11/25/2019

Belajar Dari Konflik Kawasan Timur Tengah


Apero Fublic.- Di Asia Tenggara dimana terletak tiga negara yang satu rumpun, Indonesia, Brunai Darussalam, dan Malaysia. Singapura sesungguhnya juga Negeri Melayu, namun dikuasi pendatang asing. Singapura dalam geopolitik internasional lebih dekat dengan Sekutu dari pada ke Asia.

Dari sebab itulah, ada tawaran pemikiran dan suatu pengajaran. Yaitu, belajar dari Timur Tengah sekarang. Dimana konflik politik kawasan yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan para Sekutunya. Akibat dari berkonflik sesama saudara sendiri membuat kawasan Timur Tengah bergejolak puluhan tahun.


Seperti di Suriah, Irak, dimana terjadi perang saudara. Arab Saudi dan Iran yang bermusuhan sesama negara Muslim. Memang mazhab syiah banyak perbedaan dengan Sunni. Tapi setidaknya tetap satu keyakinan dan satu Nabi Muhammad. Di Libya juga tidak jauh berbeda, perang kelompok dan suku terus terjadi. Antara pendukung pemerintah dan non pemerintah. Kekacauan ini disebut dengan politik bela bambu. Sebelah di injak sebela di angkat. Maka belah-belahlah bambu yang sebatang menjadi bila-bila bambu yang lemah dan mudah sekali dipatahkan.

Dalam politik belah bambu, Ada kelompok yang didukung ada juga kelompok yang ditekan. Konflik terus di pelihara agar tidak ada kesatuan. Bila perlu agen-agen pengadu  domba disusupkan. Karenag sifat masyarakat di sana yang masih bodoh dan semi tradisional. Belum memiliki jiwa kesatuan dan belum berpikir dewasa dalam hal politk. Masih mengedepankan ego dan individualisme kelompok.


Di wilayah masyarakat seperti ini memang rawan konflik. Salah satu senjata Sekutu, Israel, dan Amerika Serikat adalah politik adu domba atau bela bambu tersebut. Politik belah bambu sangat ampu untuk kelompok masyarakat yang kesukuan, dan bersifat keras dan kaku. Politik bela bambu adalah politik yang sangat kuno. Berhasil diterapkan Belanda di Nusantara. Hampir semua kerajaan pribumi Indonesia runtuh. Akibat Politik belah bambu tersebut. Namun bagi masyarakat di sana adalah hal yang tidak mengerti sedikitpun.


Hanya dengan pendidikan dan pandangan luas yang dihasilkan oleh pengetahuan yang dapat merubah keadaan. Persatuan dan persaudaraanlah yang dapat memenangkan pertaruang melawan politik belah bambu. Sebagai contoh, seperti pada masa awal kemerdekaan dimana negara Indonesai dibuat terpecah-pecah dengan dibentuknya negara-negara boneka oleh Belanda. Kemudian Muhammad Natsir mencetuskan Mosi Intergral dimana semua negara boneka bersatu kembali. Sehingga Indonesia menjadi kuat walaupun baru beberapa tahun merdeka.


Kesatuan paling penting dalam membangun sebuah bangsa. Apa pun bentuk bangsa tersebut, baik itu melalui sistem komunis, religiousme, demokratis, sekuler, monarki dan Pancasila Indonesia. Semua bentuk pemerintahan dan kebangsaan membutuhkan persatuan. Hilangkan keserakahan, kedengkian, sifat sukuisme, perbedaan warna kulit, dan ketamakan agar kita dapat bersatu dan menang.

Hancurkan kebodohan yang sangat mudah dihasut, mudah diadu domba, dan mudah berprasangka buruk. Kalau rakyat Suriah, Irak, Libya, dan semua rakyat di kawasan tersebut tidak bersatu. Maka semuanya akan hancur dan menjadi sampah permainan sekutu sampai minyak bumi mereka habis. Terus bergejolak dan menjadi ladang usaha negara mereka. Masyarakat di negara mereka hidup sejahtera. Sedangkan masyarakat di sana hidup menderita dan berlumuran darah.


Sebagaimana kita ketahui, Yaman perang dengan Arab Saudi. Dimana kelompok syiah Houti memberontak dan berperang. Kemudian Iran dan Arab Saudi bermusuhan. Suriah perang saudara, dan Irak kacau balau. Libya kacau balau, dan Turki tidak dapat berbuat banyak. Kuait di bawah kendali Amerika Serikat. Qatar dan Yordania, Uni Emirat Arab menjadi negara mandul dalam kemewahan. Afganistan dengan konflik pemerintah dengan Partai Taliban. Afganistan juga dipatahkan oleh Amerika Serikat.

Sementara Mesir sibuk dengan masalah internal. Pemerintahan otoriter yang selalu membelenggu Mesir. Pemerintahan otoriter tersebut tentu ada dukungan Ameriak Serikat, Israel, dan sekutu. Sehingga menjadi pion dalam percaturan politik Kawasan Timur Tengah. Sama halnya dengan munculnya pemerintahan otoriter semasa perang dingin. Menjadi kepanjangan tangan Amerika Serikat dalam menumpas kelompok komunis. Sehingga Mesir menjadi mandul dalam percaturan politik Timur Tengah.


Sehingga membuat kondisi politik kawasan lemah dan sangat kacau. Siapa yang untung,???. Yang untung adalah Israel dengan programnya menguasai seluruh tanah Palestina. Mereka berani memindahkan ibu kota Israel ke Yerusalem karena mengambil kesempatan dari situasi kacau tersebut. Sesungguhnya juga adalah bagian dari skenario mereka.

Bahkan salah satu kandidat calon presiden Israel, yang berani berkampanye untuk mencaplok lembah Yordania kalau dia terpilih menjadi presiden. Itu menunjukkan betapa lemah masyarakat Islam di Kawasan Timur Tengah dan mereka anggap remeh sehingga mereka dapat berbuat sesuka hati.


Kemudian Amerika Serikat dan Sekutu, mereka menguasai ladang-ladang minyak di Suriah, Libya dan Irak. Negera-negara lain seperti Jerman, Rusia, Cina, Amerika Serikat dan negara lainnya untung dengan penjualan industri senjata-senjata mereka. Rusia dapat mengakses perairan hangat melalui Suria. Iran dengan program nasionalisme syiah-nya.

Lalu apa yang di dapat oleh rakyat Libya, Rakyat Suriah, Rakyat Irak, selain dari terkena sasaran peluru dan bom. Rumah hancur, menjadi pengungsi, mejadi miskin, menjadi bodoh dan menjadi terbelakang. Banyak yang terluka, meninggal, anak menjadi yatim, istri-istri yang menjadi janda dan sebagainya. Semoga rakyat di sana segera sadar dan kembali bersatu. Kemudian bangkit dan bermusyawara untuk membangun negara yang maju dan damai. Hal yang paling utama adalah agar rakyat sipil tidak lagi membeli senjata-senjata. Biarlah senjata dikendalikan negara.


Sesungguhnya kawasan Timur Tengah kalau bangkit dari politik tradisional seperti begitu. Masuk dalam transpormasi politik moderen dan mengedepankan persatuan, ilmu pengetahuan, teknologi. Maka Timur Tengah akan menjadi kekuatan dunia saat ini. Untuk merobohkan Amerika Serikat dan para sekutunya terutama Israel cukup dengan politk minyak bumi. Amerika Serikat akan segera roboh sebab 60% produksi minyak dunia masuk dan dibutuhkan oleh Amerika Serikat. Apakah kita tidak mengambil pelajaran dari semua itu?


Begaimana di kawasan Asia Tenggara, khususnya untuk Indonesia, Malaysia, dan Brunai Darussalam. Jangan sampai terjadi konflik dan kekacauan antar negara. Kadang masyarakat Indonesia dan masyarakat Malaysia berkomplik melalui media sosial dan media berita. Itu menunjukkan kalau pemikiran pendek dan terbelakang masih tinggi. Kadang hanya karena suporter sepak bola saja ribut seperti antara muslim dan kafir. Saling membalas caci maki, dan saling ejek. Padahal hanya karena urusan sepeleh-sepeleh begitu, tolol.


Wawasan kebangsaan Masyarakat Islam Indonesia, Malaysia, Brunai Darussalam harus luas. Bersatu dan bekerjasama dalam membangun Islam. Menjaga stabilitas keamanan dan pertahanan dalam negeri dan kawasan. Jangan sampai kita berkonflik secara internal atau eksternal. Masyarakat Islam Indonesia harus benar-benar dewasa dalam melangkah dan mengarahkan pandangan politik. Saya juga berharap agar masyarakat di Provinsi Aceh untuk tidak lagi menyuarakan pemisahan dari NKRI.

Mari kita bersatu dan mencari jalan terbaik dalam memperjuangkan agama Islam. Dengan bersatu kita menjadi kuat. Jangan sampai pihak Asing masuk dan menjalankan politik belah bambu di negara kita. Mari kita bangun Islam dan bergandengan tangan dengan pemerintah. Hancurkan bibit yang tumbuh antara radikal dan non radikal yang marak sekarang. Sesungguhnya semua itu lelucon tolol yang emosional tanpa ilmu. Mari kita cari jalan tengah dari keduanya. Kita bersatu. #Himpunan Muslim.

Oleh. Joni Apero
Editor. Selita. S.Pd.
Palembang, 26 November 2019.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment