terjadi terjadi dialogmantara kelompok masyarakat yang berada di Kecamatan Seberang Ulu I."


Usaha Atau startegi Lembaga Adat Dalam Melakukan Sosialiasi Terjun Kelapangangn adalah Melakukan Pembinaan Adat Istiadat dan Budaya Lokal Kepada Masyarakat Kecamatan Seberang Ulu I. Melakukan Pembinaan Adat istiadat dan budaya lokal tentu saja haruslah diartikan sebagai suatu kegiatan secara berencana dan terarah untuk lebih menyempurnakan adat Istiadat yang ada agar sesuai Pekembangan Masyarakat Cek Menyampaikan:
Pembinaan itu kita harapkan Memberikan norma- norma adat istiadat daya atau kemampuan untuk Mengerakan (memotivasi) Masyarakat mengindahkan dan mematuhi norma – norma adat istiadat, dan juga budaya lokal kita tetap terjaga”.[30]
Maksud dan fungsi Pembinaan Adat istiadat dan kebudayaan yang dilakukan dengan cara terjun kelapangan, untuk melakukan kerukunan dan pembinaan dalam kehidupan masyarakat dan untuk mendatangkan kesejahteraan dalam kehidupan masyarakat Objek Pembinaan Secara Umum adalah, Upacara Adat dimaksud adalah segi ceremonial seperti upacara yang berhubungan dengan masa krisis peralihan dalam kehidupan manusia seperti Kelahiran, sunatan, perkawinan dan kematian, adat sopan santun maksud dan tujuan untuk mencapai kehidupan bersama yang menyenangkan.
Intinya mengenai sikap terhadap orang tua, pergaulan dalam masyarakat, adat bujang gadis, dan menjujung tingggi kerhormatan wanita, pada dasarnya termaksuk kaedah pelanggaran adat dengan sangsi adat (teguran, dikucilkan, wajib sedekahan), hukum adat latih banyak berkaitan dengan hukum peril data adat yang meliputi bidang kekeluargaan, perkawinan, dan kewarisan masih mengikuti tradisi lama dan sudah banyak mendapat pengaruh islam dan Pelestarian budaya lokal yang bekerja sama dengan komunitas dan sanggara yang ada di kecamatan seberang Ulu 1.


II. Melakukan Pengelolaan dan Pemanfatan Budaya.
Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I memanfaatkan tradisi dan budaya lokal yang berkembang dalam kehidupan masyarakat di wilayah Kecamatan  Seberang Ulu I dengan melakukan, penyebarluasan informasi nilai tradisi dan budaya  lokal, pergelaran pameran tradisi dan budaya lokal dalam rangka penanaman nilai tradisi dan pembinaan.

Pertama, Mengupayakan melalui pemerintahan Kota Palembang dalam Dunia Pendidikan (Nilai edukatif). Dan Kedua, Sektor rekreasi dan pariwisata (Nilai hiburan–Nilai mata pencaharian) Pariwisata budaya merupakan salah satu sektor wisata yang banyak di kembangkan oleh pemerintah daerah akhir-akhir ini.

III. Melalui Media
Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I dalam melaksanakan Pelestarian budaya lokal perlu memanfaatan media cetak dan media online Kemajuan teknologi merupakan bagian dari konsekuensi modernitas dan upaya eksistensi manusia di muka bumi. Oleh karena itu, dampak negatif yang timbul sebagai akibat dari kemajuan teknologi menjadi kewajiban bersama umat manusia untuk mengatasinya
"Cek Wan Rasyid mengatakan, peran media sangat penting di dalam pelestarian budaya lokal karena kelebihan media masa ini juga dapat menyampaikan informasi secara cepat, tetapi buruknya jika masyarakat lebih menyukai sesuatu yang instan atau cepat maka komunikasi secara langsung akan menurun, tetapi untuk zaman sekarang media informasi perannya sebagai media edukasi, dan bisa mendidik masyarakat supaya mengetahui dan terbuka pikirannya untuk melestarikan budaya. Pelestarian budaya lokal melalui publikasi di medai masa dan media eletronik merupakan cara yang sangat efektif, dikarekan sifat media yang mampu menjangkau khalayak luas dalam waktu yang sangkat singkat dan masyarakat sadar untuk menjaga budaya lokal supaya tidak diklaim oleh pihak–pihak lain diluar sana.[31]

Memanfaatkan akses kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sebagai  pelestari dan pengembang nilai-nilai budaya lokal. Budaya lokal yang khas dapat  menjadi suatu produk yang memiliki nilai tambah tinggi apabila disesuaikan  dengan perkembangan media komunikasi dan informasi.

Harus ada upaya untuk  menjadikan media sebagai alat untuk memasarkan budaya lokal ke seluruh dunia.  Jika ini bisa dilakukan, maka daya tarik budaya lokal akan semakin tinggi sehingga dapat berpengaruh pada daya tarik lainnya, termasuk ekonomi dan investasi. Untuk itu, dibutuhkan media bertaraf nasional dan internasional yang mampu meningkatkan peran kebudayaan lokal di pentas dunia.

E. Penutup
Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Sebarang Ulu I didirikan pada tahun 2010, Lembaga Adat berfungsi bersama pemerintah merencanakan, mengarahkan, mensinergikan program pembangunan agar sesuai dengan tata nilai adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan yang berkembang dalam masyarakat. Strategi Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I  Kota Palembang Dalam Melestarikan Budaya Lokal Palembang.

Strategi yang pertama adalah memberdayakan Lembaga Pemangku Adat, dan masyarakatnya, program pengembangan sumber daya manusia tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan seperti mengadakan penataran–penataran adat istiadat dan budaya lokal dan mengadakan studi banding, Kedua, menyusun program kerja, Ketiga, melakukan perlindungan budaya lokal Palembang, Keempat, melakukan pengembangan budaya lokal Palembang, Kelima, melakukan pengelolaan dan pemanfatan budaya lokal Palembang dan Keenam, melalukan sosialisasi adat istiadat dan kebudayaaan lokal.

DAFTAR PUSTAKA
Buku :
A. Chaedar Alwasilah, Pokoknya Sunda, Bandung : Karawitan, 2006.
A. Daliman, Metode Penelitian Sejarah, Yogyakarta: Ombak, 2015.
Agus Dono Karmadi, "Budaya Lokal Sebagai Warisan Budaya dan Upaya Pelestariannya." Makalah disampaikan pada Dialog Budaya Daerah yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisonal Yogyakarta pada 2007.
Dudung Abdurrahman, Metodologi Penelitaian Sejarah Islam, Yogyakarta: Ombak, 2011.
Munandar Sulaeman, Ilmu Budaya Dasar, Suatu Pengantar, Bandung: PT. Eresco, 1993.
Prof. Dr. C. A. Van Peursen, Strategi Kebudayaan (Cultur in Stroomverslling), Yogyakarta: Penerbit Kanisius 1988.
Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antropologi I, Jakarta: UI Press, 2009.
Ranis yusuf, Nilai – Nilai  Kearifan Lokal (Local Genius) Sebagai Penguat Karater Bangsa Studi Empiris Tentang Huyula, Yogyakarta: Deepublish, 2014.
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya Offset, 2006.

Jurnal :
Agus Budi Wibowo. Strategi Pelestarian Benda/Situs Cagar Budaya Berbasis Masyarakat Kasus Pelestarian Benda/Situs Cagar Budaya Gampong Pande Kecamatan Kutaraja Banda Aceh Provinsi Aceh , Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur, Volume 8.1, 2014.
Ida Zahara Adibah, Pendekatan Sosiologi Dalam Studi Islam (Semarang: jurnal ispirasi, 2017) 
Triwardani, Reny, and Christina Rochayanti. "Implementasi Kebijakan Desa Budaya dalam Upaya Pelestarian Budaya Lokal." REFORMASI 4.2 (2014).
Wirastari, Volare Amanda, and Rimadewi Suprihardjo. "Pelestarian Kawasan Cagar Budaya Berbasis Partisipasi Masyarakat (Studi Kasus: Kawasan Cagar Budaya Bubutan, Surabaya)." Jurnal Teknik ITS 1.1 (2012): C63-C67.

Internet :
Cek Rul “Harnojoyo Lantik Dewan Pembina Adat 2015-2020” Radio Sriwijaya  http://www.sriwijayaradio.com/2015/03/harnojoyo-lantik-dewan-pembina adat.html diakses pada Senin, 16 november 2019.
Mega Nur Intan Kusumawardhani, “Kota Palembang (Bahasa dan Adat Isitadat)”,  diakses di http://meganurintan.blogspot.co.id/2016/05/kota-palembang-bahasa-dan-adat-istiadat.html pada Selasa, 25 Juli 2019
Y.A Untoro diakses di http://e-jounal.uajy.ac.id/view/creators/untoro=3Ayonas_armando =3A+3A.html pada Selasa, 16 November 2018

Peraturan Daerah :
Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 09 Tahun 2009 tentang “Tentang Pemberdayaan,  Pelestarian Dan Pengembangan Adat Istiadat Serta Pembentukan Lembaga Adat”.

Wawancara :
Wawancara Dengan Bapak Drs. H Tjek Wan Rasyid  (Ketua Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I Kota Palembang).
Wawancara Dengan Bapak Drs. Edi rivai (Anggota Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I Kota Palembang).

Oleh. Alvin Are Tunang.
Editor. Desti. S. Sos
Palembang, 2 April 2020.



[1] Munandar Sulaeman, Ilmu Budaya Dasar, Suatu Pengantar, (Bandung: PT. Eresco, 1993), h. 92
[2] Y.A Untoro diakses di http://e-jounal.uajy.ac.id/view/creators/untoro=3Ayonas_armando =3A+3A.html pada Selasa, 16 November 2018
[3] Prof. Dr. C. A. Van Peursen, Strategi Kebudayaan (Cultur in Stroomverslling), (Yogyakarta: Penerbit Kanisius 1988), h. 19.
[4] Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antropologi I, (Jakarta: UI Press, 2009), h. 165.
[5]Agus Dono Karmadi, "Budaya Lokal Sebagai Warisan Budaya dan Upaya Pelestariannya." Makalah disampaikan pada Dialog Budaya Daerah yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisonal Yogyakarta pada 2007, h. 4.
[6] Ibid., h. 3.
[7]Agus Budi Wibowo. Strategi Pelestarian Benda/Situs Cagar Budaya Berbasis Masyarakat Kasus Pelestarian Benda/Situs Cagar Budaya Gampong Pande Kecamatan Kutaraja Banda Aceh Provinsi Aceh , Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur, Volume 8.1, 2014.
[8] Triwardani, Reny, and Christina Rochayanti. "Implementasi Kebijakan Desa Budaya dalam Upaya Pelestarian Budaya Lokal." REFORMASI 4.2 (2014).
[9] Wirastari, Volare Amanda, and Rimadewi Suprihardjo. "Pelestarian Kawasan Cagar Budaya Berbasis Partisipasi Masyarakat (Studi Kasus: Kawasan Cagar Budaya Bubutan, Surabaya)." Jurnal Teknik ITS 1.1 (2012): C63-C67.
[10] Dudung Abdurrahman, Metodologi Penelitaian Sejarah Islam, (Yogyakarta: Ombak, 2011), h. 126.  
[11] Cek Rul “Harnojoyo Lantik Dewan Pembina Adat 2015-2020” Radio Sriwijaya  http://www.sriwijayaradio.com/2015/03/harnojoyo-lantik-dewan-pembina-adat.html diakses pada Senin, 16 november 2019.
[12] Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 9 tahun 2009
[13] Mega Nur Intan Kusumawardhani, “Kota Palembang (Bahasa dan Adat Isitadat)”,  diakses di http://meganurintan.blogspot.co.id/2016/05/kota-palembang-bahasa-dan-adat-istiadat.html pada Selasa, 25 Juli 2017
[14] Ranis yusuf, Nilai – Nilai  Kearifan Lokal (Local Genius) Sebagai Penguat Karater Bangsa Studi Empiris Tentang Huyula, (Yogyakarta: Deepublish, 2014), h. 38
[15] A. Chaedar Alwasilah, Pokoknya Sunda, (Bandung : Karawitan, 2006), h. 18.
[16] A. Daliman, Metode Penelitian Sejarah, (Yogyakarta: Ombak, 2015), h. 27.
[17] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, (Bandung :PT. Remaja Rosdakarya Offset, 2006),  h. 5.
[18] Ida Zahara Adibah, Pendekatan Sosiologi Dalam Studi Islam (Semarang: jurnal ispirasi, 2017)  H. 6
[19] Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 09 Tahun 2009 tentang “Tentang Pemberdayaan,  Pelestarian Dan Pengembangan Adat Istiadat Serta Pembentukan Lembaga Adat”.
[20] Wawancara Dengan Bapak Kms. Ari Panji (Dewan pembina Adat Kota Palembang)
[21] Peraturan daerah Kota Palembang, No 09 tahun 2008, pasal 16
[22] Wawancara Dengan Bapak Drs. H Tjek Wan Rasyid  (Ketua Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I Kota Palembang).
[23] Wawancara Dengan Bapak Drs. H Tjek Wan Rasyid  (Ketua Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I Kota Palembang).
[24] Wawancara Dengan Bapak Drs. H Tjek Wan Rasyid  (Ketua Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I Kota Palembang).
[25] wawancara Dengan Bapak Drs. Edi rivai (Anggota Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I Kota Palembang).
[26] wawancara Dengan Bapak Drs. Edi rivai (Anggota Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I Kota Palembang).
[27] Wawancara Dengan Bapak Drs. Edi rivai (Aggota Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I Kota Palembang).
[28]  Wawancara Dengan Bapak Drs. Edi rivai (Anggota Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I Kota Palembang).
[29] Wawancara Dengan Wawancara Dengan Bapak Drs. H Tjek Wan Rasyid  (Ketua Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I Kota Palembang).
[30] Wawancara Dengan Wawancara Dengan Bapak Drs. H Tjek Wan Rasyid  (Ketua Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I Kota Palembang).
[31]  Wawancara Dengan Wawancara Dengan Bapak Drs. H Tjek Wan Rasyid  (Ketua Lembaga Pemangku Adat Kecamatan Seberang Ulu I Kota Palembang).

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment