1/07/2020

Apakah Kita Sudah Menjadi Manusia ???

Apero Fublic.- Pada umumnya manusia, hewan dan tetumbuhan di sebut makhluk hidup. Karena sama-sama makan, bernafas, berkembang biak dan mati. Namun yang membedakan adalah kesempurnaan sifat dari makhluk hidup tersebut. Makhluk yang sepurna dalam penciptaannya adalah manusia.

Secara biologis manusia dan hewan atau binatang sama. Manusia bergerak dengan kaki diatas permukaan bumi, hewan juga dapat bergerak, begitupun tumbuhan bergerak dengan akar. Manusia makan, hewan makan, tumbuhan makan. Manusia kawin, hewan kawin, tumbuhan kawin melalui bunga yang dihubungkan dengan kaki serangga.

Manusia memiliki cairan tubuh, hewan juga memiliki cairan tubuh, begitupun dengan tumbuhan. Manusia memiliki kelengkapan indera-indera, hewan dan tumbuhan juga memiliki kelengkapan indera. Lalu apa yang akan membedakan manusia dari hewan dan tetumbuhan???


Kita mulai dengan kebudayaan. Mengapa orang di Indonesia sering mencaci manusia lain dengan mengumpamakan seperti hewan. Misalnya seperti anjing, babi, ular, atau secara umum mencaci orang dengan sebutan binatang. Berbeda dengan orang Jepang dan sebagian wilayah lain di dunia ini. Mereka tidak mengerti kalau dicaci dengan perumpamaan hewan.

Orang Jepang menganggap semua hewan suci atau sama halnya dengan manusia. Karena kebudayaan Jepang yang percaya dengan dewa-dewa. Yang mempengaruhi jalan pikiran mereka. Ketika mereka menyimbolkan dewa-dewa dengan hewan, misalnya dewa anjing, dewa srigala dan sebagainya. Sehingga, dalam penilaian mereka hinaan dan caci maki mengumpamakan dengan hewan tidak ada. Sebab mereka punya pandangan sendiri tentang hewan.


Di Indonesia tidak ada sejarah kebudayaan yang menyucikan hewan-hewan. Pada masa animisme dan dinamisme, pra sejarah, dan masa sejarah sampai sekarang. Kebudayaan asli Indonesia tidak pernah menyucikan hewan. Tetapi menghormati roh-roh dari makhluk hidup. Dapat kita petik pelajaran dari sastra kuno. Sastra Sangkuriang atau Legenda Gunung Tangkuban Perahu misalnya.

Dikisahkan dewa dan dewi yang berzinah. Lalu dewa dikutuk menjadi anjing dan dewi dikutuk menjadi babi. Kemudian si anjing kutukan kawin dengan seorang putri tanpa ikatan pernikahan. Dari cerita ini menunjukkan perbuatan zinah adalah perbuatan hewan. Cerita legenda ini bentuk didikan prilaku sosial ditengah masyarakat.


Pada dasarnya semua hewan suci. Bukan suatu yang buruk dan menjijikkan. Babi dan anjing haram dalam agama Islam. Tapi haram tersebut, haram memakan dan menyentuh. Tidak merendahkan babi dan anjing. Kebiasaan mengecam dengan nama hewan adalah serangan psikologis pada masyarakat agar tidak terpengaruh oleh perbuatan buruk tersebut.

Karena yang diperumpamakan dalam kecaman atau cacian adalah prilakunya yang tidak baik, seperti hewan yang tidak ada didikan. Prilaku hewan yang tidak beradab, beretika, tidak ada aturan. Karena memang hewan tidak memiliki akal sehingga tidak dapat mengerti.

Sehingga manusia yang perbuatan-perbuatannya yang menyimpang dikecam dengan nama hewan. Suatu masyarakat yang tidak memiliki tatanan norma-norma adat misalnya. Sebagai contoh seperti bangsa Barat.  Mereka tidak memiliki sistem norma kesucian wanita. Tidak memiliki sistem nilai harga diri. Keperawanan perempuan bagi mereka hal biasa. Karena belum pernah berhubungan intim.

Sehingga dalam interaksi sosial kaum wanita mereka berbeda dari timur, terutama umat Islam. Ketika mereka melihat muslimah berhijab. Itu sesuatu yang aneh. Karena mereka menilai dari sudut pandang mereka yang tidak ada norma-norma hukum sosial terhadap wanita.

Kalau pacaran berzinah dan serumah tanpa ikatan pernikahan adalah hal biasa. Tetapi kalau masyarakat Indonesia menilai itu dipersamakan dengan prilaku binatang. Karena hewan dalam berhubungan tidak memiliki adab, hukum, tempat, asal kemaluan berhubungan sudah sampai.

Tetapi masyarakat Barat memiliki nilai-nilai logika tinggi terutama dalam ilmu pengetahuan. Celakanya di negara Indonesia budaya tersebut diikuti oleh kelompok agama yang sama. Lalu berusaha mengajak umat yang lain. Sehingga banyak sekali prilaku zinah dan kumpul kebo di Indonesia walau sebagai bangsa yang sangat berbudaya. Serta membedakan manusia dengan binatang.

Ketika kita tidak memiliki norma-norma dalam sosial. Kita tidak dapat membedakan lagi kalau kita manusia atau hewan. Misalnya kawin sembarangan, kita lihat hewan yang kawin disembarang tempat. Lihat saja film-film yang mereka produksi. Mereka tidak segan-segan menamfilkan adegan tidak senono yang sangat bertentangan dengan budaya asli Indonesia hanya karena sentimen keislaman.


Kalau masih belum mengerti, dapat di perhatikan dengan seksama. Lihat hewan-hewan di sekitar tempat tinggal kita. Kita melihat anjing, sapi, kuda, kawin di halam samping rumah kita. Kemudian kita menyadapati buaya memakan manusia, ular menelan mangsanya bulat-bulat, harimau menerkam tanpa ampun.

Dapat juga kita amati seekor ayam peliharaan dengan kaki kotor dari tanah lemban, kemudian ayam menginjak lantai rumah. Tampak bekas tapak kakinya yang kotor meninggal bekas. Kemudian si ayam membuang kotoran yang berbau di lantai. Saat penduduk menjemur padi ayam datang memakan sesuka hatinya.


Dari anjing atau hewan yang kawin sembarang tersebut maka sering orang mengumpamakan perbuatan zinah dengan cacian seperti, perilaku anjing, seperti prilaku babi. Kemudian kalau kita lihat harimau dan buaya tanpa ada rasa kasihan memakan mangsanya. Memanfaatkan ketidak berdayakan mangsanya. Di juluki lelaki buaya. Karena lelaki itu memiliki sifat-sifat buaya. Bukan berarti hewan buaya yang jahat.

Ular menelan bulat-bulat tanpa sisa diibaratkan orang pelit. Kalau kita menemukan orang menusuk dari belakang. Kita amati dan pelajari dari ayam. Ayam sudah di beri makan oleh tuannya. Lalu dia makan jemuran juga. Masuk rumah tuannya dengan kaki kotor. Si ayam ini kalau diibaratkan manusia adalah manusia yang tidak punya adab, etika, rasa hormat, tidak mengerti tata krama.

Dari itulah pemikir kebudayaan masa lampau mengumpamakan manusia yang tidak ada adat-istiadat, etika, norma-norma, dan budaya sama dengan hewan atau binatang. Belum menjadi manusia seutuhnya. Hanya wujudnya saja seperti manusia. Tapi mereka sejatinya hewan.

Ada tiga hal yang menjadikan manusia itu manusia. Pertama, manusia itu beragama dan memiliki kepercayaan serta mengakui adanya tuhan. Guna dari bertuhan agar manusia memiliki kasih sayang hidup dan dapat berkasih sayang sesama makhluk hidup.

Kedua, memiliki norma hukum-hukum baik adat istiadat, norma tingkah laku. Misalnya norma tingkah laku, terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan baik itu dalam pergaulan atau cara bersikap. Mengapa demikian, kalau perempuan bercampur baur tanpa ada adab perbedaan.

Maka kita dapat saksikan hewan-hewan yang bercampur baur. Mereka tidak kenal sudah menikah atau belum. Masih gadis atau tidak. Kawin sesuka hati, dan berpisah juga sesuka hati. Kalau tidak sosial tersebut berarti kita menurun menjadi kelas binatang. Norma-norma adat-istiadat, serta norma hukum lainnya sangat perlu diterapkan karena akan dapat membedakan manusia dengan hewan.

Ketiga, yang dapat menjadikan manusia itu manusia adalah ilmu pengetahuan. Dari ilmu pengetahuan manusia akan mendapat pengerti dari kehidupan. Baik itu untuk mengerti agama yang dia anut. Menciptakan dan mengatur norma-norma lalu diterapkan dan belajar. Ilmu pengetahuan dapat membedakan baik dan buruk hal-hal. Seorang lelaki desa misalnya kasar dalam memperlakukan seorang wanita.

Sangat kental sekali dia hanya menguasai norma hukun kebiasaan saja. Tapi tidak menguasai ilmu pengetahuan dan ilmu agamanya. Maka menjadi kasarlah dia terhadap perempuan. Misalnya merendahkan perempuan, memukul dan sebagainya. Tapi kalau dia berpengetahuan dan beragama dengan baik. Dia akan sadar kalau perempuan adalah wujud makhluk yang mulia. Perlulah dia norma-norma dan memperlakukan wanita. "Apakah kamu sudah menjadi manusia seutuhnya???

#Salam Revolusi Biru.

#Biruisme.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Selita. S.Pd.
Palembang, 8 Januari 2019.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment