12/18/2019

Provesi Sederhana Semangat Membara.

Apero Fublic.- Hidup merupakan jalan takdir yang kita jalani. Hal yang baik dan buruk adalah pilihan bagi kita sendiri. Begitu juga halnya dengan mimpi. Semua orang bebas berkeinginan apapun. Akan tetapi, sebuah mimpi itu akan terwujud dengan adanya usaha yang sunguh-sungguh. Sungguh-sungguh mencapainya dan menjalaninya. Kalau hidup tanpa mimpi, bagaikan perjalanan tanpa tujuan.

Hari itu, Kota Palembang sibuk seperti biasa. Jalan selalu macet, kenek berteriak-teriak memanggil penumpang. Tukang parkir sibuk mengatur keluar masuk kendaraan. Langit cerah, jembatan Ampera melintang diatas Sungai Musi. Terdengar suara lantunan ayat suci Al-Quran dari menara Masjid Agung Palembang. Para pedagang sibuk melayani pembeli. Salah satu pedagang jamu gendong yang akan kita temuai.

Pedagang jamu, profesi yang digeluti oleh seorang wanita, yang bernama Sumari (bukan nama sebenarnya). Bagi sebagian orang mungkin menjadi seorang pedagang jamu adalah pekerjaan yang dipandang rendah. Namun tidak bagi mereka yang berjiwa mulia, apapun tingkat pendidikannya. Ukuran pekerjaan adalah nilai halal dan kebaikannya.

Pedagang jamu gendong atau pedagang jamu keliling lebih mulia dibandingkan para koruptor, pejabat yang meminta persen dari kontrkator. Atau orang hukum yang jual beli hukum dan menipu rakyat. Penjual jamu adalah penjual obat, yang memberikan kesehatan dan kesebuhan pada pembeli. Dari pada pedagang rokok dan minuman keras atau narkoba. Mereka menjual racun yang merusak. Pedagang jamu gendong jauh lebih mulia.

Ibu Sumari, sudah menjadi pedagang jamu keliling atau jamu gendong. Kurang lebih sudah 26 tahun lamanya. Jauh sebelum aku lahir ke dunia ini. Sekarang dia sudah berumur 55 tahun. Pada awalnya beliau bekerja sebagai seorang asisten rumah tangga. Pada keluarga-keluarga di sebuah komplek perumahan di Kota Palembang. Akan tetapi hasil dari kerjanya itu tidak memadai. Dari hasil tabungannya, Ibu Sumari mencoba peruntungan dengan berdagang jamu keliling. Hasilnya lumayan dibandingkan dari hasil pekerjaan sebelumnya.

Ibu Sumari berangkat berdagang pukul sebelas siang. Pulang menjelang magrib atau setelah magrib. “Ndak nentu, dalam sehari kadang dapat seratus lima puluh ribu. Kadang lebih dan kadang kurang dari itu. Tergantung dari banyaknya pembeli. Ujar Ibu Sumari saat berbincang-bincang diselah-selah kesibukannya melayani pembeli. Dia menjelaskan dagangannya kadang tidak habis. Sehingga hanya kembali modal saja.

Wanita Kelahiran Jawa Tengah ini. Adalah sosok inspiratif sebagai wanita pejuang kehidupan. Demi membantu sang suami mencukupi kebutuhan sehari-hari. Walau salah seorang anaknya sudah sukses menjadi seorang bidan. Namun tidak menjadikan ibu Sumari berpangku tangan. Dia tetap bekerja dan tidak ingin menyusakan anak-anaknya.

Selain itu, setelah bercerita lebih dalam. Ternyata kehidupan Ibu Sumari penuh dengan cobaan. Hal yang membuat dia terpukul adalah saat suami pertamanya meninggal karena sakit. Dia terpaksa membanting tulang untuk menghidupi anak dan dirinya. Baru beberapa tahun kemudian dia bertemu sosok lelaki yang baik. Menjadi pendaping hidupnya dan menjadi ayah dari anak-anaknya. Suami beliau bekerja sebagai karyawan swasta (buruh).

Dari jerih payah beliau berdagang jamu. Dia telah menghantar anak-anaknya ke perguruan tinggi. Menurutnya, dunia yang moderen seperti sekarang. Pendidikanlah yang paling utama dalam memajukan kehidupan keluarga. Selain usaha, doa selalu dia panjatkan untuk keluarganya. Begitu pun anak-anaknya termotivasi dari buah perjuangan beliau.

Kami berbincang-bincang dengan salah seorang masyarakat di sekitar jalan A.K Gani 19 Ilir, Kota Palembang, Ibu Masna (bukan nama sebenarnya). Katanya, Ibu Sumari adalah sosok pedagang yang baik. Jujur dan selalu ramah melayani pembeli begitupun dengan masyarakat sekitar. Dia tabah dan sabar dalam kesehariannya. “Saya sering melihat Bu Sumari berdagang disekitar sini. Orangnya ramah, santun, dan pekerja keras.” Ujar Ibu Masna seraya berlalu.

Beberapa orang Mahasiswi dari Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang datang menghampiri dagangan Ibu Sumari. Mereka sedang berkunjung ke tempat wisata BKB (Benteng Kuto Besak).  Saat melihat ada pedangan jamu, mereka mampir untuk membeli minuman sehat itu. Namanya Intan, Mirtha, Bela, Sukma, dan Dewi. Mereka membeli jamu dagangan Ibu Sumari. Seorang diantaranya berkata, kalau jamu Ibu Sumari sama dengan jamu racikan ibunya. Namanya Intan gadis penyuka minuman tradisional ini. “Enak Bu, saya jadi ingat sama ibu saya. Itulah katanya sambil tersenyum manis.

Lain dengan pendapat Mirtha. Karena dia baru pertama kali minum jamu. “Ini pertama kalinya saya minum jamu, Bu. Kok pahit rasanya ya. Semua teman-temannya tertawa, aku pun ikut tersenyum. "Memang pahit karena jamu itu obat. Bukan minuman penyegar atau sirup. Begitulah kalau belum pernah meminum jamu. Tapi nanti, kalau nak Mirtha sudah tahu manfaat meminum jamu. Entar juga pasti suka walau pahit." Jelas Bu Sumari. Semua memberikan kesan tersendiri. Setelah selesai membayar para mahasiswi UIN Raden Fatah itu pamit, mengucap salam kemudian berlalu pergi.

Akupun demikian, pergi menyusuri jalan untuk menuju BKB. Hiruk pikuk kendaraan bermotor tiada henti. Langit tampak biru. Sekilas aku menoleh kebelakang melihat Ibu Sumari. Sosok wanita tua yang mengingatkan aku pada ibu. “Ya Allah, berilah keberkahan hidup pada Ibu Sumari. Aku berdoa didalam hatiku. Juga terbayang wajah ibuku, aku rindu ibu.

Oleh. Erna Nurdianti
Palembang, 18 Desember 2019.
Editor. Selita. S. Pd.
Sumber foto. Nur Aisyah.

Sy. Apero Fublic 

0 komentar:

Post a Comment