1/06/2020

Cina Salah Satu Negeri Muslim

(Sketsa gambar masjid tradisional Indonesia. Bentuk pengaruh kubah masjid Tingokok, perpaduan dengan budaya lokal. Di wilayah etnis Melayu berpadu antara arsitektur Melayu, Cina, dan budaya asli Indonesia Punden Berundak. Begitupun di Jawa, berpadu arsitektur Jawa, Cina, dan Punden berundak. Dan seterusnya mengikuti di daerah lain di Nusantara Indonesia).

Pengaburan Islam Melalui Kesusastraan-Budaya.
Apero Fublic.- Republik Rakyat Cina (RRC) atau orang Indonesia lebih suka menyebutnya dengan  Negeri Cina. Orang Cina sudah sejak zaman pra sejarah Asia Tenggara sudah kontak dengan orang Nusantara termasuk Indonesia. Cina dikenal oleh masyarakat dunia sebagai negeri agama Budha, Kong Hu Cu.

Bahkan orang-orang menganggap kalau agama Budha muncul di Cina. Tapi sesungguhnya agama Budha muncul di Asia Selatan di anak benua India sebagai bentuk oposisi pada agama Hindhu. Di awal kahadiran dan kebangkitan agama Islam. Agama Islam juga sampai ke Negeri Cina abad ke 7 Masehi. Kemudian Islam menjadi salah satu komunitas masyarakat terbesar di Cina. Tapi Islam kini berbenturan dengan paham sosialis: Komunisme-Leninisme.

Dr. Syeh Djamaluddin salah satu anggota delegasi Indonesia yang mengunjungi Tiongkok atau Cina pada akhir tahun 1956 M, mengemukakan pendapatnya bahwa Islam akan mati dalam jangka waktu 10 tahun di Republik Rakyat Cina.[1]

Syeh Djamaluddin begitu khawatir dengan keadaan Islam dalam kekuasaan Komunis. Serta buruknya perlakuan mereka pada kaum Muslimin. Namun ternyata perkiraan Syeh Djamaluddin meleset. Muslim Cina ternyata mampu bertahun sampai sekarang. Bahkan Muslim Hui sudah hidup tenang. Walau dalam tekanan paham komunis. Islam sesungguhnya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk bangkit kembali.

Dunia Islam tidak banyak tahu tentang Islam di Negara Cina. Terutama orang-orang Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya. Masyarakat di Dunia, Asia Tenggara, di Indonesia berpikir dan mengira kalau di negara Cina hanya ada tiga hal. Perta agama Budha, Kedua Kong Hu Cu, dan ketiga Komunisme. Sejarah Cina dalam pikiran masyarakat dunia hanyalah sejarah dinasti-dinasti Cina yang beragama Budha dan Kong Hu Cu.

Di dunia sekarang ini, Cina dikenal dengan ilmu beladiri kungfu dan shaolin. Image ini dibentuk dengan film-film laga mandarin yang selalu menamfilkan cerita-cerita shaolin. Cerita legenda yang sangat terkenal adalah kisah Kera Sakti. Sun Go KongCu Fat KaiWu Cing dan Bik Su Tong. Mengisahkan perjalanan mereka mengambil kitab suci ke barat.

Begitulah jalan-jalan cerita sastra Cina yang dipublikasikan. Begitupun dengan jenis sastra tertulis juga berlatar Budha, Kong Hu Cu, dan Komunisme sekarang. Yang paling baru datang adalah agama kristen. Sehingga latar agama dalam kesusastraan sering menggunakan latar agama kristen, misalnya pernikahan di gereja. Masyarakat dunia pun  akhirnya mengira kalau di Cina hanyalah negeri yang tidak ada Islam sedikitpun. Termasuk umat islam di Indonesia.

Tidak ada satu pun film Cina yang menceritakan latar Islam. Misalnya orang Cina sedang shalat. Sehingga prem pemikiran masyarakat Muslim dunia dan Muslim Indonesia tentang orang Cina: kafir, pelit, makan babi, tidak sunat, pedagang, non Islam. Begitupun dengan masyarakat Cina yang jauh dari wilayah Muslim Cina atau mereka besar di negara rantauan mereka. Mereka juga mengira kalau negara asal mereka tidak ada orang Islam, sedikitpun. Mereka menganggap Islam agama keras dan tidak bersahabat. Sehingga mereka tidak suka dengan Islam, dan melarang anak-anak masuk Islam.

Berbeda kalau masuk agama Kristen, atau agama lain mereka tidak begitu peduli. Islam hanya dari Arab pikir mereka. Berbeda dengan Kristen orang Cina lebih dekat. Sebab kristen lebih sering terekspos di publik, seperti di film-film misalnya dari Hongkong, Taiwan dan Cina Daratan. Padahal agama kristen baru berkembang di Cina. Orang Cina dan non Cina tidak banyak yang tahu kalau Islam telah ada sejak 1400 tahun yang lalu di Cina.

Entah mengapa Islam yang telah datang ke dataran Cina sejak abad pertama Hijriyah. Bahkan kuburan sahabat Rasulullah SAW ada di dataran Cina, Saad Bin Waqash, R.a. Tapi begitu dianggap asing. Terdapat sejumlah Masjid-masjid tua di Cina. Kubah kayu masjid Cina juga tersebar ke Asia Tenggara, terutama di Indonesia.

Dapat kita lihat dari arsitektur masjid tua di Indonesia. Dimana masjid-masjid tua memakai sistem atap mustaka yang bermakna berleher dan berkepala. Seperti Masji Agung Palembang yang sangat kental dengan arsitektur Cina. Bahkan para akademisi di Indonesia juga tertipu dalam munulis sejarah kedatangan Cina Muslim di Indonesia. Menurut mereka Muslim Cina yang datang ke Palembang semasa Sultan Mahmud Badaruddin I masuk Islam di Palembang. Namun kemungkin mereka memang sudah Islam dari sebelumnya. Keturunan masih dapat dijumpai di Palembang dengan gelar Baba, Cina Muslim.

Istilah marga muslim Cina adalah MaMa berarti singkatan dari nama nabi Muhammad. Kalau kita mendengar nama orang Cina di awali Ma, maka dia seorang Muslim. Misalnya, Ma Ying adalah seorang prajurit Cina beragama Islam semasa Pemerintahan Demokratis Cina.[2] Ma Hu-shan muslim Cina peteran perang melawan pasukan Rusia di Xinjiang semasa Pemerintahan Nasionalis. Dia memimpin tentara Divisi 36 tentara nasionalis.[3] Penjelasan marga Ma adalah muslim juga di jelaskan oleh Ustadz Aan Wan Seng. Tapi banyak juga muslim yang namanya tidak bermarga Ma.

Cina dan dunia memang berusaha menutupi keberadaan muslim di dataran Cina. Propaganda melalui kesusastraan sukses dengan baik di luar Cina. Pernah kalian menemukan film-film, novel dari Cina misalnya adegan muslim pergi shalat atau terdengar azan dari masjid saat berlalu.??

Islam memang hendak dipadamkan dimanapun dia berada di negeri-negeri kafir. Namun ketika mereka berada di negeri Islam. Orang-orang kafir selalu lantang meminta toleransi. Walaupun tidak di minta umat Islam memang selalu memberikannya. Karena tertulis tegas di dalam Al-Quran, tidak boleh berbuat tidak adil hanya karena tidak menyukai sebuah kaum.

Tidak boleh memaksa orang masuk Islam. Tidak boleh mengganggu mereka dan tempat ibadah mereka. Kaum muslim berkewajiban melindungi kaum dzimmy di negeri mereka. “Mereka hendak memadamkan cahaya Allah. Tapi Allah itu sendiri yang menjaganya. Mereka berpikir musuh umat Islam. Tapi sesungguhnya Allahlah yang menjadi musuhnya.

Kebudayaan Islam di Cina
Umat Islam di Xinjiang atau Daerah Otonomi Uighur di Xinjing menggunakan tulisan abjad Arab. Begitupun muslim lain di Cina. Pada bulan Agustus 1956 Pemerintahan Komunis menghapus dan menggantikan dengan hurup Cyrilik. Penduduk Uighur telah menggunakan abjad Arab selama 800 tahun, sehingga menyebabkan kekacauan bahasa mereka. Sementara etnis Hui komunitas Muslim terbesar di Cina, Mata pelajaran bahasa Arab dihapus.[4]

Begitupun pengaburan budaya-budaya orang Islam. Kalau pada film laga atau film kolosal Cina kita hanya mengenal kunfu shaolin dan para biksu. Tapi kunfu sesungguhnya juga milik kaum Muslim. Orang Islam selain mengembangkan tehnik kunfu, juga berperan dalam penyebar luasan kunfu. Salah satu jenis kunfu aliran yang dikuasai Muslim adalah kunfu Xin Yi, tantui.

Komunis Cina juga tidak menghormati agama Islam. Tahun 1958 ketika ada seorang pemuda dari Liga Komunis Muda Cina yang ingin menikah dengan seorang gadis muslim dimana orang tua muslim tidak merestui kalau si pemuda tidak menjadi muslim. Komunis muda itu mengelukan hal tersebut, dia berkata kalau umat Islam bersifat bermusuhan. Padahal di dalam Islam memang dilarang menikahkan anak-anak dengan orang-orang kafir.[5]

Kaum muslim tidak mau menggabungkan tanah wakap milik masjid pada koperasi-koperasi milik pemerintah. Karena umat Islam tidak ingin menghilangkan pemasukan untuk masjid. Kemudian mereka juga tidak mau misalnya tanah digunakan untuk beternak babi dimana hasil babi adalah haram dalam Islam (Harian Hopei, 20 Januari 1958). Umat Islam sudah menyatakan keterpisahan agama dari negara. Namun karena komunis ingin menghancurkan Islam. Maka mereka terus mengganggu kehidupan umat Islam (Liaoning Daily, 8 April 1958).

Karena hal demikian, Nationality Unity pada 14 Mei 1958 melaporkan bahwa seorang Ahung bernama Ting Wen-hao mengorganisir konflik bersenjata besar-besaran antara orang Hui dan orang Han di Kota Chinling sebuah Kota Praja Tzupo (Shantung). Harian Rakyat 16 Mei 1958 melukiskan kalau umat Islam tidak puas dengan kebijakan komunis, dianggap anti partai di provinsi Honan.

Yuan Ch’ang- hsiu seorang imam Masjid dari Ningling (Honan) dituduh memprovokasi Muslim Hui untuk merebut koperasi di desa-desa. Harian Kwangming 18 Mei 1958 memberitakan kalau seorang pengurus masjid di dekat Peking telah memimpin 300 orang Muslim untuk mengacau desa Wu Lung Su (Lima Naga).[6]

Sebuah surat kabar propaganda komunis bernama Harian Chinese Moslem tanggal 10 September 1958 menyatakan “rektifikasi” suatu gerakan pembersihan elemen-elemen oposisi dikalangan rakyat. Banyak masjid-masjid menyerahkan tanahnya pada koperasi-koperasi pertanian. Banyak juga Ahung yang menggabungkan diri dengan koperasi.

Tetapi mereka juga mengeluh karena banyak juga masjid-masjid yang tidak mau menyerahkan tanah wakaf pada koperasi pertanian. Pada 15 Oktober 1958 harian Chinghai Daily melaporkan di daerah otonom Muslim Hua-long, Hsien (Chinghai) kaum muslim menunjukkan kontra-revolusioner. Beberapa orang kaum muslimin, Ye Erh-Li, Yeh Wan-lin, Ma-i-assu-ha dan Yeh Te-yuan dituduh membiarkan tuan-tuan tanah, petani-petani kaya melakukan kontar-revolusioner.[7]

Harian Chinghai pada 14 Nopember di jalan-jalan Sining saja sudah dipasang sebanyak 30.000 halaman surat kabar didinding anti Muslim. Melihat hal demikian tentu kerasnya upaya komunis dan kuatnya perlawanan umat Islam.[8]

Di Negara Cina terdapat 56 kelompok etnis Muslim. Mereka berkonsentrasi diwilayah Gansu, Xinjiang, Qinghai, Ningxia, Shaanxi, Yunnan, Hebei, Henan, Shandong dan kawasan pedalaman Mongolia. Terdapat 10 etnis muslim terbesar, yaitu Hui, Uygur, Kazak, Dong-xiang, Kirghis, Salar, Tajik, Uzbek, Baoan, dan Tatar. Kemudian diikuti dengan etnis lain. Banyak juga etnis Han yang memerluk Islam.[9]

Masjid di Cina
Pelarangan pembangunan masjid baru di Cina dimulai sejak tahun 1950. Komunis juga menyita sebagian tanah-tanah milik wakaf masjid. Ada suatu ketika para Ahung-Ahung (pemuka agama Islam) di paksa memakan daging babi. Sistem pengelolaan masjid di Cina didukung oleh keluarga-keluarga dalam memakmurkan dan mengurus masjid.

Di Cina satu buah masjid biasaya didukung oleh kelompok-kelompok keluarga. Mulai dari dukungan 10.000 kepala keluarga. Tapi tidak begitu banyak yang mencapai 10.000 keluarga. Yang umum adalah satu masjid dimakmurkan oleh 2000 sampai 4000 keluarga. Sama seperti di Indonesia seumpanya satu desa ada sebuah masjid jamik dan beberapa musholla. Sebelum meletus perang Dunia Kedua di Cina terdapat 16.600 buah masjid.[10]

Menurut Aan Wan Seng di Cina terdapat sekitar 35.000 masjid yang berusia ratusan tahun, bahkan ada yang sudah berusia ribuan tahun.[11] Ada masjid-masjid kuno yang dibangun pada masa pemerintahan dinasti-dinasti di Cina, diantara: Masjid Jamik Peking, Masjid Jamik di Sian, Masjid Jamik Nanking, Masjid Jamik Tsi Nan, dan lainnya.[12] 

Pada masa dinasti Yuan di bawa Kaisar Tai Co (1368-99), seorang ulama muslim Syaikul Masyaik menerjemahkan buku-buku berbahasa arab kedalam bahasa Cina. Kalau kita di Indonesia memiliki ulama-ulama yang dikagumi dan makamnya sering diziarahi. Maka di Cina ada seorang ulama Muslim bernama Lui Tshih yang dianggap orang suci atau wali oleh kaum muslimin Cina. Ulama ini banyak menulis tentang kisah hidup Rasulullah SAW.[13]

Di Cina juga telah ada upaya menterjemahkan Al-Quran kedalam bahasa Cina. Seorang sarjanah Jepan non muslim Lee Tei Ching. Menterjemahkan Al-Quran yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Jepang, lalu dia diterjemahkan kedalam bahasa Cina.[14] Kemudian dibentuk komisi dibawah pimpinan Wang Chin Zai yang kemudian diterbitkan pada tahun 1935. Salah satu penyumbang biayah penerbitan seorang muslim kaya dari Taiwan.[15]

Kaum Nasionalis-Demokratis dan Islam berhasil menumbangkan Dinasti Manchu yang kejam. Dinasti Manchu bukan dari orang Han atau orang Cina. Dinasti Manchu adalah dinasti suku bangsa dari daerah Mongolia. Semasa Pemerintahan Nasionalis Demokratis kaum muslim Cina selain banyak menjadi petinggi negara, dari mentri, prajurit, pegawai pemerintah.

Kaum muslim juga memiliki banyak penerbitan. Dalam tahun 1911 di Yunan terbit sebuah Journal Islam (Islamic Journal). Di Peking muncul terbitan Islamic Literature (Kesusastraan Islam). Di Kanton berdiri harian Domestic Education 1912. The Light of Islam (Cahaya Islam) di Sanghai 1920. Islamic Sciences (Ilmu Pengetahuan Keislaman) di Ko Kiang 1921. Muslim Youth (Pemuda Muslim) terbit di Kanton 1926. Selain itu ada juga harian Teh Islamic Comunity (Masyarakat Islam), terbit di Cina.[16]

Pokok Permasalahan Muslim Cina
Permasalahan Islam di Cina selalu terkait kemerdekaan beragama dan Islam yang terus berkembang apabila Islam memiliki kemerdekaan beragama. Maka mau tidak mau penguasa Cina selalu berbuat kejam, yaitu dengan membantai. Pembantaian umat Islam dimulai dari masa Dinasti Manchu yang tidak menyukai umat Islam yang terus tumbuh dan berkembang.

Kemudian dilanjutkan oleh Pemerintahan Komunis. Umat Islam di Xinjiang dan daerah-daerah lain di Cina melakukan perlawanan karena mereka tahu Komunis tidak memberikan kebebasan beragama dan berbudaya Islam. Sehingga sering muncul perlawanan, dan diakhiri pembantaian-pembantaian.

Apabila Pemerintahan Cina memberikan jaminan kemerdekaan beragama dan berbudaya. Maka umat Islam dan pemerintah pasti sejalan dan selaras, damai. Demikinlah sedikti kupasan kalau Negeri Cina adalah bagian dari salah satu Negeri Masyarakat Muslim.

Negeri Islam terbentang sangat luas, mulai dari Turki, daerah Balkan Eropa Timur, menuju Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tengah, sebagian Rusia, sebagian Cina adalah wilayah masyarakat Muslim di daerah tersebut, lalu ke Asia Tenggara. Telah banyak runtuh peradaban dan agama-agama sebelumnya.

Tinggal tunggu waktu komunis juga hancur oleh Islam dengan sendirinya. Bukan hal yang aneh kalau kita melihat Ustadz Felix Siau, Ustadz Ko Stepen, dan banyaknya keturunan Cina memeluk Islam di Indonesia. Karena Islam salah satu agama leluhur orang Cina.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S.Sos.
Palembang, 6 Januari 2020.

Sumber:
Aan Wan Seng. Rahasia Sukses Muslim Cina: Kegemilangan Islam di Negeri Komunis. Jakarta: Hikmah, 2007.
Rafiq Khan. Islam di Tingkok. Jakarta: Tintaemas, 1967.
Leo Agung. Sejarah Asia Timur 2. Yogyakarta: Ombak, 2012.
Joni Apero, “Kajian Sosiologis Pada Transformasi Atap Masjid di Kota Palembang” Skripsi. Palembang: Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. 2018


[1]Rafiq Khan, Islam di Tingkok, h 109.
[2]Rafiq Khan, Islam di Tingkok, Jakarta: Tintaemas, 1967, h. 67.
[3]Rafiq Khan, Islam di Tingkok, h. 70.
[4]Rafiq Khan, Islam di Tingkok, h 133
[5]Rafiq Khan, Islam di Tingkok, h 121
[6]Rafiq Khan, Islam di Tingkok, h 128-129.
[7]Rafiq Khan, Islam di Tingkok, h 130.
[8]Rafiq Khan, Islam di Tingkok, h 131.
[9]Aan Wan Seng, Rahasia Sukses Muslim Cina: Kegemilangan Islam di Negeri Komunis, Jakarta: Hikmah, 2007, h. 37.
[10]Rafiq Khan, Islam di Tingkok, h. 97 dan 131.
[11]Aan Wan Seng, Rahasia Sukses Muslim di Cina, h. 30.
[12]Rafiq Khan, Islam di Tingkok, h 131
[13]Rafiq Khan, Islam di Tingkok, h 132
[14]Rafiq Khan, Islam di Tingkok, h 35
[15]Rafiq Khan, Islam di Tingkok, h 36
[16]Rafiq Khan, Islam di Tingkok, h 36.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment