Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Pancasila dalam Perspektif Generasi Z: Relevansi Ideologi Bangsa di Tengah Perubahan Zaman
APERO FUBLIC I OPINI.- Di tengah derasnya arus globalisasi, kemajuan teknologi digital, serta terbukanya akses informasi lintas negara, Generasi Z tumbuh sebagai generasi yang kritis terhadap nilai-nilai yang diwariskan dari masa lalu.
Pancasila, sebagai dasar ideologi bangsa Indonesia, kerap dipertanyakan relevansinya: apakah ia masih hidup dan bermakna, atau sekadar simbol normatif yang dihafalkan tanpa penghayatan?.
Pertanyaan ini penting untuk diajukan, bukan untuk menegasikan Pancasila, melainkan untuk memastikan bahwa nilai-nilainya tetap mampu menjawab tantangan zaman yang terus berubah.
Pancasila tetap relevan bagi Generasi Z dan perkembangan zaman, namun relevansi tersebut hanya dapat terjaga apabila Pancasila dipahami secara kontekstual, diaktualisasikan secara nyata, dan diterjemahkan ke dalam praktik sosial, politik, serta budaya yang adil dan berkeadaban.
Tanpa pembaruan cara pemahaman dan implementasi, Pancasila berisiko dipersepsikan sebagai ideologi formalistik yang jauh dari realitas kehidupan generasi muda.
Kita bisa lihat pertama, dari sisi nilai fundamental, Pancasila memiliki kesesuaian yang kuat dengan isu-isu yang menjadi perhatian utama Generasi Z.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, misalnya, tidak hanya berbicara tentang keyakinan religius, tetapi juga menekankan pentingnya etika dan tanggung jawab moral.
Dalam konteks ruang digital yang sering diwarnai ujaran kebencian dan intoleransi, nilai ini relevan sebagai landasan etis dalam menggunakan kebebasan berekspresi.
Lalu kedua, sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab sejalan dengan meningkatnya kesadaran Generasi Z terhadap isu hak asasi manusia, kesetaraan, dan keadilan sosial.
Generasi ini dikenal vokal terhadap penolakan diskriminasi dan kekerasan, baik di tingkat nasional maupun global. Dengan demikian, Pancasila sejatinya menyediakan kerangka moral yang sejalan dengan semangat kemanusiaan universal yang diusung generasi muda.
Ketiga, sila Persatuan Indonesia menjadi semakin relevan di tengah fenomena polarisasi sosial dan politik. Bagi Generasi Z, persatuan tidak dimaknai sebagai penyeragaman pandangan, melainkan sebagai kemampuan untuk hidup berdampingan secara damai dalam keberagaman identitas, budaya, dan opini.
Pancasila menawarkan konsep persatuan yang inklusif dan adaptif terhadap pluralitas masyarakat modern.
Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan berkaitan erat dengan tuntutan Generasi Z terhadap demokrasi yang lebih partisipatif dan transparan.
Di era media sosial dan partisipasi digital, generasi muda mengharapkan ruang dialog yang setara dan kebijakan publik yang lahir dari proses musyawarah yang rasional, bukan semata-mata kepentingan elit.
Dan terakhir sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia merefleksikan tantangan nyata yang dihadapi Generasi Z, seperti ketimpangan ekonomi, akses pendidikan, dan kesempatan kerja.
Sebagai generasi yang akan menikmati sekaligus menanggung dampak bonus demografi, Generasi Z memiliki kepentingan langsung terhadap terwujudnya keadilan sosial yang substantif, bukan sekadar jargon normatif.
Namun demikian, tantangan utama Pancasila di era modern terletak pada implementasinya. Ketika nilai-nilai Pancasila tidak tercermin dalam kebijakan publik, penegakan hukum, dan keteladanan pemimpin, maka wajar apabila Generasi Z bersikap kritis.
Kritik tersebut seharusnya dipahami sebagai bentuk kepedulian dan dorongan untuk merevitalisasi Pancasila agar tetap kontekstual dan aplikatif.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat ditegaskan kembali bahwa Pancasila bukanlah ideologi yang usang atau kehilangan relevansi di tengah perkembangan zaman.
Justru sebaliknya, nilai-nilai Pancasila memiliki kesesuaian yang kuat dengan aspirasi Generasi Z, asalkan dipahami secara dinamis dan diwujudkan secara konsisten dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebagai penutup pancasila di mata Generasi Z bukan sekadar warisan sejarah, melainkan pedoman nilai yang menuntut aktualisasi nyata.
Tantangan terbesar bukan terletak pada generasi mudanya, tetapi pada kesanggupan seluruh elemen bangsa untuk menjadikan Pancasila hadir dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Dengan pendekatan yang kontekstual, dialogis, dan berorientasi pada keadilan sosial, Pancasila memiliki peluang besar untuk tetap hidup dan relevan sebagai fondasi moral dalam membangun Indonesia di masa depan.
PENULIS: Gimas Fortuna Melani
Mahasiswi Fakultas Ilmu Kesehatan, Progam Studi S1 Keperawatan, Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment