12/18/2019

Legenda Asal-Usul Nama Desa Gajah Mati

Apero Fublic.- Desa Gajah Mati sebuah desa yang terletak di Kecamatan Sungai Keruh Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Suatu ketika aku bertandang kerumah almarhumah Puyang. Puyang sempat berandai-andai. Tentang asal usul nama Desa Gajah Mati. Aku mendengarkan dengan seksama dan mengingat sampai sekarang.

Rumah panggung milik puyang bertipologi rumah panggung basepat. Jenis pertama dari perkembangan bangunan tempat tinggal orang Melayu. Rumah itu, sudah lapuk dimakan usia. Terlihat dari keadaan material rumah buram dan kusam.


“Puyang, sudah berapa lama rumah ini berdiri?. Tanyaku waktu itu.

“Aku tidak tahu pasti. Tapi sewaktu aku masih kecil berumur lima atau enam tahu. Keadaan rumah kita ini sudah tua hampir seperti ini." Jawab Puyang sambil mengunyah sirih. Mulutnya merah karena air kapur sirih. Dia menumbuk pinang agar lembut karena tidak dapat mengunyah lagi. Tepak sirinya penuh oleh alat-alat makan sirih.


“Berapa umur Puyang sekarang?” Tanyaku.

“Sekitar 90 tahun.” Jawabnya. Pendengaran dan penglihatan puyang masih baik.


Lama bercerita banyak hal, tentang keadaan desaku pada masa lalu. Aku banyak bertanya tentang adat istiadat. Bertanya tentang sejarah di desa. Puyang bilang kalau sejarah dia tidak tahu. Kalau andai-andai tentang asal usul nama Desa Gajah Mati dia tahu. Puyang mendengar andai-andai itu dari moneng-monengku sewaktu dia masih anak-anak.

Memang zaman dahulu para orang tua suka berandai-andai untuk menghibur dan mendidik anak-anak. Sebab belum ada televisi seperti sekarang untuk hiburan anak-anak. Sekarang orang lebih suka menonton televisi atau bermain henpon. Tradisi berandai-andai kemudian hilang seiring waktu.


“Lihat di belakang rumah ada sungai. Lihat di samping sungai ada padang rumput. Padang rumput itu bekas Talang masyarakat Desa Gajah Mati. Jelas beliau, benar atau tidaknya, ini hanyalah cerita andai-andai. Itulah kata Puyang dan sedikit batuk-batuk. Puyang mulai menceritakan cerita asal usul nama Desa Gajah Mati.

*****

Penduduk Negeri Dataran Bukit Pendape pada masa itu, sudah sangat padat sekali. Sehingga hutan-hutan disekitar pemukiman warga sudah ada pemiliknya semua. Sehingga generasi masih muda tidak memiliki lahan untuk bertani lagi. Masyarakat Negeri Dataran Bukit Pandape hidup dari hasil bertani dan berternak. Ada juga yang menjadi pedagang, tukang rumah, nelayan sungai, dan pengrajin alat-alat rumah tangga.

Padat di Kota Pedatuan dan padat di Petalangan. Diantara talang-talang yang telah padat itu, bernama Talang Selensing. Selensing nama tumbuhan yang sejenis pandan hutan. Tumbu di rawa-rawa atau tanah berair, seperti paya-paya. Talang Selensing dikeliling paya-paya yang panjang dan dalam. Menjadi tempat menangkap ikan, mandi mencuci masyarakatnya.

Kisah ini berawal dari sebuah keluarga besar Puyang Karu-Karu. Puyang Karu-Karu memiliki enam orang anak. Empat laki-laki dan dua wanita, semuanya sudah menikah. Anak pertama bernama Kamaju, anak kedua bernama Salibu, ketiga Manaku, keempat Pandika, kelima dan keenam Dinini dan Dinina, kembar.

Keadaan sangat sulit masa itu. Keluarga Puyang Karu-Karu kesulitan ekonomi. Mereka hidup sederhana sekali. Mengandalkan beberapa hektar tanah untuk memenuhi kebutuhan mereka sekeluarga besar. Anak-anak Puyang Karu-Karu tidak dapat menerima keadaan yang sulit itu. Maka bermusyawarahlah mereka disuatu malam. Berkumpul di ruang tengah rumah. Puyang Karu-Karu duduk di hadapan anak-anaknya. Dalam musyawara itu berkatalah anak tertua Puyang Karu-Karu.


“Bak, bagaimana kalau aku dan anak istriku pergi membuka hutan baru. Tapi akan jauh dari Talang Selensing. Tidak mungkin kita terus bertahan dengan keadaan seperti ini. Yang aku takutkan, bagaimana kalau terjadi kemarau panjang atau ada serangan hama. Tentulah kita sekeluarga akan kelaparan.” Kata Kamaju. Semuanya diam dan memperhatikan dan memikirkan. Perbincangan berlanjut.


“Jangan terburu-buru mengambil keputusan. Mari kita pikirkan lagi. Kalau hanya Kau, Istrimu, Gurula anakmu, dan dua adiknya yang masih kecil itu berbahaya. Sebab banyak harimau, ular piton dan gajah liar di hutan jauh. Kecuali kalau kau banyak teman pergi. Sehingga terbentuk sebuah kelompok. Maka akan kuat, serta dapat mendirikan Talang baru.” Ujar Puyang Karu-Karu seraya menghirup air nira hangat.

“Kalau memang sudah tekad kakak nak pergi membuka Talang baru. Aku bersediah ikut. Kata Manaku.

Akhirnya semua anak Puyang Karu-Karu bersepakat untuk pergi membuka pemukiman baru. Sehingga dimulailah persiapan, dari perbekal, bibit tanaman, dan bibit ternak untuk dibawa. Banyak yang mendengar tentang rencana mereka. Maka ada juga yang tertarik dan mereka ikut bergabung pergi. Semua juga sama kesulitan ekonomi. Sebanyak tiga puluh keluarga berangkat mencari lokasi pemukiman baru. Puyang Karu-Karu dan istrinya juga ikut. Agar anak-anak mereka ada yang menengahi mereka. Selain itu, mereka juga tidak ingin jauh dari anak-anaknya.

Sebelum berangkat mereka berpamitan dengan warga. Perjalanan dimulai di pagi hari. Mereka menerobos hutan lebat dan berjalan berminggu-minggu. Sampailah mereka disuatu hutan rimba raya. Beristirahat di sebuah tanah  lapang disisi bukit. Tidak jauh dari tempat mereka istirahat ada sungai kecil dan paya-paya. Banyak rombongan yang membersihkan diri di lembah bukit kecil itu. Dimana ada benca yang berair jernih mengalir perlahan. Saat istirahat itu Gurula ingin buat hajat. Maka dia menjauh dan pergi ke sungai.

“Mak, aku nak buang hajat di sungai kecil, disana." Ujar Gurula sambil menunjuk. Dia tahu karena sudah ada warga yang mencari sungai tadi, bertemu.


“Ia, hati-hati Gurula, hutan ini baru kita datangi. Jadi belum tahu situasi. Apa penunggunya, entah suban entah hewan buas.” Jawab Ibu Gurula. Sementara ayah, kakek, paman, dan rombongan, sedang berdiskusi. Mereka mencari arah dan mengira-ngira keadaan. Apakah tempat itu sesuai untuk  pemukiman.

Mereka sepakat untuk membangun talang baru di dekat sungai besar. Agar mudah memenuhi kebutuhan hidup. Sungai dapat menjadi transportasi, dan tidak kekurangan air saat musim kemarau. Pengecekan geografis daerah juga mereka kuasai. Sepakat akhirnya, diputuskan apabila menemukan tempat cocok mereka akan menetap. Tanah subur, dan didekat sungai besar. Selain itu mereka sudah hampir sebulan berjalan mengikuti langkah kaki.

Waktu berlalu, mereka makan dan istirahat. Anak-anak bermain menunggu waktu perjalanan kembali. Tapi Gurula tidak kunjung muncul sudah cukup lama. Membuat Ibu Gurula menjadi khawatir dan datang menemui suaminya.


“Kanda, tadi Gurula pamit hendak kesungai kecil di sisi bukit. Sudah lama tak kembali-kembali." Ayah Gurula dan semuanya terkejut. Mereka segerah berkumpul bermupakat. Ayah Gurula meminta Salibu, Manaku, Tutuka, Bilanga, Babansa. Menemani dia mencari Gurula. Sedangkan yang lain berjaga-jaga. Mereka berlari-lari kecil mengikuti arah Gurula pergi ke arah sungai kecil itu.

*****

Sementara itu, setelah buang hajat Gurula merasa penasaran dengan suara gajah yang berbunyi terus-menerus. Mengintip dari jauh, terlihat sebua paya berair dangkal. Paya itu berlumpur akibat pengendapan tanah. Dua ekor anak gajah terperangkap di dalam paya berlumpur itu. Badan gajah hanyas sebatas kepala dan belalainya saja yang timbul. Gurula masuk kedalam paya berlumpur dan mendorong gajah di bagian depan. Bermaksud menolong. Tapi tenaganya sebagai anak manusia berumur dua belas tahun tidak memadai.

Tinggi lumpur juga sampai ke lehernya dan dia akhirnya kembali ke tebing paya. Dua anak gajah itu panik dan terus berbunyi, memanggil kawanan mereka. Keduanya seperti disedot oleh lumpur, tidak dapat berbuat apa-apa. Gurula duduk di atas tebing paya. Dia memikirkan bagaimana membantu kedua anak gajah itu keluar dari lumpur. Gurula mendapatkan ide, yaitu dengan mengalirkan lumpur kesisi paya. Paling tidak lumpur akan menyusut disekitar tubuh anak gajah itu. Sehingga keduanya dapat bergerak keluar.


Gurula menggunakan Pibang menggali tanah disisi tebing paya. Perlahan tapi pasti, terus menggali dalam dan memanjang jauh. Gurula bekerja tiada henti. Saat sedang sibuk itu ayah dan paman, warga yang mencari datang.


“Apa yang kau perbuat, Gurula?.” Tanya ayahnya. Gurula yang tampak kelelahan menunjuk kedua anak gaja di dalam paya berlumpur. Ayah Gurula dan semuanya mengerti dan mereka bekerja bersama-sama. Penggalian pun lebih cepat. Kemudian mereka mendorong dan mengalirkan lumpur ke lubang panjang galian mereka. Sehingga badan gajah terbebas dari benaman lumpur, dan dapat berjalan.

Tanpa mereka sadari dari tadi puluhan ekor gajah dewasa berdiri di seberang paya. Gajah-gajah itu memperhatikan semua peristiwa itu. Dengan akar dan rotan mereka mengikat lalu menarik tubuh gajah naik tebing paya, ada juga yang mendorong dari belakang. Sehingga selamatlah kedua anak gajah itu. Gurula membawa kedua gajah muda itu kesungai kecil berair jernih. Dimana tadi dia buang hajat dan mencuci wajah. Ayah dan paman-paman Gurula mengikuti.

Mereka semua membersihkan tubuh dari lumpur, termasuk dua anak gajah itu. Setelah badan kedua gajah itu bersih. Ternyata gajah satunya berbulu putih seperti kapas, indah sekali. Sedangkan yang satunya berbulu abu-abu seperti warna bulu gajah pada umumnya.

Mereka kemudian kembali ke rombongan dan meninggalkan kedua anak gajah itu. Terdengar suara riang gajah mengiringi kepergian mereka. Beberapa kali menyeburkan air keatas dengan belalainya. Sementara gerombolan gajah dewasa tadi mencari bagian paya yang dangkal. Lalu menyemberang dan menuju sungai kecil itu.

Tampak kedua anak gajah itu mendatangi seekor gajah perempuan yang besar. Sepertinya itu induk keduanya. Suara-suara gajah menjadi riuh, menemukan air. Ada yang minum dan berendam di dalam air. Kelak paya tempat gajah itu terbenam dikemudian hari dikenal dengan nana Paya Lebar atau Paye Libok.


Dua minggu dari hari itu, rombongan Puyang Karu-Karu menemukan rawa-rawa yang luas. Sehingga tidak dapat menyemberangi. Dikemudian hari daerah rawa-rawa itu dinamkan oleh masyarakat Gajah Mati, dengan Daerah Sawa.

Rombongan mereka kemudian mengarah ke arah barat. Sampailah di sebuah tebing sungai. Sungai itu berair jerni sekali. Gurula dan kawan-kawan langsung mandi berenang di sebuah lubuk sungai. Rombongan istirahat untuk sehari. Juga melihat kondisi dan memperhatikan tanda-tanda kalau daerah itu renah. Maka tidak cocok untuk pemukiman. Karena tanah renah sering banjir di musim hujan.


“Gurula, dari mana, lama sekali. Tanya Dinini.

“Mandi disungai, Bik. Air sungainya jernih sekali.” Jawab Gurula polos.


“Iya Mak, jerni sekali air nya. Kalau menengok kedalam sungai tu, terlihat ikan-ikan.” Ujar Sanlang anak Dinini.

“Sudah makanlah, sebentar lagi kita nak berangkat lagi." Ujar Dinina.

“Berangkat terus, kapan berhenti. Dah lelah kami, kan masih budak.” Kata Marti anak tetangga Gurula. "Betul. Ujar anak-anak lainnya.


Perjalanan ditunda karena anak-anak masih keleahan. Keesokan harinya, mereka pun melanjutkan perjalanan kembali. Menyemberangi sungai berair jernih itu. Kelak sungai itu dinamakan masyarakat Desa Gajah Mati dengan nama, Sungai Jernih (Sungai Jene). Menjelang sore mereka tiba di sebuah sungai berair kuning mirip air keruh. Sungai besar, mereka berjalan menghulu sungai. Dari jauh terlihat sebatang pohon rengas yang sudah roboh dan jatuh melintang di atas sungai.


“Coba kita menyeberang, lihat tanjung itu. Kata Puyang Karu-Karu.

“Tadi sungai air jerni, Sekarang Sungai airnya kuning seperti keruh. Guman beberapa orang diantara mereka.


Puyang Karu-Karu diikuti Pandika, Salibu, Kuraja. Kuraja suami Dinini. Mereka berempat menyemberang ke tanjung itu. Melintasi di atas batang pohon rengas yang roboh itu. Mereka melihat tanah tanjung. Tidak ada tanda-tanda banjir yang dalam disekitar tanjung itu. Pada malam harinya mereka bermusyawarah. Diterangi api unggun dan memakan ikan bakar, rusa panggang.


“Kita bangun disini saja, Talang. Kasian anak-anak dan wanita kalau berjalan terus. Sudah lebih sebulan kita berkeliling-keliling hutan.”  Kata Puyang Karu-Karu disela-sela perbincangan mereka.

“Sungai besar, tanah subur, bagus untuk talang baru.” Ujar Sangkan. Sangkan suami  Dinina.


Mereka sepakat, keesokan harinya dimulai membuka hutan di tanjung sungai itu. Menebang pepohonan, membersihkan semak-semak, dan membakarnya. Sehingga terbukalah tanah lapang. Di sisi tanah yang mereka buka itu, terdapat sebuah sungai kecil. Anak dari sungai yang berair kuning mirip keruh itu. Mereka membuat tepian madi untuk mandi diwaktu air sungai keruh naik (mendalam). Waktu berlalu dan berlalu. Rumah-rumah telah dibangun, halam rumah telah bersih. Pisang telah berbuah, sayur telah berpucuk. Mereka juga sudah membuka ladang-ladang. Sudah ada yang membuat perahu dan rakit. Ada pula yang menemukan pohon sialang. Untuk mengambil madu lebah hutan. Menemukan pohon aren dan menyadap nira.


Mereka sekarang hidup makmur dan berkecukupan. Karena hasil panen padi, sayuran berlimpa. Begitupun ternak mereka juga berkembang dengan baik. Talang mereka belum ada nama. Sedangkan nama sungai berair kuning mirip keruh, mereka namakan Sungai Keruh. Akhirnya nama itu melekat sampai sekarang.


Sementara itu, kawanan gajah-gajah yang dulu anaknya mereka tolong. Sekarang telah berada di sekitar talang mereka. Kadang gajah-gajah itu mandi si Sungai Keruh. Pernah suatu hari Gurula bertemu dua ekor gajah yang dia tolong dahulu, gajah putih dan gajah abu-abu. Gurula tidak menyangka kalau kedua anak gajah itu mau bersahabat dengannya. Berkali-kali Gurula naik kepunggung keduanya bergantian waktu bermain-main.


*****

Suatu hari Pandika memtong rambut. Zaman dahulu rambut laki-laki sama panjang seperti rambut perempuan. Karena dia sudah gerah dengan rambutnya sudah panjang sebatas pinggang. Melihat Pandika memotong rambut semuanya ikut memotong rambut. Sehingga pagi itu mereka kompak memotong rambut, pendek di atas bahu.

Mereka memotong rambut dengan senjata pusaka bernama Pibang. Pibang senjata tradisional milik Masyarakat Sungai Keruh. Berbentuk seperti pedang pendek dan mata sangat tajam. Setelah dipotong, rambut itu mereka kumpulan di tumpukan sampah. Di soreh harinya Manaku membakar sampah itu. Sehingga rambut-rambut bekas pemotongan mereka terbakar.

Bau angit rambut dibakar itu tercium semerbak di seluruh talang. Puyang Karu-Karu keluar dari rumah, dan mencari sumber tempat angit terbakar. Saat dia bertanya pada Manaku apa yang dibakar. Dijelaskan semua itu rambut  bekas pemotongan mereka pagi tadi. Puyang Karu-Karu menjadi khawatir. Dia menceritakan pesan orang-orang tua. Jangan membakar rambut, sebab akan tercium oleh harimau dari gunung. Akan berbahaya dan kita harus bersiap menghadapi serangan harimau-harimau dari gunung.  Kata Puyang Karu-Karu cemas dan wajah pucat. Menyadari itu, maka keesokan harinya semuanya mulai mempersiapkan diri. Tombak, pedang dan panah disiapkan di dalam rumah masing-masing.

******
Nun jauh di Gunung Dempo di daerah Pagaralam. Sekawanan harimau gunung mencium bauh rambut terbakar yang diterbangkan angin. Harimau kumbang, raja harimau Gunung Dempo membawa sekitar seratus ekor harimau jantan turun gunung menuju sumber bau angit rambut terbakar. Diawali auman yang bersamaan yang membuat ngeri bagi yang mendengar.

Seratus satu harimau gunung Dempo turun berlari kencang menuju talang baru itu. Dalam waktu seminggu pasukan harimau gunung itu tiba di dekat talang baru itu. Auman mereka yang bersahutan membuat seisi talang ketakutan. Mereka semua berlari pulang dan mengurung diri. Tombak, panah, pedang dipersiapkan. Ayah Gurula terpekik-pekik mencarinya, tapi tidak bertemu. Ternyata Gurula sedang bermain jauh di hutan bersama dua gajah sahabatnya. Gajah putih dan Gajah Abu-Abu, panggilannya. Kedua anak gajah mengantar Gurula pulang. Tibalah di dekat sungai kecil tak bernama di sisi talang.


“Putih, suara harimau banyak sekali.” Kata Gurula yang mulai ketakutan. Dua ekor anak gajah itu terus berbunyi riang. Seakan memberi tanda kalau Gurula tidak perlu takut, ada mereka yang melindungi. Sesaat setelah menyeberangi sungai kecil. Puluhsn harimau mengepung tiga sahabat itu.

Harimau kumbang mengaum,  lalu empat harimau melompat menyerang dua gajah itu. Gajah Putih dan Gajah abu-abu tidak takut. Keduanya balik menyerang menerjang. Harimau penyerang mati seketika saat injakan kaki mengenai batang lehernya.

Sementara di talang semua tidak dapat kemana-mana. Puluhan harimau berkeliaran di tengah talang. Berjalan di bawah-bawah rumah panggung penduduk. Membuat semuanya takut gemetaran. Kerbau dan sapi mereka sudah ada yang diterkam karena belum sempat melarikan diri. Ayah dan ibu Gurula panik karena Gurula tidak tahu dimana. Begitupun dengan yang lainnya.


Gajah Putih meraih dahan pohon. Gurula mengerti kalau gajah putih memintanya naik pohon. Maka dia naik pohon sampai kepuncak tinggi. Kembali pertarungan hebat terjadi. Puluhan harimau mengeroyok dua anak gajah itu. Sambil bertaurung keduanya membunyikan tanda bantuan untuk gajah-gajah dewasa lainnya. Ratusan gajah dewasa yang berada tidak jauh berlari mendatangi sekitar talang.


Pertarungan tidak seimbang. Membuat keduanya kewalahan. Banyak cakaran, gigitan yang mengenai tubuh keduanya. Membuat keduanya banyak terluka. Sementara gajah putih yang lebih parah. Dua gigitan di lehernya sobek parah, banyak darah keluar. Dalam keadaan genting itu kawanan gajah dewasa datang.

Melihat saudara mereka dikeroyok harimau. Membuat semua gajah marah besar. Apa lagi induk gajah putih dan gajah abu-abu, mengamuk hebat. Kali ini giliran harimau yang kerepotan. Satu lawan satu adalah hal yang kecil bagi gajah. Dalam waktu sebentar saja harimau-harimau itu mati denga tulang patah-patah semua. Tidak satupun harimau itu selamat dari amukan gajah-gajah hewan besar itu. Termasuk harimau kumbang raja para harimau, tewas. Tidak ada ampun, ratusan gajah menginjak-injak tubuh harimau yang tergeletak bergiliran. Membuat mereka mati dengan tubuh lembek.


Gajah putih yang terluka parah terjatu kedalam sungai. Tubuhnya lemah karena kehabisan darah. Gurula turun sambil menangis mendatangi gajah putih. Berkali-kali suara-suara gajah putih terdengar. Induk gajah putih dan saudaranya gajah abu-abu datang. Mereka tampak menatap sedih. Hanya suara-suara gajah yang melengking-lengking terdengar ramai. Gurula tidak mengerti bahasa gajah. Belalai mereka bersentuhan dan saling membelit.

Sepertinya mereka melepas kasih sayang. Mereka tahu kalau gajah putih tidak akan berumur panjang lagi. Untuk terakhir kalinya gajah putih menyemburkan air sungai ke wajah gurula. Ada air mata menetes dari mata gajah putih. Induk gajah putih membelai rambut Gurula yang tampak menangis dengan belalainya. Seakan dia berkata sabar, semua kehendak tuhan.

Keadaan telah aman, warga talang keluar dan menyaksikan disekitar talang mereka. Tampak bekas pertarungan gajah dan harimau. Bangkai harimau bergelimpangan di setiap sudut talang. Mereka semua menemui Gurula yang menangis disisi jasad gajah putih.


Penduduk melihat keseberang sungai kecil itu. Ratusan gajah-gajah tampak mulai melangkah pergi. Gajah abu-abu berkali-kali berbunyi-bunyi menghadap penduduk, tanda pamit mungkin. Lalu dia berbalik dan melangkah pergi mengiringi kawanannnya pergi. Gajah-gajah telah menyelamatkan semua warga talang. Semua melambaikan tangan pada gajah-gajah itu. Gajah-gajah membalas dengan suara-suaranya. Ada air mata haru mengiringi kepergian kawanan gajah-gajah itu. Setelah itu, mereka makamkan gajah putih di sisi tebing sungai kecil tak bernama itu.


Sungai itu kemudian selalu disebut dengan sungai tempat gajah mati. Setiap kali bercerita atau hendak ke sungai. Mereka selalu  berkata,  "sungai tempat gajah mati. "Mandi di sungai tempat gajah mati." Begitulah kata-kata penduduk dari waktu ke waktu. Lama kelamaan, nama sungai itu pun menjadi Sungai Gajah Mati. Beratus-ratus tahun kemudian talang tak bernama itu juga dinamakan oleh peduduk dengan nama, Talang Gajah Mati.

Seiring waktu dengan berjalannya sejarah. Dari talang berkembang menjadi Desa Gajah Mati seperti sekarang. Walupun airnya sudah dangkal dan surut. Sungai Gajah Mati dan bekas-bekas pemukiman lama masyarakat Talang Gajah Mati masih dapat ditemui di belakang Kampung Laut, Desa Gajah Mati, di tanjung di pinggir Sungai Keruh.

Orang tua-tua berpesan, "jangan membakar rambut. Nanti didatangi harimau dari gunung. Itulah mitos yang aku dengar sewaktu kecil dulu. Rambut yang sudah dipotong sebaiknya diletakkan di bawah-bawah pohon yang hidup. Agar rambut tersebut menyatu dengan tanah dan alam.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S. Sos.
Palembang, 12 November 2019.

Arti kata:
Kata Puyang memiliki empat makna: Pertama dalam silsilah: Puyang adalah Orang tua dari kakek-nenek kita, atau yang sejajar dengannya. Kedua, Puyang dalam artian Pemimpin suatu kelompok masyarakat. Ketiga, Puyang dalam artian orang yang sakti dan dikeramatkan. Keempat, Puyang dalam artian leluhur.

Paya: Penampungan air alami yang berbentuk memanjang seperti sungai tapi airnya tidak mengalir seperti sungai. Pibang. Senjata tradisional masyarakat yang berupa pedang pendek. Sering menjadi syarat adat genti duduk saat pernikahan.

Renah. Dataran tanah yang subur dan terletak disekitar sungai-sungai. Sehingga saat musim hujan sering terendam banjir saat air sungai meluap. Benca: tempat penampungan air yang terbentuk secara alami di hutan-hutan. Bentuk mirip sungai memanjang tapi kecil seukuran selokan.

Tipologi: Ilmu tentang bentuk-bentuk beserta ciri khasnya. Dataran Negeri Bukit Pendape adalah nama tradisional dari wilayah Kabupaten Musi Banyuasin di seberang, meliputi Kecamatan Sungai keruh, kecamatan Jirak Jaya, Kecamatan Palakat Tinggi dan sebagian dari wilayah kecamatan lain.

Bak: Ayah. Umak: Ibu. Talang: Pemukiman kecil sekelompok penduduk di tengah hutan atau di pinggir hutan. Basepat: Nama jenis rumah panggung orang Melayu lantai rumahnya bertingkat naik turun seperti punden berundak. Budak: Anak-anak.

Sy. Apero Fublic

1 comment: