4/06/2020

Penyebab Orang To'po Tidak Mau Makan Daging Landak (Flores)

Apero Fublic.- Mengapa Orang To'po Tidak Makan Daging Landak (Flores)???. Flores adalah sebuah pulau yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia. Kata Flores berasal dari Bahasa Portugis  yang berarti bunga.

Pada mulanya, penduduk To'po, sebuah desa di Flores barat, sangat menyukai daging landak, tetapi karena pengalaman Kraeng yang menyedihkan, keturunannya tidak diizinkan untuk memakan daging landak atau berburu landak.

Kraeng adalah kepala desa. Dia sangat menyukai daging landak dan dia tidak akan pernah ketinggalan dan kesempatan untuk pergi berburu landak. Suatu hari dia pergi berburu landak. Kali ini dia ditemani oleh seorang pelayannya dan dua ekor anjingnya. Rencana mereka perburuan itu akan berlangsung selama beberapa hari. Maka mereka membawa lebih banyak perbekalan daripada biasanya.

Setelah berjalan jauh, mereka mencapai tempat tertentu di hutan tempat Kraeng mengira sejumlah besar landak tinggal. Mereka menemukan sebuah lobang yang cukup besar mirip gua.
"Nak, katanya. Tidakkah menurutmu ini seperti lubang landak? Lihat! Ada lubang besar! Dan Kraeng menunjuk ke lubang besar di bawah pohon.

"Tentu, tuan. jawab pelayan itu. Seharusnya ada banyak landak di sini. Keduanya melihat dengan hati-hati ke dalam lubang. Lubang itu cukup besar untuk dimasuki oleh seekor anjing. Tentu saja di dalamnya gelap dan mereka tidak bisa melihat apa-apa. Kraeng mengirim kedua anjing itu ke dalam lubang dan menunggu. Sudah lama berlalu tetapi anjing-anjing itu masih tidak muncul-muncul.

"Sekarang kamu turun, Nak!. Kraeng berkata kepada pelayannya setelah mereka menunggu tanpa ada hasill untuk beberapa waktu. Tapi pelayan itu tidak mau memasuki lubang dan menjawab.
"Aku akan masuk setelah Anda, Tuan. Tidak pantas bagi seorang pelayan melangkah lebih dulu dari tuannya.

Tanpa curiga, Kraeng merangkak ke dalam lubang. Segera setelah dia berada di dalam lobang landak itu. Hambah atau pelayannya yang jahat itu mengambil batu besar lalu menutup pintu masuk lobang. Dengan demikian Kraeng terkurung di dalam lubang. Mustahil dia dapat keluar kecuali terjadi keajaiban. Sementara Kraeng terus masuk lobang. Kraeng, merasa lelah setelah merangkak menyusuri lubang yang gelap itu. Mulai ada rasa khawatir dan mulai kehilangan keberanian.

Waktu berlalu. Lubang itu tiba-tiba tampak melebar dan pada akhirnya Kraeng melihat secercah cahaya. Mengumpulkan sisa tenaganya, dia berhasil mencapai ujung lubang, yang menuju ke sebuah ruangan besar. Di sana ia melihat kedua anjingnya tetapi tidak ada lubang landak. Saat ini dia merasa lapar dan ingat makanan yang dia tinggalkan di luar. Di sakunya hanya ada dua buah pisang, yang mengganjal rasa laparnya hanya untuk waktu yang singkat. Dia tidak berani memikirkan apa yang akan terjadi dan menutup matanya dengan erat.

Ketika Kraeng membuka matanya lagi. Dia melihat pemilik aula berdiri di depannya. Dia tidak bisa menebak berapa lama dia berada di sana, karena dia kehilangan kesadaran karena kekurangan makanan. Dia tidak bisa melihat apa siang hari atau malam hari. Gelap, dan hanya ada cahaya dari lobang kecil yang mesuk.

Biasanya landak adalah hewan pemalu. Begitu ada seorang manusia mendekati mereka, mereka akan melarikan diri. Tetapi landak yang berdiri di depan Kraeng ini berbeda. Dia tidak melarikan diri tetapi tetap dengan berani berdiri di hadapan kraeng dan berkata-kata. “Mengapa kamu datang ke sini?.

"Aku sedang berburu landak teman-temanmu. Menurutku ada banyak di sekitar ini. Tapi sekarang aku sangat menyesal telah membunuh begitu banyak bangsamu. Aku berjanji tidak akan memburuh landak lagi mulai sekarang. Aku meminta maaf kepadamu. Juga meminta maaf untuk anjingku. Tolong bantu aku menemukan jalan keluar. Aku akan memenuhi apa pun yang kamu inginkan.

"Yah, jawab si landak. Memang, sudah banyak saudaraku telah mati karena kamu dan wargamu. Sekarang kamu sendiri sedang menghadapi kematian disini. Apakah kamu mau aku beritahu jalan untuk membantumu. Aku tidak akan membalas dendam atas kematian teman-temanku. Aku mau membuat kesepakan denganmu. Aku akan memberi jalan tetapi dengan syarat bahwa mulai sekarang Anda dan semuanya setuju untuk tidak memburu kami lagi. Ujar Landak besar itu.

"Baiklah, Aku akan menepati janjiku, landak. Kraeng berkata dengan tegas. Dan aku akan melarang semua penduduk desaku dan keturunanku untuk membunuh bangsamu dan memakan dagingmu. Kata Kraeng pada landak itu.

Sejak saat itu, masyarakat Desa To’po di Flores tidak lagi memakan daging landak. Memang daging landak sangat lezat dan hampir sama rasanya dengan daging rusa atau kijang. Namun, perburuan yang terus menerus di seluruh Indonesia menyebabkan populasi landak menjadi berkurang. Semoga dengan membaca cerita ini tumbuh rasa cinta kita terhadap hewan-hewan di dunia ini. Mari, kita lindungi hewan langka terutama landak.

Oleh. Dra. S.D.B. Aman
Rewrite. Apero Fublic.
Editor. Selita. S.Pd.
Palembang, 7 April 2020.
Sumber. Dra. S. D. B. Aman. Folk Tales From Indonesia. Djambatan. Jakarta, 1995.
Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment