1/13/2020

Badundai. Sastra Lisan Masyarakat Melayu Sumatera Selatan Yang di Lupakan

Apero Fublic.- Masyarakat Melayu di Sumatera Selatan memiliki banyak warisan budaya tak benda. Seperti warisan bahasa Melayu yang menjadi Bahasa Indonesia, cerita-cerita rakyat dan jenis sastra lisan. Diantaranya jenis-jenis sastra lisan warisan nenek moyang masyarakat Melayu Sumatera Selatan, sastra lisan badundai.

Studi penulisan artikel ini diambil dari sampel masyarakat pedesaan yang berada di Kabupaten Musi Banyuasin, tepatnya di Kecamatan Sungai Keruh yang dikenal  juga dengan nama Kawasan Dataran Negeri Bukit Pendape. Yang meliputi kawasan dari kaki Bukit Pendape sampai ke tebing Sungai Musi.

Badundai sastra lisan yang diwariskan secara turun temurun melalui belajar langsung. Atau dari mendengar pelaku yang sedang melantunkan badundai. Bentuk sastra lisan badundai terdiri dari syair pantun yang dilagukan. Kemudian diulang-ulang dua sampai tiga kali pada larik ketiga dan keempat. Dalam melagukan nada badundai sesuai irama tema dari badundai. Kalau tema sedih akan lembut mendayu-dayu. Kalau riang seakan-akan sedang berdendang. Orang yang membawakkan atau melantunkan bandundai.

Untuk orangnya dinamakan pendundai. Aktivitas orang yang melantunkan disebut mendundai. Kata badundai terdiri dari dua suku kata, yaitu kata ba dan kata dundai. Kata ba dalam bahasa Melayu bermakna sedang terjadi atau sedang dilakukan. Sedangkan kata dundai bermakna bernyanyi dengan cara dilagukan berayun-ayun. Badundai ibarat orang berayun-ayun dalam perasaan baik itu sedang dalam kegembiraan atau kesedihan.

Dalam melantunkan sastra badundai, ada saat-saat moment tertentu. Seperti saat menidurkan anak-anak masih bayi di ayunan atau pangkuan. Dengan maksud berhibur diri atau sedang berduka nestapa (baseding). Misalnya seorang istri yang ditinggal mati oleh sang suami. Kemudian dia bedundai mengenang sang suami dengan perasaan penuh kesedihan.

Badundai juga dibawakkan oleh seorang sedang jatuh cinta atau sedang patah hati. Terkadang juga dibawakkan anak-anak sambil bermain. Atau seorang petani menjaga ladang dalam menghilangkan kebosanannya. Seorang penyadap nira melantunkan sastra lisan badundai untuk mengusir kesepian. Adapun fungsi badundai adalah untuk hiburan, nasihat, sindiran, dan seni.

Sastra badundai adalah bentuk sastra milik masyarakat banyak. Tidak berhubungan dengan suatu sistem pemerintahan zaman dahulu. Tidak ada pengajaran resmi dari zaman dahulu sampai sekarang. Badundai juga termasuk sastra lisan masyarakat Melayu yang belum terdokumentasi. Zaman sekarang sudah sangat langkah generasi muda yang mengetahui sastra lisan ini.

Bahkan generasi yang lahir di atas tahun 1990 sangat sedikit yang mengetahui atau mengerti tentang sastra lisan badundai. Untuk yang lahir di atas tahun 2000 kemungkinan tidak yang tahu sama sekali. Teknologi yang berkembang terutama dibidang elektronik dan jaringan internet yang menyajikan berbagai macam hiburan. Baik dalam bentuk video atau rekaman suara mempercepat matinya sastra lisan badundai ini.

Kalau generasi yang lahir di bawah tahun 1980 masih banyak yang mengerti dan mengetahui tentang sastra lisan badundai. Mereka sekarang mungkin masih menidurkan cucu-cucu mereka dengan melantunkan sastra lisan badundai. Berikut ini contoh dari sastra lisan badundai.

Uwe-uwe balamban kandis
Patah pucuk marebung mude
Awak tue linjang di gadis
Patah usuk tabengkung pa’E

Awak tue linjang di gadis
Patah usuk tabengkung pa’E.

Terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia (Melayu Tinggi).
Uwe-uwe[1] berjalan didahan kandis.[2]
Patah pucuk bertunas muda.
Sudah tua jatuh cinta seorang gadis
Patah rusuk patah paha

Sudah tua jatuh cinta seorang gadis
Patah rusuk patah paha.

Fungsi dari syair badundai tersebut bentuk sindiran pada orang yang sudah menikah atau sudah tua tapi kelakuannya masih seperti seorang bujang. Masih tidak sadar diri dan umur. Sehingga akhirnya mendapat sesuatu yang tidak mengenakkan di tengah masyarakat.

Dak ke endak landak makan padi
Base padi baroboh mude
Dak keendak uwang dengan kami
Base kami[3] uwang sare.

Dak ke endak uwang dengan kami
Base kami uwang sare.

Terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia (Melayu Tinggi).
Tidak akan mau landak memakan padi
Sebab padi roboh saat masih muda.
Tidak akan mau dia pada saya
Sebab saya orang miskin

Tidak akan mau dia pada saya
Sebab saya orang miskin.

Pada lantunan badundai ini menjelaskan kesedihan seorang lajang pada kehidupannya yang serba kekurangan. Tidak memiliki sesuatu yang dapat dia banggakan. Kemiskinan menyebabkan dia rendah diri dan merasa tidak berharga sedikitpun dimata orang-orang.

Selain itu bait badundai ini juga bentuk sindiran dan nasihat. Pada larik ulangan kedua boleh diulang-ulang lebih dari dua kali. Bahkan ada yang mengulang-ulang naik turun beberapa kali. Semoga masyarakat masih mau melestarikan sastra lisan badundai.

Saya juga berharap akan lahir komunitas-komunitas pemuda-pemudi yang mencintai sastra lisan badundai ini. Begitupun pemerintah daerah dan kalangan akademisi juga tertarik dalam melestarikan sastra lisan badundai ini. Warisan leluhur orang Melayu di Provinsi Sumatera Selatan.

Oleh. Joni Apero
Editor. Selita. S. Pd.
Palembang, 13 Januari 2020.


[1]Uwe-uwe adalah nama lokal sejenis hewan primata.
[2]Kandes adalah sejenis pohon yang menghasilkan bua yang dijadikan masyarakat asam untuk bumbu masakan. Cara pembuatan asam bumbu adalah buah kandis dibelah-belah tipis lalu dijemur sampai kering.
[3]Kata kami dalam pengertian masyarakat Melayu memiliki dua makna. Pertama bermakna jamak yang berarti banyak. Kedua bermakna tunggal berarti saya. Kata kami bentuk kata ganti aku atau diriku. Karena kata aku terkesan kasar dan sombong. Masyarakat Melayu selalu berkata kami dalam memberikan penjelasan yang bermakna tidak menyombongkan. Misalnya, rumah kami, motor kami itu bermakan milik saya, motor milik saya, rumah milik saya.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment