11/26/2019

Sejarah Perang Kemerdekaan Di Kecamatan Sungai Keruh Melawan Jepang

Apero Fublic.- Tahukah kalian generasi muda Kecamatan Sungai Keruh, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Kalau semasa perang kemerdekaan Kecamatan Sungai Keruh adalah medan perang. Baik itu perang dengan tentara Jepang atau dengan tentara Belanda kemudian. Kalau kalian belum tahu ada baiknya mengenal sedikit peristiwa peperangan rakyat Kecamatan Sungai Keruh dengan para penjajah. Kali ini akan mengangkat sedikit kisah perang rakyat melawan tentara Jepang.

Ada dua faktor yang menjadikan wilayah Kecamatan Sungai Keruh sebagai medan perang. Pertama, terletak di jalur masuk tentara Jepang dan Belanda ke Kota Sekayu. Selain itu Kecamatan Sungai Keruh terdapat banyak kilang minyak dan berdekatan dengan pusat minyak di Pendopo. Kedua, adanya aksi para pemuda di Kecamatan Sungai Keruh, termasuk dari daerah Air Hitam.

Air Hitam dahulu masih masuk dalam Kewedanan Musi Ilir Sekayu dan termasuk juga bagian dari Marga Sungai Keruh. Marga adalah semacam pemerintahan tingkat kecamatan, pada masa Kesultanan Palembang dan masa Penjajahan Belanda dan Jepang. Dipimpin oleh seorang Pasirah (camat). Yang dipilih secara demokratis oleh rakyat.

Para pemuda tersebut berhasil mengeco tentara Jepang dan berhasil membawa tiga ratus pucuk lebih senjata laras panjang dan satu senapan mesin. Senapan mesin dan beberapa senjata dikirim ke Sekayu. Pendopo juga dikendalikan oleh para pemuda pejuang. Pemimpin para pemuda yang mengatasnamakan sekutu tersebut, bernama Ahmad Rivai dari Air Hitam.

Hal yang disayangkan waktu itu, saat tentara Jepang kembali mengendalikan Pendopo. Dimana mereka diperintahkan melucuti senjata yang telah dirampas pemuda. Satu kompi pemuda yang memegang senjata dikepung pasukan Jepang sehingga terpaksa menyerahkan kembali senjata-senjata ditangan mereka.

Sebab tidak membaca situasi yang selalu berubah. Sementara yang lain telah pergi kembali ke Kecamatan Sungai Keruh dan sekitarnya. Pengumuman melalui selebaran disebar melalui pesawat terbang agar rakyat menyerahkan kembali semua senjata rampasan. Tidak dipedulikan laskar rakyat di Kecamatan Sungai Keruh. Maka, pelucutan dengan kekerasanlah yang dilakukan Jepang.
*****
Persiapan dan pelatihan perang seadanya di Kecamatan Sungai Keruh, dimulai. Untuk mempersipakan mempertahankan kemerdekaan dari penjajah Belanda yang kembali. Juga sekaligus untuk menghadapi Jepang. Bukan hanya kaum laki-laki, tapi juga para wanita juga ikut latihan perang. Tidak banyak pemuda Sungai Keruh yang menjadi tentara heiho atau giugun sebelumnya. Sehingga sangat minim SDM laskar-laskar rakyat.

Jenis-jenis senjata, selain senjata rampasan, senjata tradisional bedil kecepek menjadi andalan masyarakat. Masa itu pembuat kecepek yang terkenal Hanan di Sekayu, dan Jimbun di Desa Kertayu, Kecamatan Sungai Keruh. Jenis senjata lainnya yang digunakan tombak, pedang, golok, dan bambu runcing. Pertama sekali pecah perang adalah di dalam desa-desa di Kecamatan Sungai Keruh. Tentara Jepang mencari senjata yang telah dirampas pemuda-pemuda dari gudang senjata Jepang di Pendopo.[1]

Kontak senjata pertama setelah perampasan senjata di Pendopo, terjadi tanggal 3 September 1945. Di bawa pimpinan A. Kosim Dayat pemimpin TKR (Tentara Keamanan Rakyat), Laskar Rakyat dan juga Rakyat. Mereka mencegat sebua truk tentara Jepang. Tentara Jepang tewas tiga orang. Truk dan tiga pucuk senjata beserta pelurunya dirampas pejuang. Selebihnya berlari masuk hutan.

Beberapa saat kemudian tentara bantuan Jepang datang sangat banyak. Mereka menembak membabi buta dengan senapan mesin, senapan otomatis, menembak dengan mortir tiada henti. Membuat para pejuang kewalahan. Namun pertempuran berjalan alot memakan waktu tiga jam. Karena hari telah gelap maka para pejuang mundur teratur.

Pertempuran di Sungai Bongen.
Sungai Bongen terletak antara Desa Tebing Bulang dan Talang Akar. Pasukan kita membuat pertahanan di Jerambah Kayu, di pimpin oleh Husaini Sidik. Pertahan ini juga bertujuan menghadang Jepang dari Pendopo. Jerambah dihancurkan, kayu-kayu dipasang melintang jalan, parit-parit perlindunga digali. Pasukan terdiri dari GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), dan Rakyat Sungai Keruh dari berbagai desa, berjumlah kurang lebih tiga ratusan orang. Pertempuran terjadi pada 20 September 1945.

Tentara Jepang yang berkekuatan besar dan bersenjata lengkap perlahan memukul mundur tentara kita. Diam-diam Jepang membuat setrategi melingkar dan akan mengepung. Untung saja setrategi itu terbaca dan pasukan pejuang ditarik mundur. Kalau terkepung maka akan ada pembantaian. Sebab tentara kita sebagian besar bersenjata tradisional. Tidak ada yang gugur dari pihak pejuang.

Hanya mobil truk dan bahan makanan yang dibakar Jepang. Maka hancurlah pertahanan dan markas di Sungai Bongen. Jalan itu untuk memuluskan jalan Jepang ke Sekayu atau Menyerang Laskar Sungai Keruh kemudian hari. Di sini selain berfungsi menghadang Jepang juga menjadi markas untuk menyerang Jepang lebih intensif. Tapi Jepang membaca hal tersebut dan mereka bertindak cepat, menghancurkannya.[3]

Tanggal 3 Oktober 1945 kembali tentara kita bersama laskar rakyat akan menyerang Pendopo. Terjadi pertempuran di Sungai Dua arah Talang Akar Pendopo. Pasukan Indonesia ditambah rakyat berjumlah 300 orang. Terdiri dari GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesi) yang dipimpin oleh M. Yazid dari Desa Sukalali. Rakyat yang bergabung diantara berasal dari Desa Pagarkaya, Sukalali, Kertayu, Tebing Bulang dan Sindang Marga.

Namun mata-mata Jepang mengetahui. Mereka dihadang di antara Sungai Dua dan Talang Akar. Dalam pertempuran itu lima orang pejuang gugur. Satu orang jenazanya tidak diketemukan sampai sekarang. Karena persenjataan kurang, dan bukan tentara yang terlatih. Membuat pejuang terpaksa mundur teratur.[2]

Tanggal 10 Oktober 1945 terjadi kembali pertempuran di Suban Segetah. Kali ini pejuang dipimpin oleh M. Qorik dari Sekayu.  Pasukan yang sama dari GPII dan Rakyat dari desa-desa di Kecamatan Sungai Keruh yang bersatu. Seperti biasa, teori tentara Jepang dengan menghujani peluru senapan mesin, mortir, dan senapan-senapan laras panjang yang semi otomatis. Tentara kita yang cuma memiliki beberapa senjata rampasan, kecepek, tombak, golok, bambu runcing. Tentu saja tidak dapat melakukan perang terbuka dan frontal melawan senjata moderen. Maka Pejuang kembali ke desa-desa masing-masing.

Serangan Jepang
Pendopo yang sebelumnya pernah dikuasai oleh pejuang kemerdekaan dan Rakyat dari Kecamatan Sungai Keruh. Kemudian Pendopo dikuasi oleh Jepang lagi. Sehingga Laskar Rakyat, GPII, dan Tentara mundur kembali ke desa-desa di Kecamatan Sungai Keruh, membawa serta senjata rampasan. Itulah yang menjadi alasan Jepang menyerang.

Banyak pemuda yang kemudian bergabung dengan laskar yang dipimpin Husaini Sidik atau Luin orang Desa Pagarkaya. Informasi sampai ke telinga Jepang. Maka mereka menyerbu Desa Pagarkaya. Tentara Jepang bermaksud mengepung Desa Pagarkaya. Dengan mengirim dua jalur tentara, dari arah Sungai Dua dan dari arah Jirak. Sebelumnya pertahanan Sungai Bongen telah dihancurkan Jepang. Sehingga laju tentara Jepang disini aman.

Pukul lima subuh ada laporang dari pasukan pengintai kalau pasukan Jepang sudah dekat. Pasukan pejuang berjumlah tiga ratus orang dibagi tiga seksi pertahanan. Seratus orang di sayap kanan menempati Padang Lebar di pimpin Luin. Sayap kiri di Bukit Labu di pimpin oleh Sersan Suri juga orang Pagarkaya.

Di Bukit Petanang juga ditempatkan seratus orang pasukan yang dipimpin oleh Atik Lekat juga orang Pagarkaya. Seperti biasa hujan peluru dan mortir tidak ada ampun. Sedikit senjata rampasan, golok, tombak, dan pedang, bedil kecepek yang cuma menembak sekali dan mengisi lama, akan kalah.

Perlahan tentara Jepang menguasai Desa Pagarkaya. Penduduk sudah lebih dahulu diungsikan jauh dari desa. Ternyata ada seorang pejuang yang diam-diam bersembunyi dibawah rumah-rumah penduduk, bernama M. Zen Syafei. Kemudian dia menembak seorang tentara Jepang dengan kecepek. Tentara Jepang itu tewas seketika. Yang paling mencengangkan adalah tentara Jepang itu berpangkat Kapten.

Tentara Jepang sangat marah lalu membakar rumah penduduk yang menghanguskan 74 bua rumah. Boleh dikatakan jumlah tersebut lebih dari setengah rumah-rumah penduduk Pagarkaya pada masa itu. Kejadian itu membuat kemarahan rakyat Sungai Keruh meningkat. Sehingga semakin berapi-apilah semangat perang rakyat. Bukan hanya melawan Jepang. Tapi Juga saat melawan Belanda dikemudian hari.[4]

Pertempuran di Gangsir Penyemberangan Sekayu.
Sementara itu, para pejuang di Kota Sekayu tidak mengizinkan tentara Jepang ke Pendopo. Tentara Jepang dari Palembang dikirim untuk membantu tentara Jepang di Pendopo untuk melucuti senjata yang telah dirampas para pemuda di Kecamatan Sungai Keruh.

Sudah disebutkan beberapa senjata dan satu senapan mesin rampasan telah dikirim ke Sekayu. Para pejuang di Sekayu juga tahu kalau Sungai Keruh adalah kecamatan kecil yang hanya terdapat delapan desa kecil waktu itu. Kalau tentara Jepang tidak dicegah akan hancur daerah kecil dimana penduduknya bukanlah tentara.

Pada tanggal 29 Oktober tentara Jepang datang ke Sekayu, berkekuatan enam truk penuh tentara Jepang.  Oleh Komite Nasional Indonesia (KNI) yang dipimpin oleh Dokter Slamet tidak mengizinkan. Kalau mereka memang ingin ke Pendopo harus meninggalkan senjata. Tapi Jepang tetap tidak mau dan berkeras tetap ingin ke Pendopo apapun yang terjadi. Maka, KNI tidak menjamin keselamatan mereka kalau mereka tetap ingin ke Pendopo.

Karena Jepang  memaksa, Usman Bakar dan A. Kosim Dayat menyusun pertahan di seberang Sungai Musi dipenyemberangan. Senjata dan senapan mesin yang dikirim dari Sungai Keruh digunakan. Sedangkan tentara kita yang tidak menyemberang ke seberang dipimpin oleh K.H. Muhammad Nur.

Pada saat tentara Jepang di pertengahan Sungai Musi. Pistol K.H. Muhammad Nur meletus tanda perang dimulai. Pertempuran baru selesai menjelang tengah malam dan tentara Jepang menggunakan suasana gelap berenang menghilir sungai musi membawa ponton beserta truk angkut mereka.

Jepang kembali ingin ke Pendopo dan Marga Sungai Keruh. Maka pencegatan kembali dilaksanakan. Pertempuran terjadi antara Sekayu dan Kayuara. Waktu itu perbatasan Sekayu dan Desa Kayuara masih hutan dan rawa-rawa. Pada tanggal 31 Oktober 1945 tentara Jepang muncul. Perang tidak terhindari lagi.

Seperti biasa, persiapan telah lebih dahulu dilakuan. Rumah-rumah penduduk menyediakan perbekalan. Pohon ditebang melintang jalan. Lobang perlindungan di gali, kiri-kanan jalan. Dijaga oleh satuan-satuan penembak. Kembali tentara Jepang mundur dan tertahan tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Pendopo untuk melucuti senjata yang telah dirampas rakyat di Kecamatan Sungai Keruh.

Setelah masa itu, mulai terjadi penarikan-penarikan tentara Jepang yang sudah menyerah ke pihak sekutu. Sekarang berganti dengan tentara loreng, yaitu Penjajah Belanda kembali. Rakyat Sungai Keruh akan melawan Belanda.

Pembangunan Monumen Perjuangan Rakyat (MONPERA)
Sudah selayaknya pembangunan sebuah monumen perjuangan rakyat dibangun di Kecamatan Sungai Keruh. Rakyat sudah ikut berperang melawan penjajah. Mengorbankan jiwa, harta, bahkan ada yang hilang sampai sekarang tidak ditemukan jasadnya. Mereka berlatih perang dan hidup dalam tekanan penjajah. Cerita sejarah ini hanyalah sedikit cuplikan yang diceritak oleh satu peteran perang. Tentu beliau juga tidak banyak tahu apa-apa yang terjadi diluar pengetahuannya.

Setiap peperangan selalu melahirkan banyak penderitaan yang tidak diketahui oleh publik. Ini secuil dari konflik dengan Jepang. Bagaimana masa-masa pertama Jepang datang. Yang telah hadir selama tiga setengah tahun. Bagaimana saat Jepang menjemput paksa pemuda untuk menjadi tentara.

Atau kerja paksa, dan kemungkinan ada yang terbunuh tanpa sepengethuan kita. Belum ada cerita kalau wanita yang dijadikan ianpu. Ianpu wanita pemuas nafsu tentara Jepang. Dari itu, sudah selayaknya di Kecamatan Sungai Keruh dibangun sebuah MONPERA. Untuk mengenang dan menghargai jasa-jasa para pejuang dahulu di kawasan Kecamatan Sungai Keruh.

Para pejuang bukan hanya yang ada di taman makam pahlawan. Tapi juga rakyat-rakyat yang ikut berperang. Para ibu-ibu yang memasak, dan petani memberikan padinya untuk makan pejuang. Saat masyarakat bergotong-royong membuatkan senjata kecepek untuk menembak para penjajah. Mereka adalah pejuang juga dan jasa mereka patut dihargai.

MONPERA harus dibangun di Kecamatan Sungai Keruh. Mari masyarakat Sungai Keruh suarakan pembangunan sebuah MONPERA untuk menghargai jasa para pejuang pendahulu kita. Dari elemen masyarakat paling bawah sampaikan aspirasi membangun MONPERA. Semoga suara didengar pemerintah daerah atau pusat, DPRD dan MPR.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S.Sos.
Palembang, 26 Oktober 2019.

Sumber: Yusman Haris, Pergolakan-Pergolakan di Daerah Musi Banyuasin. T.pn. T.tp, 2010.


[1]Yusman Haris, Pergolakan-Pergolakan di Daerah Musi Banyuasin. T.pn. T.tp, 2010. H. 74-75.
[2]Yusman Haris, Pergolakan-Pergolakan di Daerah Musi Banyuasin. H. 76.
[3]Yusman Haris, Pergolakan-Pergolakan di Daerah Musi Banyuasin. H. 79.
[4]Yusman Haris, Pergolakan-Pergolakan di Daerah Musi Banyuasin. H. 77-79.
[5]Yusman Haris, Pergolakan-Pergolakan di Daerah Musi Banyuasin. H. 76.


Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment